-->

Notification

×

Iklan

Iklan

(Bagian II) Syukur Menjaga Nikmat, Kufur Menghapus Keberkahan

Senin, 03 Agustus 2026 | Agustus 03, 2026 WIB Last Updated 2026-08-04T03:27:02Z

 


Oleh Saifuddin A. Rasyid 


Al-Rasyid.id | Apabila Al-Kautsar dimaknai sebagai limpahan karunia Allah, maka pertanyaan berikutnya adalah, mengapa masih banyak manusia yang merasa hidupnya serba kurang?


Jawabannya bukan karena Allah kurang memberi, tetapi karena manusia sering kali salah memandang nikmat. Kita lebih mudah menghitung apa yang belum dimiliki daripada mensyukuri apa yang telah dianugerahkan. Akibatnya, hati terus merasa miskin meskipun tangan menggenggam banyak kenikmatan.


Al-Qur’an menghadirkan banyak kisah agar manusia belajar dari pengalaman umat-umat terdahulu.


Lihatlah kisah Qarun. Ia adalah sosok yang dikaruniai kekayaan luar biasa. Bahkan Al-Qur’an menggambarkan bahwa kunci-kunci gudang hartanya saja harus dipikul oleh sejumlah orang yang kuat. 


Namun ketika diingatkan agar bersyukur kepada Allah, Qarun menjawab dengan penuh kesombongan,


“Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78).


Kalimat ini menjadi simbol dari kufur nikmat sepanjang zaman. Qarun tidak mengingkari keberadaan Allah, tetapi ia mengingkari bahwa seluruh keberhasilannya merupakan karunia Allah. Ia menganggap semua itu murni hasil kecerdasan dan usahanya sendiri.


Begitulah manusia ketika lupa bersyukur. Jabatan dianggap hasil kepintaran semata. Kekayaan dianggap buah kerja keras semata. Gelar akademik dianggap semata-mata hasil kecerdasan pribadi. Padahal di balik semua itu ada kesehatan, kesempatan, guru, keluarga, lingkungan, bahkan udara yang Allah sediakan tanpa pernah meminta bayaran.


Karena kesombongan itulah Allah menenggelamkan Qarun bersama seluruh hartanya ke dalam bumi. Harta yang dahulu menjadi sumber kebanggaan justru berubah menjadi saksi kebinasaannya.


Kisah berikutnya adalah kaum Saba’. Mereka hidup di sebuah negeri yang digambarkan Al-Qur’an sebagai “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”—negeri yang baik dengan Tuhan Yang Maha Pengampun (QS. Saba’: 15). 


Tanahnya subur, airnya melimpah, perdagangan berkembang, dan masyarakat hidup makmur.


Namun ketika kemakmuran itu tidak lagi melahirkan rasa syukur, Allah mencabut keberkahannya. Bendungan Ma’rib yang menjadi sumber kehidupan mereka runtuh. Kebun-kebun yang dahulu menghijau berubah menjadi tanaman berduri. Negeri yang makmur berubah menjadi pelajaran sepanjang zaman.


Allah tidak sekadar mengambil nikmat mereka. Allah mencabut keberkahan dari nikmat itu.


Inilah pelajaran yang sangat relevan bagi kehidupan modern. Sering kali Allah tidak langsung mengambil harta seseorang. Yang dicabut terlebih dahulu adalah ketenteraman. 


Hartanya tetap banyak, tetapi keluarganya tidak harmonis. Rumahnya besar, tetapi terasa sepi. Jabatan tinggi, tetapi penuh kegelisahan. Ilmu luas, tetapi tidak lagi membawa manfaat. Usaha berkembang, tetapi keberkahan menghilang.


Sebaliknya, Al-Qur’an juga menghadirkan teladan para nabi yang mampu menjaga nikmat dengan syukur.


Nabi Sulaiman AS adalah contoh seorang pemimpin yang memperoleh kekuasaan luar biasa. Beliau menguasai manusia, jin, burung, bahkan angin. 


Namun ketika melihat nikmat Allah yang begitu besar, beliau tidak berkata, “Aku hebat.” Beliau justru berdoa,


“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, serta agar aku dapat mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai.” (QS. An-Naml: 19).


Perhatikan doa ini. Nabi Sulaiman tidak meminta tambahan kerajaan. Yang beliau mohon adalah kemampuan untuk tetap bersyukur. Sebab beliau memahami bahwa menjaga nikmat jauh lebih sulit daripada memperolehnya.


Demikian pula Nabi Ayyub AS. Ketika kesehatan, harta, dan keluarganya diuji, beliau tidak pernah berhenti memuji Allah. Kesabaran dan syukurnya menjadi sebab Allah mengembalikan nikmat itu dengan lebih baik.


Di sinilah letak perbedaan antara orang beriman dan orang yang hanya mengejar dunia. Orang beriman tidak hanya bersyukur ketika memperoleh nikmat, tetapi juga tetap bersyukur ketika sedang diuji, karena ia yakin setiap ketentuan Allah mengandung hikmah.


Menariknya, setelah Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar,” ayat berikutnya langsung berbunyi,


“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2).


Mengapa bukan perintah menikmati nikmat? Mengapa bukan perintah merayakan keberhasilan?


Karena dalam pandangan Islam, ibadah adalah bentuk syukur yang paling sempurna.


Shalat bukan sekadar kewajiban, melainkan cara seorang hamba mengakui bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah. Ketika seseorang berdiri dalam shalat, ia sedang meletakkan semua kebanggaan dunia di bawah kebesaran Allah.


Barangkali inilah sebabnya Rasulullah SAW, ketika memperoleh kemenangan besar, tidak larut dalam pesta dan kemewahan, tetapi justru memperbanyak shalat dan sujud. Beliau memahami bahwa semakin besar nikmat, semakin besar pula kewajiban untuk bersyukur.


Dalam kehidupan masyarakat kita, sering kali terjadi hal yang sebaliknya. Ketika usaha maju, shalat mulai ditinggalkan karena sibuk. Ketika jabatan meningkat, waktu untuk menghadiri majelis ilmu semakin berkurang. Ketika harta bertambah, sedekah justru terasa semakin berat.


Padahal nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah perlahan-lahan dapat berubah menjadi istidraj, yakni kenikmatan yang membuat manusia semakin jauh dari Tuhannya tanpa ia sadari.


Rasulullah SAW mengajarkan bahwa melihat orang yang berada di bawah kita dalam urusan dunia akan membuat kita lebih mudah bersyukur, sedangkan dalam urusan akhirat kita diperintahkan melihat orang yang lebih baik agar terdorong meningkatkan amal.


Nasihat ini sangat penting pada era media sosial. Hari ini banyak orang kehilangan kebahagiaan bukan karena kekurangan, melainkan karena terlalu sering membandingkan hidupnya dengan orang lain. 


Kita melihat foto-foto kebahagiaan orang lain, tetapi tidak melihat perjuangan dan air mata di baliknya. Akibatnya, kita lupa bahwa setiap orang sedang memikul ujiannya masing-masing.


Bagi masyarakat Aceh, nikmat Allah sesungguhnya sangat banyak. Kita hidup di daerah yang azan berkumandang dengan bebas, masjid dan meunasah menjadi pusat kehidupan masyarakat, tradisi gotong royong masih hidup, kenduri menjadi media mempererat ukhuwah, dan nilai-nilai Islam tetap menjadi ruh kehidupan. Semua itu adalah Al-Kautsar dalam bentuk sosial yang tidak selalu dimiliki oleh masyarakat lain.


Karena itu, jangan sampai kita menjadi generasi yang hanya pandai mengeluh. Jangan sampai kita sibuk menghitung kekurangan ekonomi, tetapi lupa menghitung nikmat iman, kesehatan, keluarga, keamanan, dan kesempatan beribadah yang masih Allah berikan setiap hari.


Pada akhirnya, Surah Al-Kautsar mengajarkan bahwa syukur bukan hanya ucapan “Alhamdulillah”, tetapi sebuah cara hidup. 


Syukur tampak pada shalat yang terjaga, pada sedekah yang tidak putus, pada lisan yang santun, pada hati yang qana’ah, pada amanah yang ditunaikan, dan pada kesediaan menggunakan setiap nikmat untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain.


Sebaliknya, kufur nikmat bukan sekadar mengingkari Allah dengan lisan. Kufur nikmat terjadi ketika seseorang menggunakan kesehatan untuk bermaksiat, menggunakan ilmu untuk menipu, menggunakan jabatan untuk menzalimi, menggunakan harta untuk kesombongan, atau menggunakan waktu untuk hal-hal yang menjauhkan dirinya dari Allah.


Marilah kita berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam kufur nikmat. Hindarilah kesombongan, sifat suka mengeluh, gemar membandingkan diri dengan orang lain, berlebihan mencintai dunia, melalaikan shalat, enggan bersedekah, serta merasa bahwa semua keberhasilan semata-mata hasil usaha pribadi.


Sebaliknya, jadikan iman sebagai nikmat terbesar, shalat sebagai prioritas utama, Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, syukur sebagai karakter, sedekah sebagai kebiasaan, dan kebermanfaatan sebagai tujuan hidup. 


Sebab pada akhirnya, yang akan kita bawa menghadap Allah bukanlah banyaknya harta yang pernah kita miliki, melainkan seberapa banyak nikmat itu kita syukuri dan gunakan di jalan yang diridhai-Nya.


Barangkali selama ini kita terlalu sibuk menghitung apa yang belum Allah berikan, sehingga lupa menghitung apa yang setiap hari Allah anugerahkan. 


Kita menghitung gaji, tetapi lupa menghitung napas. Kita menghitung luas tanah, tetapi lupa menghitung langkah menuju masjid. Kita menghitung kendaraan, tetapi lupa menghitung kesempatan berbuat baik. Kita menghitung usia, tetapi lupa menghitung amal.


Padahal Allah sendiri telah menegaskan bahwa manusia tidak akan pernah sanggup menghitung nikmat-Nya. Yang Allah minta hanyalah satu: bersyukur. 


Sebab syukur bukan sekadar ucapan, melainkan cara memandang kehidupan dengan mata iman.


Semoga kita termasuk hamba-hamba yang pandai menjaga nikmat sebelum nikmat itu diambil kembali oleh Pemiliknya. 


Semoga Surah Al-Kautsar tidak hanya menjadi bacaan pendek dalam shalat, tetapi menjadi panduan hidup yang membentuk pribadi-pribadi yang rendah hati, banyak bersyukur, gemar beribadah, dan senantiasa menyadari bahwa segala yang dimiliki hanyalah titipan Allah SWT. 


Ketika kesadaran itu tumbuh, sesungguhnya kita sedang menikmati Al-Kautsar bahkan sebelum menginjakkan kaki di surga.


Wallahu a’lam 


Darussalam 19 Safar 1448, 3 Agustus 2026


(Penulis, Imumsyik masjid jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop Darussalam Aceh Besar)

×
Berita Terbaru Update