-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Lima Karakter Guru Mulia: Membangun Peradaban di Era Kecerdasan Buatan

Selasa, 14 Juli 2026 | Juli 14, 2026 WIB Last Updated 2026-07-14T15:49:57Z


Opini Saifuddin A. Rasyid


Jumat malam, 10 Juli 2026, saya mendapat kehormatan mewakili Ketua ICMI Wilayah Aceh, Dr. Taqwaddin, menghadiri pelantikan Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) dan Jaringan Kemandirian Santri Nasional (JKSN) Aceh periode 2026–2031 di Dayah Mahyal Ulum, Sibreh, Aceh Besar. 


Di hadapan para guru, ulama, pimpinan dayah, akademisi, dan tokoh masyarakat, pada acara itu Abah Kiai Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA —Ketua Pergunu Pusat dan JKSN Pusat— menyampaikan tausiah yang bukan sekadar memotivasi, tetapi mengajak para pendidik merenungkan kembali hakikat profesinya sebagai penjaga ilmu, pembentuk karakter, sekaligus pembangun peradaban.


Pesan tersebut terasa sangat relevan ketika dunia pendidikan sedang memasuki era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Hari ini, AI mampu menjawab pertanyaan dalam hitungan detik, menyusun bahan ajar, menerjemahkan berbagai bahasa, bahkan membantu merancang proses pembelajaran. 


UNESCO dalam berbagai kajiannya menegaskan bahwa AI akan mengubah cara manusia belajar, tetapi tidak akan menggantikan peran guru. Sebab pendidikan sejatinya bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan proses memanusiakan manusia. 


Teknologi dapat menyajikan informasi, tetapi tidak mampu menghadirkan keteladanan. AI dapat menjelaskan konsep, tetapi tidak mampu menanamkan keikhlasan, empati, kasih sayang, integritas, dan nilai-nilai moral yang menjadi ruh pendidikan.


Al-Qur’an telah meletakkan fondasi tentang kemuliaan ilmu dan orang-orang yang mengembannya. Allah SWT berfirman: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11).


Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan seorang guru bukan semata karena profesinya, tetapi karena kesungguhannya mencari ilmu, mengamalkannya, lalu mewariskannya kepada generasi berikutnya. 


Lima Karakter


Dari fondasi inilah Abah Kiai menguraikan lima karakter yang harus dimiliki oleh setiap guru agar tetap menjadi sosok yang mulia dan relevan sepanjang zaman.


Karakter pertama adalah terus meningkatkan kompetensi. Guru tidak boleh pernah merasa selesai belajar. Perubahan ilmu pengetahuan berlangsung sangat cepat, sementara peserta didik hidup dalam dunia yang terus bergerak. Guru yang berhenti belajar sesungguhnya sedang mempersiapkan dirinya untuk tertinggal. 


Sebaliknya, guru yang terus memperbarui pengetahuan, metode pembelajaran, dan keterampilannya akan mampu membimbing peserta didik menghadapi tantangan zaman. Semangat lifelong learning bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan bagi profesi guru.


Karakter kedua adalah menguasai materi secara mendalam. Mengajar bukan sekadar menyelesaikan kurikulum atau menuntaskan sejumlah bab pelajaran. Guru bertanggung jawab memastikan setiap peserta didik benar-benar memahami apa yang dipelajarinya. 


Dalam tradisi pesantren dikenal semangat tafaqquh, yaitu mendalami ilmu hingga melahirkan pemahaman yang utuh. Di tengah melimpahnya informasi melalui internet dan AI, kemampuan guru menjelaskan makna, konteks, hikmah, serta relevansi ilmu dalam kehidupan menjadi semakin penting. 


Informasi dapat dicari oleh siapa saja, tetapi kebijaksanaan dalam memanfaatkannya tetap membutuhkan bimbingan seorang guru.


Karakter ketiga adalah dedikasi dan keuletan. Abah Kiai mengingatkan agar guru tidak terjebak dalam rutinitas administratif sehingga melupakan tujuan utama pendidikan. 


Administrasi memang penting sebagai bagian dari tata kelola sekolah, tetapi tidak boleh mengalahkan kepentingan utama, yaitu memastikan peserta didik benar-benar belajar. 


Guru yang berdedikasi rela mengulang penjelasan berkali-kali, mendampingi siswa yang mengalami kesulitan, bahkan meluangkan waktu di luar jam pelajaran demi memastikan tidak ada anak yang tertinggal. Keuletan seperti inilah yang membedakan guru sebagai profesi mulia dari sekadar pekerjaan.


Karakter keempat adalah karakter spiritual yang kuat. Inilah pembeda utama antara pendidikan dengan sekadar pelatihan keterampilan. 


Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Pendidikan Islam sejak awal memadukan ilmu dengan akhlak. 


Guru tidak hanya mengajarkan apa yang harus diketahui, tetapi juga bagaimana ilmu digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan. 


Kecerdasan tanpa integritas dapat melahirkan penyalahgunaan ilmu, sedangkan akhlak tanpa ilmu akan kehilangan daya guna. 


Karena itu, guru harus menjadi teladan dalam kejujuran, amanah, disiplin, kasih sayang, dan ketakwaan. 


Nilai-nilai inilah yang tidak akan pernah dapat digantikan oleh teknologi secanggih apa pun.


Karakter kelima adalah berorientasi pada prestasi. Abah Kiai mengajak para guru memiliki keberanian menetapkan target tinggi bagi peserta didiknya. 


Prestasi bukan dimaksudkan untuk melahirkan kesombongan, melainkan menjadi ukuran bahwa proses pendidikan berjalan secara efektif. 


Guru hendaknya membimbing siswa agar mampu berkompetisi dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), olimpiade, riset, maupun berbagai kompetisi lainnya. 


Prestasi akademik harus berjalan seiring dengan kematangan karakter sehingga lahirlah generasi yang cerdas, berintegritas, dan siap mengabdi kepada bangsa.


Murabbi 


Kelima karakter tersebut sesungguhnya membentuk satu kesatuan yang utuh. Kompetensi melahirkan kemampuan. Penguasaan materi menghasilkan kualitas pembelajaran. 


Dedikasi memastikan tidak ada peserta didik yang ditinggalkan. Spiritualitas menjaga arah ilmu agar tetap bernilai ibadah dan kemanusiaan. 


Sementara orientasi pada prestasi mendorong guru terus meningkatkan mutu pendidikan. Kelimanya saling menguatkan dan tidak dapat dipisahkan.


Pandangan Abah Kiai sejalan dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara bahwa guru adalah sosok yang ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani—memberi teladan di depan, membangun semangat di tengah, dan memberikan dorongan dari belakang. 


Dalam perspektif Islam, guru juga merupakan murabbi, yakni pendidik yang membina akal, hati, jiwa, dan akhlak secara utuh. Karena itu, kemajuan suatu bangsa pada hakikatnya sangat ditentukan oleh kualitas para gurunya.


Menjelang satu abad Indonesia merdeka pada tahun 2045, bangsa ini membutuhkan generasi yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional, kokoh secara spiritual, dan unggul dalam daya saing global. 


Target sebesar itu tidak mungkin diwujudkan hanya dengan membangun sekolah yang megah, memperluas akses internet, atau menghadirkan kecerdasan buatan di setiap ruang kelas. 


Semua itu hanyalah sarana. Faktor penentunya tetap manusia yang berdiri di depan kelas: guru.


Pesan Abah Kiai di Dayah Mahyal Ulum malam itu sesungguhnya merupakan panggilan untuk mengembalikan kemuliaan profesi guru. Guru yang mulia adalah guru yang tidak pernah berhenti belajar sehingga kompetensinya terus bertumbuh; menguasai ilmu secara mendalam sehingga mampu mencerahkan, bukan sekadar menyampaikan; mengajar dengan dedikasi dan keuletan sehingga tidak rela meninggalkan satu pun murid dalam ketertinggalan; memadukan ilmu dengan iman dan akhlak sehingga lahir manusia yang utuh; serta membimbing peserta didiknya meraih prestasi sebagai bentuk ikhtiar terbaik menuju masa depan.


Kelima karakter tersebut bukan sekadar rumusan kompetensi profesional, melainkan fondasi lahirnya seorang murabbi yang membina akal, menyentuh hati, menguatkan karakter, dan mengarahkan kehidupan. 


Di tengah derasnya arus digitalisasi, disrupsi teknologi, dan kecerdasan buatan, dunia justru semakin membutuhkan guru-guru yang mampu menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan. Sebab mesin dapat mengolah data, tetapi tidak dapat menumbuhkan kasih sayang. Algoritma mampu mengenali pola, tetapi tidak mampu menjadi teladan. Kecerdasan buatan dapat membantu manusia belajar, tetapi tidak pernah mampu mengajarkan kebijaksanaan.


Karena itu, investasi terbesar sebuah bangsa bukanlah semata-mata pada gedung, perangkat digital, atau teknologi paling mutakhir, melainkan pada kualitas gurunya. 


Ketika guru terus bertumbuh, murid akan berkembang. Ketika murid berkembang, masyarakat akan berubah. Dan ketika masyarakat berubah ke arah yang lebih baik, di situlah sebuah peradaban sedang dibangun.


Khulashah


Akhirnya, saya meyakini bahwa kemajuan suatu bangsa tidak pernah melampaui kualitas guru yang dimilikinya. Bangsa yang ingin menjadi besar harus terlebih dahulu memuliakan gurunya, memperkuat kompetensinya, menjaga martabat profesinya, dan mendukung pengabdiannya. 


Sebab di tangan gurulah masa depan sebuah bangsa dibentuk, dan di hati guru yang ikhlas, peradaban menemukan arah menuju kemuliaannya.


Wallahu a’lam 


Banda Aceh 29 Muharram 1448, 14 Juli 2026


(Penulis adalah akademisi FAH UIN Ar-Raniry Banda Aceh, bendahara ICMI Aceh)

×
Berita Terbaru Update