Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id |Jika akar persoalan yang kita hadapi adalah krisis orientasi pendidikan, maka solusi yang dibutuhkan tentu bukan sekadar menambah aturan disiplin, memperketat pengawasan, atau memberikan hukuman yang lebih berat.
Semua itu penting, tetapi belum menyentuh akar persoalan. Yang perlu dibangun adalah ekosistem pendidikan yang menjadikan akhlak sebagai fondasi, ilmu sebagai jalan, dan pengabdian sebagai tujuan.
Karena itu, saya membayangkan sudah saatnya kita menggagas sebuah Manifesto Generasi Ulul Albab Indonesia. Manifesto ini bukan milik satu lembaga atau satu kelompok, melainkan menjadi gerakan moral bersama yang dapat dihidupkan oleh keluarga, sekolah, perguruan tinggi, pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh elemen bangsa.
Manifesto tersebut setidaknya bertumpu pada lima komitmen utama.
Pertama, mengutamakan adab sebelum ilmu.
Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama selalu mengingatkan bahwa adab adalah pintu masuk ilmu. Imam Malik pernah berpesan kepada seorang penuntut ilmu agar terlebih dahulu mempelajari adab sebelum memperbanyak ilmu.
Pesan ini bukan berarti meremehkan ilmu pengetahuan, tetapi menegaskan bahwa ilmu tanpa adab dapat kehilangan arah. Pendidikan hendaknya tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga membentuk kejujuran, amanah, tanggung jawab, dan sikap menghormati sesama.
Kedua, menjadikan kolaborasi lebih mulia daripada kompetisi.
Kompetisi memang diperlukan untuk mendorong prestasi. Namun, apabila kompetisi menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan, peserta didik dapat tumbuh dengan mentalitas “harus mengalahkan”, bukan “harus memajukan”.
Dunia hari ini justru lebih membutuhkan kemampuan bekerja sama lintas disiplin, lintas budaya, dan lintas institusi. Sekolah dan kampus perlu memperbanyak proyek kolaboratif, riset bersama, pengabdian masyarakat, serta ruang dialog agar peserta didik belajar bahwa keberhasilan sejati lahir dari sinergi, bukan permusuhan.
Ketiga, mengintegrasikan IMTAK dan IPTEK dalam seluruh proses pendidikan.
Inilah pesan besar yang selalu diperjuangkan oleh Prof. B.J. Habibie dan menjadi salah satu semangat Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. Kecanggihan teknologi harus berjalan bersama kedewasaan moral.
Kecerdasan intelektual harus melahirkan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, lulusan sekolah dan perguruan tinggi tidak hanya menjadi tenaga profesional yang kompeten, tetapi juga manusia yang memiliki integritas dan kepedulian terhadap sesama.
Keempat, menghapus budaya senioritas, fanatisme kelompok, dan glorifikasi almamater yang berlebihan.
Rasa bangga terhadap sekolah atau kampus adalah sesuatu yang wajar. Namun, kebanggaan itu tidak boleh berubah menjadi kesombongan. Orientasi siswa dan mahasiswa baru hendaknya tidak hanya memperkenalkan sejarah dan prestasi institusi, tetapi juga menanamkan etika akademik, semangat melayani, penghormatan terhadap keberagaman, serta kesadaran bahwa setiap insan akademik adalah bagian dari keluarga besar bangsa Indonesia.
Almamater yang hebat bukanlah yang melahirkan pengikut fanatik, tetapi yang melahirkan alumni yang rendah hati dan bermanfaat.
Kelima, menjadikan pengabdian kepada masyarakat sebagai ukuran kematangan intelektual.
Gelar akademik akan menemukan maknanya ketika hadir di tengah masyarakat. Mahasiswa perlu dibiasakan menyelesaikan persoalan nyata, mendampingi masyarakat, membantu sekolah, memperkuat desa, membangun literasi, menjaga lingkungan, dan menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan sosial. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memberi manfaat.
Sinergi
Kelima komitmen ini tentu tidak mungkin diwujudkan hanya oleh sekolah atau perguruan tinggi. Keluarga tetap merupakan madrasah pertama. Orang tua adalah pendidik karakter yang paling awal dan paling berpengaruh.
Anak-anak belajar rendah hati bukan hanya dari nasihat, tetapi dari teladan. Mereka belajar menghormati orang lain ketika melihat ayah dan ibunya menghargai tetangga, guru, pekerja, dan siapa pun tanpa memandang kedudukan.
Demikian pula guru dan dosen. Tugas mereka bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi menjadi teladan dalam berdialog, menghargai perbedaan, dan menyelesaikan persoalan secara bijaksana. Seorang guru yang santun sedang mengajarkan kesantunan.
Seorang dosen yang rendah hati sedang mendidik kerendahan hati. Pendidikan karakter sesungguhnya lebih banyak ditransmisikan melalui keteladanan daripada melalui ceramah.
Pada saat yang sama, saya melihat Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia memiliki ruang yang sangat strategis untuk memimpin gerakan ini. Dengan jaringan cendekiawan yang tersebar di berbagai daerah dan berbagai disiplin ilmu, ICMI dapat menjadi penghubung antara dunia akademik, ulama, pemerintah, dan masyarakat.
Program seperti Sekolah Kepemimpinan Ulul Albab, mentoring karakter bagi mahasiswa, forum dialog lintas kampus, pengabdian masyarakat berbasis keilmuan, hingga pelatihan penyelesaian konflik merupakan beberapa ikhtiar yang layak dipertimbangkan.
Organisasi keagamaan dan kepemudaan seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persis, Al Washliyah, HMI, PII, PMII, IMM, KAMMI, GP Ansor, Pemuda Muhammadiyah, IPNU, IPPNU, BKPRMI, dan berbagai organisasi lainnya juga memiliki peran yang tidak kalah penting.
Masing-masing mempunyai pengalaman panjang dalam membina generasi muda. Kolaborasi antarlembaga akan jauh lebih produktif daripada berjalan sendiri-sendiri.
Sesungguhnya bangsa ini tidak sedang mengalami krisis kecerdasan. Setiap tahun lahir ribuan sarjana, ratusan doktor, inovator, peneliti, dan anak-anak muda yang mengharumkan nama Indonesia di berbagai ajang dunia.
Yang perlu kita pastikan adalah bahwa kecerdasan itu berjalan beriringan dengan kebeningan hati dan kemuliaan akhlak.
Jangan sampai sekolah dan kampus tanpa sadar menjadi tempat meng-install kesombongan, sementara Al-Qur’an justru mengajarkan ketawadhuan.
Jangan sampai ruang pendidikan melahirkan fanatisme yang memecah belah, padahal tugas pendidikan adalah mempertemukan manusia dalam persaudaraan.
Bangsa ini tidak sedang memilih antara generasi yang cerdas atau generasi yang saleh. Indonesia membutuhkan keduanya sekaligus.
Kita memerlukan generasi yang mampu membaca ayat-ayat qauliyah dalam Al-Qur’an sekaligus ayat-ayat kauniyah di alam semesta; generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kehilangan iman dan akhlak; generasi yang mampu bersaing secara sehat tanpa kehilangan rasa hormat kepada sesama; serta generasi yang memimpin dengan keteladanan, bukan dengan kesombongan.
Itulah generasi Ulul Albab yang dicita-citakan Al-Qur’an. Generasi yang akalnya tercerahkan oleh ilmu, hatinya diterangi iman, lisannya dihiasi adab, dan seluruh kemampuannya diabdikan untuk kemaslahatan umat.
Dari generasi seperti itulah, insya Allah, Indonesia akan melahirkan bukan hanya ilmuwan yang hebat, tetapi juga pemimpin yang arif; bukan hanya profesional yang kompeten, tetapi juga manusia yang dicintai karena kerendahan hati dan kemuliaan akhlaknya.
Sebab pada akhirnya, peradaban yang besar tidak hanya dibangun oleh kecerdasan, tetapi juga oleh hati yang bersih. Dan hati yang bersih itulah fondasi sejati bagi lahirnya Generasi Ulul Albab Indonesia.
Wallahu a’lam
(Penulis, pengamat sosial, bendahara ICMI Aceh, pembina Pinbuk Pusat, tinggal di Barabung Aceh Besar)
