-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Jangan Menunda Kebaikan: 3M dan Seni Memanfaatkan Kesempatan

Minggu, 23 Agustus 2026 | Agustus 23, 2026 WIB Last Updated 2026-08-23T09:23:44Z


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada nasihat yang sederhana, tetapi semakin direnungkan justru semakin dalam maknanya: jangan menunda berbuat baik.


Pagi tadi saya membaca sebuah muhasabah Prof. Sri Suyanta yang berjudul “Jangan Menunda Berbuat Baik.” Seperti biasanya, tulisan beliau tidak sekadar mengajak membaca, tetapi mengajak berhenti sejenak untuk bercermin kepada diri sendiri.


Pesannya sederhana: setiap kesempatan yang kita peroleh hari ini untuk berbuat baik, hendaknya segera dijalankan. Jangan terlalu cepat mengatakan, “Nanti saja.” Sebab kesempatan yang datang hari ini belum tentu hadir dengan bentuk yang sama esok hari. Bahkan belum tentu kita masih memiliki kesempatan untuk melakukannya.


Membaca muhasabah tersebut, ingatan saya kemudian melayang sekitar lima belas tahun ke belakang. Saya teringat konsep 3M yang pernah saya dengar dari Aa Gym dalam kajian di Daarut Tauhiid, Bandung: Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, dan mulai saat ini.


Ternyata dua gagasan tersebut seperti dua sisi dari satu pesan yang sama: kebaikan jangan hanya diniatkan, tetapi harus diwujudkan; jangan hanya direncanakan, tetapi dimulai.


Muhasabah yang Mengingatkan Kita tentang Waktu


Salah satu kelemahan manusia adalah merasa seolah-olah masih mempunyai banyak waktu.


Kita sering mengatakan, “Besok saja.”


Besok bersedekah. Besok meminta maaf. Besok menghubungi orang tua. Besok membantu teman. Besok memperbaiki hubungan. Besok membaca Al-Qur’an. Besok memulai kebiasaan baik.


Padahal, “besok” adalah sesuatu yang belum tentu menjadi milik kita.


Yang benar-benar kita miliki adalah hari ini.


Al-Qur’an bahkan menggunakan kata yang sangat kuat ketika berbicara tentang kebaikan. Allah berfirman:


وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ


“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ’Imran: 133). 


Perintahnya bukan sekadar “berbuatlah”, tetapi “wa sāri‘ū” — bersegeralah.


Ada dimensi waktu dalam kebaikan. Ada momentum yang harus ditangkap. Ada peluang yang jika dilewatkan mungkin tidak kembali.


Karena itu, menunda kebaikan sesungguhnya bukan sekadar persoalan waktu. Ia bisa menjadi persoalan kepekaan hati.


Hati yang peka melihat kesempatan sebagai amanah. Hati yang kurang peka melihat kesempatan sebagai sesuatu yang bisa ditunda.


Di Sinilah 3M Menjadi Sangat Relevan


Ketika saya membaca muhasabah Prof. Sri Suyanta tadi pagi, saya teringat kembali kepada 3M Aa Gym yang pertama kali saya dengar dalam kajian di Daarut Tauhiid Bandung sekitar lima belas tahun lalu.


Mulai dari diri sendiri.

Mulai dari hal kecil.

Mulai saat ini.


Konsep ini bukan sekadar teknik motivasi. Ia dapat dibaca sebagai sebuah manajemen perubahan diri.


Pertama, mulai dari diri sendiri.


Kita sering berharap orang lain berubah.


Kita ingin masyarakat lebih disiplin, pemerintah lebih baik, organisasi lebih tertib, lingkungan lebih bersih, generasi muda lebih santun, dan kehidupan sosial lebih damai.


Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: sudahkah perubahan itu dimulai dari diri kita?


Dalam Islam, perubahan memang memiliki dimensi personal yang sangat kuat. Allah berfirman:


إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ


“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).


Karena itu, kebaikan tidak perlu menunggu orang lain memulainya.


Kalau ingin suasana lebih damai, mulailah dari cara kita berbicara.


Kalau ingin lingkungan lebih bersih, mulailah dari sampah yang ada di depan kita.


Kalau ingin hubungan sosial lebih baik, mulailah dengan menyapa.


Kalau ingin organisasi lebih amanah, mulailah dengan kejujuran dalam tugas yang kecil.


Kalau ingin keluarga lebih harmonis, mulailah dengan meminta maaf dan memberi perhatian.


Perubahan besar sering kali tidak dimulai dari podium. Ia dimulai dari hati dan perilaku seseorang.


Kedua, mulai dari hal kecil.


Kita kadang terlalu terpesona oleh gagasan besar sehingga lupa bahwa kehidupan dibangun dari hal-hal kecil.


Ingin menjadi orang yang dermawan, tetapi merasa harus menunggu memiliki banyak uang.


Ingin menjadi orang yang bermanfaat, tetapi merasa harus menunggu memiliki jabatan.


Ingin menjadi penulis, tetapi merasa harus menunggu memiliki waktu luang, atau menunggu pensiun hehe.


Ingin berdamai, tetapi menunggu pihak lain meminta maaf lebih dahulu.


Padahal kebaikan tidak selalu membutuhkan sumber daya yang besar.


Senyuman bisa menjadi kebaikan.

Ucapan yang menenangkan bisa menjadi kebaikan.

Mendoakan orang lain bisa menjadi kebaikan.

Memberikan tempat duduk bisa menjadi kebaikan.

Menghubungi sahabat yang sudah lama tidak disapa bisa menjadi kebaikan.

Membantu seseorang menyelesaikan persoalan sederhana juga bisa menjadi kebaikan.


Aa Gym mengingatkan bahwa perubahan besar justru perlu dimulai dari hal-hal kecil yang nyata. Prinsip 3M di Daarut Tauhiid menempatkan tindakan sederhana sebagai pintu masuk perubahan yang lebih besar. 


Bukankah gunung tersusun dari butiran tanah dan batu?


Bukankah sungai besar berasal dari aliran-aliran kecil?


Dan bukankah karakter manusia terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang?


Karena itu, jangan meremehkan kebaikan kecil.


Boleh jadi, sesuatu yang kita anggap kecil di mata manusia justru besar nilainya di sisi Allah.


Ketiga, mulai saat ini.


Inilah titik temu paling kuat antara muhasabah Prof. Sri Suyanta dengan 3M Aa Gym.

Jangan menunda. Mulai saat ini.


Rasulullah ﷺ bersabda:


احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ


“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.”


Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim nomor 2664. 


Perhatikan susunannya.


احرص — bersungguh-sungguhlah.


Kemudian:


واستعن بالله — mintalah pertolongan kepada Allah.


Lalu:


ولا تعجز — jangan menyerah, jangan menjadi lemah.


Seolah-olah Rasulullah ﷺ mengajarkan tiga langkah penting: miliki kemauan, sandarkan diri kepada Allah, kemudian bergerak.


Bukan hanya berniat.

Bukan hanya bermimpi.

Bukan hanya berdiskusi.

Tetapi bergerak.


Karena terlalu lama berada pada tahap “nanti” bisa membuat niat kehilangan tenaga.


Muhasabah dan 3M: Dari Kesadaran Menjadi Gerakan


Di sinilah saya melihat muhasabah Prof. Sri Suyanta dan 3M Aa Gym memiliki hubungan yang sangat menarik.


Muhasabah menyadarkan.

3M menggerakkan.


Muhasabah bertanya:

Apa yang sudah saya lakukan hari ini?


3M menjawab:

Mulailah dari diri sendiri.


Muhasabah bertanya:

Apa kebaikan yang bisa saya lakukan sekarang?


3M menjawab:

Mulailah dari hal kecil.


Muhasabah bertanya:

Kapan saya harus memulainya?


3M menjawab:

Mulailah saat ini.


Dengan demikian, muhasabah tanpa aksi dapat berhenti sebagai renungan, sementara aksi tanpa muhasabah dapat kehilangan arah.


Keduanya perlu dipertemukan.

Kita perlu berhenti sejenak untuk bercermin, kemudian segera melangkah.


Ulama dan Tradisi Islam tentang Jangan Menunda


Para ulama klasik sebenarnya telah lama mengingatkan manusia tentang bahaya panjang angan-angan (thūl al-amal).


Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, ketika berbicara tentang perjalanan manusia menuju Allah, berkali-kali mengingatkan pentingnya memanfaatkan waktu dan kesempatan. Waktu bagi seorang mukmin bukan sekadar sesuatu yang berlalu, tetapi modal utama kehidupan.


Imam Hasan al-Bashri juga dikenal dengan nasihat yang sangat terkenal tentang waktu: manusia pada hakikatnya adalah kumpulan hari; ketika satu hari berlalu, sebagian dari dirinya ikut berlalu.


Pesannya amat dalam: kehilangan waktu berarti kehilangan bagian dari kehidupan.


Karena itu, orang yang terus menunda kebaikan sebenarnya sedang mempertaruhkan sesuatu yang tidak dapat dibeli kembali.


Kita boleh menunda membeli sesuatu.

Kita boleh menunda perjalanan.

Kita boleh menunda banyak urusan dunia.

Tetapi jangan terlalu mudah menunda kebaikan.


Sebab kita tidak pernah benar-benar tahu apakah kesempatan itu akan datang kembali.


“Nanti” Kadang Menjadi Jembatan Menuju “Tidak Pernah”


Ada kata yang sangat sederhana tetapi sering menjadi penghalang amal: nanti.


“Nanti saya telepon.”

“Nanti saya minta maaf.”

“Nanti saya bersedekah.”

“Nanti saya datang.”

“Nanti saya bantu.”

“Nanti saya berubah.”


Masalahnya, “nanti” sering kali tidak pernah memiliki tanggal.


Ia hanya menjadi tempat untuk menyimpan niat baik yang tidak pernah diwujudkan.


Padahal ada sebuah nasihat yang masyhur dalam tradisi Islam tentang memanfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara: masa muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, waktu luang sebelum sibuk, dan hidup sebelum mati. Riwayat ini memiliki sejumlah jalur dan penilaian ulama yang berbeda, tetapi kandungan nasihatnya sangat jelas tentang pentingnya memanfaatkan kesempatan sebelum berubah. 


Maka, barangkali pertanyaan penting bagi kita setiap pagi bukan hanya:


“Apa yang akan saya kerjakan hari ini?”


Tetapi juga:


“Kebaikan apa yang sebenarnya sudah ingin saya lakukan, tetapi selama ini terus saya tunda?”


Jawaban atas pertanyaan kedua itu mungkin jauh lebih penting.


Dari Diri, Hal Kecil, dan Saat Ini Menuju Masyarakat yang Lebih Baik


Kalau 3M hanya dipahami sebagai nasihat untuk memperbaiki diri, sesungguhnya kita baru mengambil sebagian kecil manfaatnya.


Ia juga dapat menjadi prinsip perubahan sosial.


Bayangkan jika setiap orang mengatakan:


Saya mulai dari diri sendiri.

Saya mulai dari hal kecil.

Saya mulai sekarang.


Maka masyarakat tidak lagi menunggu siapa yang harus bergerak terlebih dahulu.


Seorang dosen memulai dari keteladanan.


Seorang pemimpin memulai dari integritas.


Seorang orang tua memulai dari keluarga.


Seorang mahasiswa memulai dari kedisiplinan.


Seorang pengusaha memulai dari kejujuran.


Seorang tokoh agama memulai dari akhlaknya.


Seorang warga memulai dari kepeduliannya.


Dan seorang sahabat memulai dari kesediaannya menyapa lebih dahulu.


Dari sana, kebaikan menjadi gerakan kolektif.


Bukankah bangsa yang besar pada akhirnya dibangun oleh manusia-manusia yang mau melakukan kebaikan, meskipun dimulai dari hal yang sederhana?


Jangan Menunggu Menjadi Hebat untuk Berbuat Baik


Ada satu pelajaran penting yang saya tangkap dari pertemuan gagasan ini.


Kita tidak perlu menunggu menjadi orang besar untuk melakukan kebaikan besar.


Kadang-kadang kita hanya perlu menjadi orang biasa yang mau melakukan kebaikan secara konsisten.


Satu pesan yang menenangkan.

Satu senyum.

Satu bantuan.

Satu maaf.

Satu sedekah.

Satu halaman buku.

Satu ayat Al-Qur’an.

Satu langkah menuju masjid.

Satu keputusan untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan.

Satu keberanian untuk mengatakan yang benar.


Kebaikan-kebaikan kecil itu mungkin tidak langsung mengubah dunia.

Tetapi ia mengubah diri kita.


Dan ketika diri berubah, keluarga dapat berubah.


Ketika keluarga berubah, lingkungan dapat berubah.


Ketika lingkungan berubah, masyarakat dapat berubah.


Maka perubahan besar sesungguhnya bukan dimulai dengan pertanyaan, “Apa yang bisa dilakukan semua orang?”


Tetapi:


“Apa yang bisa saya lakukan?”


Penutup: Kesempatan Adalah Amanah


Muhasabah Prof. Sri Suyanta pagi tadi mengingatkan saya kembali pada satu perkara: kesempatan bukan sekadar peluang; kesempatan adalah amanah.


Ketika hari ini kita diberi kesempatan berbuat baik, mungkin itu adalah cara Allah membuka pintu kebaikan untuk kita.


Jangan terlalu sibuk mencari kesempatan yang besar sampai lupa memanfaatkan kesempatan kecil yang sudah ada di depan mata.


Dan jangan menunggu hari esok untuk menjadi lebih baik.


Kita bisa mulai sekarang.


Mulai dari diri sendiri.

Mulai dari hal kecil.

Mulai saat ini.


Sebab bisa jadi, kebaikan kecil yang kita lakukan hari ini adalah amal yang kelak menyelamatkan kita.


Dan bisa jadi pula, kesempatan yang kita abaikan hari ini adalah kesempatan yang tidak pernah kembali.


Maka ketika hati sudah berniat baik dan jalan untuk melakukannya terbuka, jangan terlalu banyak menunggu.


Berbuatlah.

Sekarang.


Karena hidup bukan hanya tentang berapa banyak kesempatan yang datang kepada kita, tetapi berapa banyak kesempatan yang kita ubah menjadi kebaikan.


Semoga muhasabah membuat kita sadar, 3M membuat kita bergerak, dan setiap gerak kita menjadi amal yang bernilai di hadapan Allah.


Mulai dari diri.

Mulai dari yang kecil.

Mulai saat ini.


Wallahu a’lam 


Darussalam Banda Aceh,

10 Rabiul Awal 1448, 23 Agustus 2026


(Penulis, akademisi UIN Ar-Raniry)

×
Berita Terbaru Update