Oleh Saifuddin A. Rasyid
Awal pekan ini tampaknya eskalasi ketegangan di timur tengah mulai menurun.
Ancaman invasi darat Amerika dengan perkiraan 50 ribu pasukan dari total kebutuhan 1,3 juta untuk invasi penuh ditantang dengan tegas oleh Iran.
Dikatakan Iran sudah siap menunggu kedatangan pasukan Amerika berapapun dan mereka akan dikirim menjadi santapan lezat para hiu di laut. Iran sudah menyiagakan satu juta pasukan darat yang sudah lama berlatih di medan sendiri untuk melumat pasukan Amerika.
Perang urat saraf itu tampaknya sudah mereda dengan pengakuan Trump akan keluar dari Iran dan tak perduli dengan selat hormuz. Negara negara di dunia dipersilahkan Trump mengatur sendiri urusan hormuz itu tanpa perlu dipimpin Amerika. Begitu katanya belum lama ini.
Presiden Iran pun sudah mengirim sinyal siap menghentikan perang bila ada jaminan tak akan ada lagi serangan dari Amerika dan Israel ke Iran. Tapi jaminan dari siapa yang diminta? PBB, tak laku. Amerika, Trump? orangnya begitu. Israel? Kita sudah tahu.
Belum ada gambaran memang apakah akan kembali ke meja negosiasi untuk perjanjian damai. Tetapi tampak kedua pihak, Amerika dan Iran sudah sama sama menemukan titik jenuh — tentu dengan asbab berbagai tekanan masing masing termasuk di dalam negeri — dan ingin segera mengakhiri perang.
Faktor israel bagaimana? Kelihatannya zionis itu sejak awal memang tidak siap menghadapi Iran, makanya Netanyahu terus mengompori Trump untuk nyerang. Walau sempat mengancam akan terus menyerang Iran tapi Israel pun sudah menyatakan ikut dengan keputusan Amerika dalam soal serangan mereka ke Iran. Israel ingin fokus ke Lebanon sebagai Gaza kedua, kata mereka. Disamping juga tampak di dalam negeri juga Israel sudah menghadapi masalah sumber daya.
Iran Menang Kita Apa
Perang memang satu tindakan dan ia menyisakan sesuatu yang penting menjadi perhatian. Dalam konteks ketegangan teluk dan atau timur tengah kemarin bagi kita umat Islam mungkin penting menggarisbawahi beberapa catatan.
Pertama, Iran dibawah kepemimpinan sistem revolusi islam terpetakan sebagai satu negara kuat yang tak mudah digoyang.
Dibawah bayang bayang tekanan PBB dan hegemoni barat sejak 1979 negara ini bukan makin lemah tapi malah kuat.
Dengan spirit latar belakang sejarah panjang Persia masyarakat Iran secara mandiri solid dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta jaringan anti barat yang tegas.
Tak ada hentinya ancaman yang membayangi terutama dari Israel yang sangat bernafsu meyerang Iran sejak 40 tahun lalu dalam dukungan kuat Amerika dan hegemoni barat malah menjadi penentu kemajuan dan kesiapan Iran menghadapi saat saat datangnya serangan seperti sekarang ini.
19 tahun lalu, tepatnya 9 Januari 2007 Presiden WCRP, world conference on religion and peace, Kyai Hasyim Muzadi (NU Online), mengatakan bahwa kalau jadi Amerika dan Israel menyerang Iran itu menegaskan kedua negara itu benar benar menjadi sumber kekacauan dunia.
Kalimat yang sama pun 19 tahun kemudian saat ini, ditegaskan oleh Obama mantan Presiden Amerika, bahwa kekacauan dunia bersumber dari Trump dan Netanyahu.
Iran sudah mewaspadai ancaman kedua negara ini sejak awal berdirinya republik Islam 1979. Dan mereka tak menyisakan sedikit pun waktu untuk bersantai dari membangun kesiapan menghadapi kemungkinan serangan itu. Terutama sejak terbitnya resolusi PBB nomor 1737, Desember 2006, yang menghukum Iran dari program pengayaan uranium dan pengembangan nuklir.
Dalam perang yang betul betul terjadi sejak sebulan yang lalu, seperti prediksi Kyai Hasyim Muzadi, memang terlihat Iran sudah siap. Perang yang kemudian berakhir dengan kegagalan Amerika untuk mengganti rezim Iran dengan tujuan untuk meguasai sumber energi secara mutlak. Juga kegagalan Israel untuk menghentikan teknologi persenjataan Iran. Bahkan seluruh dunia pun — termasuk Indonesia — gagal paham terhadap kekuatan Iran.
Meskipun dengan sejumlah kerugian tempur yang diderita, sebagaimana layaknya sebuah perang, Iran layak disebut menenangkan perang ini. Meskipun satu tujuan besar yang ditarget adalah terbunuhnya Netanyahu belum tercapai, karena mungkin Netanyahu memang masih hidup setelah Iran mengeluarkan statement ia terbunuh dalam satu serangan iran ke Tel Aviv sebelum pertengahan Maret 2026.
Tapi memang perlu waktu untuk Netanyahu menemui ajalnya sesuai kodrat bagi dia atau untuk memastikan kematiannya. Mantan PM Israel Menachem Begin pun dulu memerlukan delapan tahun untuk mendapatkan pernyataan resmi Israel terhadap informasi kematiannya.
Kedua, dari pengalaman perang satu setengah bulan dengan Iran Amerika dapat dikatakan belajar dan kehilangan muka.
Untungnya Trump tak punya muka maka dia terus dapat tampil dengan berbagai statemennya yang zig-zag. Dia bahkan bicara mengigau seperti berada dalam mimpinya.
Dia pernah menyebut diminta Iran menjadi ayatullah Imam tertinggi tapi dia tidak mau. Dia sudah mengubah selat Hormuz menjadi selat Trump. Dia bilang Amerika sudah menghancurkan 97 persen angkatan bersenjata Iran. Dia juga bilang MBS dan raja raja Arab lainnya mau cium pantat dia. Maka wajar kalau orang mengira dia sakit jiwa.
Tapi yang terjadi kemudian tujuan perangnya tak tercapai. Bahkan — hal yang kemudian muncul sebagai efek perang — selat Hormuz belum lepas dari blokade Iran sampai dia hendak mundur dari perang.
Sejatinya Amerika terpukul dan warga Amerika malu dan muak pada Trump, sehingga pecah demo di mana mana. Terakhir demo besar dengan tema “no kings”, meminta dia mundur dan ancaman impeachment di kongres, yang kelihatannya membuat Trump tersadar.
Ini pelajaran bagi Presiden Amerika berikutnya, termasuk bila Trump akan kembali terpilih kedepan. Pelajaran juga bagi Israel. Pelajaran bahwa Iran bukan hanya memiliki kekuatan sebagai negara tetapi bahkan memimpin perlawanan terhadap kezaliman barat dan zionis. Terlebih ketika di belakangnya tetap ada Rusia, Cina, dan Korea Utara yang memiliki aliansi kepentingan bisnis saat ini dengan Iran dalam geopolitik kawasan.
Ketiga, aspek timur tengah. Negara negara Arab berada di persimpangan jalan. Pasca melemahnya Amerika — yang berdampak ke sikap israel — terhadap Iran. Sementara negara negara Arab sudah bulat bersandar ke Amerika, bahkan bersedia bayar kompensasi perang dan berbagai hadiah untuk Amerika.
Negara negara Arab sudah meninggalkan, bahkan sudah sepakat terus membangun kekuatan melawan Iran. Hanya mungkin karena takut potensi Iran akan berpengaruh bagi peluang melemahnya dominasi keluarga raja raja Arab. Bisa bisa terancam perubahan sistem kenegaraan seperti yang dulu dialami raja Shah Reza Pahlevi di Iran.
Walau Iran tetap manis menawarkan kerjasama kawasan selaku tetangga teluk dan timur tengah. Tetapi tampaknya raja raja Arab masih lebih berharap pada Amerika. Memang buah simalakama, disanjung oleh Iran mereka menolak, disuruh bayar biaya perang untuk dapat cium pantat Trump mereka bersedia.
Perang sepertinya akan terhenti untuk beberapa saat kedepan. Karena orang dan bangsa bangsa yang terlibat dan terimbas perlu mengatur kembali siasat mereka masing masing. Merekonstruksi dan menata kembali perjalanan panjang dan persiapan sebelum perang berikutnya bila terjadi.
Konsolidasi
Konsolidasi tak terkecuali juga perlu terjadi di kalangan umat Islam. Beberapa catatan berikut mungkin penting menjadi perhatian kita.
Pertama, pendidikan umat. Belajar dari Iran tampaknya penting ada upaya penyesuaian arah dan substansi pendidikan di kalangan umat di mana saja, utamanya Indonesia.
Substansi yang paling utama adalah kurikulum yang bukan hanya memberi kedalaman ilmu per disiplin tetapi juga memecahkan adanya dikotomi antara ilmu umum dan ilmu agama.
Dari aspek teologis juga perlu kita waspadai mengingat sudah beredar rencana zionis untuk masuk ke Indonesia, bahkan ke pondok pondok pesantren dan lembaga pendidikan agama.
Konsep islamisasi ilmu pengetahuan yang pada era 90an didorong oleh cendekiawan Ismail Faruqi mungkin akan menjadi solusi seperti yang saat ini dijalakan di Iran.
Kedua, kemandirian ekonomi. Spirit ini penting dibangun sejak dini dikalangan umat. Bahwa ketergantungan menjadi bumerang dalam situasi sulit.
Program program pemerintah pro rakyat bila itu mungkin disiasati untuk memberikan peluang kepada rakyat dalam membangun aset aset produktif, bukan hanya ketersediaan lapangan kerja selaku pegawai atau karyawan.
Kebetulan di Indonesia kita sedang mengalami satu proses yang menarik untuk terus tumbuh bersama kemajuan ekonomi syariah yang diprakarsai kebangkitannya sejak tahun 1990. Ekonomi syariah dengan berbagai produk dan akadnya sangat memungkinkan menjadi alternatif kemandirian masyarakat. Karena dalam skema syariah tidak hanya terjadi transaksi pinjaman modal tetapi dituntut terlebih dahulu mengetahui potensi usaha dan pasar dan rasa tanggung jawab yang besar.
Ketiga, aspek budaya. Betapa dengan budaya khas lokal Indonesia adalah satu keniscayaan yang diperlukan untuk keutuhan bangsa.
Belajar dari Iran mereka tidak mengabaikan perkembangan budaya yang terjadi di sekitar yaitu sesuatu yang perlu diadopsi tetapi bertahan dan mengasimilasi dengan budaya lokal itu terbukti membuat masyarakatnya menjadi kuat dan memiliki prinsip sebagai sebuah negara.
Ancaman budaya generasi kita di Indonesia saat ini terjadi bukan hanya dari barat — berbarengan dengan kemajuan teknologi informasi — tetapi juga dari Korea. Generasi kita terancam kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia karena tak kuat menghadapi kemajuan sekitar.
Sunni-Syi’ah
Ini isu lama yang mengemuka sejalan dengan revolusi Iran tahun 1979. Kuat dugaan isu ini sengaja dibangun hegemoni barat sebagai senjata untuk melemahkan persatuan umat Islam.
Umat Islam sudah diadu dan sibuk menguras energi masing masing kelompok untuk saling menghajar sesama sendiri melalui isu Sunni Syiah ini. Padahal kalau kita rujuk pada referensi yang absah atas dasar pemahaman konteks ahli kiblat sebagaimana ditegaskan Nabi saw, maka perbedaan yang terjadi antara Sunni dan Syiah adalah tidak hakiki.
Isu ini kembali mencuat dalam perang Amerika Israel dan Iran kemarin. Sesungguhnya ini juga momen yang baik untuk melihat kembali titik pijak yang sama dalam melihat tujuan kekuatan umat Islam meskipun dalam warna warni perbedaan.
Sejumlah ulama Sunni termasuk grand Syech al-Azhar mendorong bersatunya ahli kiblat dalam menghadapi bencana akhir zaman ini. Jangan membesar besarkan perbedaan. Kita satu, umat Islam.
Hal senada juga digaungkan oleh Imam Ali Khamenei beberapa waktu sebelum beliau wafat. Juga Presiden Erdogan saat ini menyerukan hal sama.
Bila di Syiah ada sekte yang berani tegas mengklaim hal hal prinsip yang menyebabkan mereka murtad, dan atau berdosa selaku ahli kiblat, di Sunni juga ada. Kita tidak menutup mata dari itu.
Terhadap orang orang yang berdosa sejauh dia ahli kiblat — menurut ketentuan Nabi saw dari kelompok atau mazhab apapun — akan ada mekanisme Allah untuk mereka. Bukan kita yang harus menentukan. Kepentingan kita saat ini adalah menjaga persaudaraan dan persatuan dengan siapa saja termasuk bahkan dengan orang kafir zimmi — yaitu non muslim yang tidak membahayakan umat Islam — untuk menjadi wasilah kita mendapat pertolongan Allah swt. Hadis qudsi (sabda Nabi saw) menyatakan bahwa pertolongan Allah turun saat umat Islam bersatu, “yadullaha ma’al jama’ati”.
Disamping itu isu salafi wahabi juga menguras energi kita. Bahwa teman teman salafi wahabi juga saudara kita. Terlepas ada anggapan gerakan mereka dibentuk oleh barat untuk melemahkan kaum muslim. Kita tetap berharap mereka — terutama yang tidak sadar terbawa dalam arus politik wahabi — bersedia melihat ancaman yang saat ini dihadapi umat Islam.
Tentu tidak ada diantara kita yang sanggup mengambil tanggung jawab di hadapan Allah bila nanti terbukti bahwa umat Islam ini lemah dalam berhadapan dengan kafir harbi seperti zionis karena ada kontribusi caci maki kita terhadap kelompok berbeda umat ini di dalamnya.
Wallahu a’lam.
Banda Aceh, 2 April 2026
(Penulis adalah bendahara ICMI Aceh)
