-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Air Keruh di Hulu, Saringlah di Hilir: Menjaga Amanah di Tengah Arus Kebatilan

Minggu, 09 Agustus 2026 | Agustus 09, 2026 WIB Last Updated 2026-08-09T10:29:32Z


Oleh: Saifuddin A. Rasyid


Al-Rasyid.id | "Air keruh di hulu, saringlah di hilir.” Gagasan sederhana ini lahir dari sebuah diskusi singkat namun hangat bersama Prof. Ismail, Guru Besar UIN Ar-Raniry, ketika beliau menanggapi tulisan saya sebelumnya mengenai “banyak semut di jalur penyaluran”. Beliau mengungkapkan keprihatinan bahwa apabila air telah keruh sejak dari hulunya, hampir dapat dipastikan kekeruhan itu akan mengalir hingga ke hilir. 


Saya memahami ungkapan tersebut sebagai metafora atas sebuah kenyataan sosial: ketika penyimpangan dan korupsi telah menjangkiti sebagian mata rantai tata kelola, dampaknya dapat menjalar ke berbagai lapisan.


Keprihatinan itu patut kita renungkan. Namun Islam mengajarkan agar kita tidak berhenti pada keluhan. Jika kita belum memiliki kewenangan untuk menjernihkan seluruh aliran sungai, kita tetap memiliki kewajiban menyaring air sebelum meminumnya. 


Begitu pula dalam kehidupan. Kita mungkin belum mampu memperbaiki seluruh sistem, tetapi kita bertanggung jawab memastikan bahwa rezeki yang masuk ke rumah kita adalah rezeki yang halal, bersih, dan penuh keberkahan.


Allah SWT berfirman:


“Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik.” (QS. Al-Baqarah: 168)


Dan firman-Nya:


“Janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 188)


Dua ayat ini menjadi fondasi bahwa seorang Muslim bukan hanya diperintahkan mencari rezeki, tetapi juga memastikan cara memperolehnya benar di sisi Allah.


Rasulullah ﷺ memperingatkan bahwa setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram lebih pantas disentuh api neraka. Sabda ini bukan sekadar ancaman, melainkan bentuk kasih sayang agar manusia berhati-hati terhadap setiap rupiah yang masuk ke dalam kehidupannya. Rezeki yang haram tidak hanya merusak individu, tetapi juga menghilangkan keberkahan keluarga dan masyarakat.


Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa makanan halal merupakan fondasi kebersihan hati dan diterimanya amal. 


Yusuf al-Qaradawi menegaskan bahwa korupsi adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah yang merusak keadilan sosial. 


Sementara Ibnu Taimiyah mengingatkan bahwa kekuasaan diberikan untuk menegakkan kemaslahatan, bukan memperkaya diri. 


Pemikiran-pemikiran tersebut menunjukkan bahwa integritas merupakan bagian dari akidah dan akhlak seorang Muslim.


Kini hampir setiap rumah memiliki alat penyaring air. Teknologi mampu mengubah air keruh menjadi layak dikonsumsi. 


Namun Allah telah menganugerahkan penyaring yang jauh lebih canggih, yaitu iman, akal, hati nurani, rasa malu, dan ketakwaan. Penyaring inilah yang seharusnya bekerja sebelum tangan menerima uang, sebelum pena menandatangani dokumen, sebelum jabatan digunakan, dan sebelum rezeki dibawa pulang ke rumah.


Setiap kali memperoleh harta, hendaknya kita bertanya: apakah ini benar-benar hak saya? Apakah ada hak orang lain yang terselip di dalamnya? Apakah saya siap mempertanggungjawabkannya di hadapan manusia dan, yang lebih penting, di hadapan Allah SWT? 


Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini merupakan filter yang menjaga kita dari kebatilan.


Rasulullah ﷺ juga bersabda bahwa yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara syubhat yang sebaiknya dijauhi. Beliau mengingatkan pula bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging; apabila ia baik, baiklah seluruh tubuh, dan apabila ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah hati. 


Karena itu, perang melawan korupsi sejatinya dimulai dari hati yang hidup, bukan semata-mata dari aturan yang ketat.


Allah SWT berfirman:


“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)


Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa dosa yang terus dilakukan akan menutupi hati hingga seseorang kehilangan kemampuan membedakan yang hak dan yang batil. Di sinilah pentingnya tazkiyatun nafs, menyucikan jiwa, yang diwujudkan antara lain dengan menjaga kebersihan rezeki.


Bagi para pemimpin, pejabat, pegawai, pengusaha, dan siapa pun yang memegang amanah, ada beberapa langkah yang layak dijadikan pegangan. Periksa setiap keputusan dengan ukuran hukum dan syariat. Hindari konflik kepentingan. 


Bangun transparansi. Biasakan hidup sederhana. Pilih lingkungan yang saling mengingatkan dalam kebaikan. Lakukan muhasabah setiap hari. Yang tidak kalah penting, tanamkan keyakinan bahwa pengawasan Allah jauh lebih sempurna daripada pengawasan manusia.


Korupsi yang paling berbahaya bukan hanya yang bernilai miliaran rupiah, melainkan ketika hati kehilangan rasa bersalah. Sebaliknya, kebangkitan sebuah bangsa dimulai ketika amanah kembali dimuliakan, rasa malu kembali hidup, dan kejujuran dipandang sebagai kehormatan.


Memperbaiki hulu memang merupakan tugas besar negara, aparat penegak hukum, lembaga pengawasan, dunia pendidikan, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat. 


Namun sambil terus memperjuangkan sistem yang lebih bersih, kita tidak boleh membiarkan diri dan keluarga meminum air yang keruh. Kita harus menyaring setiap rezeki yang datang, menolak yang batil, dan mencukupkan diri dengan yang halal.


Marilah kita menjadi mata air yang mengalirkan kejernihan, bukan saluran yang memperpanjang kekeruhan. Jangan biarkan kerusakan yang kita saksikan menjadi alasan untuk ikut larut di dalamnya. 


Jadikan rumah kita sebagai tempat pertama lahirnya kejujuran, tempat anak-anak belajar bahwa keberkahan lebih berharga daripada kemewahan yang diperoleh dengan cara yang salah.


Kita mungkin belum mampu menjernihkan seluruh sungai kehidupan. Namun kita selalu mampu menjernihkan seteguk air yang akan kita minum. Kita mungkin belum mampu membersihkan seluruh sistem, tetapi kita mampu memastikan bahwa setiap rezeki yang kita bawa pulang adalah rezeki yang halal, bersih, dan penuh keberkahan. 


Sebab pada akhirnya, Allah SWT tidak hanya akan menanyakan jabatan yang pernah kita emban, melainkan juga amanah yang telah kita tunaikan, harta yang kita peroleh, dari mana datangnya, dan ke mana dibelanjakan.


Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang menjaga amanah, membersihkan rezeki, memelihara keluarga dengan makanan yang halal, serta menjadi mata air kebaikan yang mengalirkan keberkahan bagi masyarakat, bangsa, dan agama.


Wallahu a’lam bish-shawab.


Banda Aceh 21 Safar 1448, 5 Agustus 2026


(Penulis, pengamat sosial dan keislaman, akademisi UIN Ar-Raniry)

×
Berita Terbaru Update