-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Ketika Berbuat Benar Justru Dianggap Memalukan

Minggu, 26 Juli 2026 | Juli 26, 2026 WIB Last Updated 2026-07-26T20:49:17Z

 


Oleh: Saifuddin A. Rasyid


Al-Rasyid.id | Ada sesuatu yang tampak terbalik dalam kehidupan kita hari ini. Dahulu, orang merasa malu ketika berbuat salah. Kini, dalam banyak keadaan, justru orang merasa canggung ketika berbuat benar.


Kejujuran dianggap kepolosan. Kesederhanaan dipandang sebagai ketidakmampuan. Menolak suap dianggap tidak pandai memanfaatkan kesempatan. Datang tepat waktu sering diejek terlalu kaku. Bahkan, di sebagian lingkungan, orang yang tetap memegang prinsip justru dicap tidak bisa menyesuaikan diri.


Sebaliknya, perilaku yang dahulu dipandang memalukan perlahan kehilangan rasa malunya. Berbohong dilakukan dengan tenang, melanggar aturan dianggap hal biasa, memamerkan kemewahan di tengah kesulitan masyarakat tidak lagi menimbulkan rasa sungkan, sementara berbagai pelanggaran etika sering kali berlalu tanpa penyesalan yang berarti.


Paradoks


Inilah paradoks moral yang sedang kita hadapi. Ukuran malu tidak lagi ditentukan oleh benar atau salah, melainkan oleh apakah seseorang berbeda dari kebiasaan lingkungannya. 


Ketika lingkungan telah terbiasa dengan penyimpangan, maka orang yang tetap berpegang pada nilai-nilai kebaikan justru terlihat sebagai sosok yang aneh.


Padahal, dalam Islam rasa malu bukanlah sifat yang menghalangi seseorang berbuat baik. Rasulullah SAW bersabda, “Al-hayā’u min al-īmān”—malu adalah bagian dari iman. Hadis ini menunjukkan bahwa rasa malu merupakan penjaga hati yang mencegah seseorang melampaui batas. 


Selama rasa malu masih hidup, masih ada benteng yang mengingatkan manusia untuk menjaga kehormatan dirinya di hadapan Allah dan sesama manusia.


Masalahnya, ketika rasa malu bergeser dari malu berbuat salah menjadi malu berbuat benar, sesungguhnya yang berubah bukan hanya perilaku individu. Yang berubah adalah budaya. 


Dan ketika budaya mulai membalikkan ukuran benar dan salah, masyarakat sedang menghadapi krisis yang jauh lebih serius daripada sekadar pelanggaran hukum. Yang terkikis adalah kompas moral yang selama ini menjadi penuntun kehidupan bersama.


Paradoks tersebut tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh perlahan melalui proses normalisasi yang berlangsung bertahun-tahun. Ketika masyarakat terlalu sering menyaksikan kebohongan tanpa konsekuensi, pelanggaran tanpa sanksi, serta penyalahgunaan kekuasaan tanpa rasa bersalah, batas antara yang benar dan yang salah mulai kabur. 


Sesuatu yang dahulu mengejutkan berubah menjadi pemandangan biasa. Lama-kelamaan, yang salah dianggap lumrah, sedangkan yang benar justru dipandang sebagai penyimpangan.


Lingkungan


Lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk cara seseorang memandang kebaikan. Ketika seseorang berada di tengah komunitas yang menghargai kejujuran, ia akan bangga menjadi pribadi yang jujur. 


Sebaliknya, ketika ia hidup dalam lingkungan yang menganggap kecurangan sebagai kecerdikan, integritas sebagai kelemahan, dan manipulasi sebagai kecakapan, maka mempertahankan kejujuran membutuhkan keberanian yang luar biasa.


Di sinilah tekanan sosial bekerja. Banyak orang sebenarnya mengetahui mana yang benar, tetapi mereka memilih mengikuti arus karena takut dianggap berbeda. 


Mereka khawatir dicemooh, dikucilkan, atau bahkan kehilangan kesempatan. Akibatnya, rasa malu bergeser. Yang semula malu melakukan keburukan berubah menjadi malu jika tidak ikut melakukan keburukan bersama-sama.


Media sosial turut mempercepat perubahan ini. Ruang digital sering kali lebih menghargai sensasi daripada substansi. Popularitas lebih mudah diraih melalui kontroversi daripada keteladanan. 


Gaya hidup dipamerkan, pencitraan dipoles sedemikian rupa, sementara kejujuran, kesederhanaan, dan kerendahan hati justru jarang menjadi perhatian. 


Tidak sedikit orang akhirnya lebih sibuk menjaga citra di hadapan manusia daripada menjaga integritas di hadapan Allah.


Padahal, ukuran kemuliaan seseorang tidak pernah ditentukan oleh seberapa ramai ia dipuji atau diikuti. Dalam pandangan Islam, kemuliaan terletak pada ketakwaan, kejujuran, amanah, dan akhlak yang mulia. 


Ketika ukuran masyarakat bergeser dari nilai menuju popularitas, dari integritas menuju pencitraan, maka lahirlah generasi yang takut kehilangan pengakuan manusia, tetapi tidak lagi takut kehilangan kehormatan di hadapan Tuhannya.


Memuliakan Kebenaran


Inilah sebabnya mengapa menghidupkan kembali budaya malu bukan sekadar mengajarkan sopan santun. Ia adalah ikhtiar mengembalikan orientasi hidup manusia kepada nilai-nilai yang benar. Sebab selama rasa malu masih diarahkan kepada hal-hal yang benar, masyarakat akan tetap memiliki benteng moral. 


Namun ketika rasa malu telah salah arah, kerusakan tidak lagi hanya menimpa individu, melainkan menjalar menjadi budaya.


Jalan keluar dari paradoks ini bukanlah dengan mengikuti arus, melainkan dengan menghidupkan kembali keberanian untuk memuliakan kebenaran. 


Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang memberikan penghargaan kepada kejujuran, amanah, kesederhanaan, dan tanggung jawab, bukan kepada kepalsuan, kemewahan semu, atau popularitas yang dibangun di atas pencitraan.


Perubahan itu tentu tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah atau lembaga pendidikan. Ia harus dimulai dari keluarga sebagai madrasah pertama bagi anak-anak. 


Di rumahlah rasa malu dibentuk, kejujuran ditanamkan, dan keberanian mengatakan yang benar dilatih sejak dini. 


Sekolah, tempat ibadah, media, hingga para pemimpin kemudian memperkuat nilai-nilai tersebut melalui keteladanan yang nyata. 


Sebab nasihat yang paling kuat bukanlah kata-kata, melainkan contoh yang dapat dilihat setiap hari.


Fondasi 


Islam telah memberikan fondasi yang kokoh. Rasulullah SAW bersabda, “Al-hayā’u min al-īmān” (malu adalah bagian dari iman). Dalam riwayat lain beliau juga bersabda, “Apabila engkau tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” 


Hadis ini bukanlah perintah, melainkan peringatan bahwa ketika rasa malu telah hilang, manusia akan kehilangan pengendali moral dalam dirinya.


Al-Qur’an pun mengingatkan bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari kekayaan, jabatan, ketenaran, ataupun banyaknya pengikut. Allah SWT berfirman:


“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).


Ayat ini mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan tidak pernah berubah, meskipun ukuran masyarakat dapat berubah sewaktu-waktu. 


Ketakwaan tetap menjadi standar tertinggi, sedangkan penilaian manusia sering kali dipengaruhi oleh tren, kepentingan, dan kepopuleran.


Karena itu, jangan pernah malu menjadi orang yang jujur ketika kejujuran terasa langka. Jangan malu hidup sederhana ketika kemewahan dipamerkan di mana-mana. Jangan malu menolak suap ketika orang lain menganggapnya sebagai hal biasa. Jangan malu berkata benar meskipun suara itu terdengar sendirian.


Sesungguhnya, yang patut membuat kita malu bukanlah mempertahankan kebenaran, melainkan ketika kita mengetahui kebenaran tetapi memilih meninggalkannya demi tepuk tangan manusia. 


Sebab sejarah tidak dibangun oleh mereka yang mengikuti arus, melainkan oleh orang-orang yang berani tetap berdiri di atas prinsip, sekalipun harus berjalan melawan kebiasaan zamannya.


Sebuah bangsa tidak runtuh ketika kehilangan orang-orang pintar. Bangsa mulai runtuh ketika orang-orang baik merasa malu berbuat benar, sementara orang-orang yang berbuat salah tidak lagi memiliki rasa malu. 


Karena itu, marilah kita menjaga al-hayā’—rasa malu yang diajarkan Islam—agar tetap hidup dalam hati, sehingga kita tetap bangga berdiri di atas kebenaran, meskipun terkadang harus berdiri sendirian.


Wallahu a’lam 


Banda Aceh 8 Safar 1448, 23 Juli 2026


(Penulis pengamat sosial dan keislaman, akademisi FAH UIN Ar-Raniry Banda Aceh, bendahara ICMI Aceh)

×
Berita Terbaru Update