Banda Aceh – Umat Islam diajak untuk semakin cerdas dalam mencari, mengelola, dan memanfaatkan informasi di era modern saat ini. Hal tersebut penting agar informasi yang diperoleh dapat digunakan untuk kepentingan yang produktif, sekaligus tetap sejalan dengan aturan hukum, nilai moral, serta kepentingan spiritual umat Islam.
Pesan tersebut disampaikan oleh Tgk Saifuddin A. Rasyid, akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dalam ceramah memperingati Nuzulul Quran di Masjid Al-Hasanah, Gampong Geuceu Komplek, Kota Banda Aceh, Sabtu (7/3/2026) malam, bertepatan dengan 18 Ramadhan 1447 H.
Dalam ceramahnya, Saifuddin menjelaskan bahwa inti dari peristiwa Nuzulul Quran adalah turunnya wahyu pertama kepada Rasulullah SAW, yakni Surah Al-‘Alaq yang diawali dengan perintah “Iqra’” atau membaca. Peristiwa tersebut terjadi pada malam 17 Ramadhan tahun 610 M ketika Malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.
“Inti dari ayat pertama surat yang pertama kali diturunkan pada malam Nuzul Quran itu adalah perintah membaca, iqra’. Perintah ini memiliki dasar filosofis yang kuat, terutama terkait dengan kecerdasan dalam menggunakan informasi yang ada di sekitar kita,” ujar dosen bidang Literasi Informasi pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry tersebut.
Ia menjelaskan, membaca tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas melihat teks, tetapi juga mencakup kemampuan memahami, mengelola, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab. Menurutnya, seseorang harus mampu mendefinisikan dan merancang kebutuhan informasi sebelum melakukan pencarian informasi tersebut.
Saifuddin mengingatkan bahwa di era teknologi informasi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), akses terhadap informasi sangat mudah dan melimpah. Namun kondisi tersebut juga dapat membuat seseorang tersesat dalam “rimba informasi” apabila tidak memiliki kemampuan literasi informasi yang baik.
“Dalam tahap tertentu, bahkan keadaan sekarang sudah berbalik. Bukan kita yang mencari informasi, tetapi informasi yang mencari kita,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa sistem kecerdasan buatan mampu mengenali kebutuhan pengguna melalui rekam jejak pencarian atau konten yang sering diakses di internet dan media sosial. Karena itu, pengguna perlu berhati-hati dalam berselancar di dunia digital.
“Setiap aktivitas kita di internet terekam dalam sistem server. Misalnya pada mesin pencari seperti Google, semua kebiasaan pencarian informasi kita tercatat dan digunakan untuk memetakan kebutuhan informasi kita,” jelasnya.
Saifuddin kemudian mengaitkan fenomena tersebut dengan konsep pencatatan amal dalam ajaran Islam. Ia menyebutkan bahwa sebagaimana aktivitas manusia di internet direkam oleh sistem digital, demikian pula setiap amal manusia dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid.
“Segala perkataan dan perbuatan kita direkam di sisi Allah SWT. Catatan itulah yang akan menjadi buku amal yang kelak diperlihatkan kembali kepada kita pada hari akhir, kecuali jika kita menyadari kesalahan dan bertaubat,” ujarnya.
Karena itu, ia mengingatkan umat Islam agar tidak terjebak dalam arus informasi yang tidak bermanfaat. Menurutnya, abad ini merupakan abad informasi sehingga masyarakat perlu memiliki kecerdasan literasi agar tidak menjadi korban informasi.
“Ajarkan juga anak-anak dan generasi kita agar melek informasi. Jadilah pengelola informasi yang baik, jangan menjadi korban informasi,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Saifuddin juga mengingatkan bahaya penyebaran hoaks, ghibah, namimah, dan fitnah yang kerap terjadi di media sosial apabila seseorang tidak berhati-hati dalam menggunakan informasi.
Mengutip Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 6, ia menegaskan pentingnya melakukan tabayun terhadap setiap informasi yang diterima sebelum digunakan atau disebarkan kembali.
“Setiap informasi yang singgah ke akun kita harus dicek dan cross check terlebih dahulu. Jangan sampai informasi yang kita teruskan ternyata hoaks atau bahkan fitnah yang bisa merusak hubungan sosial di masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, seseorang tetap bertanggung jawab atas informasi yang disebarkan, sekalipun hanya meneruskan pesan yang diterima dari orang lain.
Saifuddin juga mengingatkan bahwa kesalahan dalam mengelola informasi dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa. Hal tersebut sejalan dengan mafhum hadis Nabi SAW riwayat ad-Dailami yang menyebutkan lima perkara yang dapat menghapus pahala puasa, yakni melihat dengan nafsu, berdusta atau menyebarkan berita bohong, ghibah, namimah atau adu domba, serta sumpah palsu.
Menutup ceramahnya, Saifuddin mengajak jamaah untuk tidak hanya memperingati peristiwa Nuzulul Quran secara seremonial, tetapi juga mengambil hikmah dan spiritnya untuk meningkatkan kecerdasan serta memperbanyak membaca, baik ayat-ayat Al-Qur’an maupun ayat-ayat kauniyah.
“Peristiwa Nuzul Quran harus menjadi inspirasi bagi kita untuk terus mengembangkan diri melalui ilmu pengetahuan dan membaca, kapan pun dan di mana pun, terlebih di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini,” pungkasnya.


