-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Diaduk Beradu Diantuk Berseteru

Senin, 06 April 2026 | April 06, 2026 WIB Last Updated 2026-04-07T03:02:29Z



Oleh Saifuddin A. Rasyid 


Al-Rasyid.id | Penjelasan Habib Rizieq Shihab (HRS) mengenai syi’ah terkesan moderat dan mudah kita pahami.


Dari lebih 60 sekte internal syi’ah dapat digolongkan menjadi tiga, kata HRS. 


Pertama, kelompok al-ghulat, ekstrim (ghuluw). Yaitu kelompok syi’ah yang meyakini Ali bin Abi Thalib sebagai nabi, bahkan tuhan. Mereka membenci dan mencaci para sahabat Nabi SAW terutama Abubakar, Umar, Usman, Aisyah. Mereka juga meyakini Alquran palsu. Bagi HRS kelompok ini bukan tergolong Islam. Mereka kafir.


Kedua, kelompok al-rawafidh atau rafidhah. Kelompok ini islam tetapi sesat. Mereka tidak menuhankan dan menabikan Ali, tidak menuduh Alquran palsu, tetapi sering mencaci sahabat Nabi SAW. Mereka pelaku bid’ah dan memaksa kehendak (ahlul bid’ah wal hawa). Mereka muslim ‘ashi, musim tapi bermaksiat.


Ketiga, kategori al-mu’tadilun atau moderat. Mereka tidak mengikuti kecenderungan kedua kategori diatas. Mereka tidak ekstrim dan tidak sesat tetapi moderat. Mereka Islam.


Keliru Paham Fatwa


Yang saat ini menjadi masalah di tengah masyarakat kita adalah mudah menggeneralisasi dan mengkafirkan syi’ah. Tindakan generalisasi  apalagi na’uzubillah mengkafirkan orang Islam  karena kurang pengetahuan, sangat berbahaya bagi iman san akidah seseorang. 


Soalnya Nabi SAW melarang seorang (atau sekelompok)  mukmin menuduh muslim lain kafir (takfiri). Karena kalau ternyata tidak seperti yang dituduhkan maka status kelafiran itu kembali ke si penuduh (mafhum hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim).


Sikap generalisasi ini seringkali disandarkan pada pandangan MUI. 


MUI Propinsi Jawa Timur pernah mengeluarkan tausiyah (bukan fatwa) pada tahun 2012 mengenai kecenderungan sesat syi’ah bila diukur dengan standar ahlussunnah wal jamaah. Tidak ada dalam tausiyah itu MUI Jawa Timur menyatakan kafir, tetapi sesat. 


Alasan, ditemukan kesesuaian perilaku syi’ah dengan 10 kriteria aliran sesat yag ditetapkan oleh MUI, antara lain karena ada kelompok syi’ah di Indonesia yang suka mengkafirkan sahabat Nabi SAW, dan mengedepankan pandangan tertentu mengenai imamah (kepemimpinan) khusus yang sah untuk diikuti. Mereka eksklusif, memisahkan diri dari mainstream kaum muslimin. 


MUI pusat mengeluarkan buku, “mengenal dan mewaspadai penyimpangan syi’ah di Indonesia”, dan merekomendasi kehati hatian umat terhadap kemungkinan penyimpangan itu.


Jadi tindakan mendeskreditkan atau mengkafirkan syi’ah dengan bersandarkan pada pandangan MUI itu keliru. Karena MUI hanya meminta umat Islam Indonesia berhati hati dengan pergerakan kelompok syi’ah dan waspada terhadap tindakan sesat menyesatkan. 


Dapat dipahami kemungkinan isu ini terangkat ke permukaan karena sejalan dengan terjadinya gesekan politik di satu negara di mana syi’ah potensial menggasak kepentingan politik kelompok sunni. Jadi bukan murni karena perbedaan pemahaman atau mazhab dalam Islam. 


Tidak menutup kemungkinan juga ada kelompok syi’ah yang dieksploitasi untuk menabrak politik sunni. Dan ini sudah terbukti berkali kali terjadi dalam sejarah kaum muslimin.


Kalau merujuk pada pernyataan  alm Ali Khamenei, katanya ada anggapan syi’ah digarap oleh Inggris dan sunni oleh Amerika. 


Raja Saudi MBS juga menyatakan Salafi Wahabi (merepresentasi sunni) yang juga kelompok agresif sebagian ahli berpandangan bahkan mereka takfiri, seperti juga kelompok syi’ah agresif yang suka mengkafirkan sahabat Nabi SAW dan kaum muslim — adalah dipelihara atas permintaan Amerika. 


Tapi yang menarik adalah Ali Khamenei kuat menyerukan bersatulah agar kedua kelompok sunni dan syi’ah bersama dalam menghadapi hegemoni penentang Islam. Beliau juga kerap meminta pengikutnya, syi’ah, agar tidak berperilaku berlebihan (ghuluw) dan sesat. Jadilah syi’ah yang moderat.


Pandangan dan himbauan alm Ali Khamenei itu tentu saja sama dengan ajakan tokoh tokoh ulama sunni yang menghendaki agar kita tidak agresif menyerang sesama muslim dan saling menguatkan sesama ahli kiblat. Seperti sunni kecuali kelompok ekstrim dan takfiri agresif syi’ah juga tergolong ahli kiblat yang keislamannya sudah dijamin oleh Allah dan RasulNya (mafhum hadis sahih Nabi SAW).


Pada titik ini, terutama dalam menghadapi potensi lebih serius perpecahan ahlul kiblat di Indonesia, maka penting ada fatwa MUI. Yaitu fatwa yang mengajak umat untuk bersatu dalam menghadapi tantangan dan kepentingan umat Islam dan bangsa Indonesia yang lebih besar walau di dalamnya ada perbedaan fiqhiyah terkait pemahaman keagamaan setiap kelompok umat.


Kalimatun Sawa


Sebagian muslim baik sunni maupun syi’ah dan kelompok lain bila ada mungkin sudah jauh terbawa nafsu. Mengalir dalam arus perseteruan seakan tanpa tepi. Kita sudah bagaikan petinju dengan wajah berdarah dan sudah penyok yang terus memukul. Kita dipukul dan kita memukul. Terus menerus tanpa henti tanpa tepi.


Mau jadi apa umat ini bila terus hanyut dalam format perilaku satu arah, dari beradu ke berseteru. Kapan kita berpikir berhenti sejenak untuk mebelok dan melihat ke arah saudara kita yang menanti kita dengan senyum untuk berpelukan dan saling menguatkan.


Pihak pihak yang berkepentingan di luar kita tentu menghendaki sebaliknya. Mereka mengeruk keuntungan dari energi kerugian yang kita kuras. Bahkan mereka proaktif mendesain dan mengelola perkelahian antar kita dan menanam rasa takut di hati kita seakan tanpa mereka kita fana. 


Jalan terbaik bagi kita, bagi setiap kelompok kita kaum muslimin ahlul kiblat, adalah kembali kepada Allah. Kembali ke kalimatun sawa. Yaitu tetap mengesakan Allah dan beribadah kepadaNya untuk meraih ridhaNya. Merujuk pada tuntunan Muhammad Rasulullah. Tidak saling menyakiti sesama umat Rasulullah SAW. 


Mengembangkan kasih sayang di kalangan manusia atas spirit sifat Rahman dan Rahim Allah SWT. Tidak terpengaruh perilaku negatif dan tak mudah terprovokasi dengan perselisihan dan permusuhan antar sesama atas dorongan nafsu dan siasat syaithan dan musuh musuh Islam.


Mari menegakkan kalimatun sawa, la ilaha illallah muhammadurrasulullah. 


Wallahu a’lam.


Banda Aceh, 7 April 2026


(Penulis adalah bendahara ICMI Aceh)

×
Berita Terbaru Update