-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Spanyol Menang, Umat Islam Suka, Sportivitas Tetap Menjadi Juara

Senin, 20 Juli 2026 | Juli 20, 2026 WIB Last Updated 2026-07-20T10:48:18Z

 


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Selamat kepada Tim Nasional Spanyol yang berhasil menjuarai Piala Dunia FIFA 2026 setelah mengalahkan Argentina dengan skor tipis 1-0 melalui gol Ferran Torres pada babak perpanjangan waktu. Pertandingan final berlangsung sangat ketat dan menjadi penutup yang indah bagi pesta sepak bola terbesar di dunia. (AP News)


Ucapan selamat juga layak disampaikan kepada seluruh pendukung Spanyol, para pecinta sepak bola, dan tidak kalah penting kepada para pendukung Argentina yang telah menyaksikan perjalanan luar biasa tim kebanggaannya hingga partai puncak. 


Dalam olahraga, kemenangan dan kekalahan adalah dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Hari ini Spanyol tersenyum, sementara Argentina harus menerima kenyataan sebagai runner-up. Besok, keadaan bisa saja berbalik.


Setiap pesepak bola di dunia tentu memimpikan satu hal: mengangkat trofi Piala Dunia. Mimpi itu bukan hanya milik Spanyol, Argentina, Brasil, atau Prancis. Indonesia pun memiliki impian yang sama. 


Presiden Prabowo Subianto beberapa kali menyampaikan keheranannya mengapa negara sebesar Indonesia dengan jumlah penduduk yang sangat besar belum mampu tampil di Piala Dunia. 


Pernyataan tersebut bukan sekadar ungkapan emosional, melainkan cerminan cita-cita nasional agar Indonesia suatu hari benar-benar berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa besar di panggung sepak bola dunia.


Namun mimpi besar tidak akan menjadi kenyataan tanpa persiapan yang besar pula.


Prestasi Internasional 


Banyak pakar sepak bola menegaskan bahwa prestasi internasional dibangun melalui pembinaan usia dini yang konsisten, kompetisi domestik yang berkualitas, tata kelola organisasi yang profesional, pendidikan pelatih yang modern, ilmu olahraga, nutrisi, sport science, hingga pembinaan karakter pemain. 


Arsène Wenger yang kini memimpin pengembangan sepak bola global di FIFA berulang kali menekankan pentingnya investasi jangka panjang pada pembinaan pemain muda, sementara berbagai kajian FIFA menunjukkan bahwa negara-negara yang sukses adalah mereka yang memiliki ekosistem sepak bola yang terintegrasi dari level akar rumput hingga tim nasional. (FIFA⁠)


Indonesia telah menunjukkan kemajuan dalam beberapa tahun terakhir. Prestasi tim nasional mulai meningkat, kompetisi semakin baik, dan antusiasme masyarakat sangat luar biasa. 


Namun masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, antara lain pemerataan akademi sepak bola, peningkatan kualitas kompetisi usia muda, pembangunan fasilitas latihan yang memadai, konsistensi kompetisi profesional, pembinaan wasit, penguatan sport science, serta tata kelola yang semakin transparan dan profesional.


Keberhasilan Spanyol sesungguhnya bukan lahir dalam semalam. Gelar juara dunia tahun 2010, keberhasilan di Piala Eropa, hingga juara dunia 2026 merupakan buah dari pembangunan sepak bola yang berlangsung selama puluhan tahun. 


Mereka membangun filosofi bermain, memperkuat akademi, melahirkan pelatih berkualitas, dan menjaga kesinambungan regenerasi pemain. Itulah pelajaran penting bagi Indonesia.


Dinamika 


Final semalam juga menyedot perhatian publik dunia karena di luar sepak bola terdapat dinamika politik internasional yang sedang memanas. Sebagian publik mengaitkan pertandingan ini dengan sikap politik luar negeri kedua negara terhadap berbagai isu global, termasuk konflik di Timur Tengah. 


Akibatnya, sebagian pendukung tidak hanya membawa identitas sepak bola, tetapi juga emosi politik ke ruang-ruang diskusi publik.


Di sinilah kedewasaan menjadi penting.


Sepak bola seharusnya tetap menjadi ruang persaudaraan. Perbedaan pandangan politik antarnegara tidak boleh menghilangkan semangat sportivitas. 


Konflik geopolitik memiliki akar sejarah, kepentingan diplomasi, keamanan, ekonomi, dan hubungan internasional yang sangat kompleks. Sementara sepak bola adalah olahraga yang mengajarkan fair play, menghormati lawan, dan menerima hasil pertandingan dengan lapang dada.


Karena itu, kemenangan Spanyol hendaknya tidak dijadikan alasan untuk merendahkan para pendukung Argentina. 


Sebaliknya, kekalahan Argentina juga tidak boleh melahirkan kebencian kepada Spanyol. Piala Dunia telah selesai. Kini saatnya semua kembali menjadi sahabat dalam kecintaan yang sama terhadap sepak bola.


Sebagai bangsa Indonesia, kita juga patut bersyukur apabila ada negara yang dalam kebijakan luar negerinya menunjukkan kepedulian terhadap perjuangan rakyat Palestina. 


Namun sikap apresiasi tersebut tidak berarti kita harus membenci bangsa lain yang memiliki kebijakan politik berbeda. 


Kita dapat tetap teguh pada prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan tanpa kehilangan adab dalam berinteraksi dengan sesama manusia.


Ukhuwah


Bagi umat Islam, perbedaan pandangan politik tidak boleh merusak ukhuwah. Al-Qur’an mengajarkan agar kaum beriman senantiasa berkata dengan perkataan yang benar (qaulan sadidan), menghindari celaan, provokasi, maupun ujaran yang memperuncing permusuhan. Media sosial pun hendaknya menjadi ruang edukasi, bukan arena melampiaskan kemarahan.


Spirit sportivitas sesungguhnya sangat dekat dengan nilai-nilai Islam. Seorang Muslim diajarkan berlaku adil, menghormati hak orang lain, tidak berlebihan dalam mencintai ataupun membenci, serta mampu mengendalikan emosi ketika menghadapi perbedaan.


Khulashah


Piala Dunia 2026 akhirnya telah melahirkan juara. Namun juara sejati bukan hanya mereka yang mengangkat trofi. 


Juara sejati adalah mereka yang tetap rendah hati ketika menang, tetap bermartabat ketika kalah, dan tetap menjaga persaudaraan di tengah perbedaan.


Semoga Indonesia terus belajar dari negara-negara terbaik dunia, membangun sepak bola dengan kesungguhan, sehingga suatu hari nanti Merah Putih tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut berlaga di Piala Dunia. 


Dan ketika hari itu tiba, kemenangan terbesar bukan hanya hadir di atas lapangan hijau, melainkan juga dalam karakter bangsa yang menjunjung sportivitas, persatuan, dan penghormatan kepada sesama.


Wallahu a’lam 


Banda Aceh 5 Safar 1448, 20 Juli 2026


(Penulis pengamat sosial dan keagamaan, pegiat moderasi beragama UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

×
Berita Terbaru Update