-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Bencana dan Investasi Kesiapsiagaan

Rabu, 24 Juni 2026 | Juni 24, 2026 WIB Last Updated 2026-06-25T03:52:03Z

 


Al-Rasyid.id | Salah satu seminar penting tentang manajemen bencana diselenggarakan di Plant Semen Andalas PT Solusi Bangun Andalas (SBA), Lhoknga, pada 11 Juni 2026 lalu. 


Seminar bertema “Siaga Hari Ini, Tangguh Menghadapi Hari Esok” itu menghadirkan unsur pemerintah, akademisi, dan masyarakat. 


Kegiatan tersebut mengingatkan kita bahwa pemahaman dan keterampilan dalam menyiapkan diri, merespon, dan mengelola dampak bencana merupakan kebutuhan mendesak, bukan sekadar agenda seremonial. 


Kesiapsiagaan harus menjadi budaya bersama agar masyarakat memiliki kemampuan menghadapi situasi darurat secara cepat dan tepat. 


Aceh Rawan Bencana


Aceh adalah daerah yang berada pada kawasan rawan bencana. Ancaman gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, hingga potensi aktivitas gunung berapi merupakan bagian dari kenyataan geografis yang tidak bisa dihindari. 


Namun ancaman tersebut akan menjadi lebih berbahaya apabila masyarakat tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam mitigasi dan penanggulangan bencana.


Berbagai penelitian di Aceh menunjukkan bahwa tingkat kesiapsiagaan masyarakat masih beragam. Sebagian wilayah berada pada kategori “siap” dengan indeks sekitar 67,98, sementara wilayah lain masih berada pada kategori “hampir siap” dengan indeks sekitar 56,36. Kelemahan terbesar umumnya terletak pada mobilisasi sumber daya, perencanaan kedaruratan, dan sistem peringatan dini. 


Hal ini menunjukkan bahwa secara umum kapasitas masyarakat Aceh masih perlu terus ditingkatkan. 


Di sisi lain, lembaga pemerintah pun masih menghadapi berbagai keterbatasan dalam merespon dampak bencana. 


Banjir besar yang melanda Aceh dan sebagian Sumatera pada akhir November 2025 hingga kini, sekitar tujuh bulan kemudian, masih menyisakan banyak persoalan. Di berbagai lokasi masih terlihat kerusakan jalan, jembatan, rumah warga, serta alur sungai yang belum sepenuhnya dipulihkan. 


Bahkan pada masa tanggap darurat, sejumlah pemerintah daerah mengakui keterbatasan kemampuan penanganan sehingga membutuhkan dukungan yang lebih luas. 


Karena itu, membangun keterampilan kesiapsiagaan bencana bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan merupakan kebutuhan yang sangat penting. 


Demikian pula pemerintah harus meningkatkan kemampuan antisipasi, koordinasi, serta pengelolaan dampak bencana agar pemulihan dapat dilakukan secara lebih cepat dan efektif.


Kemampuan Diri Warga 


Setiap warga perlu membangun kemampuan diri untuk mengenali tanda-tanda ancaman, memahami wilayah yang berpotensi mengalami bencana, serta mengetahui cara menghindari dan mengurangi risiko. 


Ada lima langkah penting yang dapat dilakukan.


Pertama, mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak doa, sedekah, dan amal kebajikan. Rasulullah SAW bersabda: “Bersegeralah bersedekah, karena bala tidak akan mampu mendahului sedekah.” (HR. Baihaqi).


Sedekah memang tidak menghapus hukum alam, tetapi merupakan bagian dari ikhtiar spiritual seorang mukmin dalam memohon perlindungan Allah SWT.


Kedua, memperkuat silaturahim dan saling mengingatkan antarwarga. Dalam situasi bencana, kebersamaan dan solidaritas sosial sering kali menjadi pertolongan pertama yang paling nyata.


Ketiga, mempersiapkan perlengkapan darurat, mengenali jalur evakuasi, dan menyimpan alat-alat penting, termasuk persediaan makanan, obat-obatan, air bersih, dokumen penting, serta alat komunikasi.


Keempat, membangun budaya saling membantu, berbagi makanan dan obat-obatan, serta memperkuat semangat gotong royong ketika musibah terjadi. Ketahanan sosial masyarakat sering kali menjadi faktor penentu dalam mengurangi korban.


Kelima, melakukan introspeksi dan taubat jama’i. Musibah merupakan pengingat bagi manusia untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia, seraya terus melakukan ikhtiar ilmiah dan teknis dalam mengurangi risiko bencana.


Khulasah


Pada akhirnya, kesiapsiagaan bencana tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah atau masyarakat semata. 


Diperlukan sinergi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, media, serta berbagai pusat pengetahuan dan pelatihan. 


Kolaborasi tersebut penting untuk meningkatkan kepedulian seluruh pemangku kepentingan sehingga kapasitas masyarakat semakin kuat. 


Dengan demikian, ketika bencana datang—sesuatu yang mungkin tidak dapat dicegah—potensi kerugian dan jumlah korban jiwa dapat ditekan seminimal mungkin. 


Sebab masyarakat yang siap dan pemerintah yang tangguh merupakan modal utama untuk membangun Aceh demikian juga daerah lainnya di nusantara yang lebih aman dan berketahanan terhadap bencana.


Wallahu a’lam


Banda Aceh 8 Muharram 1448, 23 Juni 2026


(Penulis adalah mantan orang dalam plant Semen Andalas Lhoknga, akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, bendahara ICMI Aceh)

×
Berita Terbaru Update