-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Makrallah Kemenangan Ketundukan Melawan Kesombongan

Sabtu, 04 April 2026 | April 04, 2026 WIB Last Updated 2026-04-05T04:08:42Z

Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id - Pertarungan antara Khabib Nurmagomedov dan Conor McGregor 7 Oktober 2018 di Las Vegas Amerika Serikat fenomenal. Pertemuan di atas ring kedua petarung papan atas dunia itu menyisakan kesan signifikan sampai saat ini.


Sebabnya dua. Pertama pertarungan keduanya melibatkan sensitifitas ketundukan dan akhlak baik Khabib yang muslim dan kecongkakan Conor yang non muslim.


Kedua, pasca memenangkan pertarungan secara KO dengan mencekik Conor di ronde keempat Khabib tersulut pancingan pelecehan dan melakukan tindakan di luar kendali, yaitu melompat ke luar ring dan menyerang pelatih dan tim Conor di area kursi penonton. Terhadap tindakan membuat kericuhan ini Khabib dikenakan paket sanksi oleh UFC dan komite atletik Nevada.


Yang menarik adalah ayah kandung Khabib yang sekaligus pelatihnya, Abdulmanap Nurmagomedov, memberi hukuman lebih keras dari yang dijatuhkan UFC dan komite atletik tersebut dengan alasan tindakan di luar ring itu tidak disiplin dan tidak sesuai akhlak mulia. Karena di area sipil itu ada anak anak, perempuan, dan orang tua. Disamping juga itu tidak mengindahkan aturan main dan tidak sportif. Konon kabarnya Khabib tidak dikasih makan oleh ayahnya. 


Presiden Rusia, negara Khabib berasal, memanggil kedua ayah dan anak itu ke istana. Putin meminta Abdulmanap tidak menghukum anaknya, Khabib, terlalu keras. Khabib pahlawan bagi Rusia karena membela negaranya atas ejekan terhadap Rusia yang dilakukan Conor sebelum pertandingan.


Putin juga mengatakan Khabib membela Islam yang ditaatinya dari pelecehan agama yang dilakukan tim Conor.


Intinya presiden Putin mengapresiasi hasrat baik Khabib untuk membela negara dan agamanya walau itu dilakukan dengan cara keliru. “Dia anak baik”, kata Putin. “Maka ampunilah dia”. Biar saja Khabib menerima sanksi UFC sesuai aturan yang berlaku. 


Tunduk vs Sombong


Seperti juga dari perilaku Khabib, Iran memberikan pelajaran kepada dunia. Bahwa ketundukan bukan berarti kelemahan. Kita tunduk karena kita kuat. 


Iran sudah diakui sebagai negara kuat, bahkan oleh Israel dan Amerika. Ehut Barak, matan perdana menteri Israel, mengatakan memang belum ada negara di dunia yang sanggup menyaingi persenjataan Iran. Trump juga mungkin tak sadar sempat mengakui Iran kuat tak mudah mengalahkannya.


Yang tak bisa dipisahkan dari Iran adalah kekuatan yang dibangun atas pondasi keimanan dan aturan agama, Islam. Kemampuan ilmu pengetahuan, teknologi, persenjataan, ekonomi, kebudayaan, politik, dan pola komunikasi dan diplomasi mereka berjalan dengan ciri kuat Islam. 


Kekuatan seperti ini tentu didapat dari keberhasilan Iran membangun sistem pemerintahan wilayatul faqih yang menyatukan agama Islam dalam pembangunan ideologi, politik (pemerintahan), ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan (ipoleksosbudhankam).


Ini sistem imamah ketatanegaraan yang prinsipnya dibangun dulu oleh Rasulullah saw dan diteruskan pada masa khulafaurrasyidin dibawah Abubakar, Umar, Usman, dan Ali.


Siatem imamah kaum muslimin setelah itu berubah menjadi monarkis sejak Bani Umayah di Syria sampai terakhir Bani Usmaniyah di Turki. Setelah itu terpecah pecah menjadi kerajaan kerajaan kecil dalam kepemimpinan sistem monarki dan atau sistem ketatanegaraan lain seperti republik, adaptif pada sistem pemikiran moderen. 


Memang cenderung tidak disukai oleh kelompok atau negara negara negara muslim lainnya karena kepemimpinan dengan sistem imamah atau khilafiah Islam seperti yang dijalankan Iran sekarang dapat berpotensi melenyapkan dominasi kekuasaan parsial dari raja raja negara Islam sekarang.  


Termasuk dalam hal ini analisis bahwa kepemimpinan revolusi Islam Iran memiliki akar yang kuat kepada Nabi muhammad SAW melalui jalur ahlul bait. Sementara raja raja Arab lain terutama Saudi terputus nasabnya kepada Nabi saw. Karena keluarga keturunan Abdul Muthalib penguasa Makkah yang sah sejak zaman pra kenabian Muhammad — sudah disingkirkan keluar oleh penguasa Saudi. Akankah Iran berpotensi mengembalikan imamah kekuasaan Islam dibawah satu kekhalifahan? 


Sistem ini juga ditakuti Barat karena akan menghimpun dominasi kekuatan muslim di bawah satu komando yang potensial berbahaya bagi dominasi negara negara di dunia terutama yang agresif terhadap Islam seperti israel.


Pelajaran ketundukan Iran dapat dilihat dari kepatuhan rakyat kepada imam tertinggi mereka, ayatullah. Semua keputusan negara terpusat pada satu kebijakan tertinggi yang konon dipangku oleh orang dengan kriteria tertentu, yang alim, berilmu, berakhlak, tawadhu’ dan memiliki garis nasab kepada Rasulullah SAW. Satu bentuk kekuatan kepemimpinan (imamah) yang spiritnya mengalir dalam setiap individu warga Iran.


Sementara yang kita lihat dipertontonkan oleh Trump dan Netanyahu adalah kesombongan, kecongkakan, kepongahan, dan barbar tak taat aturan. Berantakan dan serampangan.


Dalam komperensi pers menjelang pertandingannya dengan Khabib, Conor ngerocos entah apa yang dia ngomong. Intinya merendahkan Khabib. Sementara Khabib bicara sedikit itupun tak didengar baik oleh Conor.


Yang menarik Conor sengaja bangkit dari tempat duduknya menuju meja Khabib dengan botol minuman dan cangkir di tangannya. Ia menuangkan minuman itu untuk Khabib sambil mempersilahkan ia minum. Khabib menjawab santai, saya tidak minum, as muslim I dont drink. Saya juga diajarkan oleh ibu saya dan masyarakat saya untuk berbicara santun, katanya. Kesan ada nilai ketundukan pada diri Khabib dari siatem nilai, agama dan keluarga serta sistem sosial. 


Sementara Conor terus ngerocos menyerang Khabib dengan kata kata, merendahkannya dan memukul mentalnya. Tapi Khabib tenang bagai kolam yang dalam airnya sementara Conor sebaliknya, sombong. Maka diatas ring di depan Khabib Conor dicatat sebagai salahsatu petinju/ petarung sombong yang dipukul KO dengan telak diatas ring.


Begitulah Trump, seperti Conor, yang angkuh tak berhenti bicara. Berkolaborasi dengan sahabatnya Netanyahu dia sudah yakin Amerika makin super power dan seluruh dunia akan tunduk padanya. Dengan kesombongan dia melakukan tindakan memberi serangan kejutan dengan harapan Iran langsung tunduk. Trump hanya menghitung dalam hitungan hari Iran tumbang. 


Tapi yang terjadi Iran tetap berdiri tegak. Tenang dan terus mengirim perlawanan. Secara sistematis dan bertubi tubi pula. Terus memukul tak perduli Amerika dan Israel penyok dan terluka. Terus mengejar dan menghajar sampai mereka keok dan bumi tersadar dan bergeser, dunia bertepuk tangan. Juga ada yang ketakutan. 


Sementara Iran bertahan saja sudah juara apalagi proaktif mengirim pukulan, bahkan sebagian telak. Bagaikan Khabib Iran tampil kedepan memimpin dan memenangkan pertarungan.


Makar Allah


Kesombongan Conor mulai goyah pada ronde kedua ketika strategi takedown andalannya dipatahkan Khabib. Conor bahkan menerima pukulan balasan tepat di dagunya dan dia terjatuh. Saat bangun dia melihat ke arah tim di luar ring. Seperti ada malu atau mengadu. 


Mental Conor sudah goyah dan merasa sudah kalah, dan dia benar benar diKO pada ronde ke 4. Ditengah sengsaranya itu Conor sempat megajak Khabib bicara. “Let’s talk this’s only business”, katanya, yang dijawab tegas Khabib, “no we have talked”.


Kita ingat Trump sesumbar akan membubarkan Iran dalam perang 4 hari. Itu sudah dihitungnya bersama Netanyahu. Tapi reaksi Iran dan atas memelasnya Israel pada hari kedua Amerika minta Iran hentikan pukulan, diajak bicara kembali ke meja negosiasi. Persis jawaban Khabib ke Conor, Iran menjawab “tidak, kita sudah bicara sekarang saatnya berperang”. Jawaban yang sangat maskulin. Jawaban pemberani.


Mengapa Khabib berani? Mengapa Iran berani? Mereka bertempur karena nilai. Ada value yang diperjuangkan dan punya dasar yang kuat yang terumuskan dalam kerangka tujuan yang jelas. Mereka berjuang untuk kebenaran (Alhaq) melawan kebatilan (Albathil), dan itu nilai dari Allah. Sebelum pertandingan Khabib berkata ke Conor, “I fight for legacy but you for money.”


Pada titik ini kita yakin dengan firman Allah bahwa ketika satu perjuangan dilakukan dengan tujuan kebaikan atas dasar kebenaran dengan mengacu pada nilai (value) untuk kemuliaan Islam maka Allah turun tangan membantu. 


Ketika Allah sudah membersamai untuk menutup segala celah kekurangan dari satu upaya sungguh sungguh seorang mukmin maka upaya itu menjadi sempurna. 


Pihak lawan boleh merekayasa strategi dan tipu muslihat bahkan dengan intimidasi dan adu domba, tetapi ketika Allah sudah berkehendak maka rekayasa mereka runtuh seketika. Karena rekayasa Allah pasti lebih sempurna.


Inilah diantara mafhum firman Allah dalam Ali Imran ayat 54, Ibrahim ayat 46, dan Al-Anfal ayat 30. Mereka boleh berkolaborasi merekayasa dan mebangun tipu muslihat tetapi Allah membalas tipu muslihat mereka dengan perlawanan yang sempurna. 


Ketika Allah sudah berkehendak untuk memberi kebaikan dan kemenangan kepada orang beriman maka kita akan melihat semua jalan menjadi mudah, semua strategi memusuhi Islam menjadi patah (QS Al-Mukminun ayat 1).


Maka sebagai mukmin kita berpasrah menyerahkan diri kepada Allah, bersyukur kepadanya atas ma’unah dan iradahNya. Kita bersama kaum muslimin berjalan lurus kepadaNya sedang Dia Yang Maha Kuasa mengarahkan kita ke jalan lurus itu (QS As-Shaffat Aya 99).


Wallahu a’lam


Banda Aceh, 5 April 2026


(Penulis adalah bendahara ICMI Aceh)

×
Berita Terbaru Update