-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Menjenguk yang Sakit: Memupuk Ukhuwah, Menyuburkan Harapan

Minggu, 26 Juli 2026 | Juli 26, 2026 WIB Last Updated 2026-07-26T20:55:58Z


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Sore ini saya bersama beberapa pengurus masjid berkesempatan membesuk salah seorang sahabat tokoh umat sekaligus pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM) masjid kami, Ustaz Dr. H. A. Mufakhir Muhammad di kediamannya. 


Beliau merupakan salah seorang Wakil Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, sekaligus da’i yang memiliki jadwal dakwah sangat padat. 


Dari mimbar-mimbar masjid di Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, hingga berbagai daerah lainnya di Aceh, beliau terus menyampaikan ceramah, khutbah, dan membina umat. Bahkan pada kesempatan tertentu beliau juga memenuhi undangan dakwah di Jakarta.


Beberapa hari terakhir beliau menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Banda Aceh akibat gangguan lambung dan kadar gula darah yang meningkat. Alhamdulillah, kondisi beliau kini berangsur membaik. 


Kita semua berdoa semoga Allah SWT segera mengangkat penyakit beliau, menganugerahkan kesembuhan yang sempurna, serta mengembalikan beliau seperti sediakala agar dapat kembali berdakwah, mengajar, dan membimbing umat.


Pelajaran 


Di balik kunjungan singkat itu, saya menggarisbawahi pelajaran yang sangat berharga. Yang tampak bukanlah keluhan atau keputusasaan, melainkan ketenangan, kesabaran, dan keteguhan hati. Wajah beliau tetap teduh, lisannya tetap dipenuhi zikir dan syukur. 


Saat itulah saya semakin memahami bahwa ilmu yang sejati bukan hanya tampak ketika seseorang berdiri di atas mimbar menyampaikan ceramah, tetapi justru paling nyata ketika ia diuji oleh Allah dengan sakit.


Dalam kesempatan membesuk itu, saya juga menyampaikan kepada beliau, teman teman dan keluarga bahwa seorang mukmin yang sedang diuji dengan sakit tidak sedang direndahkan oleh Allah. Sebaliknya, apabila ia bersabar dan tetap berbaik sangka kepada-Nya, maka ia sedang dimuliakan.


Rasulullah SAW bersabda:


“Tidaklah seorang muslim tertimpa keletihan, penyakit, kesedihan, kegundahan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Dalam hadis lain beliau bersabda:


“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, niscaya Dia akan menimpakan ujian kepadanya.” (HR. Bukhari).


Dua hadis ini memberikan penghiburan yang sangat besar. Sakit bukan sekadar penderitaan, tetapi juga jalan penghapus dosa, penyuci jiwa, sekaligus sebab ditinggikannya derajat seorang hamba. Karena itu, orang yang bersabar menghadapi sakit sesungguhnya sedang menapaki jalan menuju kemuliaan di sisi Allah SWT.


Melihat ketenangan Ustaz Mufakhir menghadapi ujian ini, saya semakin yakin bahwa ilmu yang selama ini beliau sampaikan kepada umat benar-benar telah bersemayam dalam hati. 


Beliau bukan hanya mengajarkan kesabaran dari atas mimbar, tetapi juga memperlihatkannya ketika Allah mengujinya dengan sakit. Inilah akhlak seorang alim; lisannya berdakwah ketika sehat, sementara sikapnya tetap berdakwah ketika sakit.


Sunnah


Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap orang yang sedang sakit. Bahkan menjenguk orang sakit termasuk salah satu hak seorang muslim atas muslim lainnya. Rasulullah SAW bersabda:


“Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam.” Di antaranya beliau bersabda, “Apabila ia sakit maka jenguklah.” (HR. Muslim).


Dalam hadis qudsi yang sangat menyentuh, Allah SWT berfirman:


“Wahai anak Adam, Aku sakit tetapi engkau tidak menjenguk-Ku.”


Hamba itu bertanya, “Bagaimana Engkau sakit, padahal Engkau adalah Tuhan semesta alam?”


Allah berfirman:


“Tidakkah engkau mengetahui bahwa hamba-Ku sakit lalu engkau tidak menjenguknya? Tidakkah engkau mengetahui bahwa seandainya engkau menjenguknya, niscaya engkau akan mendapati Aku di sisinya.” (HR. Muslim).


Hadis ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan orang yang menjenguk saudaranya yang sedang sakit. Setiap langkah menuju tempat perawatan bukan sekadar perjalanan sosial, tetapi juga perjalanan spiritual yang dicintai Allah SWT.


Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa menjenguk orang sakit merupakan sunnah yang sangat dianjurkan karena di dalamnya terkandung kasih sayang, penghiburan, penguatan hati, dan penjagaan ukhuwah Islamiyah.


Sementara Ibnu Hajar al-Asqalani menerangkan bahwa hikmah membesuk orang sakit adalah menumbuhkan empati, melembutkan hati, mengingatkan manusia akan kelemahan dirinya, sekaligus menumbuhkan rasa syukur atas nikmat kesehatan.


Adapun Yusuf al-Qaradawi menegaskan bahwa membesuk orang sakit merupakan bentuk nyata solidaritas sosial dalam Islam. Masyarakat yang saling menjenguk ketika ada yang sakit akan memiliki ikatan persaudaraan yang jauh lebih kuat dibanding masyarakat yang sibuk dengan urusan masing-masing.


Pengaruh Positif


Menariknya, ajaran Islam ini juga diperkuat oleh temuan ilmu psikologi modern. Berbagai penelitian psikologi kesehatan menunjukkan bahwa dukungan sosial dari keluarga, sahabat, dan teman memberikan pengaruh positif terhadap proses penyembuhan pasien. 


Kehadiran orang-orang yang peduli dapat menurunkan tingkat kecemasan, mengurangi stres, membangkitkan optimisme, bahkan membantu meningkatkan daya tahan tubuh melalui berkurangnya hormon stres. 


Dengan kata lain, kehadiran kita mungkin tidak menghilangkan penyakit, tetapi mampu mengurangi beban batin yang dirasakan orang sakit.


Islam juga mengajarkan bahwa kasih sayang tidak hanya ditujukan kepada sesama muslim. Rasulullah SAW pernah menjenguk seorang anak Yahudi yang sedang sakit. 


Peristiwa itu menjadi teladan bahwa membesuk kerabat, tetangga, atau sahabat nonmuslim juga merupakan akhlak yang mulia. 


Bedanya, kepada sesama muslim kita dianjurkan mendoakan dengan doa-doa yang diajarkan syariat, sedangkan kepada nonmuslim kita menunjukkan empati, perhatian, dan mendoakan kebaikan serta kesehatan dengan tetap menjaga adab dan batasan yang diajarkan agama.


Ketika membesuk seorang alim atau siapa pun yang sedang sabar menghadapi ujian, kita bukan hanya datang membawa doa untuknya, tetapi tidak mengapa pula memohon agar ia turut mendoakan kita. Bukan karena terdapat dalil khusus yang menyatakan setiap orang sakit pasti mustajab doanya, melainkan karena ia sedang berada dalam keadaan banyak berzikir, bertawakal, merendahkan diri, dan menggantungkan seluruh harapannya kepada Allah SWT. Doa yang lahir dari hati yang sabar dan ikhlas adalah doa yang sangat layak kita harapkan dikabulkan oleh Allah.


Adab


Agar tujuan membesuk benar-benar membawa manfaat, Islam juga mengajarkan beberapa adab yang perlu dijaga.


Pertama, datanglah dengan niat yang ikhlas semata-mata karena Allah, bukan sekadar memenuhi formalitas atau ingin dipuji sebagai orang yang peduli.


Kedua, pilih waktu yang tepat dan jangan datang ketika pasien sedang beristirahat atau menjalani pemeriksaan medis.


Ketiga, jangan terlalu lama berada di ruang perawatan. Kunjungan yang singkat tetapi bermakna sering kali lebih menenangkan daripada kunjungan panjang yang justru melelahkan.


Keempat, sampaikan kalimat-kalimat yang menumbuhkan harapan. Hindari menceritakan pengalaman buruk orang lain yang pernah mengalami penyakit serupa atau perkataan yang membuat pasien semakin cemas.


Kelima, jangan memenuhi ruang rawat dengan terlalu banyak orang sehingga mengganggu kenyamanan pasien maupun pasien lain.


Keenam, bila memungkinkan, bantulah keluarga pasien sesuai kemampuan. Kadang-kadang bantuan kecil jauh lebih berarti daripada banyak nasihat.


Ketujuh, tutuplah kunjungan dengan doa yang tulus, karena doa merupakan hadiah terbaik yang dapat kita berikan kepada saudara kita yang sedang diuji.


Jangan Pudar


Di tengah kehidupan modern yang serba sibuk, jangan sampai budaya membesuk orang sakit memudar. Telepon dan pesan singkat memang dapat menyampaikan kabar, tetapi tidak dapat menggantikan hangatnya jabat tangan, senyum yang tulus, dan doa yang dipanjatkan di samping tempat tidur seorang saudara yang sedang diuji. 


Kehadiran kita mungkin tidak membawa obat, tetapi mampu menghadirkan harapan. Barangkali kita datang untuk menghibur, namun sesungguhnya kitalah yang pulang dengan membawa pelajaran tentang kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan iman.


Sore tadi kami merasakan hal tersebut. Kami datang untuk menjenguk Ustaz Dr. H. A. Mufakhir Muhammad, tetapi justru beliau yang mengajarkan kami makna sabar melalui keteladanan. 


Wajah yang teduh, tutur kata yang tetap menenangkan, serta keyakinan yang tidak berkurang kepada Allah menjadi pelajaran yang tidak ditemukan di dalam buku. Benarlah, seorang alim tidak hanya berdakwah ketika berdiri di atas mimbar, tetapi juga berdakwah melalui sikapnya ketika terbaring di atas ranjang perawatan.


Semoga Allah SWT segera menganugerahkan kesembuhan yang sempurna kepada Ustaz Dr. H. A. Mufakhir Muhammad, mengangkat seluruh penyakit beliau, melipatgandakan pahala atas kesabarannya, meninggikan derajatnya, menjaga keberkahan ilmu dan umur beliau, serta mengembalikan beliau ke tengah-tengah umat untuk kembali menebarkan ilmu, membina masyarakat, dan menerangi hati banyak orang dengan dakwah yang menyejukkan.


Semoga pula tulisan sederhana ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa membesuk orang sakit bukan sekadar tradisi sosial, melainkan ibadah yang mempererat persaudaraan, menguatkan hati yang sedang diuji, serta menghadirkan kasih sayang Allah di tengah kehidupan manusia. Aamiin ya Rabbal ’alamin.


Wallahu a’lam 


Tungkop Darussalam Aceh Besar, 10 Safar 1448/ 25 Juli 2026


(Penulis Imumsyik masjid jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop Darussalam Aceh Besar, akademisi FAH UIN Ar-Raniry Banda Aceh, imam Besar masjid Fathun Qarib)

×
Berita Terbaru Update