Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Seperti yang kita dengar perang Amerika Israel Iran sudah reda sesaat, rencana selama dua pekan. Gencatan senjata. Hal ini dicapai Iran dan Amerika dengan mediasi Pakistan dan dukungan penuh Rusia dan Cina.
Sebelumnya usulan gencatan senjata sementara, untuk mengambil nafas, sudah diusulkan Amerika melalui Pakistan. Tapi ditolak Iran.
Tekanan Amerika, dan berbagai negara, agar Iran membuka selat Hormuz juga tak berhasil. Rancangan resolusi DK PBB terkait pembukaan Hormuz juga gagal walau cukup mendapat dukungan negara anggota, tapi diveto oleh Rusia dan Cina.
Trump kehabisan cara. Iran terus ngeyel dan seperti bercanda saja saat Presiden Amerika itu menekan dengan sangat. “Buka selat sialan itu, atau kubikin kau menyesal”. Iran santai, “kuncinya hilang”, kata juru bicara militernya.
Sementara disisi lain Iran terus mengirim pesan, soal masalah di Hormuz minta pertanggung jawaban Amerika dan Israel. Mereka yang memulai perang dan Hormuz kami kendalikan. Demikian pejabat tinggi Iran.
Bola psywar di selat Hormuz terus dimainkan kedua pihak, tapi kocekan Iran tampak lebih menarik. Tak banyak negara angkat bicara. Umumnya hanya menunggu atau bicara dalam senyap melalui jalur diplomasi masing masing. Intinya umumnya negara di dunia berkepentingan dengan selat itu karena sekira duapuluh persen suplai energi efisien melalui jalur selat itu. Ancaman kekurangan energi negara negara di dunia sudah di depan mata.
Memang ada analisis bahwa perang ini aneh. Amerika dan Israel menyerang dengan objective yang tidak terkait dengan Hormuz. Tetapi sejak Iran menutup dan mengendalikan lalu-lintas kapal di selat itu, sebagai impact serangan mendadak Amerika dan Israel ke Teheran 28 Februari silam, kepentingan Amerika jadi bergeser ke Hormuz. Trump menyebut ingin menguasai Hormuz dan meraih pendapatan dengan mengambil yuran kapal yang lewat di selat itu. Bagi dua dengan Iran juga boleh, katanya. Untuk meraih selat itu Trump bersedia jungkir balik. Sampai orang orang menyebutnya sudah seperti sudah ada masalah dengan kejiwaannya.
Kehabisan akal, terakhir Trump kalap dan hampir gelap mata. Bila Hormuz tidak dibuka dia akan membakar seluruh Iran dan melenyapkan peradaban Iran serta membuat rejim yang sudah berkuasa sejak tahun 1979 akan hilang dari permukaan bumi. Dia memberi tenggat waktu. Dunia menunggu kalau itu dilakukan maka kawasan teluk “kiamat”.
Terhadap ancaman itu orang orang menafsirkan Trump akan menggunakan senjata nuklir untuk menyelesaikan Iran. Kalau dilakukan memang itu war criminal, kejahatan perang. Tapi siapa polisinya yang siap menyetop. Siapa hakimnya? Tidak ada.
Sepuluh Poin Iran
Tentu terhadap ancaman kemungkinan penggunaan senjata nuklir itu Iran sudah menghitung. Iran mengambil momentum. Walau dapat membalas, sesuai klaimnya, dengan membombardir negara negara Arab kawasan teluk dan timur tengah, Iran memilih kemenangan diplomasi. Dan sudah memegang momentumnya.
Tak mungkin Iran membalas dengan juga meggunakan senjata nuklir, karena dunia tahu atau harus tahu bahwa Iran tak punya senjata nuklir. Tapi Amerika punya dan juga Israel. Disamping itu setelah berperang terus menerus hampir dua bulan tentu dapat dimaklumi Iran juga sudah capek. Dan pada titik ini, lebih safe bagi Iran bila melangkah dan mengendalikan gencatan senjata.
Dalam pengumuman kemarin, 7 atau 8 April, Iran mempertimbangkan dan via Pakistan menetapkan 10 butir syarat gencatan senjata selama dua pekan. Ini bentuk syarat dari pemenang perang.
Dalam proposal Amerika sebelumnya, Trump mengusul kepada Iran lima belas butir agar perang berhenti. Juga melalui Pakistan. Tapi sayangnya proposal Trump itu sebagai pihak yang kalah tapi mengaku menang. Tentu saja kala itu Iran menolak semua butir karena merugikan Iran.
Tapi kemarin Trump setuju 10 butir syarat Iran. “It is workabke”, katanya. Dapat dibicarakan. Sepuluh poin itu semuanya menguntungkan Iran.
Setelah diumumkan Trump ide gencatan senjata itu direaksi negatif oleh orang orang Trump sendiri. Termasuk Israel shok melihat keputusan Trump itu, karena secara sepihak Israel tak diajak. Karena satu dari sepuluh butir yang dioke Trump itu bahwa Amerika harus menghentikan seluruh serangan terhadap gerakan perlawanan Islam di kawasan itu. Termasuk serangan ke Lebanon yang merupakan proyek prestisius Israel saat ini yang sedang jalan.
Menampik semua itu Trump mengatakan bahwa gencatan senjata dua pekan ini ada dalam genggamannya. Memang benar, Iran juga mengatakan hal yang sama, bahwa kalau sedikit saja Trump melakukan pelanggaran gencatan senajata maka perang dilanjutkan dan Hormuz tidak dibuka. Memang ada di tangan Trump. Iran juga sudah menegaskan bila Lebanon tetap diserang oleh Israel, gencatan senjata tidak jalan.
Dasar Trump bicaranya tidak bisa dipegang, Iran juga tidak percaya penuh pada janji Trump. Termasuk pandangan Trump yang menerima 10 butir syarat dari Iran itu. Memang kita juga meragukannya. Kecuali bila Allah beriradah.
Dunia menanti hari hari yang akan kita lalui. Meeting kedua negara Amerika dan Iran akan terjadi pada 10 April besok di Islamabad. Harapannya tentu hasilnya baik, walau ada pengurangan dan atau penyesuaian terhadap poin poin Iran. Tentu Amerika tak menerima seluruhnya. Bonus bila terjadi sebaliknya. Tapi dalam pandangan usul fikih ada adagium yang enak dibaca “terhadap yang tidak dapat diterima semuanya tidaklah ditinggal semuanya”. Semoga ini terjadi pada kedua mereka.
Dalam setiap perundingan tentu ada jalan tengah. Dan inilah peran Pakistan. Yaitu untuk membangun dan mempromosikan jalan tengah dalam mencapai kebaikan pada seluruh umat manusia.
Peluang ke arah itu memang ada. Harapannya besar. Amerika yang dikampanyekan Presiden Iran tidak sebagai musuh bagi Iran sudahpun sampai ke telinga rakyat Amerika. Sudah direspon positif pula. Trump pun sepertinya tak akan lama extend memimpin Amerika. Dia akan kehilangan momentum beserta dengan tim agresifnya yang memusuhi Islam. Rakyat Amerika sudah melihat cara Trump itu berpotensi berbuah kesulitan bagi Amerika.
Banyak peluang yang akan terbuka bila mereka sudah duduk di satu meja. Yang penting dalam setiap bisnis adalah rela sama rela. Kita yakin dengan dukungan segenap kepentingan negara negara di dunia, Pakistan dapat menjembataninya. Tapi sayangnya Indonesia tidak dapat berbicara saat ini sebagai sebuah negara besar dalam menghadapi peristiwa besar umat Islam dan umat manusia ini.
Selamat Berhaji, Para Calhaj
Doa kita juga semua kepada para jamaah calon Haji Indonesia. Memang sempat ada simulasi pemberangkatan haji Indonesia 2026 ini yang dilakukan pemerintah. Di tengah perang. Semua tentu dengan pertimbangan agar perjalanan ibadah tahunan ini tidak terkendala dan nyaman pula jamaah menjalankan ibadahnya.
Doa para hujjaj didengar Allah. Maka sambil menyiapkan perjalanan tentu saja tak lupa selalu menyelipkan doa agar Allah buka kemudahan untuk kelapangan jalan dan kesempurnaan ibadah.
Adapun perang yang sedang berlangsung itu sudah reda.
Kiranya semua rela. Agar perjalanan para hamba Allah yang ikhlas dari seluruh dunia tak terkendala.
Kita yakin para tamu Allah yang segera berangkat itu sudah masuk dalam list orang orang yang Allah muliakan untuk mendapat pelayanan dariNya. Allah adalah zat yang tidak menyia-nyiakan hambaNya. Dia Malu bila tamuNya susah dan berkeluh kesah. Serahkan pada kebijakanNya.
Para hujjaj kiranya mendapat derajat mabrur, ampun segala dosa. Mudah segala urusannya. Berkembang dan kuat segala bisnis dan karirnya. Dalam berkah. Allahumma yassir wa laa tu’assir. Amin.
Wallah a’lam.
Blangbintang-Cengkareng, 9 April 2026
(Penulis adalah bendahara ICMI Aceh)
