Al-Rasyid.id | Aceh Besar – Warga Gampong Barabung, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar, memiliki tradisi khas dalam menunaikan zakat fitrah. Setiap tahun, masyarakat setempat secara serentak membayar zakat fitrah pada malam ke-27 Ramadhan.
Tradisi ini telah berlangsung sejak lama dan menjadi agenda rutin masyarakat desa tersebut. Pada malam itu, warga berbondong-bondong datang ke tempat penerimaan zakat untuk menunaikan kewajiban mereka sebelum Idul Fitri.
Imum Syik Gampong Barabung, Tgk. Saifuddin A. Rasyid, menjelaskan bahwa pola pembayaran zakat fitrah pada malam ke-27 Ramadhan telah menjadi kesepakatan dan ketetapan masyarakat setempat sejak dahulu.
“Setiap malam ke-27 Ramadhan warga menunaikan zakat fitrah. Ini sudah menjadi agenda tetap masyarakat Barabung setiap tahun,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa seluruh proses pengelolaan zakat dilakukan dalam satu malam. Panitia menerima zakat dari warga, kemudian langsung mendistribusikannya kepada para mustahik.
“Tuntas dalam satu malam, mulai dari penerimaan hingga pembagian selesai pada malam yang sama,” kata Tgk. Saifuddin.
Menurutnya, pemilihan malam ke-27 Ramadhan didasari pertimbangan spiritual. Masyarakat berharap dapat meraih keberkahan jika malam tersebut bertepatan dengan malam Lailatul Qadar.
“Kegiatan membayar zakat fitrah adalah ibadah. Jika malam ke-27 itu ternyata Lailatul Qadar, maka seluruh warga kampung yang menunaikan zakat pada malam itu insyaallah mendapatkan hikmah dan keberkahannya,” jelasnya.
Proses pembayaran zakat biasanya dimulai setelah salat tarawih. Panitia menerima zakat hingga sekitar pukul 00.00 malam. Setelah itu, panitia langsung melakukan proses penyaluran kepada para penerima zakat, yang biasanya selesai sekitar pukul 03.00 dini hari.
Gampong Barabung sendiri merupakan desa yang berada di kawasan lingkar kampus, berbatasan langsung dengan kampus Universitas Syiah Kuala (USK) serta berada di wilayah perbatasan Aceh Besar dengan Kota Banda Aceh.
Desa ini memiliki sekitar 183 kepala keluarga (KK). Lebih dari separuh penduduknya bekerja sebagai petani, sementara lainnya berprofesi sebagai pegawai, baik di lingkungan kampus USK, UIN Ar-Raniry, maupun di berbagai instansi lainnya.
Masyarakat Barabung dikenal ramah dan mudah berbaur dengan pendatang. Sikap terbuka ini dinilai menjadi salah satu faktor yang mendukung percepatan pembangunan dan kemajuan desa di kawasan tersebut.

