-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tausiyah BBC, Prof Yasir Yusuf: Legacy Terbaik adalah Jejak Kebaikan yang Ditinggalkan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | Oktober 03, 2026 WIB Last Updated 2026-10-03T23:30:12Z


Al-Rasyid.id | BANDA ACEH – Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Muhammad Yasir Yusuf, mengajak umat Islam mempersiapkan masa depan dengan memperbanyak amal kebaikan dan meninggalkan legacy yang bermanfaat bagi generasi setelahnya.


Pesan tersebut disampaikan Prof Yasir Yusuf saat memberikan tausiyah Subuh dalam rangkaian Safari Subuh BBC di Masjid Baitusshalihin, Ulee Kareng, Banda Aceh, Ahad (4/10/2026), bertepatan 23 Rabiul Akhir 1448 H.


Menurut Prof Yasir, salah satu pertanyaan penting yang patut direnungkan setiap manusia adalah apa yang akan diingat orang lain ketika dirinya telah meninggal dunia.


“Ketika kita meninggal, apa yang diingat oleh orang? Yang diingat adalah kebaikan yang pernah kita lakukan selama hidup di dunia,” ujar Prof Yasir.


Ia mengatakan, Allah SWT tidak hanya melihat apa yang dilakukan seseorang pada saat hidup, tetapi juga mencatat atsar atau jejak yang ditinggalkannya. Jejak tersebut dapat terus memberikan manfaat meskipun seseorang telah meninggal dunia.


Dalam tausiyahnya, Prof Yasir menyampaikan sedikitnya tiga pilar penting yang dapat menjadi bekal untuk membangun legacy kebaikan.


Persiapkan Hari Esok


Pilar pertama, kata Prof Yasir, adalah mempersiapkan al-ghad atau hari esok. Ia mengingatkan pesan Al-Qur’an agar orang-orang beriman memperhatikan apa yang telah dipersiapkan untuk hari esok.


Menurutnya, al-ghad memiliki makna yang luas. Ia dapat dimaknai sebagai masa depan manusia ketika masih hidup di dunia, sekaligus masa depan yang sesungguhnya setelah kematian, yakni kehidupan akhirat.


“Orang beriman harus mempersiapkan hari esok. Hari esok itu bisa berarti masa depan kita di dunia dan bisa juga berarti kehidupan kita setelah meninggal dunia,” katanya.


Karena itu, persiapan masa depan tidak cukup hanya dalam bentuk materi, tetapi juga harus mencakup kualitas iman, ibadah, akhlak dan amal saleh.


Jangan Tinggalkan Generasi Lemah


Pilar kedua, lanjut Prof Yasir, adalah mempersiapkan generasi masa depan. Ia mengingatkan pesan Al-Qur’an dalam QS An-Nisa ayat 9 agar manusia tidak meninggalkan generasi yang lemah.


Kelemahan generasi, menurutnya, bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut spiritualitas, ibadah, akhlak, pengetahuan dan profesionalisme.


“Jangan kita tinggalkan generasi yang lemah. Lemah dari sisi spiritual, lemah ibadahnya, dan juga lemah dalam profesionalismenya,” jelasnya.


Karena itu, orang tua harus memiliki kegelisahan yang sehat terhadap masa depan anak-anaknya. Kegelisahan tersebut bukan dalam bentuk kekhawatiran berlebihan, tetapi kesadaran bahwa anak merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.


Prof Yasir menegaskan, orang tua tidak cukup hanya memberikan kebutuhan materi kepada anak. Ayah dan ibu harus menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.


Ada proses transfer kebaikan dari orang tua kepada anak, katanya. Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi terutama dari apa yang dilihatnya dari perilaku orang tuanya.


“Mendidik anak adalah investasi terbesar kita. Itu adalah salah satu bentuk legacy kita,” ujarnya.


Tiga Warisan yang Tak Terputus


Pilar ketiga yang disampaikan Prof Yasir adalah membangun amal yang manfaatnya terus mengalir setelah seseorang meninggal dunia.


Ia mengingatkan hadis Nabi SAW bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, yakni sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya.


Pertama, anak saleh. Menurut Prof Yasir, anak saleh bukan sekadar anak yang memiliki pendidikan tinggi atau kesuksesan duniawi, tetapi anak yang memiliki rasa takut kepada Allah dan tetap melakukan kebaikan meskipun tidak sedang dilihat orang tuanya.


“Anak saleh adalah anak yang takut kepada Allah, walaupun orang tuanya tidak melihat apa yang dilakukannya,” katanya.


Karena itu, pendidikan anak harus diarahkan pada pembentukan kesadaran bahwa Allah selalu melihat setiap perbuatan manusia.


Kedua, ilmu yang bermanfaat. Prof Yasir menekankan bahwa ilmu yang bermanfaat tidak terbatas pada ilmu agama. Semua ilmu yang memberikan kemaslahatan bagi manusia dapat menjadi bagian dari warisan kebaikan, sepanjang digunakan untuk tujuan yang baik.


Ilmu yang bermanfaat itu dapat memberikan manfaat kepada anak-anak, keluarga, masyarakat, bahkan kepada orang-orang yang tidak pernah dikenal oleh orang yang mengajarkannya.


Ketiga, sedekah jariah. Dalam konteks kekinian, kata Prof Yasir, sedekah jariah dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, termasuk wakaf yang manfaatnya terus dirasakan masyarakat.


“Sekarang banyak dalam bentuk wakaf. Itu juga menjadi legacy,” ujarnya.


Memperbarui Niat


Prof Yasir kemudian mengajak jamaah membumikan jejak kesalehan tersebut dengan satu langkah sederhana, yakni terus memperbarui niat.


Apa pun yang dilakukan, katanya, harus dikembalikan kepada Allah SWT.


Dengan niat yang benar dan amal saleh yang terus dilakukan, Allah menjanjikan hayatan thayyibah atau kehidupan yang baik bagi orang-orang beriman dan beramal saleh.


Ia menjelaskan, kehidupan yang baik itu antara lain dapat berupa terbukanya akses rezeki, hadirnya ketenangan hidup, serta kebaikan yang Allah berikan kepada anak dan keturunan.


Bahkan, kata Prof Yasir, seseorang tidak perlu terlalu sibuk memikirkan apakah kebaikannya akan disebut-sebut atau diingat manusia.


“Boleh jadi kebaikan kita tidak diingat orang, tetapi dampaknya selalu akan kembali kepada kita,” katanya.


Karena itu, ia mengajak jamaah Safari Subuh untuk terus menanam kebaikan tanpa menunggu pengakuan manusia.


“Marilah kita terus berbuat kebaikan dan meninggalkan jejak kebaikan-kebaikan itu sebagai legacy bagi generasi mendatang,” ajaknya.


Prof Yasir menegaskan, kehidupan manusia pada akhirnya bukan hanya tentang berapa lama ia hidup, berapa banyak harta yang dikumpulkan, atau setinggi apa jabatan yang pernah diduduki.


Lebih dari itu, yang akan menentukan panjangnya usia sebuah kebaikan adalah seberapa jauh amal tersebut memberikan manfaat setelah pelakunya tidak lagi berada di dunia.


Dengan demikian, legacy terbaik bukanlah nama yang terpampang besar, melainkan kebaikan yang terus hidup dalam diri anak-anak, ilmu yang terus diamalkan, dan manfaat yang terus mengalir kepada sesama.


Laporan Saif

×
Berita Terbaru Update