-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Menghapus Bibit Kesombongan, Menyemai Generasi Ulul Albab

Senin, 03 Agustus 2026 | Agustus 03, 2026 WIB Last Updated 2026-08-04T03:28:09Z


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Pagi tadi, selepas menunaikan shalat Subuh berjamaah di Meunasah Barabung saya dan Prof. Ilham Maulana tidak langsung beranjak dari sajadah kami masing-masing. Kami berbincang ringan beberapa saat. 


Saya kembali menyampaikan ucapan selamat secara langsung atas amanah baru yang beliau emban sebagai Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Syiah Kuala. 


Percakapan yang semula ringan itu kemudian berkembang menjadi diskusi yang cukup serius mengenai masa depan generasi muda Indonesia.


Salah satu tema yang mengemuka adalah masih maraknya perselisihan dan pertengkaran antarpelajar maupun antarmahasiswa di berbagai daerah di tanah air. Sebagian berawal dari saling ejek di media sosial, sebagian dipicu rivalitas antarsekolah, antarfakultas, atau antarkelompok. 


Tidak sedikit yang berujung pada pengeroyokan, pembakaran, penggunaan senjata tajam, hingga merenggut korban jiwa. Ironisnya, mereka adalah anak-anak yang sedang ditempa di ruang-ruang pendidikan, calon intelektual, ilmuwan, profesional, dan pemimpin bangsa.


Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apa yang sebenarnya salah?


Jawabannya tentu tidak sesederhana menyalahkan generasi muda. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang dibentuk oleh keluarga, sekolah, kampus, media, dan masyarakat. 


Karena itu, yang perlu kita evaluasi bukan hanya perilaku mereka, tetapi juga nilai-nilai yang selama ini kita tanamkan. Jangan-jangan, tanpa kita sadari, kita sedang meng-install bibit kesombongan dalam diri anak-anak kita.


Kesombongan tidak selalu tampil dalam bentuk merasa lebih kaya, lebih tampan, atau lebih pintar. Ia dapat tumbuh dalam bentuk kebanggaan kelompok yang berlebihan. 


Seorang siswa merasa sekolahnya paling hebat. Seorang mahasiswa merasa fakultasnya paling unggul. Sebuah organisasi merasa paling benar. Sebuah almamater merasa harus dibela dengan cara apa pun. 


Rasa bangga memang penting, tetapi ketika kehilangan kendali akhlak, ia berubah menjadi ’ashabiyah—fanatisme buta yang pernah diperingatkan Rasulullah SAW.


Beliau bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada ’ashabiyah, berperang karena ’ashabiyah, atau mati karena ’ashabiyah.” (HR. Abu Dawud).


Bibit itu sering kali ditanam bukan melalui pelajaran resmi, tetapi melalui budaya. Tanpa disadari, anak-anak mendengar kalimat-kalimat seperti, “Sekolah kita paling hebat”, “Kampus kita nomor satu”, “Jangan kalah dengan mereka”, atau “Tunjukkan siapa kita.” Kalimat-kalimat yang dimaksudkan untuk membangkitkan semangat itu dapat berubah menjadi pupuk bagi ego kolektif apabila tidak diimbangi dengan pendidikan tawadhu’, empati, dan penghormatan terhadap sesama.


Lama-kelamaan, identitas kelompok menjadi lebih penting daripada akhlak. Menang lebih penting daripada benar. Prestasi lebih penting daripada empati. Dari sinilah benih konflik mulai tumbuh.


Karakter 


Fenomena tawuran pelajar dan bentrokan antarmahasiswa yang berulang di berbagai kota merupakan peringatan bahwa pendidikan kita masih menghadapi pekerjaan besar dalam membangun karakter. 


Berbagai kajian pendidikan menunjukkan bahwa kekerasan di lingkungan sekolah dan kampus dipengaruhi oleh kombinasi lemahnya pendidikan karakter, budaya senioritas, tekanan kelompok sebaya, paparan kekerasan di ruang digital, serta rendahnya kemampuan menyelesaikan konflik secara damai. 


Ketika keberanian diukur dari kemampuan melukai lawan, bukan dari kemampuan mengendalikan diri, maka yang lahir bukan pemimpin, melainkan pribadi-pribadi yang mudah tersulut emosi.


Padahal Al-Qur’an menawarkan sebuah cita-cita yang jauh lebih luhur, yaitu melahirkan generasi Ulul Albab.


Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang benar-benar terdapat tanda-tanda bagi Ulul Albab, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, serta memikirkan penciptaan langit dan bumi…” (QS. Ali ’Imran: 190–191).


Menariknya, Al-Qur’an tidak mendefinisikan Ulul Albab sebagai orang yang sekadar cerdas secara akademik. Mereka adalah manusia yang memadukan dzikir dan pikir, spiritualitas dan intelektualitas, ketajaman nalar dan kelembutan hati.


Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Ulul Albab adalah mereka yang memiliki akal yang bersih sehingga mampu mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran Allah. Pengetahuan yang mereka miliki melahirkan rasa tunduk kepada Sang Pencipta, bukan kesombongan.


Sementara M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa Ulul Albab adalah pribadi yang menggunakan akalnya secara maksimal untuk menemukan kebenaran, namun hatinya tetap dipenuhi kesadaran akan kebesaran Allah. Semakin tinggi ilmunya, semakin rendah hatinya.


Inilah pendidikan yang sesungguhnya.


Sayangnya, sistem pendidikan modern sering kali lebih berhasil melahirkan anak-anak yang pandai bersaing daripada pandai bersinergi. Prestasi akademik menjadi ukuran utama keberhasilan, sedangkan pembinaan akhlak sering ditempatkan sebagai pelengkap. 


Orientasi siswa dan mahasiswa baru tidak jarang lebih banyak menonjolkan kebesaran sekolah atau kampus daripada menanamkan nilai persaudaraan, pelayanan, dan tanggung jawab sosial.


Padahal kebanggaan terhadap almamater tidak boleh berubah menjadi fanatisme. Cinta kepada organisasi tidak boleh melahirkan kebencian kepada organisasi lain. Loyalitas harus dibingkai oleh akhlak.


Tokoh pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara telah lama mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses menuntun tumbuhnya budi pekerti, pikiran, dan jasmani secara seimbang. 


Demikian pula Thomas Lickona menegaskan bahwa karakter tidak cukup diajarkan sebagai teori, tetapi harus dibangun menjadi budaya dalam seluruh ekosistem pendidikan.


Cita cita ICMI 


Pandangan ini sangat sejalan dengan cita-cita Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia sejak awal berdirinya. Di bawah kepemimpinan B. J. Habibie, ICMI membawa gagasan bahwa pembangunan bangsa harus bertumpu pada perpaduan antara iman dan takwa (imtak) dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). 


Habibie berulang kali menegaskan bahwa kecanggihan teknologi tanpa fondasi moral justru dapat menjadi sumber kerusakan. Ilmu harus melahirkan kemaslahatan, bukan keangkuhan. Kecerdasan harus melahirkan pengabdian, bukan kesombongan.


Jika demikian, maka cita-cita Ulul Albab sesungguhnya adalah cita-cita membangun manusia Indonesia yang utuh: unggul dalam ilmu, kokoh dalam iman, santun dalam akhlak, dan rendah hati dalam kepemimpinan.


Karena itu, pembenahan harus dimulai dari ruang-ruang pendidikan.


Guru tidak hanya mengajar mata pelajaran, tetapi juga menjadi teladan dalam menghargai perbedaan.


Dosen tidak hanya membimbing penelitian, tetapi juga membentuk budaya dialog dan penyelesaian konflik secara dewasa.


Sekolah perlu memperbanyak kegiatan kolaboratif lintas kelas dan lintas sekolah agar peserta didik belajar bekerja sama, bukan hanya berkompetisi.


Perguruan tinggi perlu menata kembali orientasi mahasiswa baru agar lebih menekankan kepemimpinan yang melayani, etika akademik, ukhuwah, dan pengabdian kepada masyarakat daripada sekadar glorifikasi almamater.


Keluarga pun memegang peranan yang tidak tergantikan. Anak-anak belajar tentang kerendahan hati bukan dari ceramah, melainkan dari teladan orang tua. Mereka belajar menghormati orang lain ketika melihat ayah dan ibunya menghargai tetangga, guru, pekerja, dan siapa pun tanpa memandang status sosial.


Di sisi lain, ICMI memiliki peluang besar untuk menginisiasi sebuah Gerakan Nasional Generasi Ulul Albab. Gerakan ini dapat diwujudkan melalui sekolah kepemimpinan bagi pelajar dan mahasiswa, forum dialog lintas kampus, pembinaan ilmiah berbasis akhlak, mentoring bersama ulama dan akademisi, program pengabdian masyarakat lintas disiplin ilmu, hingga pelatihan resolusi konflik berbasis nilai-nilai Islam.


Organisasi keagamaan dan kepemudaan seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persis, Al Washliyah, HMI, PII, PMII, IMM, KAMMI, Pemuda Muhammadiyah, GP Ansor, IPNU, IPPNU, BKPRMI, dan berbagai organisasi lainnya juga dapat menjadi mitra strategis dalam membangun budaya dialog, memperkuat persaudaraan, dan menanamkan kepemimpinan yang rendah hati di kalangan generasi muda.


Bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan anak-anak yang cerdas. Yang mulai langka adalah anak-anak yang rendah hati. Kita telah berhasil membangun banyak sekolah unggulan, kampus bertaraf internasional, dan pusat-pusat riset modern. 


Namun keberhasilan itu akan kehilangan makna apabila tidak diiringi dengan lahirnya manusia-manusia yang berakhlak mulia.


Install Kesombongan?


Jangan sampai sekolah dan kampus tanpa sadar menjadi tempat meng-install kesombongan, sementara Al-Qur’an justru menghendaki lahirnya generasi Ulul Albab—generasi yang tajam pikirannya, lembut hatinya, santun lisannya, kuat imannya, serta menjadikan ilmu sebagai jalan untuk melayani, bukan meninggikan diri.


Sebab masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan para pemimpinnya, tetapi juga oleh kerendahan hati mereka dalam memimpin. Dan kerendahan hati itulah yang akan melahirkan peradaban yang berilmu, beradab, dan diridhai Allah SWT.


Wallahu a’lam 


Darussalam 19 Safar 1448, 3 Agustus 2026


(Penulis, Tgk Imum Meunasah Barabung Darussalam Aceh Besar, akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, bendahara ICMI Aceh)

×
Berita Terbaru Update