Al-Rasyid.id | Banda Aceh – Umat Islam patut senantiasa bersyukur kepada Allah SWT karena masih diberikan nikmat kehidupan dalam keadaan beriman, memperoleh hidayah, dan mampu beribadah. Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya terus istiqamah menapaki jalan kebaikan dengan bimbingan dan ridha Allah hingga akhir hayat, sebagaimana jalan yang telah dituntunkan oleh Rasulullah SAW dan dicontohkan para sahabat.
Pesan tersebut disampaikan penceramah yang juga akademisi Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Dr. Abizal Muhammad Yati, dalam tausiah Subuh Safari BBC di Masjid Syuhada, Lamgugop, Banda Aceh, Ahad (12/7/2026), bertepatan dengan 27 Muharram 1448 Hijriah.
Menurutnya, nyawa merupakan anugerah yang sangat berharga dari Allah SWT. Karena itu, setiap detik usia yang diberikan harus dimanfaatkan untuk memperbanyak amal saleh sebagai bekal menuju kehidupan yang kekal.
Dr. Abizal menjelaskan bahwa Al-Qur’an telah menggambarkan fase kehidupan manusia, yakni dari kematian, kemudian dihidupkan di dunia, dimatikan kembali, lalu dibangkitkan untuk kehidupan yang abadi. Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 28:
“Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, lalu menghidupkan kamu kembali, kemudian kepada-Nya kamu dikembalikan.”
Ia juga mengingatkan hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa usia umat Nabi Muhammad SAW umumnya berkisar antara 60 hingga 70 tahun. Nabi Muhammad SAW sendiri wafat pada usia 63 tahun.
“Marilah kita melakukan introspeksi diri, berada di mana usia kita saat ini. Sesungguhnya kehidupan di dunia sangat singkat dibandingkan kehidupan di alam barzakh dan alam akhirat yang jauh lebih panjang,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak jamaah untuk mensyukuri nikmat umur dengan terus menjaga ibadah, terutama shalat dan wudhu. Menurutnya, Rasulullah SAW kelak akan mengenali umatnya pada hari kiamat melalui cahaya bekas wudhu yang terpancar dari wajah dan anggota tubuh mereka.
Dalam tausiahnya, Dr. Abizal juga menguraikan berbagai pelajaran berharga dari detik-detik wafat Rasulullah SAW. Menjelang wafat, Nabi Muhammad SAW masih mendatangi pemakaman Baqi’ di dekat Masjid Nabawi untuk mendoakan para sahabat yang telah lebih dahulu meninggal dunia.
Sepulang dari Baqi’, Rasulullah mengalami demam yang cukup berat. Sayyidah Aisyah RA membacakan ayat-ayat Al-Qur’an sambil mengusap tubuh Rasulullah dengan tangan beliau sendiri. Nabi juga meminta agar disiramkan air dari tujuh sumur yang berbeda untuk meringankan sakit yang beliau rasakan.
Meski dalam keadaan sangat lemah, Rasulullah SAW tetap memperhatikan hak-hak seluruh istri beliau serta memikirkan keadaan umat dan para sahabat. Bahkan ketika Allah SWT memberikan pilihan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat, Rasulullah memilih kembali kepada Allah. Pilihan tersebut membuat Abu Bakar Ash-Shiddiq RA menangis karena memahami isyarat bahwa ajal Rasulullah telah dekat.
Dr. Abizal menuturkan bahwa sebelum wafat, Rasulullah SAW juga meminta Abu Bakar RA untuk menjadi imam shalat berjamaah. Selama sekitar 17 waktu shalat, Abu Bakar mengimami kaum muslimin, sementara Rasulullah pada beberapa kesempatan mengikuti shalat sebagai makmum ketika kondisi beliau memungkinkan.
“Ini menunjukkan betapa besar perhatian Rasulullah terhadap pelaksanaan shalat berjamaah. Walaupun sedang sakit, beliau tetap memastikan umatnya tidak meninggalkan masjid dan tetap menjaga shalat berjamaah sesuai kemampuan,” katanya.
Ia juga mengisahkan bahwa Rasulullah SAW sangat menyukai bersiwak. Pada saat-saat terakhir kehidupannya, ketika kondisi beliau sudah sangat lemah, Sayyidah Aisyah RA membantu melembutkan siwak, kemudian memasukkannya ke dalam mulut Rasulullah sehingga beliau dapat bersiwak sebelum menghadap Allah SWT.
Menurut Dr. Abizal, kisah tersebut memberikan pelajaran bahwa sakaratul maut merupakan fase yang berat. Bahkan Rasulullah SAW pun merasakan sakitnya sakaratul maut dan memohon pertolongan Allah agar dimudahkan serta dipertemukan dengan-Nya dalam keridhaan.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya mendampingi orang-orang tercinta yang sedang menghadapi sakaratul maut dengan penuh kasih sayang, membimbing mereka untuk mengingat Allah dan mengucapkan kalimat tauhid.
“Kita juga jangan lalai mempersiapkan diri agar memperoleh akhir kehidupan yang indah, husnul khatimah, dalam keadaan Allah meridhai kita. Selain mempersiapkan amal, kita juga perlu menyiapkan keluarga dan orang-orang terdekat agar kelak membimbing kita dengan penuh cinta ketika tiba saat menghadap Allah SWT,” pungkasnya.
Laporan Saif
