Al-Rasyid.id | BANDA ACEH – Mantan Rektor IAIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Yusny Saby, M.A., Ph.D., mengajak sivitas akademika UIN Ar-Raniry Banda Aceh menengok kembali jejak sejarah lahirnya perguruan tinggi Islam tersebut di Darussalam.
Menurut Prof. Yusny, terdapat dua momentum penting yang perlu dibedakan dalam membaca sejarah pendidikan tinggi di Aceh, yakni 2 September 1959 sebagai deklarasi tumbuhnya pendidikan tinggi di Aceh dan 2 September 1960 sebagai titik awal lahirnya pendidikan tinggi Islam yang kemudian berkembang menjadi UIN Ar-Raniry.
Hal itu disampaikan Prof. Yusny saat menyampaikan kilas balik sejarah UIN Ar-Raniry pada acara zikir dan doa bersama Milad ke-63 UIN Ar-Raniry, Senin (5/10/2026), di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.
Di hadapan Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Dr. Tgk. H. Mujiburrahman, M.Ag., jajaran pimpinan, dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa, Prof. Yusny mengingatkan mahasiswa agar memandang almamater bukan sekadar tempat memperoleh ijazah, tetapi sebagai “ibu agung” yang melekat dalam perjalanan kehidupan seorang alumni.
“Di mana Anda sekarang, dulu saya juga di situ. Tetapi jangan lupa, di mana saya dan kami sekarang, Anda akan berada di sana,” ujar Prof. Yusny yang disambut tepuk tangan jamaah.
Menurutnya, almamater memiliki jasa panjang dalam membentuk seseorang sehingga nama perguruan tinggi akan terus melekat ketika alumninya memasuki berbagai bidang kehidupan.
Ia bahkan meminta mahasiswa tidak berpikir bahwa UIN Ar-Raniry hanya akan bertahan sampai usia puluhan atau seratus tahun.
“Jangan pikir UIN 60-an tahun. Pikirkan UIN Ar-Raniry ke depan bukan 100 tahun, tetapi bisa 1.000 tahun,” katanya.
Prof. Yusny mengambil contoh Al-Qarawiyyin dan Al-Azhar yang telah berusia lebih dari seribu tahun sebagai bukti bahwa perguruan tinggi dapat melampaui generasi pendirinya.
Sejarah yang Perlu Ditulis
Prof. Yusny mengakui sebagian kisah yang disampaikannya bersumber dari ingatan pribadi, pengalaman, kesaksian dan sejumlah dokumen yang pernah ia lihat.
Karena itu, ia mengingatkan agar informasi tersebut tetap dilakukan cross-check dan ditulis dalam sebuah karya sejarah yang lebih lengkap.
“Tak kenal maka tak sayang,” ujarnya.
Menurut Prof. Yusny, seseorang akan lebih mencintai almamater apabila memahami bagaimana lembaga tersebut lahir, siapa yang merintisnya dan bagaimana perjuangan generasi terdahulu membangunnya.
Ia kemudian membawa jamaah menelusuri kembali sejarah Darussalam dan pendidikan tinggi di Aceh.
Menurutnya, 2 September 1959 merupakan momentum penting ketika Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, datang ke Aceh dan meresmikan kawasan pendidikan tinggi di Darussalam.
“Deklarasi pernyataan resmi tumbuhnya, hidupnya, disemainya pendidikan tinggi di Aceh: 2 September 1959,” katanya.
Prof. Yusny memaknai pembangunan Darussalam sebagai bagian dari cita-cita membawa Aceh bergerak dari suasana konflik menuju kehidupan yang lebih damai melalui pendidikan.
“Dari perang ke damai. Supaya bisa damai apa? Mesti pendidikan,” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan tinggi menjadi instrumen penting untuk membangun masyarakat yang mampu menggunakan ilmu dan pikiran dalam menghadapi persoalan kehidupan.
“Ketika kita kurang ilmu, emosi jalan. Ketika sudah berilmu, otak jalan,” katanya.
2 September 1960
Sementara itu, ketika berbicara mengenai akar pendidikan tinggi Islam di Aceh, Prof. Yusny menunjuk 2 September 1960 sebagai momentum yang sangat penting.
Ia menyebut adanya dokumen pendirian Kelas Fakultas Syariah di Darussalam yang menurutnya masih dapat dilihat di lingkungan Fakultas Syariah UIN Ar-Raniry.
Dokumen tersebut, kata dia, ditandatangani sejumlah tokoh dan diserahkan kepada Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, tokoh penting dalam pembukaan pendidikan tinggi Islam di Darussalam.
“Lahirnya pendidikan agama kita ini yang sekarang masih berada dalam rahimnya Ibu Agung Ar-Raniry: 2 September 1960,” tegasnya.
Prof. Yusny bahkan menyebut tanggal tersebut sebagai “titik nol” atau titik awal lahirnya UIN Ar-Raniry dalam perspektif sejarah pendidikan tinggi Islam di Aceh.
“Ini kira-kira titik nol, titik satu lahirnya UIN Ar-Raniry,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa lembaga tersebut pada awalnya belum bernama UIN Ar-Raniry. Perguruan tinggi Islam di Aceh melewati sejumlah fase kelembagaan sebelum kemudian berkembang menjadi IAIN Ar-Raniry dan akhirnya menjadi UIN Ar-Raniry.
Dalam perjalanan awal itu, Prof. Yusny menempatkan Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy sebagai tokoh penting.
“Yang membuka kelas pertama di sini kemudian, ini sesudah 1959, itu Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi bagian penting dalam kilas balik Prof. Yusny karena mengarahkan perhatian pada Kelas Syariah pertama sebagai salah satu mata rantai kelahiran pendidikan tinggi Islam di Darussalam.
Bukan Sekadar Ingatan
Prof. Yusny menegaskan bahwa pandangannya mengenai 2 September 1960 tidak semata-mata bersumber dari ingatan.
Ia menunjuk keberadaan dokumen yang menurutnya masih tersimpan dan dapat dilihat di Fakultas Syariah UIN Ar-Raniry.
“Anda melihat dokumen, boleh lihat dokumen, ada di Fakultas Syariah dibingkai, ditandatangani lagi. Jadi sah itu, bukan hanya sekadar ingatan,” ujarnya.
Meski demikian, ia tetap mengingatkan bahwa sejarah perlu ditulis berdasarkan dokumen dan dilakukan cross-check, terutama karena sebagian informasi yang disampaikannya merupakan memori pribadi yang telah berlangsung puluhan tahun.
Karena itu, menurutnya, UIN Ar-Raniry perlu memiliki buku sejarah yang lebih lengkap dengan menghimpun dokumen, catatan, pengalaman, kesaksian pelaku sejarah dan penelitian akademik.
Dari Darussalam untuk Masa Depan
Prof. Yusny juga menjelaskan bahwa Darussalam sejak awal dibayangkan sebagai kawasan pendidikan tinggi yang terintegrasi.
Di kawasan tersebut kemudian berkembang berbagai lembaga pendidikan, termasuk perguruan tinggi yang menjadi cikal bakal Universitas Syiah Kuala, pendidikan tinggi Islam, Dayah Pante Kulu, madrasah dan lembaga pendidikan lainnya.
Menurutnya, cita-cita besar Darussalam adalah membangun masyarakat melalui pendidikan sehingga ilmu menjadi kekuatan untuk membangun masa depan.
Karena itu, ia meminta generasi mahasiswa sekarang tidak berhenti menjadi penonton sejarah.
“Berjuanglah, insya Allah,” pesannya.
Kilas balik Prof. Yusny Saby tersebut sekaligus membuka ruang penting bagi penelitian sejarah UIN Ar-Raniry, khususnya mengenai tanggal dimulainya perkuliahan pertama Kelas Syariah di Darussalam.
Sebab, jika 2 September 1960 merupakan momentum pendirian Kelas Syariah, maka pertanyaan berikutnya adalah: kapan tepatnya kuliah pertama berlangsung dan kapan Prof. Hasbi Ash-Shiddieqy pertama kali berdiri di depan mahasiswa di Darussalam?
Jawaban atas pertanyaan itu akan membantu melengkapi sejarah UIN Ar-Raniry secara lebih presisi, dengan membedakan antara deklarasi pendidikan tinggi di Aceh pada 1959, lahirnya pendidikan tinggi Islam pada 1960, dimulainya perkuliahan, dan tonggak kelembagaan berikutnya.
Dengan demikian, Milad bukan hanya menjadi momentum mengenang usia sebuah institusi, tetapi juga kesempatan untuk menemukan kembali titik-titik sejarah yang melahirkan dan membesarkan UIN Ar-Raniry dari Darussalam hingga menjadi perguruan tinggi Islam negeri seperti sekarang.
Laporan Saif
