-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Merangkul Generasi Z, Menjaga Masa Depan Dakwah (Bagian II)

Selasa, 28 Juli 2026 | Juli 28, 2026 WIB Last Updated 2026-07-29T03:27:51Z

 


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Apabila dakwah ingin tetap hidup dan memberi pengaruh pada setiap zaman, maka metode penyampaiannya harus mampu menjawab perubahan masyarakat tanpa sedikit pun mengubah prinsip-prinsip ajaran Islam. 


Nilai-nilai Islam bersifat tetap, tetapi cara menyampaikannya selalu dapat disesuaikan dengan kondisi manusia yang menjadi objek dakwah.


Inilah pelajaran besar yang diwariskan Rasulullah SAW kepada umatnya.


Dakwah Dimulai dengan Hikmah


Allah SWT berfirman,


“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan cara yang paling baik.” (QS. An-Nahl: 125).


Para mufasir menjelaskan bahwa hikmah bukan hanya berarti kebijaksanaan dalam memahami ajaran agama, tetapi juga kebijaksanaan dalam membaca situasi, memilih kata-kata, menentukan waktu, serta menyesuaikan pendekatan dengan kondisi orang yang sedang diajak menuju jalan Allah.


Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir menjelaskan bahwa seorang pendakwah harus mengetahui karakter orang yang dihadapinya. Setiap kelompok memiliki tingkat pengetahuan, pengalaman hidup, dan cara berpikir yang berbeda. 


Karena itu, dakwah yang berhasil adalah dakwah yang mampu menyampaikan kebenaran dengan bahasa yang dapat dipahami oleh pendengarnya.


Prinsip inilah yang sangat relevan ketika berdakwah kepada Generasi Z. Mereka tidak membutuhkan agama baru, tetapi membutuhkan cara baru untuk memahami agama yang sama.


Teladan Rasulullah SAW


Keberhasilan dakwah Rasulullah SAW bukan semata-mata karena keluasan ilmu beliau, melainkan juga karena kelembutan akhlaknya.


Allah SWT berfirman,


“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekelilingmu.” (QS. Ali ’Imran: 159).


Ayat ini sangat menarik. Allah tidak mengatakan bahwa manusia akan meninggalkan kebenaran, melainkan mereka akan menjauh dari orang yang menyampaikan kebenaran apabila penyampaiannya dilakukan dengan keras dan kasar.


Inilah pelajaran yang harus direnungkan oleh setiap orang tua, guru, dosen, dai, maupun pemimpin umat. Jangan sampai semangat membela agama justru membuat orang enggan mendekati agama.


Rasulullah SAW sendiri bersabda,


“Mudahkanlah dan jangan mempersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Dalam hadis lain beliau bersabda,


“Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk.” (HR. Muslim).


Hadis-hadis ini bukan ajakan untuk mempermudah syariat, melainkan perintah agar dakwah dilakukan dengan penuh kasih sayang sehingga hati manusia terbuka menerima petunjuk Allah.


Sayidina Ali: Didiklah Sesuai Zamannya


Ungkapan Sayidina Ali bin Abi Thalib yang sangat masyhur patut menjadi renungan setiap pendidik.


“Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dengan zamanmu.”


Ungkapan ini tidak mengajarkan agar agama mengikuti perubahan zaman. Yang berubah adalah metode pendidikan, bahasa komunikasi, dan pendekatan pembinaan.


Generasi terdahulu tumbuh dalam masyarakat yang relatif sederhana. Sumber ilmu terbatas. Pengaruh budaya luar juga tidak sebesar sekarang. Sebaliknya, Generasi Z hidup dalam dunia yang saling terhubung tanpa batas. Mereka menghadapi jutaan informasi setiap hari, berbagai ideologi, budaya populer global, serta perkembangan teknologi yang sangat cepat.


Karena itu, cara mendidik mereka tentu memerlukan pendekatan yang berbeda tanpa mengurangi sedikit pun nilai-nilai Islam.


Keteladanan Lebih Kuat daripada Ceramah


Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid, melainkan proses membentuk jiwa dan akhlak.


Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah bahkan mengingatkan bahwa pendidikan yang terlalu keras justru dapat mematikan kreativitas, melemahkan keberanian, dan membuat anak kehilangan semangat belajar.


Berabad-abad kemudian, pandangan para ulama tersebut ternyata diperkuat oleh penelitian psikologi modern.


Albert Bandura melalui teori Social Learning menjelaskan bahwa manusia belajar terutama melalui pengamatan terhadap perilaku orang lain. Anak-anak dan remaja lebih mudah meniru apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.


Lev Vygotsky juga menjelaskan bahwa perkembangan seseorang berlangsung optimal apabila ia memperoleh pendampingan dari orang yang lebih berpengalaman. 


Dalam dunia pendidikan, guru bukan hanya penyampai materi, melainkan pendamping yang membantu peserta didik berkembang sedikit demi sedikit hingga mampu berdiri sendiri.


Artinya, orang tua yang menginginkan anaknya rajin salat harus memperlihatkan kecintaan kepada salat. 


Guru yang ingin muridnya gemar membaca harus memperlihatkan kegemarannya membaca. 


Pendakwah yang ingin mengajak anak muda ke masjid harus menghadirkan wajah Islam yang ramah, bukan wajah yang mudah memvonis.


Keteladanan akan selalu lebih kuat daripada seribu nasihat.


Memahami Realitas Zaman


Syekh Yusuf al-Qaradawi sering mengingatkan pentingnya fiqh al-waqi’, yaitu memahami realitas masyarakat sebelum memberikan solusi.


Seorang dai, menurut beliau, tidak cukup hanya memahami Al-Qur’an dan Sunnah. Ia juga harus memahami perubahan sosial, tantangan zaman, serta persoalan nyata yang dihadapi masyarakatnya. Dakwah yang mengabaikan kenyataan hidup akan sulit menyentuh hati manusia.


Pandangan ini sangat relevan bagi Generasi Z. Mereka hidup di tengah tantangan yang tidak pernah dialami generasi sebelumnya. 


Persaingan akademik semakin ketat, informasi datang tanpa henti, tekanan media sosial semakin besar, sementara berbagai standar kesuksesan sering kali dibentuk oleh budaya digital yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai Islam.


Karena itu, sebelum memberi nasihat, para pendidik dan pendakwah perlu memahami kegelisahan mereka. Sebelum mengoreksi perilaku mereka, kita perlu mengetahui tantangan yang mereka hadapi setiap hari.


Al-Qur’an Mengajarkan Harapan


Di tengah berbagai tantangan tersebut, Islam tidak pernah mengajarkan sikap pesimis.


Allah SWT berfirman,


“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).


Ayat ini memberi harapan bahwa perubahan selalu mungkin terjadi. Tidak ada generasi yang telah ditakdirkan menjadi generasi yang gagal. Yang menentukan masa depan adalah kesungguhan memperbaiki diri dan keseriusan masyarakat dalam membimbing mereka.


Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar mengingatkan bahwa dakwah yang berhasil adalah dakwah yang menyentuh hati sebelum mengubah perilaku. 


Sementara Prof. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa Al-Qur’an mendidik manusia dengan keseimbangan antara kabar gembira (tabsyir) dan peringatan (inzar). 


Keduanya disampaikan secara proporsional sehingga manusia terdorong mencintai kebaikan tanpa kehilangan rasa takut kepada Allah.


Inilah keseimbangan yang perlu dihadirkan dalam mendampingi Generasi Z. Mereka memerlukan bimbingan yang tegas dalam prinsip, tetapi lembut dalam pendekatan; kokoh dalam akidah, tetapi penuh kasih dalam penyampaian; jelas dalam hukum, tetapi bijaksana dalam mendidik.


Maka, sesungguhnya tantangan terbesar dakwah hari ini bukanlah mempertentangkan generasi tua dengan generasi muda. Tantangan sesungguhnya adalah membangun jembatan yang menghubungkan pengalaman generasi terdahulu dengan semangat, kreativitas, dan potensi besar yang dimiliki Generasi Z. 


Bila jembatan itu berhasil dibangun dengan ilmu, hikmah, dan keteladanan, insya Allah mereka bukan hanya menjadi generasi yang dekat dengan agama, tetapi juga menjadi generasi yang kelak memimpin umat dan bangsa dengan iman, ilmu, dan akhlak yang mulia.


Wallahu a’lam 


Banda Aceh 12 Safar 1448, 27 Juli 2026


(Penulis Imam Besar Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

×
Berita Terbaru Update