-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Simpang Tungkop Darussalam: Pesona Peradaban Islam Pinggiran Kota

Minggu, 26 Juli 2026 | Juli 26, 2026 WIB Last Updated 2026-07-26T20:57:14Z


Oleh: Saifuddin A. Rasyid


Al-Rasyid.id | Di Aceh Besar terdapat sebuah kawasan yang telah lama menjadi denyut kehidupan masyarakat. Namanya Simpang Tungkop, sebuah persimpangan di Kecamatan Darussalam yang sejak puluhan tahun silam dikenal sebagai pusat aktivitas ekonomi warga dari berbagai gampong di sekitarnya. 


Letaknya sangat strategis. Dari simpang inilah jalan bercabang menuju Kopelma Darussalam, Bandara Sultan Iskandar Muda, Siem dan Pusat Kota Kecamatan Darussalam. 


Simpang ini juga menjadi jalur utama transportasi berbagai kawasan permukiman sekitar yang terus berkembang.


Namun, Simpang Tungkop bukan hanya tentang lalu lintas kendaraan. Ia adalah simpul kehidupan. Tempat bertemunya manusia, rezeki, ilmu pengetahuan, pendidikan, silaturahmi, dan ibadah.


Di sisi persimpangan itu berdiri megah Masjid Jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop. Masjid yang telah berdiri lebih dari tujuh puluh tahun ini menjadi kebanggaan masyarakat. Ia bukan sekadar bangunan tempat shalat, melainkan titik temu berbagai kalangan. 


Banyak tamu dari luar daerah menjadikannya lokasi pertemuan (meeting poin) sebelum melanjutkan perjalanan. Karena Simpang Tungkop Darussalam dan masjid kebanggaan masyarakat itu merupakan titik di salah satu jalur utama yang menghubungkan bandara, kampus dan kota Banda Aceh. Warga sekitar mengenal masjid ini sebagai rumah Allah yang selalu hidup.


Dikelilingi


Keistimewaan Simpang Tungkop semakin terasa karena berada di tengah lingkungan pendidikan yang sangat maju. Selain hanya berjarak kurang dari dua kilometer dari tiga perguruan tinggi, yaitu Universitas Syiah Kuala (USK), UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan Sekolah Tinggi Kehutanan Tgk Chik Pante Kulu, kawasan ini juga dikelilingi oleh sejumlah lembaga pendidikan Islam yang telah melahirkan banyak ulama dan cendekiawan.


Dalam radius dua ratus meter berdiri Dayah Raudhatul Qur’an di bawah pimpinan Abu Dr Sulfanwandi, sekira tiga kilometer maksimum ada Dayah Terpadu Babul Maghfirah yang diasuh Tgk. Masrul Aidi, Dayah Terpadu Darul Ihsan yang dipimpin Tgk. Faisal Sanusi, Dayah Misbahul Ulum Al-Aziziyah di bawah asuhan Abi Syamrizal Basyah, Zawiyah Liqaurrahmah yang dipimpin Tgk Muhammad Umar Jim, serta Dayah Mahasiswa Nurul Bayan yang berada di bawah pengelolaan Masjid Jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop. 


Kehadiran dayah-dayah tersebut menjadikan Simpang Tungkop bukan sekadar kawasan perdagangan, tetapi juga kawasan yang hidup dengan dakwah, pendidikan, dan pembinaan akhlak.


Lebih dekat lagi, bahkan dalam jarak kurang dari seratus meter dari persimpangan, berdiri kompleks pendidikan yang lengkap, mulai dari PAUD, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN), hingga Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Sejak pagi hingga sore hari, kawasan ini dipenuhi aktivitas belajar, mengajar, dan pembinaan generasi muda. 


Perpaduan antara kampus, dayah, madrasah, dan masjid menghadirkan suasana yang sangat khas dan jarang ditemukan di tempat lain.


Pusat Bisnis dan Ibadah


Di sepanjang jalan mulai dari kawasan Jalan Lingkar Gampong Barabung hingga arah Lamduro, maupun Lampuja jalur menuju Bandara Sultan Iskandar Muda, berdiri ratusan bangunan usaha. 


Ada toko grosir, minimarket, apotek, rumah makan, kios, bengkel, toko bangunan, percetakan, warung kopi, hingga berbagai usaha jasa lainnya. Hampir setiap hari kawasan ini hidup sejak dini hari hingga larut malam.


Yang paling khas adalah suasana menjelang subuh.


Ketika sebagian besar kawasan lain masih terlelap, Simpang Tungkop telah menggeliat. Sejak sekitar pukul tiga dini hari, ratusan pedagang sayur mulai berdatangan. Ada yang menggunakan mobil bak terbuka, becak, sepeda motor, bahkan sepeda kayuh yang dipenuhi aneka hasil bumi. Sayuran segar dari puluhan gampong sekitar diperdagangkan di kawasan ini hingga sekitar pukul tujuh pagi.


Pemandangan ini menghadirkan keindahan tersendiri. Setelah jamaah menunaikan shalat Subuh di Masjid Jamik Baitul Jannah, sebagian menuju pasar sayur, sebagian menikmati secangkir kopi di warung warung sekitar, dan sebagian lagi membuka toko serta memulai aktivitas usaha mereka. Hari dimulai dengan ibadah, lalu disambung dengan bekerja mencari nafkah yang halal.


Yang lebih membanggakan, kemegahan Masjid Jamik Baitul Jannah tidak hanya tampak dari bangunannya, tetapi juga dari kemakmuran jamaahnya. Pada setiap waktu shalat fardu, masjid ini hampir selalu dipenuhi sekitar 300 jamaah. Bahkan pada shalat Subuh, yang di banyak tempat sering kali hanya dihadiri segelintir orang, Masjid Baitul Jannah justru rutin dipenuhi sekitar 300 hingga 400 jamaah. Pemandangan seperti ini merupakan nikmat besar yang patut disyukuri dan dijaga bersama.


Suasana tersebut seolah mengajarkan bahwa keberkahan hidup dimulai dari langkah kaki menuju masjid sebelum melangkah menuju tempat usaha. Subuh berjamaah menjadi pembuka hari, sementara aktivitas ekonomi menjadi ikhtiar menjemput rezeki yang telah Allah tetapkan.


Inilah wajah ekonomi yang ramah ibadah.


Allah SWT telah memberikan petunjuk agar aktivitas mencari rezeki tidak memisahkan manusia dari mengingat-Nya.


“Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah, serta ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10).


Ayat ini menghadirkan keseimbangan yang indah. Setelah beribadah, manusia dipersilakan bekerja. Namun bekerja bukan alasan melupakan Allah. Justru semakin sibuk mencari rezeki, semakin banyak pula kita diperintahkan mengingat-Nya.


Allah juga memuji hamba-hamba-Nya dalam firman-Nya:


“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan salat, dan menunaikan zakat.” (QS. An-Nur: 37).


Ayat ini seakan menjadi cermin bagi Simpang Tungkop. Ramainya aktivitas ekonomi adalah nikmat yang besar, tetapi keberkahan hanya akan turun apabila perdagangan tidak membuat manusia berpaling dari panggilan azan.


Rasulullah SAW bersabda:


“Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para nabi, orang-orang yang benar, dan para syuhada.”


Hadis ini mengingatkan bahwa dunia usaha adalah jalan menuju kemuliaan apabila dijalankan dengan amanah, kejujuran, dan ketakwaan.


Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa bekerja mencari nafkah merupakan bagian dari ibadah apabila diniatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, menjaga kehormatan diri, dan membantu sesama. 


Sementara Syekh Yusuf Al-Qaradawi menegaskan bahwa Islam tidak pernah memisahkan masjid dengan pasar. Yang dipisahkan Islam adalah pasar yang kehilangan nilai-nilai kejujuran, amanah, dan zikir kepada Allah.


Karena itu, keberadaan Masjid Jamik Baitul Jannah di tengah pusat ekonomi Simpang Tungkop merupakan karunia yang luar biasa. Tidak semua kawasan perdagangan memiliki jantung spiritual sedekat ini. Tinggal bagaimana masyarakat menjadikan masjid sebagai pusat orientasi hidup, bukan sekadar bangunan yang dilewati setiap hari.


Amanah 


Sudah sepatutnya para pelaku usaha memandang toko, kios, warung, dan seluruh usaha mereka sebagai amanah Allah. Keuntungan bukan hanya dihitung dari bertambahnya omzet, tetapi juga dari bertambahnya keberkahan.


Jangan sampai suara azan hanya menjadi suara latar yang kalah oleh hiruk-pikuk transaksi.


Jangan sampai masjid hanya diingat ketika hendak menggunakan kamar kecil atau BAB, atau ketika ada acara tertentu seperti prosesi pernikahan.


Ingatlah bahwa Allah selalu bersama hamba-hamba-Nya. Dialah Ar-Razzaq, Zat Yang Maha Pemberi Rezeki, Yang membuka pintu-pintu karunia dan menjaga seluruh makhluk-Nya. 


Maka jangan pernah membelakangi panggilan-Nya hanya karena mengejar keuntungan yang sesungguhnya juga berasal dari-Nya.


Masjid hendaknya menjadi tempat pertama yang didatangi ketika azan berkumandang, tempat memohon petunjuk sebelum membuka usaha, tempat bersyukur ketika memperoleh keuntungan, dan tempat bermunajat ketika menghadapi kesulitan.


Ikhtiar


Ada beberapa ikhtiar yang perlu terus dipertahankan agar Simpang Tungkop tetap menjadi kawasan yang produktif sekaligus diberkahi Allah.


Pertama, menjaga shalat berjamaah dan memakmurkan Masjid Jamik Baitul Jannah pada setiap waktu shalat. 


Kedua, membangun budaya perdagangan yang jujur, amanah, dan bebas dari segala bentuk kecurangan. 


Ketiga, memperbanyak sedekah dan kepedulian sosial sehingga keberhasilan ekonomi ikut dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan. 


Keempat, menjaga kebersihan, ketertiban, keramahan, dan akhlak dalam melayani pelanggan. 


Kelima, memperkuat sinergi antara masjid, kampus, dayah, madrasah, pelaku usaha, dan masyarakat sehingga Simpang Tungkop terus tumbuh sebagai kawasan yang maju secara ekonomi sekaligus kokoh secara spiritual.


Simpang Tungkop telah dianugerahi banyak kelebihan. Ia memiliki letak yang strategis, masyarakat yang produktif, pusat perdagangan yang hidup, kampus-kampus besar, dayah-dayah yang melahirkan ulama, sekolah-sekolah yang mendidik generasi penerus, serta sebuah masjid megah yang senantiasa dipenuhi jamaah.


Modal sosial dan spiritual sebesar ini merupakan amanah Allah yang harus dijaga bersama.


Semoga Simpang Tungkop Darussalam terus berkembang menjadi contoh bahwa kemajuan ekonomi tidak harus menjauhkan manusia dari Allah. 


Justru ketika pasar, kampus, dayah, sekolah, dan masjid saling menguatkan, lahirlah sebuah peradaban yang bukan hanya makmur, tetapi juga penuh keberkahan.


Itulah wajah Darussalam yang sesungguhnya: masyarakat yang bekerja dengan tangan yang tekun, berpikir dengan akal yang tercerahkan, dan hidup dengan hati yang selalu terpaut kepada Allah.


Semoga Simpang Tungkop Darussalam dapat inspirasi sebagai miniatur peradaban Islam Aceh. Di sana bertemu lima unsur yang saling menguatkan: masjid, pasar, kampus, dayah, dan sekolah. 


Perpaduan lima pilar ini tidak menjadikan Simpang Tungkop hanya menggambarkan sebuah kawasan, tetapi juga menawarkan model pembangunan masyarakat yang layak dijaga dan direplikasi di tempat lain.


Wallahu a’lam 


Tungkop, Darussalam Aceh Besar, 11 Safar 1448, 26 Juli 2026


(Penulis Imumsyik Masjid Jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop Darussalam Aceh Besar)

×
Berita Terbaru Update