Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada fenomena yang semakin sering kita saksikan di ruang media sosial. Seseorang membangun konten bukan terutama dengan gagasan, data dan argumentasi, melainkan dengan kata-kata yang keras, sindiran, cemoohan bahkan cacian terhadap orang lain yang dianggap salah atau tidak sejalan dengan jalan pikirannya.
Kadang yang diserang adalah tokoh. Kadang pemimpin. Kadang ulama. Kadang kelompok masyarakat. Bahkan tidak jarang orang yang sebenarnya tidak memiliki persoalan langsung dengan dirinya pun ikut menjadi sasaran.
Kritik tentu bukan sesuatu yang tercela. Dalam kehidupan masyarakat yang sehat, kritik justru diperlukan. Tetapi kritik memiliki adab. Kritik membahas gagasan dan perbuatan, sedangkan cacian menyerang kehormatan pribadi. Kritik berusaha memperbaiki, sementara penghinaan sering kali hanya bertujuan menjatuhkan.
Di sinilah seorang mukmin perlu memiliki kompas akhlak. Sebab media sosial boleh berubah menjadi ruang yang sangat bising, tetapi akhlak seorang Muslim tidak boleh ikut berubah hanya karena berada di balik layar.
Ketika Allah Mengajarkan Kesabaran
Al-Qur’an memberikan pedoman yang sangat indah kepada Rasulullah SAW ketika menghadapi orang-orang yang mendustakan, menentang dan menyakitinya.
Allah SWT berfirman:
وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا وَذَرْنِي وَالْمُكَذِّبِينَ أُولِي النَّعْمَةِ وَمَهِّلْهُمْ قَلِيلًا
“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang hidup dalam kemewahan, dan berilah mereka penangguhan sebentar.”
(QS. Al-Muzzammil: 10–11).
Perhatikan susunan perintah Allah.
Pertama, bersabar terhadap apa yang mereka katakan.
Kedua, meninggalkan mereka dengan cara yang baik.
Ketiga, menyerahkan urusan orang-orang yang mendustakan dan meyerang dengan kata kata kasar itu kepada Allah.
Imam al-Sa’di menjelaskan bahwa ayat ini mengandung perintah kepada Rasulullah SAW untuk bersabar terhadap ucapan orang-orang yang menyakitinya dan meninggalkan mereka dengan cara yang baik, tanpa membalas keburukan dengan keburukan.
Ini bukan ajaran pasif. Ini adalah pendidikan pengendalian diri.
Seorang mukmin boleh menjawab kritik dengan ilmu. Boleh meluruskan informasi yang keliru. Boleh membela kehormatan dan kebenaran melalui cara yang dibenarkan agama dan hukum. Tetapi ia tidak harus membalas setiap penghinaan dengan penghinaan.
Ada persoalan yang cukup dijawab dengan argumentasi. Ada persoalan yang cukup diluruskan dengan fakta. Dan ada persoalan yang justru menjadi lebih besar apabila dilayani dengan kemarahan.
Pada titik tertentu, diam adalah pilihan yang sangat beradab. Rasulullah Tidak Membalas Kekasaran dengan Kekasaran Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam hal ini.
Beliau pernah menghadapi orang-orang yang datang dengan ucapan yang mengandung penghinaan. Aisyah RA yang mendengar ucapan tersebut bereaksi keras. Namun Rasulullah SAW justru mengingatkan Aisyah agar memilih kelembutan dan meninggalkan kekasaran.
Dalam riwayat lain, ketika seorang Arab Badui menarik selendang Rasulullah SAW dengan keras hingga meninggalkan bekas pada leher beliau, kemudian meminta pemberian, Rasulullah SAW tidak membalas dengan kemarahan. Beliau justru tersenyum dan memerintahkan agar orang tersebut diberi sesuatu.
Betapa jauh perbedaan akhlak itu dengan sebagian komunikasi kita di media sosial.
Baru berbeda pendapat sedikit, sudah keluar kata-kata penghinaan. Baru berbeda pilihan, sudah muncul label-label buruk. Baru melihat potongan video, langsung membuat kesimpulan dan vonis.
Padahal Rasulullah SAW bersabda: “Bukanlah seorang mukmin orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji dan berkata kotor.” (HR. Tirmidzi).
Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda: “Mencaci seorang Muslim adalah kefasikan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kalau demikian, bagaimana mungkin seseorang merasa sedang membela agama, kebenaran atau moralitas, sementara cara yang digunakannya justru bertentangan dengan akhlak yang diajarkan agama?
Dari Kritik Menjadi Cacian
Inilah persoalan yang perlu kita bedakan secara jernih. Kritik mengatakan: “Pendapat ini perlu diperbaiki karena datanya tidak tepat.” Cacian mengatakan: “Kamu memang bodoh.”
Kritik mengatakan: “Kebijakan ini memiliki kelemahan pada aspek tertentu.” Cacian mengatakan: “Pemimpinnya tidak becus.”
Kritik menghadirkan alasan. Cacian menghadirkan penghinaan. Kritik membuka ruang dialog. Cacian menutup pintu komunikasi.
Di media sosial, bentuknya bahkan semakin beragam: membuat meme untuk mempermalukan seseorang, menggunakan nama panggilan yang merendahkan, menyebarkan potongan video tanpa konteks, mengumbar aib pribadi, menuduh tanpa bukti, membuat insinuasi, mengajak pengikut menyerang akun tertentu, sampai menggunakan kata-kata binatang, kata-kata seksual, tuduhan sesat, kafir, munafik, pengkhianat dan berbagai label berat lainnya secara serampangan.
Semua ini perlu dihindari seorang mukmin.
Allah SWT telah mengingatkan:
“Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik daripada mereka.”
(QS. Al-Hujurat: 11).
Ayat tersebut juga melarang saling mencela dan memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Betapa relevannya ayat ini dengan budaya media sosial hari ini.
Apakah Pencaci Itu Pengecut?
Pertanyaan ini menarik, tetapi jawabannya harus proporsional. Kita tidak boleh serta-merta menyebut setiap orang yang pernah berkata kasar sebagai pengecut. Manusia bisa khilaf, terpancing emosi dan kemudian menyadari kesalahannya.
Namun, ada bentuk perilaku yang patut kita renungkan: seseorang berani mencemooh dari jauh, berani menyerang dari balik layar, berani menyebarkan tuduhan tanpa memberi ruang dialog, tetapi tidak memiliki keberanian moral untuk bertemu, berdialog dan mempertanggungjawabkan ucapannya secara terbuka.
Dalam kondisi seperti itu, persoalannya bukan sekadar keberanian berbicara. Ia juga menyangkut keberanian moral.
Keberanian sejati bukan kemampuan mengeluarkan kata-kata paling kasar. Keberanian sejati adalah kemampuan menyampaikan kebenaran tanpa kehilangan akhlak.
Orang kuat bukan orang yang paling keras mencaci.
Rasulullah SAW justru memberikan ukuran kekuatan yang berbeda: “Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” “HR. Bukhari dan Muslim).
Maka kemampuan mengendalikan emosi sesungguhnya merupakan bentuk kekuatan.
Cacian Akhirnya Kembali kepada Diri Sendiri
Orang yang gemar mencaci mungkin mengira bahwa kata-katanya hanya menyakiti orang lain. Padahal cacian juga sedang membentuk dirinya sendiri.
Lidah yang terbiasa mencaci akan semakin mudah mencaci. Jari yang terbiasa mengetik penghinaan akan semakin mudah menekan tombol send tanpa berpikir panjang.
Pikiran yang terbiasa melihat orang lain sebagai musuh akan semakin sulit menemukan sisi kemanusiaan pada orang yang berbeda.
Lebih jauh lagi, budaya permusuhan di media sosial dapat menciptakan lingkaran provokasi: satu unggahan kasar melahirkan komentar kasar, kemudian dibalas dengan video baru, lalu dibagikan kembali oleh kelompok masing-masing. Akhirnya persoalan kecil menjadi konflik sosial yang lebih besar.
Di sinilah kita perlu memahami bahwa algoritma media sosial tidak selalu mendidik akhlak manusia.
Konten yang memancing kemarahan sering memperoleh perhatian besar. Karena itu, jangan sampai seseorang menjadikan kemarahan sebagai strategi mendapatkan popularitas.
Viral bukan berarti benar. Banyak komentar bukan berarti bermutu. Banyak pengikut bukan berarti mulia. Dan banyak like bukan ukuran bahwa Allah menyukai apa yang kita lakukan.
Belajar dari Para Sahabat
Para sahabat Nabi juga menunjukkan bahwa kemuliaan bukan terletak pada kemampuan membalas, tetapi pada kemampuan mengendalikan diri.
Abu Bakr al-Shiddiq RA pernah mengalami perselisihan dengan Umar bin Khattab RA. Dalam sebuah peristiwa, Abu Bakr mengakui bahwa ia sempat mengucapkan sesuatu yang membuat Umar tersinggung. Setelah itu Abu Bakr menyesal dan meminta agar Umar memaafkannya.
Ini memberikan pelajaran penting: perkataan bukan perkara kecil. Orang saleh pun ketika terlanjur mengeluarkan perkataan yang tidak pantas akan segera mengevaluasi dirinya.
Apalagi kita yang hidup di zaman ketika satu kalimat dapat disaksikan ribuan bahkan jutaan orang.
Dulu ucapan buruk mungkin berhenti di sebuah majelis. Sekarang satu cacian dapat tersimpan, disalin, dibagikan dan muncul kembali bertahun-tahun kemudian.
Karena itu, kehati-hatian dalam berbicara harus lebih besar. Jangan Biarkan Remaja Belajar Cacian dari Layar
Kepada generasi muda Muslim, pesan kita sederhana: Jangan biarkan media sosial menjadi guru akhlak kalian. Belajarlah dari Al-Qur’an. Belajarlah dari Rasulullah SAW. Belajarlah dari para ulama. Belajarlah dari orang tua dan guru yang mengajarkan adab.
Ketika menemukan konten yang sengaja memancing emosi, jangan langsung membalas. Berhenti. Baca ulang. Periksa fakta. Kendalikan emosi. Jika memang ada kesalahan, jawab dengan ilmu. Jika ada fitnah, klarifikasi dengan cara yang tepat. Jika ada pelanggaran hukum, gunakan jalur yang benar.
Tetapi jika konten itu hanya provokasi, terkadang respons terbaik adalah tidak memberinya panggung.
Inilah yang bisa kita sebut sebagai adab digital. Tidak semua hal harus dikomentari. Tidak semua provokasi harus dijawab. Tidak semua perbedaan harus menjadi permusuhan. Tidak semua orang yang berbeda pendapat harus menjadi musuh.
Menghargai Mereka yang Memilih Diam
Karena itu, kita patut memberikan apresiasi kepada para tokoh, pemimpin masyarakat dan ulama yang ketika mendapatkan cacian memilih untuk tidak membalas dengan cacian.
Mereka mungkin memiliki kemampuan untuk menjawab. Mereka mungkin memiliki pengaruh yang jauh lebih besar. Mereka mungkin mampu mengerahkan pengikut untuk membalas. Tetapi mereka memilih menahan diri.
Pilihan tersebut bukan berarti mereka lemah. Boleh jadi justru karena mereka memahami bahwa martabat tidak perlu dipertahankan dengan kehilangan akhlak.
Mereka sedang mengamalkan pesan Allah: “Washbir ’ala ma yaqulun” — bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan.
“Wahjurhum hajran jamilan” — tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik. Dan: “Wadzarni wal-mukadzdzibin” — serahkan kepada-Ku urusan orang-orang yang mendustakan dan berlaku kasar.
Tentu saja, sabar tidak berarti membiarkan kezaliman. Diam juga bukan berarti membenarkan fitnah. Ada saatnya kebenaran harus dijelaskan, kesalahan harus diluruskan dan kezaliman harus dihentikan.
Tetapi semuanya tetap membutuhkan adab, ilmu dan kebijaksanaan.
Menjaga Jari, Menjaga Jiwa
Akhirnya, kita perlu menyadari bahwa zaman telah mengubah cara manusia berbicara. Dulu lisan menjadi alat utama komunikasi.Sekarang jari-jari kita juga telah menjadi “lisan”. (Silahkan membaca opini saya sebelumnya “Ketika Jemari Menjdi Lisan”).
Apa yang dahulu keluar melalui mulut, kini keluar melalui layar. Karena itu, jari pun harus memiliki adab sebagaimana lisan.
Sebelum menulis, tanyakan: Benarkah informasi ini? Perlukah saya menyampaikannya?
Apakah cara saya menyampaikannya benar?Apakah ini kritik atau penghinaan?
Apakah saya sedang membela kebenaran atau sedang melampiaskan kemarahan?
Dan yang paling penting: Apakah saya siap mempertanggungjawabkan tulisan ini di hadapan Allah?Sebab setiap kata yang kita tulis adalah bagian dari perjalanan amal kita.
Satu kalimat dapat mendamaikan. Satu kalimat dapat memecah belah. Satu unggahan dapat menjadi pahala. Satu cacian dapat menjadi dosa yang terus mengalir selama tulisan itu dibaca dan disebarkan.
Maka ketika cacian datang, seorang mukmin tidak harus membalasnya dengan cacian. Ia boleh menjawab dengan ilmu. Ia boleh menjawab dengan ketegasan. Ia boleh menjawab dengan klarifikasi.
Tetapi ketika semua itu tidak diperlukan, ia juga boleh memilih diam. Sebab terkadang diam bukan tanda kalah. Diam adalah tanda bahwa kita tidak bersedia menyerahkan akhlak kita kepada provokasi orang lain.
Dan mungkin inilah salah satu bentuk kemenangan yang paling tinggi: orang lain kehilangan kendali atas lisannya, sementara kita tetap memegang kendali atas akhlak kita.
Bersabar atas apa yang mereka katakan, meninggalkan mereka dengan cara yang baik, dan menyerahkan urusan pembalasan kepada Allah. Itulah jalan seorang mukmin.
Wallahu a’lam
Darussalam Aceh Besar 26 Safar 1448, 10 Agustus 2026
(Penulis, Imumsyik masjid jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop Darussalam Aceh Besar)
