Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id - Malam ke 17 Ramadhan 610 miladiyah adalah saat revolusi kehidupan berdasarkan Alquran dimulai. Malam itu ditandai dengan turun surat Al-‘Alaq ayat 1 sampai 5, sebagai wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammad SAW.
Malam itu di gua Hira Nabi SAW sedang berkhalwat, mengasingkan diri, sebagai langkah proteksi dirinya dari sistem paganis (jahiliyah) masyarakat Makkah kala itu.
Usianya 40 tahun. Usia yang matang secara psikologis untuk menyerap dan menjadi pusat informasi dan sandaran perubahan yang akan diembankan kepadanya.
Saat dalam kesunyian malam dan kekhusyukan hati Muhammad SAW dalam berinteraksi dengan Allah Tuhan Maha Kuasa, malaikat Jibril datang seraya berkata iqra’, “bacalah”. Nabi SAW dalam kekagetan menjawab “saya tidak bisa membaca”. Jibril memeluknya dengan mantap seraya mengulangi “iqra’”, dijawab lagi seperti diatas.
Terulang sampai tiga kali. Nabi terguncang merasa beban berat dalam dirinya. Tapi Jibril ada sebagai sandaran spiritualnya meberi ketenangan. Menandakan proses dimulainya kenabian Muhammad SAW berat.
Lalu Jibril membimbing pembacaan Al-‘Alaq itu ayat pertama sampai lima. Nabi SAW membacanya dengan lancar dalam bimbingan Jibril.
Tahapan peristiwa berikutnya malam itu sudahlah kita ketahui. Nabi SAW dalam kondisi batinnya bergejolak beliau pulang dan minta diselimuti oleh istrinya.
Khadijah, perempuan berusia 55 tahun, isterinya itu, paham apa yang diperlukan suaminya saat mengalami tekanan seperti itu. Dia melakukannya, dia memberi perhatian sepenuhnya, meskipun belum diketahui apa masalahnya. Langkah Khadijah adalah yang diperlukan suami saat mengalami goncangan dan tekanan di luar. Rumah Khadijah adalah benteng tempat berlindung bagi Nabi SAW.
Setelah agak tenang Nabi menceritakan hal ihwal dirinya. Khadijah keesokan harinya, meminta pandangan pihak ketiga, Waraqah bin Naufal, sepupu pamannya. Yaitu orang yang dipandang mampu memberi pandangan terhadap masalah suaminya. Sepengetahuan Waraqah dari sumber kitab kitab yang dibaca, disebutnya ini ciri proses kenabian. Bergembiralah, yang datang tadi malam itu Jibril pembawa wahyu.
Sejak itu Nabi SAW terus secara bertahap menerima wahyu, dalam kondisi dan tantangan dakwah yang dijalaninya. Selama hampir 23 tahun. 13 tahun di Makkah, dikategorikan ayat ayat Makkiyah utamanya mengenai akidah dan akhlak, dan 10 tahun sisanya di Madinah, dikategorikan ayat ayat Madaniah utamanya terkait hukum (syariah) dan relasi sosial. Sampai selesai seluruh ayat Alquran turun, surat An-Nas.
Problema Kita
Dalam kaitan dengan Alquran problema kita hari ini dapat digambarkan sebagai berikut.
Pertama, setiap kita, muslim, akrab dengan Alquran. Di hampir setiap rumah tentu ada Alquran. Kita tahu Alquran pedoman kita. Tetapi mungkin tak semua kita membacanya. Atau bahkan ada diantara kaum muslimin yang tidak mampu membacanya.
Dari survey Institute Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta tahun 2024, disampel 25 propinsi di Indonesia terdapat 72.25 persen dari total hampir 250 juta jiwa (tepatnya 249,8 juta jiwa, 2025) muslim penduduk Indonesia, buta huruf Alquran. Total penduduk Indonesia per 2025 (dibulatkan) 287 juta jiwa, sekira 87 persennya adalah muslim.
Ini problema utama kita. Bagaimana muslim dapat meraih makna kedekatan dengan Alquran secara baik bila tidak mampu membacanya. Lembaga lembaga pemberdaya bidang bimbingan Alquran dengan dukungan pemerintah tentu terus berupaya menekan angka buta huruf Alquran ini, tetapi yang terjadi justru trendnya meningkat dari setiap survey dilakukan sejak tahun 2020.
Adakah ini problem metodologi bimbingan membaca Alquran atau ada hal lain, tentu saja perlu didalami.
Sesungguhnya modal kita punya, yaitu setiap muslim di tanah air menerima Alquran sebagai kitab yang harus diimani dan sebagai pedoman hidup dalam beragama dan dalam kehidupan sebagai muslim.
Kedua, kurang subur tumbuh di sekeliling kita budaya tadabbur. Yaitu langkah untuk mendalami kandungan isi Alquran yang langsung dapat dikaitkan dengan kehidupan nyata kita sebagai pribadi, keluarga, profesi, dan kehidupan bermasyarakat.
Kita membacanya sebagai ibadah ritual untuk meraih satu kebaikan kedekatan kita dengan Alquran tetapi seringkali sebagian pembaca Alquran tidak memahami apa isi kandungan ayat ayat Alquran yang dibacanya.
Karena itu ada sebagian orang mendorong, ketika orang menarget khataman tadarus Alquran yang dilakukan dalam Ramadhan khususnya, dan tentu saja di luar bulan Ramadhan, tadarus sekalian khatam minimal dengan terjemahannnya. Misalnya khatam Alquran terjemahan Kementeraian Agama.
Tentu jauh lebih baik tadarus sekalian dengan tafsir ayat ayat Alquran, dengan membaca, mengulangi, mendalami kitab tafsir (dalam bahasa Indonesia) misalnya. Buku (kitab) tafsir apa saja yang ditulis oleh ulama tafsir terkemuka yang dapat kita akses.
Agar konsisten tentu di rumah rumah kita perlu ada satu set buku tafsir Alquran yang kita letakkan di tempat terjaga dan terjangkau yang mudah kita akses setiap ada kesempatan.
Ketiga, integrasi konsep nilai dan substansi Alquran dalam aktifitas sehari hari kita. Bukan hanya akfitas ibadah ritual tetapi juga rutinitas profesional dan soal kita. Sehingga semua aktifitas kita menjadi ibadah. Dengan langkah ini Alquran terinjeksi dalam setiap langkah bahkan nafas kita.
Kekuatan Dekat Alquran
Dalam satu mafhum hadis Nabi SAW mengatakan, “bacalah Alquran, sesungguhnya ia akan datang nanti pada kiamat sehabat yang memberimu syafaat.” (HR Muslim no 804).
Hadis lainnya mengindikasikan bahwa seorang muslim yang di hatinya tidak sedikitpun ada (membaca) Alquran bagaikan rumah kosong yang roboh (HR Tirmizi no 2913).
Hadis lain lagi menegaskan bahwa rumah yang tidak dibacakan Alquran dalamnya — khususnya surat Albaqarah — menjadi sarang yang dikuasai setan (HR Muslim no 780).
Hadis hadis diatas kita tangkap maknanya sebagai bimbingan Nabi SAW kepada kita umatnya untuk dekat dan bersahabat dengan Alquran. Yaitu dengan membacanya, menghafal yang mudah dari ayat ayat dan suratnya, mentadabburinya, dan mengintegrasikan substansinya dalam aktifitas keseharian kita.
Keutamaan yang dapat kita raih dengan itu adalah hati menjadi lembut, mendapat syafaat dari Alquran di hari kiamat, derajat kita naik disisi Allah, mendapat bimbingan Allah kemudahan meyesaikan segala permasalahan hidup dan lain sebagainya.
Bersahabat Dengan Sahabat Alquran
Banyak agenda individu atau lembaga saat ini ada di sekitar kita upaya para sahabat Alquran untuk membimbing umat sejak dini agar menggeluti Alquran.
Upaya mereka dimulai dengan bimbingan tahsin. Yaitu upaya memberikan bimbingan membaca Alquran dengan lahjah dan ketentuan aturan membaca sesuai yang diajarkan Nabi SAW. Yaitu membaca sesuai hukum dan ketentuan berdasar ilmu tajwid dan aturan pengucapan dari tempat keluar masing masing huruf (makharijul huruf).
Salah membaca Alquran yaitu tidak sejalan dengan aturan dan ketentuannya tentunya tidak diharapkan. Karena bahkan dapat berimplikasi negatif bila pengucapan yang keliru dapat mengubah makna.
Maka jalan pintas untuk itu adalah bersahabat dengan sahabat Alquran. Dengan bersahabat dengan mereka insyaallah kita mudah (mendapat wasilah) bersahabat dengan Alquran.
Mari kita sambut malam Nuzul Quran dengan hati tenang dan melangkah mendekat kepada Alquran dengan hati senang. Maka Allah akan limpahkan kepada kita hidup dalam rahmat-Nya dan ridhaNya.
Adakah kita sudah berusia 40 tahun yaitu seusia saat Nabi SAW menerima wahyu pertama atau lebih atau kurang sedikit? tetapi belum dekat dengan Alquran? Tidak adakah rasa malu kita kepada baginda Nabi SAW saat nanti akan meminta syafaatnya? Padahal beliau berat berkeringat bahkan berdarah sejak menerima, mengajarkan dan mendakwahkan Alquran ini agar sampai ke kita?
Wallahu a’lam
Tungkop, 16 Ramadhan 1447/
6 Maret 2026
(Penulis adalah Imumsyik Masjid Jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop Darussalam Aceh Besar)
.jpg)