-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Jangan Menunggu Tua untuk Bersiap Mati

Minggu, 26 Juli 2026 | Juli 26, 2026 WIB Last Updated 2026-07-26T20:54:05Z

 


Belajar dari Wafat Mendadak Tgk. Suriadi Abdul Manaf: Kematian Tidak Pernah Menunggu Kita Menyelesaikan Rencana Hidup


Oleh : Saifuddin A. Rasyid


Bagian I


Kematian sering datang tanpa mengetuk pintu. Ia tidak meminta izin, tidak menunggu seseorang menyelesaikan pekerjaannya, tidak pula menanti anak-anaknya dewasa atau cita-citanya tercapai. 


Ketika Allah SWT menetapkan waktunya tiba, tidak ada satu kekuatan pun yang mampu menunda walau hanya sekejap. Karena itulah, setiap berita kematian sejatinya bukan hanya kabar duka bagi keluarga yang ditinggalkan, melainkan juga nasihat Allah bagi setiap orang yang masih diberi kesempatan hidup.


Foto yang menyertai opini ini memperlihatkan suasana haru di kediaman almarhum Tgk. Suriadi Abdul Manaf di Desa Lamsabang, Aceh Besar. Di hadapan keluarga, santri, sahabat, dan masyarakat yang datang bertakziah, Tgk. Masrul Aidi, Lc, Pimpinan Dayah Babul Maghfirah Cot Keueng, Aceh Besar, menyampaikan tausiah yang bukan hanya menghibur keluarga, tetapi juga menggugah hati seluruh pelayat. 


Almarhum dikenal sebagai ulama yang tawaduk dan alim. Beliau pernah menimba ilmu di sejumlah dayah di Labuhan Haji, Aceh Selatan, sebelum kemudian mengabdikan diri di Dayah Babul Maghfirah. Di samping mendidik para santri, beliau juga mengemban amanah sebagai Penyuluh Agama Islam pada Kantor Urusan Agama (KUA) Kuta Baro, Aceh Besar. Hidupnya diisi dengan dakwah, pendidikan, dan pelayanan kepada umat.


Namun, takdir Allah selalu menyimpan rahasia yang tidak mampu dibaca manusia. Pada Senin sore, 21 Juli 2026, ketika usianya baru menginjak 42 tahun, almarhum sempat mengeluhkan sesak napas. Tidak sampai satu jam sejak keluhan itu muncul, Allah SWT memanggilnya kembali. Rabu pagi, 22 Juli 2026, beliau dimakamkan di kampung halamannya di Desa Lamsabang. 


Kepergian yang begitu cepat itu menyisakan duka yang mendalam sekaligus menghadirkan pelajaran yang sangat mahal: kematian tidak selalu datang kepada mereka yang telah renta. Ia dapat menjemput siapa saja, kapan saja, di mana saja, tanpa memandang usia, kedudukan, maupun kesibukan.


Dalam tausiahnya, Tgk. Masrul Aidi mengingatkan bahwa kematian almarhum adalah pelajaran bagi semua yang masih hidup. Bekal paling mendasar menuju akhirat bukanlah banyaknya harta, tingginya jabatan, atau luasnya popularitas, melainkan kesalehan. 


Jadilah anak yang saleh yang senantiasa mendoakan kedua orang tua. Jika Allah telah mengaruniakan keluarga, jadilah ayah yang saleh dan ibu yang salehah yang mewariskan iman, akhlak, dan keteladanan kepada anak-anak seperi almarhum Tgk Suriadi, kata Tgk Masrul.


Sebab ketika seseorang telah berada di alam kubur, seluruh urusan dunia terputus kecuali amal yang diterima Allah, sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh.


Pesan itu terasa semakin menyentuh karena disampaikan di hadapan jenazah seorang ulama yang menghabiskan hidupnya untuk mengajar, membimbing umat, dan menanamkan nilai-nilai agama. 


Kepergian beliau menjadi pengingat bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari panjang pendek usianya, tetapi dari sejauh mana umur itu diisi dengan ilmu, amal saleh, dan manfaat bagi orang lain.


Usia 42 tahun sering dipandang sebagai masa kematangan seseorang. Pada usia inilah banyak orang berada di puncak produktivitas, memimpin lembaga, membesarkan usaha, membangun keluarga, dan menyusun berbagai rencana besar. 


Rasulullah SAW menerima wahyu pertama ketika berusia sekitar 40 tahun, usia yang oleh para ulama dipandang sebagai fase kematangan akal, spiritual, dan tanggung jawab. Setelah usia itu, Rasulullah memikul amanah terbesar dalam sejarah manusia, mengubah peradaban dengan cahaya Islam.


Karena itu, memasuki usia empat puluhan seharusnya bukan lagi saat memperpanjang angan-angan dunia, melainkan memperbanyak bekal menuju akhirat. 


Semakin bertambah umur, semakin berkurang jatah kehidupan. Setiap ulang tahun hakikatnya bukan hanya pertambahan usia, tetapi juga pengurangan sisa waktu yang Allah titipkan kepada kita.


Kepergian Tgk. Suriadi Abdul Manaf pada usia 42 tahun mengingatkan bahwa yang menentukan nilai kehidupan bukanlah panjang pendek usia, melainkan keberkahan umur. 


Ada orang yang hidup hingga usia sembilan puluh tahun tetapi sedikit meninggalkan manfaat. Sebaliknya, ada yang dipanggil Allah pada usia yang jauh lebih muda, namun jejak ilmunya, akhlaknya, dan pengabdiannya terus dikenang. Rasulullah SAW bersabda:


“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad).


Karena itu, pertanyaan yang layak kita renungkan bukanlah, “Berapa lama lagi saya akan hidup?” melainkan, “Jika Allah memanggil saya hari ini, bekal apa yang telah saya siapkan?”


Sesungguhnya, kita semua sedang berjalan menuju satu tujuan yang sama, yaitu kematian. Perbedaannya hanyalah waktu yang dirahasiakan Allah SWT. 


Tidak seorang pun mengetahui apakah ia masih akan menyaksikan matahari terbit esok pagi atau justru malam ini menjadi malam terakhirnya di dunia.


Allah SWT telah mengingatkan dengan sangat jelas:


“Kullu nafsin dzā`iqatul maut.”

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali ’Imran: 185).


Ayat ini termasuk ayat yang paling sering kita dengar, tetapi mungkin paling sedikit kita renungkan. Allah tidak mengatakan sebagian manusia akan mati, melainkan setiap yang bernyawa. Artinya, tidak ada seorang pun yang memperoleh hak istimewa untuk hidup selamanya.


Allah kembali berfirman:


“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, sekalipun kamu berada di dalam benteng-benteng yang kokoh.” (QS. An-Nisa’: 78).


Benteng pada masa kini dapat dimaknai sebagai rumah yang megah, kendaraan yang canggih, rumah sakit dengan teknologi tercanggih, bahkan kekuasaan dan kekayaan yang luar biasa. 


Semua itu dapat memperpanjang ikhtiar manusia, tetapi tidak akan pernah mampu mengubah ketetapan Allah tentang ajal.


Lebih tegas lagi Allah berfirman:


“Apabila ajal mereka telah datang, mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak pula memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34).


Ayat ini menumbuhkan dua sikap sekaligus. Pertama, tidak takut menghadapi kematian selama berada di jalan yang benar. Kedua, tidak menunda kebaikan karena tidak ada seorang pun mengetahui kapan batas waktunya akan berakhir.


Sesungguhnya, setiap bayi yang lahir ke dunia telah membawa dua catatan yang hanya diketahui Allah: kapan ia dilahirkan dan kapan ia akan dipanggil kembali. 


Manusia mengetahui tanggal kelahirannya, tetapi tidak pernah mengetahui tanggal kematiannya. Justru karena itulah setiap hari yang Allah berikan merupakan kesempatan emas untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal, mempererat silaturahmi, melunasi utang, meminta maaf, mendidik keluarga, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.


Kematian bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan awal dari kehidupan yang sesungguhnya. Dunia hanyalah tempat singgah yang sangat singkat. 


Imam Hasan Al-Bashri pernah berkata, “Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka hilang pula sebagian dari dirimu.”


Kalimat yang sederhana itu mengandung makna yang sangat dalam. Setiap matahari terbenam bukan sekadar penutup hari, tetapi juga pertanda bahwa usia kita telah berkurang satu hari. 


Persoalannya bukan lagi berapa umur yang telah kita jalani, melainkan berapa banyak bekal yang telah kita kumpulkan untuk perjalanan yang tidak akan perna

————


Bagian II: Menyiapkan Bekal Sebelum Ajal Menjemput


Kesadaran akan kepastian kematian tidak dimaksudkan agar manusia hidup dalam ketakutan. Sebaliknya, Islam mengajarkan agar mengingat kematian menjadi energi untuk memperbaiki kualitas hidup. 


Orang yang sering mengingat kematian justru akan lebih berhati-hati dalam berbicara, lebih jujur dalam bekerja, lebih adil dalam memimpin, lebih lembut kepada keluarga, serta lebih ringan tangannya membantu sesama. 


Kesadaran bahwa setiap amal akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah menjadikan seorang mukmin selalu berusaha meninggalkan jejak kebaikan.


Karena itu, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya agar tidak melupakan kematian. Beliau bersabda:


“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i).


Dalam hadis yang lain Rasulullah SAW bersabda:


“Orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah).


Ukuran kecerdasan dalam hadis ini sangat berbeda dengan ukuran manusia pada umumnya. Dunia mengukur kecerdasan melalui gelar akademik, jabatan, kekayaan, atau popularitas. Islam mengajarkan bahwa kecerdasan sejati adalah kemampuan melihat jauh melampaui kehidupan dunia yang sementara menuju kehidupan akhirat yang kekal.


Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa orang yang sering mengingat kematian akan memperoleh tiga anugerah besar. 


Pertama, ia akan segera bertaubat dan tidak gemar menunda-nunda perbaikan diri. 


Kedua, ia akan merasa cukup dengan rezeki yang halal sehingga tidak tergoda mencari harta melalui jalan yang haram. 


Ketiga, ia akan bersemangat memperbanyak amal saleh karena menyadari kesempatan beramal hanya ada selama hidup di dunia.


Sementara itu, Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa mengingat kematian akan melembutkan hati yang keras, mematahkan angan-angan yang terlalu panjang, serta mengurangi kecintaan yang berlebihan terhadap dunia. 


Sebab, orang yang sadar bahwa dirinya sedang menuju liang lahat tidak akan menjadikan dunia sebagai tujuan akhir kehidupannya.


Lalu, bagaimana seharusnya seorang muslim mempersiapkan diri jika kematian yang cepat telah mengintai?


Setidaknya ada tujuh bekal yang perlu dipersiapkan sejak hari ini.


Pertama, meluruskan akidah dan menjaga kemurnian tauhid. Inilah bekal yang paling utama. Tidak ada keberuntungan yang lebih besar daripada menghadap Allah dalam keadaan beriman dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun. Seluruh amal akan bernilai apabila dibangun di atas fondasi tauhid yang benar.


Kedua, menjaga shalat lima waktu. Shalat adalah tiang agama dan amal pertama yang akan dihisab pada Hari Kiamat. Rasulullah SAW bersabda bahwa apabila shalat seseorang baik, maka baik pula seluruh amalnya. Sebaliknya, apabila shalatnya rusak, maka rusak pula amal-amal yang lain. Karena itu, memperbaiki shalat berarti memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.


Ketiga, memperbanyak taubat dan istighfar. Tidak ada manusia yang luput dari dosa. Yang membedakan satu dengan yang lain adalah kesediaannya kembali kepada Allah. Jangan pernah menunggu datangnya usia tua untuk bertaubat. Banyak orang meninggal sebelum sempat mengucapkan, “Ya Allah, ampunilah aku.”


Keempat, memperbanyak amal jariah. Rasulullah SAW bersabda bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. Hadis ini mengajarkan bahwa seorang mukmin hendaknya meninggalkan warisan kebaikan yang terus mengalir meskipun dirinya telah berada di alam kubur.


Amal jariah tidak selalu berupa pembangunan masjid atau wakaf tanah. Mengajarkan Al-Qur’an, membina generasi muda, membantu pendidikan anak yatim, menulis ilmu yang bermanfaat, menanam pohon yang memberi manfaat bagi manusia, bahkan membiasakan keluarga melakukan kebaikan juga merupakan investasi akhirat yang pahalanya terus mengalir.


Kelima, menyelesaikan hak-hak sesama manusia. Betapa banyak orang rajin beribadah tetapi masih menyimpan utang yang belum dilunasi, permusuhan yang belum diselesaikan, atau hak orang lain yang belum dikembalikan. Rasulullah SAW mengingatkan tentang orang yang bangkrut di akhirat, yaitu mereka yang datang membawa banyak pahala, tetapi habis karena harus membayar kezaliman yang pernah dilakukan kepada orang lain.


Karena itu, jangan menunda meminta maaf. Jangan menunda melunasi utang. Jangan menunda mengembalikan amanah. Kita tidak pernah tahu apakah masih memiliki kesempatan esok hari.


Keenam, membangun keluarga yang saleh. Nasihat Tgk. Masrul Aidi pada saat takziah almarhum Tgk. Suriadi Abdul Manaf sangat relevan untuk direnungkan. Bekal terbesar orang tua bukan hanya harta warisan, tetapi anak-anak yang tumbuh menjadi insan bertakwa. Seorang anak yang saleh akan terus mengirimkan doa kepada kedua orang tuanya. Sebaliknya, orang tua yang saleh akan meninggalkan teladan yang hidup jauh setelah dirinya wafat. Keluarga yang dibangun di atas iman akan menjadi mata rantai amal yang tidak terputus.


Ketujuh, hidup dalam istiqamah. Husnul khatimah bukanlah keberuntungan yang datang secara tiba-tiba pada detik-detik terakhir kehidupan. Husnul khatimah merupakan buah dari kebiasaan hidup dalam ketaatan. Orang yang sepanjang hidupnya menjaga lisan, menjaga shalat, menjaga amanah, gemar bersedekah, mencintai Al-Qur’an, serta berbuat baik kepada sesama, insya Allah akan lebih mudah memperoleh akhir kehidupan yang baik. Sebaliknya, tidak bijak berharap akhir yang indah apabila sepanjang hidup dipenuhi kelalaian dan kemaksiatan.


Para ulama sering mengingatkan sebuah ungkapan yang sangat indah: “Man ’asya ‘ala syai’in mata ‘alaihi, wa man mata ‘ala syai’in bu’itsa ’alaihi.” Barang siapa hidup dengan suatu kebiasaan, ia akan meninggal dalam kebiasaan itu, dan barang siapa meninggal dalam suatu keadaan, ia akan dibangkitkan dalam keadaan tersebut.


Ungkapan ini bukan hadis Nabi, tetapi nasihat para ulama yang sejalan dengan ajaran Islam tentang pentingnya istiqamah. Karena itu, apabila kita ingin diwafatkan dalam keadaan berzikir, biasakanlah lisan berzikir sejak sekarang. Jika ingin wafat dalam keadaan dekat dengan Al-Qur’an, dekatilah Al-Qur’an sejak hari ini. 


Jika ingin dikenang sebagai orang yang jujur, amanah, dan bermanfaat, maka hiduplah dengan sifat-sifat itu selama Allah masih memberi kesempatan.


Tidak seorang pun mampu memilih kapan ia meninggal. Akan tetapi, setiap orang masih diberi kesempatan memilih bagaimana ia menjalani hidupnya sebelum kematian itu datang. 


Di situlah letak ikhtiar seorang mukmin. Ajal adalah ketetapan Allah, tetapi bekal menuju ajal adalah pilihan kit

—————


Bagian III: Husnul Khatimah, Akhir Kehidupan yang Menjadi Impian Setiap Mukmin


Pada akhirnya, setiap muslim memiliki satu harapan yang sama ketika ajal datang, yaitu memperoleh husnul khatimah—mengakhiri kehidupan dalam keadaan beriman, istiqamah dalam ketaatan, dan mendapatkan keridaan Allah SWT. 


Husnul khatimah bukan sekadar meninggal pada hari yang dianggap mulia atau di tempat yang baik, tetapi wafat dengan hati yang tetap bertauhid, lisan yang mengingat Allah, serta amal yang diterima oleh-Nya.


Allah SWT memberikan kabar gembira kepada hamba-hamba-Nya yang istiqamah:


“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendiriannya (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati. 


Bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.’”

(QS. Fussilat: 30).


Ayat ini mengajarkan bahwa yang dinilai Allah bukan hanya semangat beribadah pada waktu-waktu tertentu, tetapi kemampuan menjaga keimanan hingga hembusan napas terakhir.


Karena itu Rasulullah SAW mengingatkan:


“Sesungguhnya setiap amal bergantung pada penutupnya.” (HR. Al-Bukhari).


Hadis ini menjadi pelajaran yang sangat mendalam. Seseorang mungkin mengumpulkan banyak prestasi dunia, tetapi yang menentukan nilai kehidupannya di sisi Allah adalah bagaimana akhir perjalanan hidupnya. 


Sebaliknya, seorang mukmin yang sederhana, tetapi istiqamah hingga akhir hayat, dapat memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah SWT.


Rasulullah SAW juga bersabda:


“Barang siapa yang akhir ucapannya ‘Lā ilāha illallāh’, maka ia akan masuk surga.” (HR. Abu Dawud).


Itulah sebabnya para ulama menganjurkan agar seorang muslim membiasakan lisannya dengan zikir, tilawah Al-Qur’an, istighfar, dan kalimat tauhid. 


Lisan yang terbiasa mengingat Allah akan lebih mudah menyebut nama-Nya ketika menghadapi sakaratul maut.


Di dalam hadis-hadis sahih lainnya, Rasulullah SAW menjelaskan beberapa tanda yang menjadi kabar gembira bagi seorang mukmin, di antaranya wafat dalam keadaan istiqamah menjalankan agama, meninggal ketika sedang melakukan amal saleh, memperoleh persaksian baik dari kaum muslimin atas akhlak dan kehidupannya, serta meninggal dalam keadaan yang oleh syariat digolongkan sebagai syahid akhirat, seperti karena wabah, sakit tertentu yang disebutkan dalam hadis, tenggelam, atau tertimpa bangunan. 


Namun demikian, seluruh tanda tersebut bukanlah jaminan mutlak, sebab hanya Allah SWT yang mengetahui hakikat akhir setiap hamba.


Imam An-Nawawi mengingatkan bahwa seorang muslim tidak boleh memastikan seseorang sebagai penghuni surga atau neraka. 


Yang diajarkan Islam adalah berbaik sangka kepada mereka yang semasa hidup dikenal beriman, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi masyarakat, seraya menyerahkan keputusan akhirnya kepada Allah Yang Maha Adil lagi Maha Mengetahui.


Dalam konteks inilah kita berharap dan berdoa agar almarhum Tgk. Suriadi Abdul Manaf memperoleh husnul khatimah. 


Beliau menghabiskan usianya untuk menuntut ilmu agama di dayah-dayah di Labuhan Haji, kemudian mengajarkannya kepada para santri di Dayah Babul Maghfirah, serta mengabdikan diri sebagai Penyuluh Agama Islam pada KUA Kuta Baro, Aceh Besar. 


Semoga ilmu yang diajarkan, nasihat yang disampaikan, dan pengabdian yang telah diberikan kepada umat menjadi amal jariah yang terus mengalir hingga Hari Kiamat.


Lalu, jika kematian begitu dekat dan ajal tidak pernah terlambat ataupun dipercepat, mengapa masih banyak manusia lalai mempersiapkannya?


Pertama, terlalu mencintai dunia. Dunia yang hanya bersifat sementara sering diperlakukan seolah-olah tujuan akhir kehidupan. Harta, jabatan, dan popularitas dikejar tanpa mengenal batas, sementara bekal menuju akhirat justru diabaikan.


Kedua, panjang angan-angan. Setan selalu membisikkan bahwa masih ada waktu untuk berubah. “Nanti setelah pensiun saya akan rajin ke masjid.” “Nanti setelah usaha mapan saya akan memperbanyak sedekah.” Padahal tidak seorang pun memiliki jaminan akan hidup hingga hari esok.


Ali bin Abi Thalib r.a. pernah mengingatkan:


“Yang paling aku khawatirkan atas kalian ada dua: mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Hawa nafsu menghalangi dari kebenaran, sedangkan panjang angan-angan membuat manusia lupa kepada akhirat.”


Ketiga, merasa kematian hanya milik orang lain. Hampir setiap hari kita mendengar kabar duka. Pengeras suara masjid mengumumkan ada warga yang wafat. Media sosial dipenuhi ucapan belasungkawa. Namun, sering kali kita hanya berduka sesaat, lalu kembali tenggelam dalam rutinitas seolah-olah nama kita tidak akan pernah diumumkan.


Keempat, merasa masih sehat dan masih memiliki waktu yang panjang. Banyak orang mengira kematian identik dengan usia lanjut atau penyakit berat. Padahal kenyataannya, tidak sedikit yang dipanggil Allah ketika masih muda, sedang bekerja, sedang mengajar, bahkan ketika sedang merancang berbagai rencana masa depan. Wafatnya Tgk. Suriadi Abdul Manaf pada usia 42 tahun menjadi pengingat yang nyata bahwa kematian tidak pernah menunggu seseorang menjadi tua.


Kelima, jarang melakukan muhasabah. Kesibukan dunia sering membuat manusia lupa mengevaluasi dirinya. Padahal Umar bin Khattab r.a. pernah berpesan, “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum amalmu ditimbang.” Muhasabah adalah cermin yang menjaga hati agar tidak larut dalam kelalaian.


Sesungguhnya, kematian bukanlah lawan kehidupan. Kematian adalah pintu menuju kehidupan yang kekal. Dunia hanyalah tempat singgah yang menentukan bagaimana nasib seseorang di akhirat. 


Oleh sebab itu, orang yang paling beruntung bukanlah mereka yang diberi umur paling panjang, melainkan mereka yang mengisi setiap detik umurnya dengan iman, ilmu, amal saleh, serta manfaat bagi s

×
Berita Terbaru Update