Al-Rasyid.id | Banda Aceh – Alquran menggugah pemikiran manusia melalui berbagai pertanyaan yang mengarahkan manusia menemukan keyakinan mengapa harus beriman kepada Allah SWT, Rasul-Nya, serta berbagai perkara gaib yang dituntut untuk diimani. Pendekatan tersebut merupakan salah satu metode Alquran dalam mendekati akal manusia agar memahami tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.
Intelektual muslim dan Guru Besar Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Fauzi Saleh, menyampaikan hal tersebut dalam tausiyah Zuhur di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu (24/6/2026), bertepatan dengan 9 Muharram 1448 Hijriah.
Menurut Prof. Fauzi Saleh, Allah SWT dalam Alquran sering mengajukan pertanyaan dan bahkan menjawabnya kembali dalam bentuk pertanyaan. Metode yang disebut istifham itu merupakan cara Allah menggugah manusia agar memahami dan menemukan jawaban sesuai dengan yang dikehendaki-Nya melalui penghayatan terhadap ayat-ayat kauniyah atau tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di alam jagat raya.
“Alquran mendekati pemikiran manusia dengan ayat-ayat kauniyah, karena kebanyakan manusia mungkin tidak mudah percaya hanya dengan pendekatan ayat quraniyah semata. Karena itu banyak ayat dalam Alquran yang menggunakan pendekatan kauniyah,” ujarnya.
Dalam tausiyah tersebut, Prof. Fauzi Saleh membahas Surat Al-Ghasyiyah ayat 17 hingga 20 sebagai contoh ayat-ayat yang menggunakan pendekatan kauniyah. Pada ayat ke-17, Allah menggugah manusia agar memperhatikan unta dan bagaimana hewan itu diciptakan dengan berbagai kelebihannya. Unta, yang sejak dahulu menjadi sarana transportasi masyarakat gurun, memiliki kemampuan luar biasa, termasuk menyimpan cadangan air dalam jumlah besar untuk bertahan hidup di lingkungan yang keras.
Namun, ia mengingatkan agar manusia tidak memiliki sifat seperti unta yang dikenal menyimpan dendam dan keras kepala. Sebaliknya, manusia hendaknya mengambil pelajaran dari keistimewaan ciptaan Allah tersebut.
Pada ayat ke-18, Allah mengajak manusia memperhatikan langit yang ditinggikan dengan struktur yang unik. Menurut Prof. Fauzi, pembicaraan tentang langit juga berkaitan dengan spiritualitas dan kemuliaan. Hujan, rezeki, dan berbagai anugerah Allah diturunkan dari atas sebagai simbol kebaikan, sedangkan sesuatu yang bergerak dari bawah ke atas merupakan simbol penyucian.
“Karena itu kita belajar filosofi sujud. Dari tempat yang paling rendah, manusia melakukan mi’raj menuju kemuliaan yang paling tinggi. Maka rendahkanlah diri di hadapan Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajat manusia ke tempat yang mulia,” katanya.
Pada ayat ke-19, Allah meminta manusia memperhatikan gunung yang ditegakkan sebagai penyangga bumi dan penjaga keseimbangan ekosistem kehidupan. Menurutnya, manusia perlu memahami hikmah keberadaan gunung sebagai bagian dari sistem kehidupan yang diciptakan Allah secara sempurna.
Selanjutnya pada ayat ke-20, Allah mengajak manusia memperhatikan bumi yang dihamparkan. Menurut Prof. Fauzi, perkembangan ilmu pengetahuan modern, termasuk teori Big Bang, dapat membantu manusia memahami proses penciptaan alam semesta.
Ia juga mengaitkan perjalanan bumi dengan tahapan kehidupan manusia. Seiring bertambahnya usia, kekuatan fisik manusia berkurang, tetapi aspek spiritualitas seharusnya semakin meningkat. Hal itu merupakan bentuk pembekalan dari Allah bagi manusia untuk menghadapi perpindahan dari satu alam menuju alam berikutnya.
“Allah menyiapkan manusia secara bertahap agar siap memasuki fase kehidupan selanjutnya. Ada empat alam yang dijalani manusia, yaitu alam rahim, alam dunia, alam kubur, dan alam akhirat. Setiap alam memiliki pola dan bentuk kehidupan yang berbeda,” ujar Prof. Fauzi Saleh.
Melalui ayat-ayat kauniyah tersebut, Prof. Fauzi Saleh mengajak umat Islam untuk terus menggunakan akal dan hati dalam merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah, sehingga keimanan yang dimiliki tumbuh atas dasar pemahaman dan keyakinan yang semakin kuat.
Laporan Saif
