-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Ketika Disharmoni Menyekat Tuhan, Alam, dan Manusia

Sabtu, 03 Januari 2026 | Januari 03, 2026 WIB Last Updated 2026-01-03T21:15:27Z

 


Oleh Saifuddin A. Rasyid


Al-Rasyid.id | Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama ke 80, Sabtu 3 Januari 2025, mengambil inspirasi tema yang bagus. Relevan dengan situasi emosional bangsa saat ini dalam menghadapi bencana banjir dan longsor Sumatera.


Porak poranda kiprah bencana yang terjadi di Sumatera itu diyakini tak sepenuhnya murni bencana alam. Tetapi ada faktor hasil usaha manusia yang dilakukan secara sungguh sungguh, bersengaja, terencana, bahkan mungkin cenderung arogan.


Pembabatan hutan, deforestasi dan pengalihan fungsi lahan besar besaran yang dilakukan secara terbuka, termasuk dalam perspektif perlindungan negara, dalam waktu yang lama, diyakini telah menjadi penyebab utama bencana itu.


Banjir yang terjadi karena curah hujan tingggi tentu saja tidak baru saat ini terjadi. Pengalaman warga wilayah terdampak, banjir tahunan selalu ada. Walau dalam intensitas yang bervariasi. Tetapi warga sudah bersiap mengelola limpahan air yang datang sudah dalam prediksi dan kalkulasi. 


Ketika air dengan material lain tidak datang, gelondongan kayu dan lumpur yang sejak dulu diketahui menahan diri dan tak berkolaborasi menyerang tiba-tiba dan bertubi tubi, maka manusia dan hewan mencari cara penyelamatan sendiri sendiri. Hal itu sudah merupakan sunnatullah bagi kehidupan ketika setiap unsur masih akrab sesama. 


Bencana kemarin tidak dapat dipungkiri sudah merupakan akumulasi kemarahan. Yaitu kemarahan alam dan Rabbul Izzati.


Mengapa alam marah? Karena dia disakiti. Dizhalimi. Manusia yang sejatinya diamanahkan untuk menjaga dan melindungi alam dari kerusakan dan kelalaian justeru menjadi faktor utama yang menghajarnya tanpa henti. 


Mengapa Tuhan marah? Karena Dia Yang Maha Pencipta bersengaja mendesain dan mengatur proses kejadian dan kehidupan bumi dan atau alam yang sebagian tujuannya memang adalah untuk fasilitas kebahagiaan manusia. 


Tuhan bahkan meletakkan keteraturan sistem dan atau ekosistem yang saling berkelindan secara langsung hubungannya dengan manusia. Tetapi Tuhan tetap berada disana. Dia hadir tak melepas pelanaNya.


Dia memantau dan menghitung langkah manusia. Dia memberi ruang tetapi juga menetapkan batasannya.


Keselarasan


Ekoteologi adalah satu perpaduan ilmu untuk keselarasan. Yaitu keselarasan hubungan Tuhan, alam dan manusia.


Dalam keselarasan itu tecermin peran yang saling menguatkan akan kehadirannya masing masing nyata. 


Tuhan tak mencipta tanpa tujuan. Yaitu ketika Dia mencipta alam dan manusia. Keduanya memiliki hak dan kewajiban yang adil dan seimbang untuk saling menerima dan memberikan.


Keseimbangan inilah yang kemudian menjadi masalah. Ketika manusia tidak lagi menjaga amanah yang Tuhan berikan.


Memanglah kepada manusia Allah berikan kemampuan. Yaitu untuk berdiri di depan membimbing dan mengendalikan kehidupan alam. Manfaatnya adalah sebagai bukti kasih sayang Tuhan. Dia tidak melarang manusia memanfaatkan alam itu untuk kehidupan yang sejalan dengan misi hidup manusia. 


Khalifah Fil Ardh


Manusia diangkat tinggi fungsinya sebagai khalifah fil ardh, pemimpin di bumi mewakili Tuhan. Sesuai ketetapan Allah sendiri dalam Alquran.


Khalifah bukanlah perusak. Bukan pula boleh berlaku zhalim terhadap alam. Karena fungsi kekhalifahan manusia di bumi adalah mewakili Tuhan.


Untuk tujuan kebaikan Tuhapun memberi batasan, wa laa tufsiduu fil ardhi ba’da Ishlahiha. Jangan kamu rusak alam di bumi itu setelah Allah membuatnya secara baik dan teratur. 


Sesuai makna yang kita pahami bahwa tindakan merusak (fasad) yaitu kalimat dasar yang digunakan Tuhan dalam perintahnya yang tegas agar manusia menghindari tindakan merusak terhadap alam yaitu ketika manusia diberi kepercayaan mengelola bumi. Tetapi sekaligus ini merupakan perintah untuk menjaga keserasian yag telah sempurna Allah ciptakan.

 

Dalam perspektif ini kita pahami bahwa keserasian yang harus dijaga adalah agar tetap berfungsinya alam untuk kehidupan alam itu sendiri dan manfaat dari tujuan alam itu diciptakan bagi manusia. 


Tugas ini termasuk sunnatullah yaitu untuk memastikan alam tidak menderita yang itu akan berpengaruh kepada penderitaan manusia juga. 


Dengan kata lain alam diberikan Tuhan tugas untuk menjaga manusia dan memberikan dukungan kepadanya secara sempurna. Agar manusia dapat menjalankan peran utama mereka sebagai ‘abid, hambaNya yang menyembah Allah semata. 


Disharmoni


Kita sudah melihat dengan mata kepala kita sendiri bahwa kita manusia bertindak bodoh. Inilah maka Allah jelaskan kepada kita wa kaanal insana ‘’ajuulaa, benar benarlah manusia ini bertindak bodoh.


Allah sebutkan kita manusia ini bodoh karena kita memang pantas disebut seperti itu. Betapa tidak kita menyadarinya, bahwa Tuhan sudah demikian baik dengan kita, Dia mencipta kita, mencipta alam sebagai tempat kita bermitra, diberikannya pula kepada kita mandat untuk mengelolanya untuk sebesar besar manfaat untuk kita. Alam pun diperintahkanNya agar tunduk kepada manusia. 


Ketika kita sudah berada diatas puncak segalanya. Kita menjadi pongah, menjadi jahat, buas, tamak, rakus, dan berbagai sifat buruk lainnya keluar semua. Padahal Tuhan ada bersama kita. Dia memegang remote kendalinya. Terhadap alam dan diri manusia.


Alam dan juga manusia tidak terjadi bila Tuhan tak Berkreasi. Dia berkata jadi maka jadilah. Berhenti maka berhentilah. Hancur maka hancurlah. 


Mausia lupa diri, lupa daratan. Seakan Tuhan dilupakan. Seakan Dia tak lagi ada di alam seraya memperhatikan dan membuat perhitungan. 


Alam meradang dan Tuhan Murka. Alam tak tahan kesakitan Tuhan menghukum kita. 


Kembali Belajar


Dari semua kekeliruan seyogianya kita mausia sadar, dan kembali belajar. 


Ya belajar akan arti kehidupan, dan tujuan kita diciptakan. Belajar apa itu alam dan untuk apa dia ada. Belajar siapa yang menciptakan alam dan juga diri kita.


Kebanyakan kita sudah keliru memahami seakan alam ini adalah benda. Padahal dia juga makhluk seperti kita manusia. Yang juga memerlukan perhatian dan kasih sayang serta perlindungan Sang Pencipta, dan dari khalifah yang ditugaskanNya untuk memelihara.


Kita adalah generasi yag sudah gila. Yang tega merusak rumah kita sendiri tempat kita hidup agar bahagia. Kita tega saling menghancurkan diri kita sendiri. 


Untuk inilah kita belajar. Untuk menjadi seorang penyabar. Yang tahan segala godaan dari cara hidup kita yang kurang sadar.


Anak generasi muda kita adalah harapan. Mereka patut mendapat pencerahan. Keluar dari kekeliruan. Ya kekeliruan kita generasi tua yang serakah dan rela membuat Allah Murka.


Untuk anak anak di berbagai tingkat pembelajaran perlu sudah didefinisikan kembali apa itu hubungan alam, manusia, dan Tuhan. Juga peran masing masing untuk keharmonisan. 


Bagaikan orang orang dahulu yang berhasil mewariskan kepada kita pelajaran akan keseimbangan, keserasian, dan keharmonisan manusia dengan Tuhan dan alam semesta. 


Bagaikan roda yang berputar pada sumbunya, ketiga faktor itu beredar secara harmonis sebagai sistem yang saling menguatkan. 


Sebagai manusia, khalifah, kita tidak lupakan Pencipta dan mandat yang kita terima dariNya. Kita menyembahNya dan menyerap sedikit sifat sifatNya. Dalam mengelola alam dan kehidupan kita yang sarat tujuan dan makna. 


Kita tidak mebelakangiNya dan tidak merusak makhluk ciptaanNya. Sebaliknya kita menghormati amanahnya dan bersahabat dengan makhlukNya.


Wallahu a’lam.


KL-Jeddah, 3 Januari 2026

Penulis adalah Akademisi UIN Ar-Raniry, pengamat toleransi/ moderasi beragama, Bendahara ICMI Aceh

×
Berita Terbaru Update