Al-Rasyid.id | Aceh Besar – Penceramah Subuh di Masjid Jami’ Baitul Jannah Kemukiman Tungkop, Tgk. H. Mustafa Hamzah, S.Ag., M.Ag., mengajak jamaah memanfaatkan sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk meningkatkan kualitas ibadah agar benar-benar mengantarkan pada derajat taqwa. Tausiyah tersebut disampaikan pada Sabtu, 24 Ramadhan 1447 H atau 14 Maret 2026.
Dalam ceramahnya, Imum Chik Masjid Limpok itu mengingatkan bahwa ibadah puasa tidak akan bernilai jika tidak dilandasi iman dan keikhlasan kepada Allah SWT. Ia mengutip dua hadis Nabi Muhammad SAW yang tampak paradoksal.
Pertama, hadis yang menyebutkan bahwa siapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Namun di sisi lain, Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain rasa lapar dan dahaga.
Menurutnya, dua hadis tersebut menjadi pengingat bahwa puasa dan qiyamullail saja tidak otomatis menjamin seseorang memperoleh surga. Puasa yang dilakukan sejak kecil sekalipun bisa tidak memberi dampak apa-apa jika tidak menghasilkan nilai taqwa dalam kehidupan.
Karena itu, ia menegaskan ada tiga aspek penting yang perlu diperhatikan agar ibadah puasa benar-benar melahirkan derajat muttaqin.
Pertama, Aspek Ilmu
Ibadah harus dilakukan berdasarkan pengetahuan yang benar. Umat Islam perlu memahami syarat, rukun, serta hal-hal yang membatalkan puasa. Tidak hanya ilmu fikih, tetapi juga ilmu hikmah atau tasawuf agar ibadah memiliki kedalaman makna.
Ia mengibaratkan ibadah tanpa ilmu seperti pepatah “arang habis besi binasa”. Tanpa pengetahuan, seseorang tidak tahu bagaimana memperlakukan besi yang dibakar sehingga arang habis sia-sia dan besi pun rusak. Sebaliknya, jika dilandasi ilmu dan tujuan yang jelas, besi tersebut dapat menjadi sesuatu yang bernilai. Begitu pula puasa, jika dilakukan dengan ilmu dan niat ikhlas, maka akan menjadi bekal untuk mengendalikan sikap dan perilaku sehari-hari.
Kedua, Aspek Moralitas
Ia mengutip hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang menentukan baik buruknya seluruh tubuh, yaitu hati. Karena itu, menjaga kebersihan hati menjadi hal yang sangat penting.
Tgk. Mustafa menjelaskan bahwa terdapat banyak penyakit hati yang harus dihindari, di antaranya sifat sombong dan merendahkan orang lain. Menurutnya, taqwa tidak ditentukan oleh penampilan luar, tetapi oleh kebersihan hati dan akhlak.
Ia juga mengisahkan pelajaran moral dari para ulama sufi. Salah satunya kisah tentang Hasan Basri yang pernah berprasangka buruk kepada seorang pemuda yang duduk bersama seorang perempuan. Namun ternyata pemuda tersebut justru menolong korban perahu karam di sungai, sehingga Hasan Basri menyadari kesalahannya karena terlalu cepat menilai orang lain secara negatif.
Kisah lain adalah tentang Abu Yazid Al-Bustami yang suatu ketika mengangkat jubahnya saat seekor anjing mendekat. Dalam kisah tersebut, sang anjing seakan memberi pelajaran bahwa najis yang menempel pada pakaian bisa dibersihkan dengan air, tetapi kesombongan dalam hati jauh lebih sulit disucikan.
Ketiga, Aspek Spiritualitas
Aspek ini berkaitan dengan hubungan seorang hamba dengan Allah SWT. Setiap ibadah harus benar-benar dilakukan semata-mata karena Allah. Allah tidak menerima amal jika masih ada kesombongan sekecil apa pun di dalam hati.
Ia juga mengutip hadis qudsi yang menyatakan bahwa jika seorang hamba mendekat kepada Allah satu jengkal, maka Allah akan mendekat kepadanya satu hasta, dan jika ia datang berjalan, maka Allah akan datang kepadanya dengan berlari.
Menurutnya, bentuk kedekatan Allah kepada hamba-Nya antara lain dengan memberikan kemudahan dalam berbagai urusan kehidupan.
Di akhir tausiyahnya, Tgk. Mustafa Hamzah berharap agar ibadah puasa dan berbagai amalan yang dilakukan sepanjang Ramadhan dapat benar-benar meningkatkan kualitas ketaqwaan umat Islam.
“Semoga dengan puasa dan ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan ini, Allah SWT meningkatkan derajat ketaqwaan kita semua,” ujarnya.
(Laporan: Jasmadi)
