-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Amalan yang Tidak Terputus Setelah Kematian

Rabu, 12 Agustus 2026 | Agustus 12, 2026 WIB Last Updated 2026-08-12T07:18:02Z


Al-Rasyid.id | Banda Aceh — Ustadz Dr. Abizal Muhammad Yati, Lc., M.A mengingatkan jamaah agar memanfaatkan masa hidup dengan memperbanyak amal kebajikan yang manfaatnya dapat terus mengalir, bahkan setelah seseorang meninggal dunia.


Pesan tersebut disampaikan dalam tausiyah zuhur di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu, 12 Agustus 2026, bertepatan dengan 28 Safar 1448 H. Dalam tausiyahnya, Ustadz Abizal mengajak jamaah kembali merenungkan sebuah hadis Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat populer, tetapi menurutnya tetap penting untuk terus direnungkan dan diimplementasikan dalam kehidupan.


Hadis yang bersumber dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan diriwayatkan Imam Muslim tersebut berbunyi:


إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ


“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”

(HR. Muslim)


Menurut Ustadz Abizal, hadis tersebut pertama-tama mengingatkan tentang sebuah kepastian yang tidak mungkin dihindari manusia, yaitu kematian.


Ia menjelaskan, kata “māta” dalam hadis tersebut merupakan bentuk fi‘il māḍī atau kata kerja lampau yang menunjukkan bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindarinya.


“Ketika seseorang sudah meninggal dunia, maka amalnya terputus. Ia tidak bisa lagi menambah amal dengan kemampuannya sendiri. Tidak bisa lagi salat, membaca Al-Qur’an, bersedekah dan melakukan berbagai amal saleh sebagaimana ketika masih hidup,” jelasnya.


Karena itu, menurutnya, kehidupan dunia harus dipandang sebagai kesempatan untuk bercocok tanam dan menanam sebanyak mungkin benih kebaikan. Selama masih diberi umur dan kesehatan, manusia memiliki kesempatan besar untuk bermujahadah dalam melakukan amal kebajikan.


Tiga Pintu Amal yang Tetap Mengalir


Ustadz Abizal kemudian menjelaskan tiga perkara yang menjadi pengecualian, yakni amal yang pahalanya tetap mengalir setelah seseorang meninggal dunia.


Pertama, sedekah jariyah.


Sedekah jariyah, katanya, berbeda dengan sedekah yang manfaatnya selesai dalam waktu singkat. Sedekah jariyah merupakan pemberian yang manfaatnya terus berlangsung.


Pembangunan masjid, meunasah, madrasah, wakaf tanah, sumur dan berbagai fasilitas yang terus digunakan untuk kemaslahatan umat merupakan contoh yang dapat menjadi sedekah jariyah.


“Selama tempat itu digunakan untuk kebaikan, insya Allah selama itu pula pahala mengalir kepada orang yang mewakafkan atau menyumbangkannya,” ujarnya.


Karena itu, ia mengajak jamaah tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berinvestasi dalam amal yang manfaatnya panjang.


Kedua, ilmu yang bermanfaat.


Menurut Ustadz Abizal, para guru, dosen, ustaz, pendidik dan siapa pun yang mengajarkan ilmu yang bermanfaat memiliki peluang besar mendapatkan pahala yang terus mengalir.


Ia mencontohkan seseorang yang mengajarkan tata cara salat kepada orang lain. Ketika orang tersebut kemudian melaksanakan salat berdasarkan ilmu yang diajarkan, maka manfaat ilmu tersebut menjadi bagian dari amal yang terus berbuah.


Begitu pula seseorang yang mengajarkan Al-Qur’an atau Iqra kepada anak-anak. Ketika ilmu itu terus diamalkan dan diajarkan kembali, manfaatnya menjadi mata rantai kebaikan yang panjang.


“Jangan merasa kecil ketika mengajarkan sesuatu yang baik. Bisa jadi ilmu yang kita ajarkan hari ini menjadi sebab pahala kita terus mengalir setelah kita berada di alam kubur,” katanya.


Ia juga menekankan bahwa ilmu yang bermanfaat tidak hanya berupa pelajaran yang disampaikan secara formal di kelas, tetapi juga dapat hadir melalui kebijakan dan keteladanan yang membawa kemaslahatan.


Seorang pemimpin, misalnya, dapat membuat kebijakan yang mendorong masyarakat atau lingkungan kerjanya melakukan kebaikan. Selama kebijakan tersebut terus memberikan manfaat, maka kebaikan itu dapat menjadi bagian dari amal yang bernilai.


Ketiga, anak saleh yang mendoakan.


Ustadz Abizal menjelaskan bahwa anak saleh merupakan salah satu investasi terbesar orang tua. Pendidikan anak tidak berhenti pada keberhasilan duniawi, tetapi harus diarahkan agar anak menjadi generasi yang mengenal Allah dan senantiasa mendoakan kedua orang tuanya.


“Bayangkan kalau kita memiliki anak yang saleh. Setiap kali dia berdoa untuk orang tuanya, doa itu menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi orang tua yang telah meninggal dunia,” tuturnya.


Ia juga mengingatkan bahwa hubungan pendidikan antara guru dan murid dapat melahirkan mata rantai kebaikan yang panjang. Seorang guru yang mendidik banyak murid dengan ikhlas akan meninggalkan ilmu dan keteladanan yang terus hidup.


Ketika seorang murid mengenang gurunya yang telah wafat, lalu mendoakannya, membaca Al-Fatihah atau memohonkan ampunan untuknya, hal tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus buah dari hubungan ilmu yang pernah dibangun.


Menjadi Orang yang Dikenang dengan Kebaikan


Pada bagian akhir tausiyah, Ustadz Abizal mengingatkan bahwa manusia pada akhirnya akan meninggalkan dunia, tetapi amal dan jejak kehidupannya akan tetap dikenang.


Orang yang selama hidupnya menebarkan kebaikan akan dikenang dengan kebaikan. Sebaliknya, perilaku buruk dapat membuat kepergian seseorang tidak meninggalkan kerinduan dan kebaikan di tengah masyarakat.


Karena itu, ia mengajak jamaah untuk mulai memikirkan “investasi akhirat” sejak masih hidup.


“Teruslah mengabdi, memperbanyak sedekah, menyebarkan ilmu yang bermanfaat dan mendidik generasi yang saleh. Insya Allah semua itu menjadi penolong kita pada hari kemudian,” pesannya.


Tausiyah tersebut ditutup dengan doa agar setiap amal kebaikan yang dilakukan selama hidup menjadi cahaya dan bekal bagi kehidupan setelah kematian.


Laporan Saif

×
Berita Terbaru Update