Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Setelah memahami karakter Generasi Z dan landasan Islam dalam berdakwah kepada mereka, muncul pertanyaan yang lebih penting: siapa yang harus lebih dahulu berubah?
Jawabannya mungkin tidak nyaman untuk kita dengar. Sebelum meminta Generasi Z berubah, orang-orang dewasalah yang terlebih dahulu harus melakukan muhasabah.
Sebelum Menyalahkan Generasi Z, Mari Berkaca pada Diri Sendiri
Mudah sekali mengatakan bahwa Generasi Z terlalu lama bermain telepon genggam, terlalu sibuk di media sosial, atau semakin malas membaca.
Akan tetapi, siapakah yang pertama kali meletakkan gawai di tangan mereka? Siapakah yang sering lebih sibuk menatap layar daripada menatap wajah anak-anaknya sendiri?
Siapakah yang terkadang lebih banyak memberi nasihat daripada memberi teladan Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang mereka dengar, tetapi terutama dari apa yang mereka lihat.
Mereka mengamati bagaimana orang tua memperlakukan keluarga, bagaimana guru menghargai muridnya, bagaimana dosen bersikap kepada mahasiswa, bagaimana para pemimpin menjalankan amanah, dan bagaimana para pendakwah menjaga lisan ketika berbeda pendapat.
Karena itu, Allah SWT mengingatkan,
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff: 2–3).
Ayat ini bukan sekadar teguran bagi para pendakwah, tetapi bagi seluruh orang yang ingin menjadi teladan. Ketika perkataan dan perbuatan berjalan seiring, nasihat akan lebih mudah diterima.
Sebaliknya, ketika keduanya bertolak belakang, generasi muda akan kehilangan kepercayaan.
Media Sosial Adalah Madrasah Baru
Kita juga perlu jujur mengakui bahwa ruang pendidikan telah berubah.
Dahulu anak-anak memperoleh ilmu terutama dari rumah, sekolah, dayah, dan masjid. Hari ini, sebelum berangkat ke sekolah mereka telah melihat puluhan video, membaca ratusan komentar, dan menerima berbagai informasi dari media sosial.
Dalam banyak keadaan, algoritma kini lebih sering berbicara kepada anak-anak daripada orang tuanya sendiri.
Karena itu, dakwah tidak boleh hanya hadir di atas mimbar. Dakwah juga harus hadir di ruang digital. Para ulama, guru, dosen, dai, dan tokoh masyarakat perlu mengisi media sosial dengan konten yang mencerahkan, singkat, menarik, tetapi tetap berlandaskan ilmu. Jika ruang digital dibiarkan kosong dari nilai-nilai Islam, maka ruang itu akan dipenuhi oleh berbagai pengaruh yang belum tentu membawa kebaikan.
Teknologi bukan musuh agama. Ia hanyalah alat. Di tangan orang yang berilmu, teknologi menjadi sarana dakwah, pendidikan, dan kemajuan. Namun di tangan yang salah, ia dapat menjadi pintu masuk berbagai kerusakan.
Jangan Biarkan Ada Anak Muda Merasa Sendirian
Di balik senyum yang mereka tampilkan di media sosial, tidak sedikit anak muda yang sedang berjuang menghadapi kecemasan, tekanan akademik, kebingungan menentukan masa depan, bahkan kesepian.
Mereka membutuhkan seseorang yang bersedia mendengar sebelum menasihati.
Betapa banyak anak muda yang lebih berani mencurahkan isi hatinya kepada orang asing di dunia maya daripada kepada ayahnya sendiri.
Betapa banyak mahasiswa yang memendam kegelisahan karena merasa dosennya terlalu jauh.
Betapa banyak remaja yang ingin bertanya tentang agama, tetapi takut dicap kurang iman.
Di sinilah keluarga, sekolah, kampus, dayah, masjid, dan masyarakat harus kembali menjadi rumah yang menghadirkan rasa aman.
Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam hal ini. Beliau tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga pandai mendengar. Beliau memberi ruang kepada para sahabat untuk bertanya, mengemukakan pendapat, bahkan mengakui kesalahan tanpa takut dipermalukan.
Barangkali, kemampuan mendengar dengan empati merupakan salah satu bentuk dakwah yang paling dibutuhkan Generasi Z saat ini.
Tugas Orang Tua, Guru, Dosen, dan Pendakwah
Orang tua hendaknya tidak hanya memenuhi kebutuhan materi anak-anaknya, tetapi juga menghadirkan waktu, perhatian, dan kasih sayang. Tidak ada teknologi yang mampu menggantikan pelukan seorang ayah atau doa seorang ibu.
Guru dan dosen tidak cukup hanya menyampaikan materi pelajaran. Mereka juga perlu menjadi mentor yang menginspirasi, membimbing, dan menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik.
Para pendakwah hendaknya terus memperkaya wawasan tentang psikologi remaja, perkembangan teknologi, dan dinamika sosial agar pesan-pesan Islam dapat disampaikan secara relevan tanpa kehilangan kemurniannya.
Para pemimpin umat dan tokoh masyarakat pun memiliki tanggung jawab menghadirkan ruang-ruang yang ramah bagi generasi muda untuk belajar, berdiskusi, berorganisasi, berkarya, dan berkontribusi.
Membimbing Generasi Z bukan pekerjaan satu pihak. Ia adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen umat.
Tanggung Jawab Generasi Z
Di sisi lain, Generasi Z juga memiliki amanah besar terhadap dirinya sendiri.
Allah SWT telah menganugerahkan kepada mereka kesempatan belajar yang jauh lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya. Karena itu, kesempatan tersebut harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Ada beberapa ikhtiar sederhana yang dapat dilakukan.
Pertama, jagalah salat lima waktu sebagai fondasi kehidupan. Kesibukan apa pun tidak boleh mengalahkan hubungan dengan Allah SWT.
Kedua, kelolalah waktu dengan disiplin. Bedakan waktu untuk belajar, beribadah, membantu orang tua, berolahraga, membaca, dan beristirahat. Orang yang mampu mengatur waktunya akan lebih mudah mengatur masa depannya.
Ketiga, batasi penggunaan media sosial. Tidak semua yang viral bermanfaat, dan tidak semua yang populer layak ditiru. Jadilah pengguna teknologi yang cerdas, bukan sekadar pengikut tren.
Keempat, biasakan membaca buku dan memperdalam ilmu. Video singkat dapat menambah wawasan, tetapi buku melatih cara berpikir yang lebih mendalam.
Kelima, pilihlah lingkungan pergaulan yang baik. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa seseorang akan mengikuti agama sahabat dekatnya. Teman yang baik adalah investasi terbesar bagi masa depan.
Keenam, manfaatkan teknologi dan kecerdasan buatan sebagai sarana belajar, meneliti, berkarya, dan berdakwah. Jangan biarkan teknologi menguasai hidup kita; kitalah yang harus menguasai teknologi dengan nilai-nilai Islam sebagai kompasnya.
Ketujuh, milikilah cita-cita yang besar. Umat ini memerlukan generasi yang kelak menjadi ulama, ilmuwan, dokter, guru, dosen, hakim, pengusaha, insinyur, pemimpin, dan profesional yang tidak hanya unggul dalam keahlian, tetapi juga kokoh iman dan akhlaknya.
Menanam Pohon Peradaban
Mendidik Generasi Z sesungguhnya seperti menanam sebatang pohon. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat hari ini. Namun beberapa puluh tahun mendatang, buahnya akan dinikmati oleh anak cucu kita.
Ketika kelak masjid-masjid dipenuhi imam-imam muda yang mencintai Al-Qur’an, kampus-kampus melahirkan ilmuwan Muslim yang berintegritas, lembaga-lembaga dipimpin oleh orang-orang yang amanah, dunia usaha dijalankan dengan kejujuran, dan rumah-rumah dipenuhi keluarga yang sakinah, boleh jadi semua itu berawal dari satu nasihat yang lembut, satu guru yang sabar, satu dosen yang menginspirasi, satu orang tua yang mau mendengar, atau satu dai yang memilih merangkul daripada menghakimi.
Allah SWT memberikan perumpamaan yang sangat indah:
“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya menghunjam kuat dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan izin Tuhannya.” (QS. Ibrahim: 24–25).
Generasi tua adalah akar yang menghunjam kuat dengan pengalaman, kebijaksanaan, dan nilai-nilai yang diwariskan. Generasi Z adalah cabang-cabang muda yang menjulang tinggi, membawa harapan, kreativitas, dan semangat perubahan.
Akar tanpa cabang tidak akan menghasilkan buah. Cabang tanpa akar akan mudah patah diterpa angin. Ketika keduanya bersatu dalam iman, ilmu, hikmah, dan kasih sayang, akan tumbuh pohon peradaban yang kokoh.
Pada akhirnya, masa depan dakwah tidak hanya ditentukan oleh banyaknya masjid yang berdiri, tetapi oleh banyaknya anak muda yang merasa diterima di dalam masjid.
Masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh megahnya sekolah dan kampus, tetapi oleh keberhasilan kita melahirkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, serta mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan umat.
Merangkul Generasi Z bukan berarti memanjakan mereka, apalagi mengurangi kemurnian ajaran Islam. Sebaliknya, dengan memahami karakter, bahasa, dan tantangan zaman yang mereka hadapi, kita dapat menyampaikan risalah Islam sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW: tegas dalam prinsip, lembut dalam akhlak, bijaksana dalam metode, dan penuh kasih sayang dalam membimbing.
Jangan lagi kita mempertentangkan generasi tua dengan generasi muda. Marilah kita berjalan bersama. Generasi tua mewariskan akar yang kokoh, sementara Generasi Z menumbuhkan ranting-ranting harapan menuju masa depan.
Dari perpaduan keduanya, insya Allah akan lahir generasi yang menjaga agama dengan ilmu, membangun bangsa dengan integritas, serta menghadirkan rahmat Islam bagi seluruh alam.
Wallāhu a’lam
Banda Aceh 12 Safar 1448, 27 Juli 2026
(Penulis Imam Besar Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
