Al-Radyid.id | Aceh Besar — Umat Islam diminta untuk tetap menjaga keutuhan persaudaraan dengan terus menyambung silaturrahim antar sesama muslim dan berbagai kelompok dalam umat, meskipun terdapat perbedaan pemahaman dan amaliyah keagamaan.
Imum Syik Masjid Jami’ Baitul Jannah Kemukiman Tungkop, Tgk. Saifuddin A. Rasyid, menyampaikan hal tersebut dalam khutbahnya di Masjid Baitul Ahad Kemukiman Siem, Darussalam, Aceh Besar, Jumat (3/4/2026), bertepatan dengan 14 Syawal 1447 Hijriah.
Dalam khutbahnya, Tgk Saifuddin mengutip Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d ayat 25 yang menegaskan perintah Allah untuk menjaga perjanjian dengan-Nya, tidak menyekutukan-Nya, serta senantiasa tunduk dan patuh kepada Allah dan Rasul. Ayat tersebut juga mengingatkan agar tidak memutus silaturrahim dan tidak melakukan kerusakan di muka bumi, karena pelanggaran terhadap hal itu diancam dengan azab neraka.
Menurutnya, pentingnya menjaga silaturrahim saat ini berkaitan dengan dua momentum besar. Pertama, suasana Syawal pasca Idulfitri, di mana umat Islam baru saja menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan dan dianjurkan untuk mempererat hubungan persaudaraan.
Kedua, situasi konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Konflik tersebut, kata dia, telah memicu perbedaan sikap di kalangan umat Islam, bahkan menyeret isu sensitif seperti perbedaan Sunni dan Syiah.
“Perbedaan pandangan terkait Sunni dan Syiah tidak seharusnya membuat umat mudah saling mengafirkan. Apalagi jika tidak memiliki dasar ilmu yang memadai, karena hal tersebut memiliki konsekuensi besar,” lanjut akademisi dan Imam Besar Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry itu.
Ia menekankan bahwa sikap bijak yang perlu diambil adalah menyerahkan penilaian keimanan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya. Umat Islam, menurutnya, lebih penting menjaga hubungan persaudaraan dan tidak terjebak dalam perpecahan.
Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya berpegang pada prinsip hadis Nabi tentang “ahlul kiblat”, yaitu mereka yang melaksanakan shalat menghadap Ka’bah dan mengikuti tuntunan Nabi Muhammad SAW dalam hal-hal pokok, sehingga tetap berada dalam lingkup umat Islam.
“Bagi kita, yang utama adalah menjaga silaturrahim dengan siapa saja, termasuk dengan kelompok berbeda, bahkan dengan non-muslim yang tidak memusuhi Islam, demi menjaga harmoni dan meraih pertolongan Allah,” kata pegiat moderasi beragama itu.
Menutup khutbahnya, aktifis dakwah yang juga bendahara ICMI Aceh ini mengajak umat Islam untuk tetap menjaga komitmen dalam beribadah semata-mata karena Allah, tidak mudah terprovokasi oleh kepentingan pihak lain, serta terus aktif merawat kerukunan di tengah umat.
Editor: Harir
