-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Safari Subuh dan Tantangan Memakmurkan Masjid

Rabu, 10 Juni 2026 | Juni 10, 2026 WIB Last Updated 2026-06-10T07:58:29Z




Oleh Saifuddin A. Rasyid 

Al-Rasyid.id | Dalam beberapa tahun terakhir, gerakan Safari Subuh berkembang di berbagai kota di Indonesia sebagai upaya menghidupkan kembali semangat umat Islam untuk menegakkan shalat berjamaah, khususnya pada waktu subuh. 


Di berbagai daerah, termasuk Banda Aceh dan sejumlah kabupaten serta kota lain di Aceh, kegiatan Safari Subuh menjadi agenda rutin yang melibatkan ulama, pemerintah, tokoh masyarakat, dan jamaah masjid. 


Gerakan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kehadiran jamaah di masjid, tetapi juga mempererat ukhuwah Islamiyah, memperkuat dakwah, dan membangun kepedulian sosial di tengah masyarakat.


Upaya tersebut patut diapresiasi karena shalat subuh berjamaah merupakan salah satu ibadah yang memiliki tantangan tersendiri. 


Dibandingkan waktu shalat lainnya, subuh dilaksanakan ketika sebagian besar orang masih terlelap. Karena itu, kehadiran jamaah dalam jumlah besar pada waktu subuh sering dijadikan indikator hidupnya syiar Islam di suatu lingkungan. 


Di Aceh yang dikenal sebagai daerah dengan identitas keislaman yang kuat, gerakan Safari Subuh telah menjadi energi positif untuk mengajak masyarakat kembali memakmurkan masjid dan meunasah.


Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak masjid, meunasah, dan surau yang jamaahnya relatif sedikit, terutama pada waktu subuh dan shalat berjamaah harian lainnya. 


Tidak jarang sebuah masjid yang mampu menampung ratusan orang hanya diisi beberapa saf jamaah, bahkan ada yang hanya dihadiri imam, muazin, dan beberapa orang tua. 


Kondisi ini menjadi refleksi bahwa membangun bangunan fisik masjid jauh lebih mudah daripada membangun budaya berjamaah yang berkelanjutan.


Alasan


Ada setidaknya tujuh alasan yang sering menyebabkan sebagian umat Islam kurang bersemangat melaksanakan shalat berjamaah.


Pertama, lemahnya pemahaman tentang keutamaan shalat berjamaah. Sebagian orang mengetahui kewajiban shalat, tetapi belum memahami besarnya pahala dan manfaat berjamaah di masjid.


Kedua, kebiasaan begadang dan pola hidup yang tidak teratur. Banyak orang tidur larut malam karena pekerjaan, hiburan digital, atau aktivitas media sosial sehingga sulit bangun untuk shalat subuh berjamaah.


Ketiga, rasa malas dan dominasi hawa nafsu. Kemudahan tempat tidur sering kali lebih menarik daripada berjalan menuju masjid, terutama ketika cuaca dingin atau hujan.


Keempat, pengaruh kesibukan pekerjaan dan urusan dunia. Sebagian masyarakat menempatkan aktivitas ekonomi sebagai prioritas utama sehingga urusan ibadah berjamaah menjadi terabaikan.


Kelima, kurangnya keteladanan di lingkungan keluarga. Anak-anak yang tidak terbiasa diajak orang tua ke masjid sejak kecil cenderung tidak memiliki ikatan emosional yang kuat dengan kehidupan berjamaah.


Keenam, menurunnya semangat kebersamaan di lingkungan masyarakat. Di beberapa tempat, hubungan sosial antarwarga tidak seerat dahulu sehingga ajakan untuk berjamaah tidak lagi menjadi budaya kolektif.


Ketujuh, kurangnya program pembinaan dan pemberdayaan jamaah. Masjid yang hanya difungsikan sebagai tempat shalat tanpa kegiatan pendidikan, sosial, dan ekonomi sering kesulitan menarik keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.


Sinergi Pembinaan


Karena itu, gerakan Safari Subuh sebaiknya tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah jamaah sesaat, tetapi juga membangun sistem pembinaan yang berkesinambungan. 


Pengurus masjid, ulama, pemerintah, akademisi, dan tokoh masyarakat perlu bersinergi menciptakan lingkungan yang ramah bagi jamaah, memperbanyak kegiatan keagamaan, serta menanamkan kecintaan kepada masjid sejak usia dini.


Pada akhirnya, kemakmuran masjid bukan hanya diukur dari megahnya bangunan atau banyaknya fasilitas yang dimiliki, melainkan dari hadirnya jamaah yang istiqamah memakmurkan rumah Allah. 


Safari Subuh adalah langkah yang baik dan perlu terus diperkuat, tetapi keberhasilannya akan lebih nyata apabila mampu secara sinergis mengubah kebiasaan masyarakat sehingga shalat berjamaah menjadi kebutuhan spiritual, bukan sekadar kegiatan seremonial. 


Jika setiap masjid, meunasah, dan surau hidup dengan jamaah yang aktif, maka masjid akan kembali menjadi pusat peradaban Islam yang melahirkan masyarakat yang religius, berilmu, dan peduli terhadap sesama.


Wallahua’lam 


Darussalam, 10 Juni 2026


(Penulis adalah Imuem meunasah Barabung, Imuemsyik masjid jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

×
Berita Terbaru Update