Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id - Setidaknya empat hal berikut ini menguatkan indikasi bahwa serangan Israel dan Amerika ke Iran baru baru ini adalah bagian dari proyek Board of Peace (BoP).
Pertama, statuta BoP merujuk pada diskusi geopolitik — tidak menentukan bahwa board ini dicreate hanya untuk urusan Gaza, dan Palestina. Bila benar seperti itu maka BoP bikinan Presiden Trump itu terbuka untuk menebar “damai” ke seluruh jagat raya, di mana saja.
Adapun membangun Gaza Baru (New Gaza), ya mungkin menjadi kira kira seperti Dubai sekarang di bawah kontrol BoP, adalah hanya satu proyek awal.
Kedua, serangan Amerika ke Iran kemarin diklaimnya untuk langkah membangun perdamaian dunia melalui lima tujuan dari serangan besar besaran itu. Salah satunya adalah mengganti rejim di Iran.
Ketiga, tidak ada suara, apalagi suara nyaring dari negara negara BoP untuk mengutuk koalisi serangan Amerika dan Israel itu. Turkiye yang mencoba mengecam serangan itu langsung direaksi, diumumkan oleh pejabat keamanan Israel masuk list sebagai negara taget serangan berikutnya setelah Iran.
Keempat, Indonesia juga belum terdengar mengeluarkan statement mengecam atau mengutuk serangan itu. Hanya pernyataan menyesalkan gagalnya perundingan Amerika dan Iran yang berdampak pada meningkatnya eskalasi keamanan di timur tengah. Hanya narik narik rambut sendiri karena kesal sendiri melihat mengapa perundingan itu gagal, sampai perang jadi pecah. Aduuuh!
Kelima, Indonesia “diminta” tampil sebagai mediator agar perang dianggap usai. Tentu dalam tahapan perang saat ini mediasi Indonesia dimulai — bukan dari mencegah Israel dan Amerika memulai serangan, tetapi — dari bernegosiasi dengan Iran agar menahan diri dari melakukan rangkaian serangan balasan baik ke Israel maupun menyerang fasilitas Amerika.
Setelah serangan mendadak pada pagi 28 Februari 2026 itu — walau persiapan dan ketegangan sudah berlangsung lama — selesai, ditandai dengan capaian maksimal meninggalnya pemimpin tertinggi Iran, langkah serangan itu sementara dianggap cukup. Amerika menarik mundur pesawat tempurnya dan Israel juga merasa cukup.
Tinggal tahapan berikutnya adalah pendekatan politik, tekanan dan propaganda, untuk menjatuhkan rejim republik Islam Iran dan menggantinya dengan “boneka” putra mahkota Syah Iran yang saat ini tinggal di Amerika.
Tapi sayangnya Iran membalas serangan akumulatif itu. Harusnya mereka terima saja serangan mematikan itu sebagai “hukuman” karena telah memilih menjadi negara kuat yang berani berdiri tegak menentang dominasi Amerika dan Israel di kawan yang sudah masuk dalam peta klaim zionis itu.
Maka perlu ada pemimpin dunia yang hebat dan tangguh dari negara besar dan sangat berpengaruh — mengutip pujian Presiden Trump kepada Presiden Prabowo of Indonesia — untuk maju ke lini tengah membantu (atau membangun formula) mediasi. Presiden Prabowo sudah menyatakan akan segera ke Iran untuk misi mediasi itu.
Indonesia Ditolak
Dubes Iran di Jakarta langsung bereaksi menolak mediasi bila tujuannya untuk ada negosiasi antara Iran dengan Israel dan Amerika. Sikap Iran masih tegas, tidak ada dialog atau negosiasi. Perang sudah dimulai dan sekarang saatnya berperang.
Sementara Amerika dan Israel merasa sudah cukup dulu perangnya. Agar tak terlalu banyak kerugian. Trump sendiri sedang mengahadapi tekanan berat di dalam negeri.
Indonesia menerima misi berat, ada di tengah dari yang mau lanjut berperang karena sudah dimulai dengan pihak yang mau sudahan karena sudah menghitung rugi.
Indonesia diuji nyali kebesarannya dan pengaruhnya. Memang tidak mudah karena ini misi berat. Tetapi kita sudah kadung ada di BoP, dipuji selangit oleh Trump dan kita terima dengan senang hati pujian itu. Diangkat angkat juga oleh PM Netanyahu sebagai sahabat barunya, siapa yang berani ganggu Indonesia maka harus berhadapan dengan Israel. Kita sudah terlanjur menjadi “negara besar negara hebat”, maka ini saat memberi bukti kita berpengaruh, terutama di dunia Islam.
Pejabat kedubes Iran di Jakarta selanjutnya meminta Indonesia untuk pergi ke PBB atau ke OKI. Jangan ke Iran. Perjuangan Indonesia akan bermanfaat bila dimainkan di kedua lembaga internasional itu yaitu untuk memberi pembelaan kepada Iran. Bukan untuk menekan Iran.
Nasib. Indonesia juga ditolak Hamas, terkait rencana Indonesia mengirim delapan ribu tentara penjaga perdamaian ke Gaza. Dari target duapuluh ribu tentara BoP delapan ribu sudah komit dari Indonesia, hampir separuh. Ini bukti bahwa kita negara besar dan serius di BoP. Tapi negara anggota BoP lainnya belum berani komit karena ngeri juga bermain di Gaza selain juga bila berangkat tidak dengan mandat PBB, hanya mandat BoP.
Hamas menolak karena pasukan Indonesia — bersama pasukan lainnya yang tergabung dalam ISF (International Stabilization Force) — bila akan ditempatkan di Gaza. Pasukan internasional menurut Hamas hanya boleh bermain di perbatasan untuk mencegah terjadi bentrokan langsung pasukan Israel dan Hamas.
Tetapi ini sudah diarahkan pasukan Indonesia akan masuk ke Gaza dengan misi utama melucuti senjata Hamas dan masuk sampai ke terowongan dan bungker Hamas untuk memastikan pelucutan senjata dilakukan. Hal yang sangat ditentang Hamas. Karena Hamas tidak bersedia dilucuti senjatanya sebagai syarat yang diajukan Trump untuk melangkah ke meja perundingan. Hamas ingin mempertahankan senjatanya, tidak mau tanpa pertahanan, sampai hasil perundingan dicapai. Sesuatu yang berbeda dengan proposal yang diajukan BoP melalui Trump.
Disini juga tugas Indonesia di BoP, berat. Padahal pada sisi lain Indonesia dalam KTT BoP 19 Februari lalu di Washington sudah ditunjuk sebagai wakil commander ISF di bawah kepala Commander Amerika Serikat.
Dapat dibayangkan bila atas “wazan” keberanian negara besar kuat berpengaruh dan negara hebat, pasukan Indonesia tetap masuk ke Gaza dengan tugas yang bertentangan dengan strategi Hamas, apa yang akan terjadi. Harus berhadap hadapan dengan Hamas. Didepan kita Hamas di belakang kita pasukan Israel dan Amerika. Kira kira apa tindakan kita yang tepat? Tetap mau dan berperang dengan Hamas atau balik kanan untuk dimakan oleh Israel dan Amerika? Perlu strategi jitu dari seorang pemimpin ahli strategi.
Tapi ada yang membahagiakan, keputusan cepat Indonesia mengirim pasukan ke ISF mendapat sambutan baik dari Israel. Baik dari pejabat keamanan Israel, media Israel dan pasukan Israel. Kita dielu elukan disana. Walau ini mendapat reaksi negatif dari Dubes Palestina. Indonesia disebut sudah berkhianat. Ya ini politik. Politik selalu harus memilih. Demikian kira kira pandangan para ahli politik.
Keluar BoP
Terkesan Indonesia seperti terjepit tapi tentunya pemerintah memikirkan cara terbaik untuk keluar dari keterjepitan dengan selamat.
Sudah kadung. Ini harga diri bangsa dan nama besar Indonesia di dunia. Cita cita negara besar yang kita inginkan sudah di depan mata. Bahkan sudah di tagan kita. Amerika sudah mengakui kita besar, bahkan presiden kita dipujinya selangit. Diangkat tinggi tinggi. Jarang ada negara yang dipandang seperti itu oleh Amerika, apalagi oleh Presiden Trump. Kita sudah meraihnya, maka kita harus membuktikannya sekarang.
Memang sudah mulai kuat dorongan agar Indonesia keluar dari BoP bila kita lihat tidak dapat produktif sesuai amanah konstitusi negara Indonesia khusus terkait politik bebas aktif kita di meja internasional dalam membebaskan umat manusia dari penjajahan diatas permukaan bumi.
Tausiyah MUI terkait serangan Israel dan Amerika ke Iran baru baru ini, menagih kembali janji Presiden Prabowo bila tidak sejalan dengan tujuan konstitusional negara kita, kita keluar dari BoP.
Pada tahap ini perlu lebih hati hati. Masuk BoP mudah, hanya datang mendaftar dan bayar satu milyar dolar Amerika. Tetapi untuk keluar tunggu dulu. Perlu hati hati. Seperti saya sebut dalam opini saya sebelumnya, untuk keluar dari BoP mungkin kita harus membayar cost lebih mahal.
Turkey sebagai sekutu Israel di BoP seperti kita, sudah diancam sebagai target berikutnya setelah Iran. Pasalnya Turkiye tajam mulut mengecam serangan ke Iran. Indonesia apakah akan termasuk sekutu yang dimaafkan bila melakukan tindakan yang merugikan Israel?
Pejabat keamanan Israel sudah mengeluarkan peringatan, “Indonesia hati hati, Israel memantau anda, orang orang kami ada di sekitar anda, jangan banyak campur tangan”.
Kira kira apa bentuk campur tangan yang dimaksud? Tentu bila Indonesia bertindak melawan Israel atau tidak sejalan dengan hasrat besar zionis untuk mengusir penduduk Gaza dan tetap menguasai Palestina tanpa Palestina merdeka.
Bila ancaman ini serius tentu Amerika ada bersama Israel. Belum tentu presiden Trump bersedia terus menjadi teman dekat presiden Prabowo. Apa yang potensial dilakukan? Yaitu menghancurkan kita. Antara lain bila kita berani buat keputusan hengkang dari BoP. Apalagi bila balik berteman dengan negara negara penentang Israel dan Amerika dan berbalik full membela Palestina.
Dua hal bentuk resiko yang belum lama ini dilakukan mereka. Yaitu menangkap Maduro dari Venezuela dan membunuhi Ayatollah Ali Kamenei. Ngeri pak. Tidak mudah untuk keluar. Hati hati.
Kita belum tahu apa yang akan terjadi ke depan. Yang pasti Indonesia sudah masuk dalam lapangan permainan. Kita sudah pakai seragam pemain. Persoalan apakah kita memainkan atau kita dimainkan di lapangan permainan ya tergantung kita.
Saya dulu pernah sekali waktu bermain bola. Sebagai anak bawang. Tidak bisa menendang bola, malah menginjak bola dan saya sering jatuh bangun. Akhirnya saya hanya nyengar nyengir di lapangan, berlari dan mundur kesana kemari. Tapi tak ada bola yang dikirim ke saya. Saya hanya jadi penonton berseragam klub antara perasaan capek dan ingin nangis di dalam lapangan. Beberapa orang di pinggir lapangan berteriak teriak, saya tidak mau dengar, tetap bermain. Walau pada akhirnya ada juga sedikit rasa malu saya.
Saya sudah berpengalaman merasakan derita batin sebagai pemain pasif yang berpura pura sibuk di tengah lapangan tetapi sesungguhnya saya sadari bahwa diri saya tidak berguna.
Wallahu a’lam
(Penulis adalah bendahara ICMI Aceh)
