Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Kebun kurma, tepatnya pasar kebun kurma, merupakan satu dari tiga tujuan utama city tour perjalanan ziarah, umrah dan haji, di kota Madinah. Dua lainnya adalah masjid quba dan lembah uhud.
Setiap rombongan jamaah umrah pastinya diagendakan dengan program city tour itu. Tentu masuk dalam harga paket total perjalanan umrah yang selama rata rata sebelas hari.
Dalam sekitar 3 hari masa ziarah di Madinah — setelah atau sebelum prosesi ibadah umrah di Masjidil Haram Makkah Al-Mukarramah — selain fokus untuk ziarah ke makam Nabi SAW dan menjalankan ibadah di masjid Nabawi tersebut, perjalanan umrah dirasa kurang bila tanpa disertai city tour itu.
Jamaah dibawa pertama ke masjid quba, yaitu masjid yang berjarak sekira empat kilometer di pinggiran Madinah.
Masjid ini menjadi destinasi sejarah karena dibangun oleh Nabi SAW dalam perjalanan hijrah beliau dari Makkah kala itu. Beliau tinggal empat hari di wilayah lokasi masjid itu sebelum memasuki Madinah, dan membangun dasar masjid quba tersebut.
Saat ini masjid quba sangat representatif untuk menampung kunjungan jamaah dan tampak terus dikembangkan. Khususnya perluasan parkir bus, sehingga jamaah yang berduyun duyun datang dari berbagai belahan dunia tak perlu merasa terkendala memasuki wilayah itu.
Sebagaimana diketahui masjid kuba, selain menjadi destinasi sejarah Islam, ia juga memiliki gezah spiritual mengingat janji Nabi SAW bagi siapa yang turun dari rumahnya (di Madinah) dalam keadaan berwudhu lalu pergi ke masjid quba dan melakukan shalat sunat dua rakaat maka baginya pahala umrah secara sempurna.
Dikisahkan Nabi SAW sendiri semasa hidupnya sering mengunjungi masjid kuba hanya sekedar untuk duduk duduk berbincang dengan para sahabat beliau.
Jadi masjid kuba sebagai destinasi city tour dalam wisata religi Madinah akan tetap kuat dan untuk itu pemerintah Saudi terus membenahi fasilitas pendukung masjid itu.
Di masjid ini jamaah hanya menghabiskan waktu kurang dari satu jam. Hanya untuk mengambil shalat sunat, melihat lihat suasana dalam masjid sambil menyerap spirit perjalanan hijrah Rasulullah SAW dulu, dan mengabadikan momen untuk dokumen pribadi atau sharing di media.
Setelah puas di masjid kuba jamaah dibawa ke lembah uhud yang berjarak kurang lebih 5 km dari Kuba.
Sebagaimana diketahui kekuatan uhud disamping historical juga spiritual. Jamaah umrah diarahkan untuk menyapa memberi salam kepada tujuh puluh syuhada yang syahid pada perang uhud.
Di kompleks makam syuhada uhud itu terdapat jasad sayidina Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi SAW, yang tenar kita ketahui bahwa jenazah beliau dimutilasi oleh Hindun isteri Abu Sufyan (kala itu mereka belum muslim).
Ada dua hal catatan sejarah yang keduanya saat ini dapat dibuktikan secara faktual. Pertama, perang uhud yang berlangsung seimbang. Tidak dimenangkan oleh salah satu, baik kaum muslim maupun kaum musyrik. Buktinya tidak ada pemimpin dari kedua belah pihak yang dapat jatuh atau terbunuh, dan tidak ada wilayah yang saling dikuasai. Jadi klaim bahwa perang uhud dimenangkan oleh kaum musyrik Makkah kala itu tidak mendapat dukungan fakta sejarah.
Kedua, jamaah umrah dapat langsung melihat dan mendaki bukit batu kecil yang disebut bukit pemanah. Di bukit itu dulu Rasulullah menempatkan sepuluh pasukan pemanah untuk melindungi pasukan kaum muslimin dari potensi serangan dari arah belakang.
Tapi apa yang terjadi? Ketika pasukan musyrik yang dipimpin Abu Sufyan sudah terdesak dan memilih mundur dan kucar kacir, pasukan pemanah itu menyangka perang sudah usai. Mereka meninggalkan posisi di bukit dan turun untuk ikut mengumpulkan harta rampasan perang yang ditinggalkan kaum musyrik. Ini telak. Padahal Nabi sudah menginstruksikan pasukan pemanah itu agar tidak meninggalkan posisi dalam keadaan apapun.
Hasilnya satu tim pasukan musyrik Quraisy dibawah pimpinan Khalid bin Walid (kala itu masih kafir) berhasil menyerang balik dari belakang bukit yang sudah ditinggal kosong dan menyebabkan Nabi SAW menarik mundur sisa pasukan ke celah bukit uhud.
Pasukan Quraisy tidak mengejar dengan alasan megkhawatirkan kemungkinan strategi Nabi SAW dan pasukannya. Mereka meninggalkan lembah uhud, dan Nabi menguburkan semua tujuh puluh syuhada di lembah uhud itu.
Jamaah umrah di lokalsi itu dapat menyerap getaran spiritual perjuangan Nabi SAW itu dengan sempurna. Selain menyapa dengan salam para syuhada para pengunjung juga dapat menaiki bukit pemanah dan merasakan getaran perkecamukan perang uhud dan jitunya strategi pemanah yang ditempatkan Nabi. Walau sayang perintah Nabi itu dilanggar.
Disamping kedua hal diatas, di Madinah masih cukup banyak destinasi sejarah lainnya yang layak dieksploitasi sebenarnya. Mengingat jejak karya karya sejarah baginda Nabi SAW dan para sahabat, khususnya para khulafaurrasyidin, merupakan khazanah intelektual dan spiritual yang penting untuk memompa spirit kekuatan dan kebersamaan kaum muslimin.
Cuman satu hal, bila semua itu masuk dalam komponen paket perjalanan umrah, maka tentu ada cost lebih yang perlu dikeluarkan jamaah.
Kebun Kurma
Agak berbeda dengan muatan sejarah dan aspek spiritual dua destinasi wisata religi Madinah diatas, kebun kurma lebih merupakan wisata ekonomi religi.
Memang benar Nabi SAW menempatkan kurma sebagai makanan utama masyarakat setempat dan merupakan ciri kekuatan dan khas komiditas ekonomi Madinah.
Disinyalir budidaya dan pengembangan kurma di Madinah sudah terjadi sejak sebelum masa Rasulullah SAW pindah ke Madinah. Madinah (Yatsrib kala itu) sudah tampil sebagai penghasil kurma terbesar dan terbaik di timur tengah.
Destinasi kebun kurma Madinah itu sekitar lima kilometer tenggara Madinah, dan sangat dekat dengan masjid kuba.
Kebun kurma destinasi wisata itu dikisahkan milik keluarga Abdurrahman Al-Harby, seluas 25 hektar dengan kurang lebih 1.600 pohon. Merupakan kebun kurma terluas di Madinah.
Rombongan jamaah umrah umumnya dibawa berwisata kesitu untuk menikmati spirit kekuatan relasi kurma dengan kehidupan spiritual kaum muslimin. Juga untuk mendapat kesempatan mengenal dari dekat budidaya dan proses produksi kurma itu langsung dari laboratorium alamnya yang asli.
Spirit kekuatan relasi kurma dengan kaum muslim ini pelajaran sangat penting dan dapat dipelajari setidaknya dari dua hadis Nabi SAW.
Pertama, hadis riwayat Muslim dimana Nabi SAW mengatakan barangsiapa makan kurma (ajwa) 7 butir dia terbebas dari bahaya racun dan sihir pada hari itu.
Kedua, penjelasan Nabi SAW bahwa kurma adalah pohon yang tidak gugur daunnya, ini kata beliau, bagaikan muslim yang kokoh dan teguh dalam agamanya. Hadis ini riwayat Bukhari dan Muslim.
Sementara kesempatan mengetahui secara langsung budidaya kurma dari laboratorium alaminya itu jelas juga merupakan hal sangat menarik. Terutama bagi jamaah umrah yag datang dari negeri negeri non komoditas kurma tetapi menikmati kurma dalam keseharian, terutama pada momentum puasa Ramadhan, seperti Indonesia.
Kunjungan ke kebun kurma ini tentu dapat melepas keingintahuan yang ada di benak kita.
Jualan paket wisata kebun kurma ini seringkali diwarnai dua hal. Pertama, untuk menikmati suasana sejuk kebun kurma. Kedua, makan kurma gratis sepuasnya langsung di pohon.
Di lapangan kedua hal itu tidak selalu terjadi. Karena kurma tidak berbuah pada musim dingin. Kurma berbuah pada sekira bulan April dan memerlukan waktu enam bulan sampai panen.
Jamaah umrah yang berkunjung pada musim dingin hanya akan melihat pohon kurma tanpa buah.
Sementara makan gratis kurma, setidaknya pada musim dingin seperti bulan September sampai Maret boleh mencicipi kurma dari meja yang dipajang untuk dijual. Konsepnya adalah mencicipi sepuasnya tapi jangan lupa beli. Karena kurma yang dijual di lokasi wisata kebun kurma itu, tentu termasuk yang dipasok dari luar Madinah.
Maka harga kurma di kebun kurma Madinah itu perkisaran harganya disinyalir diatas harga pasar di luar kebun kurma. Wajar, masuk akal. Karena penjual perlu menghitung biaya pasok dan konsekuensi pengunjung mencicipi.
Hal yang unik di kebun kurma adalah produk yang dijual disitu bukan hanya kurma dan produk turunannya. Tetapi juga komoditas yang lain.
Yang saat ini termasuk terkenal di lokasi itu adalah makanan baso daging unta. Yang jual orang Indonesia. Ada dua outlet baso dengan kursi meja berjejer di jajaran bawah pohon kurma. Lumayan, baso itu dibandrol 20 Riyal Saudi per mangkoknya. Di lokasi itu juga dijual lengkap dengan aneka minuman ringan siap saji.
Pewisata juga dimanjakan dengan berbagai pilihan produk untuk dibeli. Dari produk pakaian, makan sampai mainan.
Minyak wangi, madu, pakaian wanita abaya, gamis, jubah dan lainnya. Variasi makanan dan mainan anak anak juga ada. Berbagai macam mainan yang disukai pengunjung.
Kombinasi Bakso dan Daging Unta
Pasar di kebun kurma Madinah itu memang pasar Arab. Penjaja dan penjaga dagangan di pasar itu mayoritas orang Arab. Hanya beberapa orang Indonesia.
Yang menarik adalah orang Arab penjual di pasar kurma umumnya mampu berbahasa Indonesia. Mengetahui tamu calon pembelinya orang Indonesia, mereka langsung berbicara dalam bahasa Indonesia. Transaksi boleh pakai rupiah juga. Di pasar pasar lainnya di Madinah dan Makkah, menurut banyak pengalaman juga sama.
Ini hal yang menguatkan. Sebagai bangsa dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia kita bangga.
Bagaikan bakso dan daging unta. Pasar pasar di Arab akrab dengan budaya dan kebutuhan Indonesia.
Banyak orang mengaitkan kondisi ini dengan pasar captive yaitu adanya kecenderungan orang Indonesia hobby belanja saat musim haji dan perjalanan umrah. Atau mungkin juga ada alasan lainnya.
Tetapi kontribusi jamaah haji dan perjalanan umrah Indonesia dari tahun ke tahun juga tercatat tidak dapat dianggap sederhana.
Data 2024 misalnya, mencatat kunjungan umrah warga Indonesia lebih dua juta dari total 16 juta, tak terhitung kunjungan domestik warga Saudi sendiri. Itu artinya 12,5 persen. Tidak dapat dianggap kecil. Demikian juga halnya dengan perjalanan haji.
Ini peluang hubungan lebih kuat akan dapat dibangun kedepan antara warga dua negara. Baik hubungan perjalanan ibadah, hubungan bisnis sampai hubungan budaya.
Produk produk Saudi dari kurma sampai abaya, dari parfum sampai replika unta yang disukai oleh kita, dan bahkan perhelatan ilmu dan budaya kedua bangsa bisa menjadi spirit kekuatan yang dapat mempengaruhi dunia.
Wallahu a’lam
Madinah, 6 Januari 2026
<Penulis adalah warga Gampong Barabung Kabupaten Aceh Besar>
