Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Perang Amerika-Israel (AI) lawan Iran sudah berakhir. Indikasinya kuat untuk itu. Kedua pihak sudah menunaikan hasratnya dan sudah mengkalkulasi langkah masing masing.
AI menarget kejatuhan rejim revolusi Islam dengan menghantam kediaman resmi Ayatollah Khamenei, dan rencana menggantinya dengan boneka. Target inti Khamenei tewas tercapai tapi meleset dari perhitungan karena multiplier effect tak terjadi.
Ditakar dengan membunuh sang Imam spirit juang Iran runtuh dan kehilangan arah. Tapi yang terjadi sebaliknya, rakyat tetap turun ke jalan tetapi untuk memberi penghormatan pada sang imam As-Syahid, dan sebagai dukungan solid rakyat pada rejim revolusi untuk melayani kepongahan AI. Yang diharap rakyat menyambut kemenangan AI untuk masuk mendirikan pemerintahan boneka seperti kesuksesan Amerika sebelumnya di Venezuela. Jadi the machine is perfectly not working.
Yang terjadi dalam hitungan jam setelah AI membombardir Teheran pagi hari 28 Februari itu justru pembakaran semangat juang bangsa Iran untuk membela kematian sang Imam dengan menjalankan perintah terakhirnya sesuai rencana dibawah kepemimpinan pemimpin tertinggi layer kedua. Iran tak goyang.
Mesin perang hidup dengan cepat menghabisi pangkalan militer dan fasilitas Amerika di sekitar teluk dan menghajar Tel Aviv tanpa henti. Demikian skenario perintah sang Imam sebelum pergi. Dijalankan pemerintah dan militer Iran dengan hati berdarah.
Tak menunggu sampai dua hari Amerika cabut dari zona perang dan menawarkan kembali ke negosiasi. Israel memaksa Amerika agar segera dicapai gencatan senjata dengan Iran. Sementara rudal terus menghujani Tel Aviv siang malam tak kenal jeda.
Beberapa serangan AI tetap jatuh ke wilayah Iran tetapi justru itu menjastifikasi dan malah membuat negeri kaum Syiah itu makin bernafsu.
Kabar amatir (sempalan) menginformasikan Tel Aviv babak belur sudah seperti Gaza, tetapi tidak diketahui secara pasti karena tidak ada berita resmi (sumber maintream) yang dapat diakses. Kabarnya Israel mengancam lima tahun penjara bagi warganya yang megupload video perang ini.
Netanyahu yang ditarget Iran belum diketahui keberadaannya. Kematian PM penjahat internasional itu harga mati bagi Iran karena dua hal. Pertama, sudah menarget Imam Khamenei. Kedua, ia sudah memerintahkan militer dengan bantuan CIA untuk membunuh Mojtaba Khamenei, sejak hari pertama kemunculannya sebagai potential imam tertinggi yang baru. Karena menurut Netanyahu, Mojtaba jauh lebih garis keras dibandingkan ayahnya.
Sementara Trump sejak menarik pasukannya — baik yang masih hidup dan seribuan mayat — untuk kabur langsung menghadapi gejolak dalam negeri menentang agresinya ke Iran. Yang namanya Trump tetap angkuh mengklaim sudah memenangkan pertempuran dan mengaku Iran sudah dihabisinya. Walau di lapangan bunga api dari drone dan rudal Iran terus menyala di atas Israel. Warga Amerika bergerak realistis, dan menolak Amerika berperang untuk Israel.
Lalu Trump memainkan kata kata agar tak kehilangan muka. Di bawah tekanan — kerugian besar dan demo rakyat — ia menyatakan siap menghentikan perang kalau Israel setuju. Ini kamuflase bodoh dan upaya mengulur waktu karena Iran tak mau bicara dan terus mengirim serangan balasan. Padahal Israel sudah teriak dengan satu kata, “tolong Amerika, stop Iran dan minta gencatan senjata.”
Sampa disini para analis berkesimpulan Iran menang dalam perang melawan AI.
Kehilangan Bola
Indonesia — yang diminta Trump untuk menegosiasi Iran ? — belum mengirim kabar. Trump menanti, dan Israel tentu juga berharap banyak pada presiden Prabowo.
Banyak faktor yang dianggap memungkinkan Indonesia bisa leluasa dengan Iran. Disamping sesama negara Asia dan nonblok juga penduduknya saudara seiman walau beda manhaj. Sejarah hubungan indonesia Iran juga baik. Ini tentu yang membuat Presiden Prabowo bersedia terbang ke Teheran memenuhi “harapan” gencatan senjata untuk AI.
Namun betul betul mengagetkan. Peran indonesia ditolak Iran. “Urus saja negerimu jangan campuri urusan kami. Kalau mau menegosiasi pergilah ke PBB dan atau OKI untuk membela Iran. Tidak ada pintu negosiasi untuk AI.”
Iran secara resmi malah mendekat ke pak JK (Yusuf Kalla) dan Ibu Mega. Pasalnya kedua tokoh nasional ini mengutuk serangan AI ke Iran, menyampaikan cepat belasungkawa atas kematian Imam Khamenei dan mengucapkan selamat atas terpilihnya pemimpin baru, Mojtaba. Kelihatannya eskalasi di dalam negeri pun makin meningkat.
Panasnya suasana dalam negeri Indonesia sebenarnya sudah terjadi sejak sebelum perang AI - Iran. Persisnya sejak bencana Sumatera. Saat Presiden Prabowo menolak bantuan asing dengan alasan kita mampu mengatasi bencana dan tidak mau menjadi antek antek asing. Padahal kuat dukungan bahkan dorongan di seluruh tanah air kala itu agar bencana itu ditetapkan sebagai bencana nasional agar terbuka bantuan dari luar. Yang terjadi sebaliknya, ditutup rapat. Bahkan blunder para pejabat di tengah bencana itu bikin orang gerah dan antipati. Banyak spekulasi liar terjadi, antaranya pemerintah berupaya menutupi kehancuran hutan Sumatera dari mata internasional, walau penderitaan rakyat menjadi taruhannya.
Tak lama waktu berselang Indonesia memutuskan gabung Board of Peace (BoP). Tambah ramai. Karena langkah pemerintah bertentangan dengan kebijakan sebelumnya kala becana. Tolak batuan antek asing.
Yang terjadi di BoP adalah — menurut pandangan banyak referensi — justru menjemput antek asing. Yang dijemput pun tak tanggung tanggung, Amerika dan Israel. Itu kemudian menjadi tambah rumit karena pemerintah banting stir dari nilai dan semangat pro Palestina sejak Indonesia merdeka menjadi mengakui dan membela hak hak Israel serta menjamin keamanan buat Israel.
Dari tema diskusi BoP yang mengarah melindungi Israel dalam genggaman penuh Presiden Trump sebagai “raja baru” perdamaian dunia, sampai hasrat melindungi hak dan keamanan Israel BoP dipandang tidak pro Palestina. BoP lebih mirip memperpanjang penjajahan terhadap Palestina dengan pendekatan bisnia Gaza baru, reoccupation.
Diskusi soal ini terus berlanjut dan memanas. Meskipun kita tahu pemerintah sudah kukuh dan meyakini akan dapat melakukan sesuatu dalam diplomasi melalui BoP. Walau juga disisi lain secara terang terangan dapat dibaca itu langkah untuk menguatkan dominasi presiden Trump dalam mengacak acak dunia atas nama perdamaian.
Benar saja hanya sekitar sebulan setelah BoP dilaunching pada 22 Januari, dan tak sampai sepuluh hari setelah KTT BOP 19 Februari, AI mengobarkan perang pada 28 Februari.
Yakin bahwa Presiden Prabowo tidak diminta pandangannya terhadap rencana AI menyerang Iran itu. Tetapi kemudian saat AI terdesak besar harapan Presiden Prabowo ikut turun tangan untuk menggeser bola agar digoreng di lini tengah.
Tapi sayangnya Presiden kita tidak dapat bergerak maju untuk menggiring bola ke lini tengah. Bukan tidak mau tapi tidak bisa. Tidak ada bolanya. Bola dikuasai sepenuhnya oleh Iran, tidak dilepas.
Selaku bangsa kita merasa sudah kehilangan kepercayaan dari Iran saudara kita. Kita pun merasa tak dihargai. Niat baik Indonesia untuk meneruskan pesan Presiden Trump agar Iran berhenti menyerang Tel Aviv dan fasilitas Amerika, dan meletakkan senjata untuk kembali negosiasi mengganti rejim, berhenti memproduk senjata nuklir, dan hancurkan rudal yang bertenaga melebihi 300 km yang dimilikinya, tidak digubris Iran. Padahal gagasan itu baik untuk rencana perdamaian ala BoP. Cuma sayangnya Iran berbeda pandangan dengan Indonesia.
Akankah Indonesia dan Iran terus terbelah? Tergantung format politik dan pola hubungan internasional yang ditempuh masing masing negara. Terutama pasca peran AI Iran ini
Yang sedikit menghibur adalah Iran menerima uluran para tokoh negarawan pemimpin bangsa dari luar pemerintah. Ini membuat kita sejuk dan melihat ada harapan ke depan yang baik. Terutama ketika Indonesia sudah menyimpulkan dapat meninggalkan BoP dan kembali ke garis perjuangan negara sejatinya.
Saya tanya Dr. Abdul Rani Usman, akademisi senior UIN Ar-Raniry Banda Aceh, selaku pakar falsafah Cina yang menggandrungi Iran karena Syi’ahnya, walau dirinya seorang Sunni tulen. Bagaimana Iran? Solid, kuat karena punya dan memegang ideologi. Memiliki struktur dan kultur kepemimpinan yang kuat sebagai sebuah negara tua di dunia.
Semoga kedepan akan ada pelajaran penting yang dapat kita petik dari permainan kita di tengah kancah hegemoni barat (baca utamanya AI) dalam menghadapi kemandirian Iran yang kokoh dan berwibawa.
Wallahu a’lam
Banda Aceh 21 Ramadhan 1447
(Penulis adalah bendahara ICMI Aceh)
.jpg)