-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tujuh Kemenangan Mamdani dan Pelajaran Moderasi

Minggu, 23 November 2025 | November 23, 2025 WIB Last Updated 2025-11-23T12:53:13Z

Oleh Saifuddin A. Rasyid

(Pegiat Moderasi Beragama UIN Ar-Raniry)


Al-Rasyid.id | Cerita mengenai Zohran Mamdani, walikota New York terpilih, masih menyita perhatian publik dunia. Bukan hanya konsumsi Amerika Serikat. Pasalnya Mamdani sudah membuat berita besar dan penting, untuk inspirasi dunia.


Seperti diketahui sosok muslim imigran muda 34 tahun yang energik, membawa ideologi sosialis demokratik dalam percaturan politik Amerika, yang tampil secara berani sebagai antitesis terhadap kemapanan demokrasi ala Paman Sam. 


Perhatian publik dunia tidak hanya terjadi ketika dia memenangkan konvensi calon walikota New York kubu partai Demokrat pada pertengahan tahun 2025, yang menumbangkan politikus matang Andrew Coumo. Tetapi bahkan meraih kemenangan telak pemilihan Walikota 5 November 2025 lalu. Juga melawan Coumo yang maksa maju sebagai calon independen dengan dukungan penuh Presiden Trump, disamping calon lainnya dari partai Republik. 


Pada hari kemenangannya Mamdani mengguncang gedung putih dengan mengarahkan pidatonya secara khusus kepada Presiden Trump. Dengan intonasi nada dan gaya pidato kemenangan yang sangat prestisius dia menyampaikan empat kata kepada sang presiden. “Saya muslim, muda, sosialis demokratik, dan imigran. Saya tidak mau memohon maaf untuk keempat hal itu”. Seperti diketahui keempat hal itu adalah momok bagi Presiden Trump. Pidatonya langsung menyulut api kemarahan Trump lebih menyala.


Tak lebih dua pekan sejak hari kemenangannya, Mamdani kembali membuat berita besar. Dia tampil bersama Presiden Trump di depan media setelah pertemuan keduanya di gedung putih. Benar benar seperti tak dapat dipercaya. Tapi itulah politik. Demikian komentar orang orang.


Persoalannya sejak diketahui Mamdani berdiri tegak dan menghentak langkah maju sebagai calon walikota Trump langsung menyerang. Secara tajam dan kasar. Kadang seperti kehilangan akal sehat. Mamdani dituduhnya komunis padahal nyata ia mendeklair dirinya muslim. 


Dia dituduhnya mendukung teroris karena memihak secara tegas melawan genosida di Palestina bahkan mengancam menangkap Netanyahu bila terpilih. Ide keberpihakan Palestina merdeka dan mengecam genosida dari dalam negara Amerika sendiri bahkan sudah ia disampaikan jauh sebelum PBB memutuskan pengakuan terhadap Palestina, dan KTT Gaza di Mesir.


Trump juga mengancam mendeportasi Mamdani. Bahkan mengancam memotong dana pemerintah federal untuk New York. Semua itu malah menjeblokkan diri Trump sendiri dan menguatkan Mamdani.  


Tujuh Kemenangan


Madani sudah mencatat rekor setidaknya ada tujuh aspek dalam kemenangannya sebagai walikota.


Pertama, dia memang menang telak atas kursi walikota. Dengan pemilu yang bersih sesuai sistem pemilihan Amerika Serikat. Tidak ada orang dapat menyangkal terhadap kemenangannya.


Kedua, dia menang sebagai pemimpin muslim yang tak sungkan menyebut identitas agama dirinya. “I am muslim”, sebutnya secara tegas pada saat arus kampanye anti Islam di Amerika sangat kuat. Dia sanggup memisahkan diri secara terang benderang dari mainstream islamophobia yang membuat banyak muslim di Amerika merasa — dan juga di banyak negara — hidup di bawah bayang bayang ketidaknyamanan.


Ketiga, dia menang sebagai pemimpin muda. Usianya 34 tahun. Ini antitesis terhadap norma persaingan kepemimpinan di Amerika yang seakan hanya boleh untuk yang tua karena yang muda dijastifikasi tak cukup berpengalaman. Di partai demokrat dan partai Republik, sama.


Keempat, dia menang sebagai imigran. Isu imigran ini makin menguat di Amerika sejak kepemimpinan kembali Presiden Trump. Sang presiden dengan dukungan Kongres sedang melakukan bersih bersih imigran dengan membatasi pendatang masuk dan menangkap dan mendeportasi pekerja imigran yang sudah terlanjur ada di dalam negeri. Mamdani malah tampil menjadi antitesis kebjijakan anti imigran Trump.


Kelima, kemenangan Mamdani menandakan kemenangan kaum proletaar terhadap borjuis, dalam ideologi Karl Mark. Kemenangan suara rakyat atau kelas pekerja yang dihimpit dalam kehidupan sulit oleh kebijakan pemimpin rakus dan permainan bisnis kotor para pemilik modal ala kapitalisme. 


Keenam, dia menang dengan misi keberpihakan terhadap keberagaman melawan perilaku radikal Presiden Trump dan umumnya pemimpin politik di Amerika. Bagi Mamdani sejauh itu warga New York bagi dia semua dianggap sama, apapun agamanya apapun latar belakang budaya dan kelas sosialnya. Ini antitesis atas kebijakan tebang pilih Trump yang bahkan dia memprovokasi orang Yahudi warga New York  yang konon terbesar jumlahnya di dunia setelah Israel —agar menolak memilih Mamdani. Trump mempertentangkan agama Mamdani dengan Yahudi dengan gaya sangat provokatif.


Ketujuh, dia sudah ikut membawa bendera kemenangan Islam inklusif secara global berkibar lebih berwibawa. Kemenangannya membangkitkan spirit “api” Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Islam dengan pemahaman yang bersahabat. Ternyata ini sudah menjadi trend bagi generasi terpilih dari kalangan muda Amerika dan di berbagai belahan dunia, yang terbuka mata mereka akan Islam, terutama setelah perlakuan membabi buta Zionis terhadap warga Gaza di Palestina. 


Spirit Hudaibiyah


Kemunculan bersama Madani dan Trump dalam momentum penjelasan media terakhir baru baru ini, hanya berselang sekira dua pekan setelah kemenangan Mamdani yang memberi tamparan keras terhadap Trump, seakan seperti yang terjadi dalam perjanjian Hudaibiyah. 


Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian damai, gencatan senjata, antara kaum muslim yang dipimpin oleh Rasulullah SAW dan Kaum Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan. Perjanjian ini terjadi pada bulan Maret tahun 628 Miladiyah atau  bulan Zulqa’dah tahun 6 Hijriyah. 


Perjanjian damai yang dipicu oleh kemenangan muslim dan kekalahan Quraisy dan kaum musyrik Arab lainnya dalam berbagai peperangan yang dipimpin Rasulullah SAW sepanjang 6 tahun sejak hijrahnya beliau ke Madinah. Perjanjian itu terjadi dalam perjalanan Nabi saw dan jumlah besar kaum muslim untuk melaksanakan umrah, tanpa membawa senjata untuk berperang. Tetapi Nabi SAW bersedia menunda umrah pada tahun itu dengan satu perjanjian damai untuk memberi ruang kepada Abu Sufyan menyelamatkan muka di depan Quraisy. Ini bentuk perang urat saraf (psywar) di mana diketahui Quraisy  dengan berbagai kemenangan kaum muslim yang berhasil memutus jaringan kekuatan Quraisy dengan membungkam seluruh suku dan qabilah Arab baik dengan perang maupun perjanjian damai dipastikan sudah terpojok, dan tidak ada cara lain bagi Quraisy kecuali mengakui kalah dan harus memilih untuk bekerjasama dengan Rasulullah SAW dan kaum muslim. 


Cerita mengenai perjanjian Hudaibiyah ini dapat ditelusuri melalui buku buku Sirah, terutama Sirah Nabawiyah karya Syaikh Syafiurrahman Mubarakfuri.


Bagaikan Abu Sufyan, Presiden Trump terpaksa berdamai dengan Mamdani. Bagaikan sebuah jarum jahit Mamdani sudah masuk melewati tantangan, tinggal benang mengikuti masuk dan terus masuk untuk merajut kemajuan dan kebaikan untuk umat manusia seluruhnya. 


Sebagai warga New York dan salah satu gurita bisnis (borjuis) perumahan di kota itu, Trump tentu perlu memikirkan nasib masa depan bisnisnya. Juga masa depan kursi presiden Amerika yang sudah diincarnya kembali sejak sekarang. Dia tentu sudah mendapat masukan bahwa omongannya juga sudah tidak bertenaga bila sebagian besar rakyat sudah mendapat angin yang bertiup dari arah yang berbeda.


Mamdani belum sampai pada kemenangan yang sesungguhnya. Perjalanannya masih panjang. Ini hanya langkah awal yang telah diraihnya dengan sabar dan energi yang kuat. Tentu sangat diperlukan kesabaran dan energi yang lebih besar dan kuat untuk merawatnya sebelum memetik buah dari hasil yang diharapkan. 


Pelajaran Moderasi


Mamdani sudah mempromosikan satu model sikap moderat yang sangat penting dalam perjalanannya menuju orang nomor satu kota New York. Sikap ini bukan hanya membantu reposisioning Islam dalam membantah persepsi negatif tetapi juga menguatkan satu dasar pemahaman Islam yang menarik untuk format Islam dalam bentuk ideologi, politik dan ekonomi yang produktif dalam konteks masyarakat barat. Islam dalam arti peradaban. 


Sebagai satu peradaban Islam sudah sempurna diletakkan oleh Nabi SAW. Tetapi sebagaimana diketahui ia berulangkali tergerus tercabik cabik dan terdikotomisasi dalam bingkai bingkai kecil yang menyebabkan Islam seperti kerdil dalam berhadapan dengan kenyataan hidup manusia.


Terminologi Islam kaffah sudah terlanjur diperebutkan untuk menjastifikasi kepentingan kelompok yang bukan hanya untuk menyasar tujuan tertentu saja tetapi juga mendiskualifikasi kelompok atau komunitas lainnya meskipun berasal dari aqidah dan sumber keislaman yang sama. 


Adalah diperlukan upaya untuk memahami dan memaknai universalitas Islam yang dapat mendudukkan kelompok muslim lainnya, bahkan manusia dengan latar belakang agama apapun, sebagai saudara dan atau mitra sejajar. Dimana sikap seperti ini diperlukan untuk membangun perilaku saling menguatkan dalam mencapai tujuan hidup manusia. 


Pertentangan ideologis dan pemahaman fikih di internal umat Islam sudah sering diakui menguras energi positif dalam bingkai kebersamaan. Tetapi bagaimana solusi untuk saling menghargai dan membagi peran untuk satu tujuan bersama memang sangat diperlukan. 


Inilah yang antara lain kita pelajari dari Mamdani  dan tentu saja sebelumnya dari Nabi SAW  dalam melangkah dengan satu visi dan tujuan bersama. Kita sudah melihat pengalaman ini mampu memberi spirit untuk saling mengumpulkan diri dan saling mengikat kekuatan bagaikan lidi dalam satu simpul yang mampu menggetarkan posisi lawan kemanusiaan dan sikap keberpihakan pada kemaslahatan manusia.


Wallahu a’lam.

×
Berita Terbaru Update