-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Prof Fauzi Saleh: Surah Al-Kautsar Singkat, Namun Memuat Samudra Makna dan Nikmat Allah

Minggu, 09 Agustus 2026 | Agustus 09, 2026 WIB Last Updated 2026-08-09T10:23:49Z



Al-Rasyid.id | Banda Aceh – Intelektual Muslim sekaligus Guru Besar Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Fauzi Saleh, menyampaikan bahwa Surah Al-Kautsar merupakan surah yang sangat pendek, tetapi mengandung makna yang sangat luas tentang kasih sayang, karunia, dan kedekatan Allah SWT kepada hamba-Nya.


Hal tersebut disampaikan dalam kajian rutin Ahad malam, 18 Safar 1448 H bertepatan dengan 2 Agustus 2026, di Masjid Jamik Baitul Jannah, Kemukiman Tungkop, Darussalam, Aceh Besar.


Dalam pemaparannya, Prof. Fauzi menjelaskan bahwa Surah Al-Kautsar memiliki hubungan yang sangat erat dengan Surah Al-Ma’un yang berada sebelumnya dalam susunan Al-Qur’an. Menurutnya, kedua surah tersebut memperlihatkan hubungan antara nafi (peniadaan) dan isbat (penegasan), sehingga saling melengkapi dalam menjelaskan hakikat keimanan dan kepedulian sosial.


Ia mengatakan, Surah Al-Kautsar merupakan bentuk hiburan sekaligus apresiasi Allah SWT kepada Rasulullah SAW. Allah menganugerahkan kepada Nabi Muhammad SAW nikmat yang sangat banyak sebagai bukti kedekatan yang begitu istimewa antara Allah dengan Rasul-Nya.


“Allah memberikan nikmat yang sangat banyak tanpa diminta terlebih dahulu oleh Rasulullah SAW. Itulah bentuk kasih sayang dan kedekatan Allah kepada hamba pilihan-Nya,” jelasnya.


Prof. Fauzi menambahkan, umat Islam juga memiliki peluang memperoleh limpahan nikmat tersebut dengan mengikuti seluruh perintah Allah dan Rasulullah. Jalan menuju karunia Allah terbuka bagi siapa saja yang taat dan istiqamah dalam menjalankan agama.


Namun, ia mengingatkan bahwa manusia sering kali lalai mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah. Padahal Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Ibrahim: 7).


Menurutnya, makna Al-Kautsar bukan sekadar sesuatu yang banyak menurut ukuran manusia. Apa yang dianggap banyak oleh manusia sesungguhnya masih sangat sedikit di sisi Allah. Karena itu, Allah mampu melipatgandakan karunia-Nya kapan saja sesuai kehendak-Nya.


Mengenai makna Al-Kautsar sebagai telaga atau kolam di akhirat, Prof. Fauzi mengatakan hal tersebut merupakan bagian dari kenikmatan yang Allah simpan sebagai kejutan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.


“Di dalam surga Allah menciptakan sungai-sungai dan kolam-kolam yang semakin melipatgandakan kenikmatan bagi orang-orang yang taat,” ujarnya.


Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa bagi pelaku maksiat Allah menyediakan azab neraka yang sangat dahsyat. Ia menggambarkan beratnya siksa neraka sehingga manusia tidak akan mampu membayangkan kedahsyatannya.


Prof. Fauzi juga menjelaskan bahwa terdapat riwayat yang menggambarkan sebagian penghuni neraka yang telah selesai menjalani hukuman akan dipersiapkan sebelum memasuki surga melalui telaga Al-Kautsar sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya.


Selain telaga Al-Kautsar, lanjutnya, nikmat terbesar yang diberikan Allah adalah diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai pembimbing umat manusia menuju jalan yang benar.


Ia juga menyebut Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar yang tetap hidup hingga akhir zaman. Keaslian Al-Qur’an dijamin langsung oleh Allah SWT sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9).


“Agama Islam juga merupakan nikmat Allah yang sangat besar. Karena itu peluklah Islam dengan penuh keikhlasan agar memperoleh ridha Allah SWT,” pesannya.


Dalam kesempatan itu, Prof. Fauzi mengajak jamaah beribadah atas dasar kesadaran dan keikhlasan, bukan karena keterpaksaan. Ia mengutip firman Allah, “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama…” (QS. Al-Baqarah: 256), seraya menegaskan bahwa Allah memberikan kebebasan memilih, namun setiap manusia tetap bertanggung jawab atas pilihan dan amal perbuatannya.


Ia juga mengingatkan bahwa nikmat Allah kepada manusia tidak akan pernah mampu dihitung. Hal itu sebagaimana firman Allah SWT, “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl: 18).


Di akhir kajiannya, Prof. Fauzi mengingatkan jamaah agar selalu waspada terhadap godaan setan yang terus berusaha memalingkan manusia dari jalan syukur dan ketaatan kepada Allah.


Menurutnya, ukuran kemuliaan seorang mukmin di dunia maupun di akhirat sangat ditentukan oleh kualitas shalatnya.


“Karena itu Allah memerintahkan, ‘Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah’ (QS. Al-Kautsar: 2). Hidup dimulai dengan shalat, kehidupan dijaga dengan shalat, dan ketika meninggal pun umat Islam dishalatkan. Maka apabila ingin melihat keshalihan seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, lihatlah bagaimana ia menjaga shalatnya,” pungkas Prof. Fauzi.


Laporan Saif

×
Berita Terbaru Update