-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Jangan Mewariskan Generasi Maja* - Bagian 2

Minggu, 12 Juli 2026 | Juli 12, 2026 WIB Last Updated 2026-07-12T17:53:47Z

Opini Saifuddin A. Rasyid 

Al-Rasyid.id | Selama mendampingi para pengelola BMT di berbagai daerah di tanah air, dan BAIQI di Aceh, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana. Keberhasilan sebuah lembaga hampir tidak pernah ditentukan oleh kecanggihan administrasi semata. 


Banyak lembaga yang memiliki sistem sangat baik akhirnya berhenti beroperasi karena para pengelolanya kehilangan semangat. 


Sebaliknya, tidak sedikit lembaga yang memulai dengan segala keterbatasan justru berkembang karena dipimpin oleh orang-orang yang pantang menyerah.


Pelajaran itulah yang semakin saya pahami ketika membaca kembali karya David J. Schwartz. Menurutnya, manusia sering kali bukan gagal karena kekurangan kemampuan, melainkan karena terlalu cepat menyerah sebelum seluruh potensinya digunakan. 


Pikiran adalah mesin penggerak tindakan. Cara seseorang berpikir akan menentukan cara ia bekerja, mengambil keputusan, bahkan menentukan masa depannya.


Tujuh Langkah


Bagi saya, ada tujuh langkah yang sangat penting dipelajari oleh generasi muda Indonesia agar tidak tumbuh menjadi generasi yang mudah mengeluh, melainkan menjadi generasi yang siap memikul amanah besar menuju Indonesia Emas 2045.


Pertama, mengenali kekuatan diri sebelum sibuk melihat kelebihan orang lain.


David J. Schwartz mengingatkan bahwa kebanyakan orang terlalu sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain sehingga lupa menghargai potensi yang dimilikinya sendiri. Padahal setiap manusia diciptakan Allah dengan kelebihan yang berbeda.


Banyak anak muda hari ini kehilangan rasa percaya diri karena media sosial memperlihatkan pencapaian orang lain hampir setiap saat. Mereka tidak melihat proses panjang di balik keberhasilan tersebut. Akibatnya muncul rasa rendah diri, minder, bahkan putus asa.


Padahal, keberhasilan tidak pernah dimulai dari rasa minder. Ia dimulai dari keyakinan bahwa Allah telah menganugerahkan kemampuan kepada setiap manusia untuk terus berkembang selama ia mau belajar dan bekerja keras.


Kedua, membesarkan tujuan, bukan membesarkan ketakutan.


Salah satu pesan paling terkenal David J. Schwartz adalah bahwa orang sukses selalu memperbesar tujuan hidupnya, sedangkan orang gagal justru memperbesar masalahnya.


Kalimat ini sangat relevan dengan kondisi generasi sekarang. Dunia memang sedang berubah cepat. Kecerdasan buatan, otomatisasi, persaingan global, dan perubahan ekonomi memang nyata adanya. Namun perubahan itu tidak seharusnya melahirkan rasa takut yang berlebihan.


Setiap zaman selalu memiliki tantangannya sendiri. Orang-orang yang berhasil bukan mereka yang hidup pada zaman paling mudah, melainkan mereka yang mampu menemukan peluang di tengah perubahan.


Jim Rohn pernah mengatakan, “Jangan berharap hidup menjadi lebih mudah. Berharaplah agar diri kita menjadi lebih baik.” Pesan ini mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan bukanlah kecilnya tantangan, melainkan besarnya kapasitas diri dalam menghadapinya.


Ketiga, membangun kebiasaan belajar sepanjang hayat.


Pelatihan-pelatihan yang kami lakukan di PINBUK dahulu sebenarnya hanya berlangsung beberapa hari. Namun kami selalu mengingatkan peserta bahwa pelatihan sesungguhnya baru dimulai setelah mereka kembali ke daerah masing-masing.


Belajar tidak pernah berhenti ketika sertifikat diterima.


Dalam dunia yang berubah begitu cepat, kemampuan terbesar bukanlah menghafal pengetahuan, melainkan kemampuan mempelajari hal-hal baru.


Carol S. Dweck, psikolog dari Stanford University, memperkenalkan konsep growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kecerdasan dan kemampuan dapat terus berkembang melalui latihan, kerja keras, dan kemauan belajar.


Sebaliknya, orang yang memiliki fixed mindset menganggap kemampuan adalah sesuatu yang sudah tetap. Mereka mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan karena merasa dirinya memang tidak berbakat.


Bagi generasi muda, pelajaran terbesar bukanlah memperoleh nilai tinggi, melainkan mencintai proses belajar itu sendiri.


Keempat, berhenti mencari alasan dan mulai mengambil tanggung jawab.


David J. Schwartz menyebut kebiasaan mencari alasan sebagai excusitis, penyakit yang sangat berbahaya bagi keberhasilan.


Alasan itu bermacam-macam. Terlalu muda. Terlalu tua. Kurang modal. Kurang pintar. Tidak punya relasi. Tidak mendapat kesempatan.


Padahal sejarah membuktikan bahwa hampir semua tokoh besar justru memulai dari berbagai keterbatasan.


Stephen R. Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People menempatkan kebiasaan pertama sebagai Be Proactive. Orang yang proaktif tidak sibuk mencari kambing hitam. Ia mengambil tanggung jawab atas hidupnya sendiri.


Dalam Islam, prinsip ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11 bahwa perubahan suatu kaum dimulai ketika mereka sendiri mau mengubah keadaan dirinya.


Kelima, memperkaya gagasan agar tidak terjebak dalam kemiskinan pikiran.


Kemiskinan yang paling berbahaya bukanlah kemiskinan harta, melainkan kemiskinan ide.


Banyak anak muda memiliki telepon pintar yang sangat canggih, tetapi jarang membaca buku. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam menggulir media sosial tanpa memperoleh pengetahuan baru.


Akibatnya, informasi bertambah, tetapi wawasan tidak berkembang.


Brian Tracy mengingatkan bahwa investasi terbaik adalah investasi pada diri sendiri. Setiap buku yang dibaca, setiap pelatihan yang diikuti, setiap diskusi yang dilakukan akan memperluas cara berpikir seseorang.


Saya masih merasakan manfaat membaca buku yang diberikan Prof. MAA tiga puluh tahun lalu. Sebuah buku yang dibaca dengan sungguh-sungguh sering kali mampu mengubah arah kehidupan seseorang.


Karena itu, saya selalu mendorong mahasiswa untuk menjadikan perpustakaan, forum ilmiah, masjid, laboratorium, dan ruang diskusi sebagai rumah kedua mereka. Dari sanalah lahir gagasan-gagasan besar yang kelak akan mengubah masyarakat.


Keenam, berani gagal dan belajar dari kegagalan.


Banyak generasi muda takut memulai karena takut gagal.


Padahal kegagalan hanyalah bagian dari proses belajar.


Angela Duckworth dalam bukunya Grit menunjukkan bahwa ketekunan jangka panjang jauh lebih menentukan keberhasilan dibandingkan kecerdasan semata. Orang-orang besar bukanlah mereka yang tidak pernah gagal, melainkan mereka yang terus bangkit setelah mengalami kegagalan.


Saya sering melihat para peserta pelatihan yang dahulu mengalami kegagalan ketika membangun lembaganya. Sebagian berhenti. Namun sebagian lainnya bangkit, memperbaiki kesalahan, lalu membangun lembaga yang jauh lebih baik.


Perbedaan keduanya bukan pada tingkat kecerdasan, melainkan pada keberanian untuk mencoba kembali.


Ketujuh, menemukan makna hidup yang lebih besar daripada sekadar mencari pekerjaan.


Inilah pelajaran yang menurut saya paling penting.


Banyak lulusan perguruan tinggi memasuki dunia kerja hanya dengan satu pertanyaan: “Di mana saya bisa memperoleh gaji terbesar?”


Padahal pertanyaan yang lebih mendasar adalah, “Manfaat apa yang dapat saya berikan kepada masyarakat?”


Viktor Frankl, seorang psikiater sekaligus penyintas kamp konsentrasi Nazi, menulis bahwa manusia mampu bertahan menghadapi penderitaan yang sangat berat apabila ia memiliki makna hidup yang jelas.


Simon Sinek kemudian memperkuat gagasan itu melalui konsep Start With Why. Menurutnya, orang-orang hebat selalu memulai dengan menjawab pertanyaan “mengapa”, bukan sekadar “apa”.


Islam telah mengajarkan prinsip tersebut jauh sebelumnya. Setiap amal bergantung pada niatnya. Ketika pekerjaan dipandang sebagai ibadah, maka semangat bekerja tidak lagi hanya didorong oleh penghasilan, tetapi juga oleh keinginan memberi manfaat bagi sesama.


Saya percaya, apabila tujuh langkah ini ditanamkan sejak bangku sekolah dan perguruan tinggi, kita tidak hanya akan melahirkan lulusan yang cerdas, tetapi juga generasi yang berkarakter kuat, berpikir besar, mencintai kerja keras, dan memiliki keberanian menghadapi berbagai tantangan zaman.


Khulashah


Karakter seperti inilah yang dahulu kami coba tanamkan kepada para pengelola BMT dan BAIQI. Sebab membangun lembaga sebenarnya tidak pernah dimulai dari gedung atau modal, melainkan dari manusia yang memiliki visi, integritas, dan daya juang.


Kini, tantangan itu hadir dalam skala yang jauh lebih besar. Indonesia sedang menuju tahun 2045, saat bangsa ini genap berusia satu abad. 


Pertanyaannya bukan lagi apakah kita memiliki bonus demografi, melainkan apakah kita berhasil mengubah bonus itu menjadi bonus kesejahteraan, atau justru membiarkannya berubah menjadi beban demografi karena gagal membangun karakter generasi mudanya.


Wallahu a’lam 


Banda Aceh, 27 Muharram 1448, 12 Juli 2026


(Penulis adalah akademisi FAH UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

×
Berita Terbaru Update