-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Berbakti Kepada Ortu Sepanjang Hayat: Perintah Allah yang Tak Pernah Berakhir

Minggu, 26 Juli 2026 | Juli 26, 2026 WIB Last Updated 2026-07-26T20:52:31Z

 


Oleh: Saifuddin A. Rasyid


Al-Rasyid.id -  Khutbah Jumat yang disampaikan Dr. Muhajirul Fadhli, Lc., M.A. di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh hari ini terasa begitu sederhana, tetapi menghunjam ke relung hati. 


Di tengah derasnya pembahasan tentang kecerdasan buatan, transformasi digital, dan berbagai persoalan sosial yang semakin kompleks, beliau justru mengangkat satu tema yang sangat mendasar: berbakti kepada orang tua. 


Tema yang telah berulang kali kita dengar, tetapi justru sering kita lupakan dalam praktik kehidupan sehari-hari.


Bukan Ibadah Musiman


Khutbah itu mengingatkan kita bahwa berbakti kepada orang tua bukanlah ibadah musiman, bukan pula kewajiban yang selesai ketika kita telah dewasa, menikah, atau memiliki jabatan. 


Selama seseorang masih menyandang status sebagai anak, selama itu pula kewajiban berbakti kepada kedua orang tua tetap melekat. 



Bahkan ketika ayah dan ibu telah meninggalkan dunia, bakti seorang anak tidak pernah benar-benar berakhir.


Inilah salah satu ajaran Islam yang paling indah. Kematian memutus banyak hubungan di dunia, tetapi tidak memutus hubungan kasih sayang antara anak dan kedua orang tuanya.


Perintah Langsung dari Allah


Banyak orang mengira berbakti kepada orang tua hanyalah bentuk balas jasa atas pengorbanan mereka. 


Memang benar, tidak ada seorang pun yang mampu membalas pengorbanan seorang ibu yang mengandung sembilan bulan, mempertaruhkan nyawa ketika melahirkan, menyusui, mengasuh, dan mendidik anaknya. 


Tidak ada pula yang sanggup menghitung tetesan keringat seorang ayah yang bekerja siang malam demi memastikan anak-anaknya hidup layak.


Namun Islam meletakkan dasar yang jauh lebih tinggi daripada sekadar balas budi.


Allah SWT berfirman:


“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra’: 23).


Perhatikan susunan ayat ini. Setelah memerintahkan tauhid, Allah langsung memerintahkan berbuat baik kepada kedua orang tua. 


Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa penyandingan kedua perintah ini menunjukkan betapa agung kedudukan birrul walidain dalam Islam. Setelah hak Allah, tidak ada hak yang lebih besar daripada hak kedua orang tua.


Karena itu, sesungguhnya orang tua tidak sedang meminta anak-anaknya berbakti kepada mereka. Yang meminta adalah Allah SWT.


Ayah dan ibu tidak perlu memohon agar dihormati. Allah sendiri yang memerintahkannya.


Maka ketika seorang anak durhaka, sesungguhnya ia bukan hanya melukai hati orang tuanya, tetapi juga sedang melanggar perintah Rabb yang menciptakannya.


Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam pun menegaskan kedudukan mulia tersebut. Ketika ditanya tentang amalan yang paling dicintai Allah, beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” Setelah itu beliau menyebut, “Berbakti kepada kedua orang tua,” kemudian “berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Dalam hadis lain Rasulullah bersabda:


“Celakalah seseorang, celakalah seseorang, celakalah seseorang.”


Para sahabat bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?”


Beliau menjawab, “Orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya telah lanjut usia, tetapi ia tidak masuk surga karena tidak berbakti kepada keduanya.” (HR. Muslim).


Betapa besar peluang menuju surga yang Allah letakkan melalui kedua orang tua kita.


Bakti Tidak Berakhir di Pemakaman


Salah satu bagian khutbah Dr. Muhajirul Fadhli yang paling menyentuh adalah ketika beliau mengingatkan bahwa kematian orang tua bukanlah akhir dari kebaktian seorang anak.


Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam,


“Apakah masih ada bentuk kebaktian yang dapat aku lakukan kepada kedua orang tuaku setelah mereka meninggal?”


Beliau menjawab, masih ada. Rasulullah kemudian menyebutkan lima bentuk bakti yang tetap dapat dilakukan.


Pertama, mendoakan kedua orang tua. Doa anak saleh adalah hadiah yang tidak pernah putus.


Kedua, memohonkan ampunan (istighfar) bagi mereka. Rasulullah menjelaskan bahwa derajat seseorang di alam barzakh dapat diangkat karena istighfar anaknya.


Ketiga, melaksanakan wasiat dan amanah yang pernah mereka tinggalkan, termasuk menjaga wakaf dan berbagai kebajikan yang mereka rintis.


Keempat, memuliakan sahabat-sahabat dekat orang tua, sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang mereka cintai semasa hidup.


Kelima, menyambung silaturahmi dengan keluarga dan kerabat mereka.


Hadis ini menunjukkan bahwa hubungan seorang anak dengan kedua orang tuanya tidak pernah diputus oleh kematian. Yang berubah hanyalah bentuk baktinya.


Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa doa anak saleh merupakan salah satu amal yang terus mengalir kepada kedua orang tua. 


Sementara Ibnu Hajar Al-’Asqalani menerangkan bahwa memuliakan sahabat orang tua termasuk kesempurnaan birrul walidain karena di dalamnya terdapat penghormatan terhadap orang yang mereka cintai.


Syekh Yusuf Al-Qaradawi juga mengingatkan bahwa modernisasi tidak boleh menghilangkan penghormatan kepada orang tua. Kesibukan pekerjaan, karier, bahkan teknologi komunikasi tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi perhatian kepada mereka. 


Demikian pula Prof. M. Quraish Shihab menegaskan bahwa berbakti bukan hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga menjaga perasaan, kehormatan, dan ketenteraman hati kedua orang tua.


Menjadi Anak yang Istiqamah Berbakti


Berbakti kepada orang tua memerlukan latihan sepanjang hidup. Ada lima ikhtiar yang patut terus dijaga.


Pertama, memperkuat hubungan dengan Allah melalui shalat, doa, dan ketakwaan. Hati yang dekat dengan Allah akan lebih mudah lembut kepada kedua orang tua.


Kedua, membiasakan tutur kata yang santun. Tidak semua orang tua membutuhkan hadiah mahal, tetapi semua orang tua membutuhkan penghormatan.


Ketiga, menyediakan waktu. Kesibukan tidak boleh menghapus perhatian. Kadang-kadang, telepon beberapa menit lebih berarti daripada kiriman uang yang besar.


Keempat, membiasakan mendoakan kedua orang tua setiap selesai shalat, baik ketika mereka masih hidup maupun setelah wafat.


Kelima, menjaga nama baik keluarga dengan akhlak yang mulia. Tidak ada kebanggaan yang lebih besar bagi orang tua selain melihat anak-anaknya hidup dalam ketaatan kepada Allah.


Orang Tua Juga Memiliki Amanah


Islam selalu menghadirkan keseimbangan. Ketika anak diperintahkan berbakti, orang tua juga diperintahkan memudahkan anak-anaknya menjalankan kebajikan.


Ada lima hal yang perlu dijaga oleh seorang ayah dan ibu.


Pertama, tidak membebani anak dengan tuntutan yang berada di luar kemampuan mereka.


Kedua, tidak memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan syariat.


Ketiga, menghormati kehidupan rumah tangga anak yang telah dewasa, tanpa mencampuri secara berlebihan.


Keempat, membangun komunikasi yang penuh kasih sayang, bukan tekanan emosional atau rasa bersalah.


Kelima, menjadi teladan dalam memperlakukan orang tua mereka sendiri, karena pendidikan yang paling kuat adalah contoh nyata.


Hak orang tua memang sangat besar, tetapi Islam tidak pernah membenarkan kezaliman. Orang tua yang mempersulit anak berbuat baik, menuntut sesuatu yang bertentangan dengan syariat, atau mengganggu keharmonisan rumah tangga anak tanpa alasan yang dibenarkan juga perlu melakukan muhasabah. Allah memerintahkan kasih sayang dan keadilan kepada semua pihak.


Berbakti Bukan Berarti Taat Tanpa Batas


Keindahan Islam tampak ketika menjelaskan batas-batas ketaatan.


Allah SWT berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak engkau ketahui, maka janganlah engkau menaati keduanya. Namun, pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik.” (QS. Luqman: 15).


Ayat ini menjadi pedoman penting. Seorang anak tidak boleh menaati orang tua dalam perkara maksiat atau yang bertentangan dengan syariat. 


Namun, penolakan itu tidak boleh menghilangkan adab, rasa hormat, dan kasih sayang.


Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq.” (HR. Ahmad).


Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa hak orang tua bukanlah hak yang mutlak. Ia wajib dipenuhi selama tidak mengandung kemaksiatan, kezaliman, atau menghilangkan hak orang lain.


Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir juga menegaskan bahwa birrul walidain berarti berbuat ihsan kepada kedua orang tua, bukan memenuhi seluruh keinginan mereka tanpa batas.


Karena itu, seorang anak tidak boleh menggunakan alasan “sibuk bekerja” atau “sudah berkeluarga” untuk mengurangi baktinya. 


Sebaliknya, orang tua pun tidak semestinya menjadikan hak mereka sebagai alasan untuk mengendalikan seluruh kehidupan anak.


Keseimbangan inilah yang melahirkan keluarga yang sehat, penuh penghormatan, dan jauh dari kezaliman.


Bakti yang Tidak Pernah Berakhir


Pada akhirnya, berbakti kepada orang tua bukanlah sekadar balas budi. Jika hanya balas budi, niscaya kita tidak akan pernah mampu membayar setetes air susu ibu atau keringat ayah yang menetes demi membesarkan kita. 


Birrul walidain jauh lebih luhur daripada itu. Ia adalah ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT dan menjadi jalan menuju keridaan-Nya.


Suatu hari nanti, cepat atau lambat, kita semua akan berdiri di sisi pusara ayah dan ibu kita. Saat itu tidak ada lagi kesempatan untuk mencium tangan mereka, memeluk mereka, meminta maaf atas kata-kata yang pernah menyakiti hati mereka, atau membalas senyum yang dahulu selalu menyambut kepulangan kita. 


Yang tersisa hanyalah doa, istighfar, sedekah, silaturahmi yang kita sambung atas nama mereka, dan amal-amal saleh yang terus kita hadiahkan.


Karena itu, jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya kehadiran orang tua. 


Selama mereka masih hidup, bahagiakanlah mereka dengan perhatian, kelembutan, dan pelayanan terbaik yang mampu kita berikan. Jangan merasa cukup hanya dengan mengirim uang, sebab sering kali yang paling mereka rindukan adalah waktu, sapaan, pelukan, dan doa dari anak-anaknya.


Sebaliknya, bagi ayah dan ibu, jadilah jembatan yang memudahkan anak-anak meraih ridha Allah melalui bakti kepada orang tuanya. 


Jangan jadikan kasih sayang berubah menjadi tuntutan yang memberatkan, atau hak sebagai alasan untuk menguasai seluruh kehidupan anak. 


Orang tua yang bijaksana akan membimbing, mendoakan, memaafkan, dan memudahkan, sehingga rumah menjadi tempat lahirnya generasi yang saleh, bukan tempat tumbuhnya luka dan penyesalan.


Marilah kita bertanya kepada diri sendiri sebelum Allah menanyakannya kelak: Apakah hari ini kita sudah menjadi anak yang membahagiakan orang tua? Apakah hari ini kita sudah mengirim doa untuk mereka? Apakah hari ini kita telah meminta maaf, mencium tangan mereka, atau sekadar menelepon untuk menanyakan kabarnya? 


Jika jawabannya belum, maka hari ini adalah waktu terbaik untuk memulainya. Jangan menunggu esok, sebab tidak ada seorang pun yang mampu menjamin bahwa esok masih menjadi milik kita atau milik mereka.


Semoga Allah SWT menjadikan kita anak-anak yang istiqamah dalam birrul walidain; anak-anak yang tidak pernah berhenti mendoakan kedua orang tuanya, baik ketika mereka masih berjalan bersama kita di dunia maupun ketika mereka telah lebih dahulu kembali ke hadirat-Nya. 


Dan semoga ketika kita sendiri menjadi orang tua, Allah menganugerahkan anak-anak yang mencintai, menghormati, dan mendoakan kita sebagaimana kita berusaha mencintai dan mendoakan kedua orang tua kita hari ini.


Sebab dalam Islam, bakti kepada orang tua tidak mengenal batas usia, tidak terhenti oleh jarak, dan tidak berakhir oleh kematian. 


Birrul walidain adalah ibadah sepanjang hayat—menghubungkan seorang anak dengan kedua orang tuanya di dunia, menghadiahkan cahaya bagi mereka di alam kubur, dan insya Allah mempertemukan mereka kembali dalam naungan rahmat Allah di surga-Nya. Aamiin ya Rabbal ’Alamin.


Wallahu a’lam 


Darussalam Banda Aceh, 9 Safar 1448, 14 Juli 2026


(Penulis akademisi FAH UIN Ar-Raniry Banda Aceh, imam besar Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, bendahara ICMI Aceh)

×
Berita Terbaru Update