Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.Id - KSangat kasar memang ketika Presiden Trump dalam satu forum investasi yang ikut disponsori Arab Saudi di Miami AS 28 Maret lalu menyebut Muhammad Bin Salman (MBS), putra mahkota Arab Saudi, terpaksa baik dengan Amerika, bahkan bersedia menjilat pantat presiden Amerika, “he licks my ass”, kata Trump.
Sejatinya mungkin dia ingin berseloroh tetapi pernyataan itu langsung menyulut reaksi keras dari berbagai kalangan.
Frasa — yang sepatutnya tak pantas diucapkan seorang kepala negara di dalam forum terhormat pula — itu menggambarkan betapa buruknya perspektif Trump terhadap dunia arab. Juga menggambarkan betapa negara negara Arab itu sudah demikian lemah jatuh dalam pengaruh dan kepentingan Amerika.
Dalam pidato itu dia juga menyebut seluruh pemimpin Arab termasuk MBS sangat baik dengannya dan sangat patuh pada kepemimpinan Trump. Tak lupa dia juga menyebut dirinya bukan presiden biasa, berbeda dengan presiden Amerika lainnya.
Sejauh ini belum kita dengar reaksi resmi para pemimpin Arab terhadap pernyataan itu. Namun sudah dapat diduga bahwa dalam tekanan krisis timur tengah saat ini, mereka khususnya MBS bersabar walau sakitnya sangat terasa. Trump pun tahu bagaimana cara dan kapan waktunya yang tepat untuk menjatuhkan dunia Arab untuk menguasai sumber alamnya.
Memesan Perang
Sempat belak belok dalam bersikap terhadap rasa terancam mereka dari perang Amerika Israel dengan Iran yang mengimbas dunia Arab, MBS dan raja Arab lainnya sepakat mendukung Amerika untuk terus memerangi Iran. Kecuali Qatar yang memilih sikap berbeda, memilih untuk bersahabat dengan Iran. Qatar melihat peluang lebih selamat dengan menjaga perilaku bertetangga yang baik dengan Iran.
MBS cs — Saudi, UEA, Kuwait, Bahrain, Yaman, Irak, dan juga Qatar yang tergabung dalam Dewan Kerjasama Teluk (GCC) pimpinan Saudi dan UEA (Uni Emirat Arab) — lalu dipatok kompensasi oleh Trump.
Kalau mau lanjut perang maka bayar kontribusi 5 triliun USD atau setara hampir 85 ribu triliun (Rp) atas dasar perkiraan biaya perang yang dihabiskan Amerika setiap hari sebesar 1 milyar USD atau setara 17 triliun Rp.
Amerika berpengalaman mematok format ini dalam jasa Amerika dalam perang teluk tahun 1990/ 1991 silam.
Disamping itu Saudi juga berkomitmen beli senjata ke Amerika dengan nilai mencapai 600 milyar USD.
MBS cs sudah kadung. Mereka butuh berlindung ke Amerika. Walau sebenarnya Iran sudah jelas menyebutkan gak usah takut, Iran tidak akan menyerang negara negara Arab. Bahkan menawarkan konsep kerjasama kawasan untuk melawan Amerika dan Israel. Dikuatkan juga oleh Iran serangan mereka selama ini hanya terhadap fasilitas Amerika di kawasan teluk. Dikatakan kecuali negara negara Arab itu berinisiatif menyerang Iran maka sah mereka menjadi target.
Seperti diketahui MBS dan raja Arab lainnya memilih bermusuhan dengan Iran dan lalu berbaik dengan Amerika, seperti dikatakan Trump. Menjilat pantat Trump dan membayar untuk menyewa perang untuk menghabisi Iran.
Trump sudah tahu raja raja Arab itu sudah ketakutan dan tentu bersedia membayar berapapun untuk jasa perang yang disediakan Amerika. Bahkan disuruh sujud pun mungkin mereka mau.
Ini waktunya untuk Trump menghitung bisnis yang menguntungkan Amerika. Bukan hanya dari keuntungan jasa perang yang disediakan tetapi juga perjanjian dagang yang berdampak signifikan pada berkuasanya Amerika terutama terhadap minyak dan energi di timur tengah pasca perang.
Terhadap konsep ini tentu protes publik Amerika akan bisa dijinakkan, terutama terhadap kesan bahwa perang ini untuk Israel. Ini sudah perang Amerika melawan Iran untuk menguasai timur tengah dan melemahkan Iran dan tak memakai pajak dalam negeri Amerika. Semua dikalkulasi atas pembiayaan Saudi dan negara sekitar kawasan teluk.
Israel hanya akan menjadi pengambil manfaat dari efek perang ini. Dan itupun sejatinya harapan Israel untuk memerangi Iran menggunakan tangan Amerika. Bila pun Israel hancur hancuran itu efek dari tindakan Israel sendiri dalam memulai perang dengan iran dan tanggung sendiri.
Orang seperti Trump tak sulit mengabaikan teman dekatnya Israel bila menguntungkan Amerika. Bukan hanya itu, bahkan kematian pasukan dan kerugian kehancuran fasilitas Amerika di teluk pun dia tidak risaukan karena akan diminta ganti ruginya, kompensasinya, ke negara negara Arab.
Tergantung Iran
Terhadap kemuliaan Islam dan kaum muslim (himmatul islam) tak lagi dapat kita harap pada raja raja Arab. Mereka semua sudah terperangkap dalam kandang ayam sayur yang dikuasai Amerika. Ini pun akan mengefek secara positif bagi langkah zionis dalam mencapai tujuan Israel Raya.
Israel yang saat ini sudah lebih sebulan menutup masjidil Aqsa dari ibadah kaum muslim Palestina kelihatannya juga sudah menemukan momentum kekuatan yang lebih dahsyat untuk terus bertindak. Ya bertindak melarang kaum muslim memasuki masjidil aqsa dan bahkan bisa berencana meruntuhkannya. Serta terus menzalimi warga Palestina.
Raja raja Arab yang melimpah kekayaan dan kemewahan hanya perlu mempertahankan kelembagaan dan martabat kekuasaan dinasti untuk diteruskan ke keturunan anak cucu kerajaan berikutnya. Jubah mereka tak menggambarkan himmah Islam yang perlu ditegakkan, kecuali kepentingan kekuasaan. Pergerakan rakyat pun, bila potensinya ada, sulit dibayangkan akan terjadi karena kuatnya sistem monarki dan back up Amerika.
Harapan kita saat ini ada pada Iran. Semoga Allah beri kekuatan dan kemudahan bagi saudara saudara kita di Iran untuk menghadapi hegemoni dahsyat malapetaka kaum muslimin ini.
Kemenangan Iran dalam kancah perang kali ini akan menentukan kemajuan ahli kiblat dan terakumulasinya kekuatan Palestina untuk merdeka. Kita sertai mereka denga do’a.
Wallahu a’lam
Banda Aceh 31 Maret 2026
(Penulis adalah bendahara ICMI Aceh)

.jpg)