-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Republik Retorik

Sabtu, 14 Maret 2026 | Maret 14, 2026 WIB Last Updated 2026-03-15T05:42:43Z

 


Oleh Saifuddin A. Rasyid 


Al-Rasyid | Lebih dua pekan sejak perang, Israel masih belum bicara secara resmi mengenai kondisi pasca rentetan serangan Iran ke Tel Aviv. Tidak ada konfirmasi. Tidak juga ada ancaman kembali kepada Iran terhadap gelombang kembang api yang di kirim ke tanah pendudukan zionis itu.


Memang tidak seperti biasanya. PM Netanyahu biasanya langsung tampil di media bicara keras lugas dan luas setiap langkah musuh menyakiti negerinya. Kali ini dia juga masih diam. Dari beberapa tampilan Netanyahu di medsos para analis mengklaim itu karya AI. Bukan tampilan sang PM seperti biasanya. 


Padahal melihat respon dia terhadap serangan balasan Iran akhir tahun lalu setelah Israel menyerang Isfahan, Netanyahu seru mengutuk keras dan mengatakan membalas. Seraya juga dia menyampaikan rasa kecewanya kepada negara negara di dunia karena diam dan hanya menonton melihat negerinya menjadi korban serangan brutal Iran. Sebenarnya kita menunggu kutukan dia kali ini lebih dahsyat atas akumulasi serangan balasan Iran yang lebih besar dan menghancurkan Tel Aviv. Tapi dia dan atau petinggi Israel belum bicara. Tidak seperti biasanya yang selalu berkoar koar. 


Apakah ini bukti bahwa Iran telah berhasil menyobek mulut Netanyahu? Dan meredam kegagahan militer Israel yang kehabisan kata kata? Wallahu a’lam. Sejauh ini baru kinerja Iran dan kicauan Amerika yang memenuhi ruang perang retorika di media.


Retorika Amerika


Banyak analis memperkirakan Amerika sudah dengan meyakinkan kalah dari tindakan agresinya ke Iran ini. Tetapi Trump mengklaimnya menang. Dia sebut Iran sudah dihancurkan, pemerintahannya susah dilemahkan, angkatan laut dan angkatan udara Iran sudah tidak berdaya. Dia malah mengklaim akan membebaskan selat Hormus sebagai hadiah untuk Rusia dan Cina. 


Para analis lalu berpikir sepertinya Trump sedang “sinting” karena kalimat klaim kemenangannya diatas itu adalah kinerja Iran terhadap Amerika. Memang bukan Trump namanya kalau malu menggunakan retorika palsu dan murahan. Itulah sebabnya antara lain Demokrat di kongres menyebut Trump berbohong setiap hari, he lies daily. 


Di lapangan orang jelas dapat membaca, dia tarik pasukan dan kapal induknya segera setelah melihat reaksi cepat Iran akan menggagalkan rencana agresi dapat selesai dalam empat hari. Dia minta gencatan senjata yang tidak digubris Iran. Tetapi ke media dia sebutkan Iran minta gencatan senjata tapi ditolak Amerika. Retorikanya terbalik. 


Iran Tak Bicara


Sementara di lapangan juga kita membaca Iran tidak bicara. Menghindari negosiasi. Bicaranya pakai senjata. Rakyat Iranpun mendukung langkah Teheran. Tidak terbaca ada perselisihan di dalam negeri. Solid dibawah kepemimpinan tertinggi yang baru. Iran bahkan sampakan jawaban terhadap ajakan negosiasi yang dikirim Trump dengan kalimat pedas, kami tidak bicara dengan syaithan dalam bulan Ramadhan. 


Menanggapi itu Trump mengancam akan melakukan invasi darat yang dahsyat dan disambut Iran dengan senang hati, silahkan datang kami sudah siap dan akan mempermalukan Amerika. Pada saat yang sama dia menyampaikan pesan baik kepada Cina, bahwa antara dirinya dengan Presiden Cina berteman baik. Dia mengaharap batuan Cina untuk menahan tindakan Iran dan membuka selat Hormus. Cina sebenarnya sudah lebih dulu bertindak sejak tanpa retorika yaitu mengirim bantuan militer ke Iran dan selat Hormus sudah terbuka sejak awal penutupan untuk Cina. 


Di dalam negeri Trump makin kuat mendapat tekanan. Rakyat turun ke jalan menuntutnya mundur. Politisi makin nyaring menentang kebijakannya menyerang Iran tanpa bukti Iran mengancam akan menyerang Amerika terlebih dahulu seperti yang dituduhkan Trump itu. Tidak ada kata bulat tambahan anggaran militer yang diajukannya. Rakyat Amerika berduka menerima seribuan pasukan kembali dalam peti mati. Juga makin gencar penolakan dari komponen militer untuk pergi bertempur di Iran karena perang dengan Iran itu bukan untuk kepentingan nasional Amerika tetapi untuk kepentingan Israel. Disamping pangkalan dan fasilitas militer Amerika di timur tengah sudah rusak dan juga dukungan negara negara teluk dan timur tengah seperti tidak lagi solid menguatkan Amerika. Lalu Trump sudah urung mengirim pasukan darat. 


Lagi lagi ini kemenangan Iran dalam tindakan tanpa retorika, dengan terus melaju mengatur gelombang serangan dan mengontrol emosi masyarakat internasional. 


Banyak analis mengatakan Iran memang dalam empat dekade tak banyak bicara karena forum internasional tertutup untuknya. Yang ada didapat adalah sanksi PBB, blokade ekonomi, dan isolasi internasional. Selama itu pula Iran bicara tanpa kata, membangun pendidikan dan ekonomi, mengembangkan militer dan senjata, dan menjalin kerjasama nasional dengan blok negara negara sekepentingan seperti Rusia, Cina, Korea Utara dan lainnya. Akumulasi kerja tanpa retorika Iran membuat dunia tersengang seperti yang kita lihat saat ini. Diluar perkiraan banyak negara, terutama Israel dan Amerika.


Retorika Indonesia


Kita di luar semua itu, memiliki gaya retorika sendiri. Walau tak semua sependapat Indonesia sudah kita klaim sebagai negara besar yang memiliki pengaruh sebagai global player. Ini menjadi penting bagi peran Indonesia dalam memediasi untuk turunnya eskalasi di timur tengah. 


Penting Indonesia segera pergi ke Teheran untuk, mungkin, terjadinya gencatan senjata. Terutama setelah Amerika memutuskan mundur setelah babak belur. Juga Tel Aviv hancur. Sangat wajar presiden kita berkenan menguatkan berhentinya perang ini. Inilah diantara peran dewan keamanan (BoP) yang Indonesia ada di dalamnya. 


Retorika yang kita sampaikan bahwa Indonesia berkepentingan dan berinisiatif untuk mendamaikan kawasan timur tengah karena diantaranya akan berdampak pada Indonesia. 


Dampak yang sudah kita dapatkan adalah Iran tidak membuka jalan untuk Indonesia bila akan membawa misi BoP untuk membangun narasi kepentingan Amerika dan Israel. Karena bahasa tegas Iran adalah tidak ada negosiasi ini saatnya berperang. Bahasa lain adalah tak perlu batuan Indonesia dalam kasus perang ini.  


Dalam memainkan politik negosiasi ini Pakistan sudah masuk lebih dulu ke Teheran, didampingi Rusia. Tentu yang kita baca adalah untuk kepentingan Islamabad. Tidak mengindikasikan untuk kepentingan Amerika dan Israel yang dalam hal itu sama sekali tertutup bagi Iran.


Prof Jimmy, ketua dewan penasehat ICMI (Kompas 6 Maret 2026) mengatakan Presiden Prabowo akan ke Teheran untuk misi mediasi itu segera bersama pemimpin Pakistan. 


Nah, bila datang bersama Pakistan lalu untuk kepentingan siapa? Kalau misalnya untuk kepentingan Indonesia agar tanker Pertamina mendapat akses di selat Hormus, kelihatannya itu sudah berjalan dengan mediasi tokoh nasional Bapak JK. Lagipun bagaimana Presiden Trump akan melihat ini?


Bila tetap untuk kepentingan Amerika dan Israel masih bersar kemungkinan Iran tetap bersikap seperti sebelumnya. Tidak ada negosiasi. Tak perlu mediasi. Tentu juga Pakistan dan Indonesia akan mendapat warning dari Rusia. 


Tapi bila pembicaraan mediasi untuk kepentingan Iran, sikap negeri kaum Syiah itu clear, silahkan pergi ke PBB dan OKI. Akan lebih bermanfaat.


Indonesia masih sulit. Salah salah langkah kita bisa melilit. Terlebih ketika asumsi negeri kita cenderung dianggap nato, no action talk only.


Omon Omon


Omon omon adalah kalimat yang populer pada awal tahun 2024. Saat debat pilpres. Kala itu capres Prabowo megucapkan kata itu dengan indikasi menyindir capres lain, Anies Baswedan. Sejak saat itu kata omon omon itu akrab di telinga rakyat Indonesia dalam kaitannya dengan Presiden Prabowo. 


Kata itu sekarang menjadi terkesan negatif bukan hanya karena substansi maknanya yang nato tetapi juga sudah cenderung digunakan untuk mengkritik presiden Prabowo sendiri. Kalau kata Presiden, nyinyir terhadap kebijakan pemerintah khususnya ucapan ucapan presiden.


Akankah omon omon go International bersamaan dengan peran Indonesia sebagai global player? 


Ataukah retorika kita akan menjadi faktor penting dalam menguatkan retorika Trump yang selalu sesumbar akan menjadi raja dunia, dan kita akan mengambil bagian dari kerajaan baru itu? Juga mendukung komitmen Indonesia untuk menjaga hak hak Israel dan melindungi keamanan Israel? 


Atau retorika kita akan kembali memihak Palestina merdeka dan pulihnya hak hak rakyat Gaza? Yang itu akan sejalan dengan kepentingan kaum tertindas dan rujuknya Indonesia dengan Iran? Lalu apa saja resiko bagi Indonesia yang mungkin akan kita dapatkan dari respon Amerika dan Israel — khususnya setelah Netanyahu atau pemimpin jahat lainnya akan kembali aktif di depan publik?


Wallahu a’lam.


Banda Aceh , 25 Ramadhan 1447


(Penulis adalah bendahara ICMI Aceh)

×
Berita Terbaru Update