Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Pagi ini saya membaca dan mengomentari tulisan Prof. Sri Suyanta di blog beliau. Ada satu gagasan yang menarik perhatian saya: dengan ilmu kita menyayangi, membimbing, melindungi, dan menyelamatkan kehidupan manusia.
Dalam komentar yang kebetulan dibagikan di grup dosen UIN Ar-Raniry, Forduna, saya menambahkan satu kalimat sederhana: “Dengan ilmu kita menyayangi generasi.”
Kalimat itu terasa semakin relevan setelah tadi malam kami mendengarkan sambutan Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Mujiburrahman, menjelang pelaksanaan Zikir Kebangsaan di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, Minggu malam, 16 Agustus 2026.
Pak Rektor menyampaikan keprihatinannya terhadap adanya anak-anak remaja, yang mungkin sebagian masih seusia SMP, yang terpantau ikut dalam aksi demonstrasi setelah kegiatan zikir di Masjid Raya Baiturrahman dua hari lalu. Bahkan, menurut beliau, ada yang kemudian terlibat dalam tindakan anarkis.
Kita tentu sangat menyayangkan keadaan tersebut.
Tetapi ada satu hal yang perlu kita renungkan lebih dalam: jangan-jangan sebagian dari mereka melakukan sesuatu yang belum sepenuhnya mereka pahami akibat dan risikonya.
Seorang anak remaja mungkin mengetahui bahwa ia sedang mengikuti kerumunan atau demonstrasi. Namun, apakah ia benar-benar memahami apa itu perdamaian? Apakah ia memahami betapa mahal harga yang telah dibayar Aceh untuk memperoleh kedamaian? Apakah ia memahami bahwa satu tindakan anarkis dapat merusak ketertiban, melukai orang lain, merusak fasilitas umum, bahkan membuka kembali luka sosial yang selama ini kita berusaha sembuhkan?
Di sinilah ilmu, pendidikan dan kasih sayang generasi dewasa menemukan tempatnya.
Bukan Sekadar Menyalahkan, tetapi Membimbing
Saya menangkap pesan penting dari apa yang disampaikan Prof. Mujiburrahman. Kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa anak-anak itu salah. Kita juga perlu bertanya: mengapa mereka sampai berada di sana, siapa yang membimbing mereka, apa yang mereka pahami, dan siapa yang seharusnya hadir memberikan penjelasan kepada mereka?
Anak-anak dan remaja adalah generasi yang sedang tumbuh. Mereka memiliki energi, keberanian, rasa ingin tahu dan idealisme yang besar. Semua itu adalah modal yang sangat berharga bagi bangsa.
Namun energi tanpa ilmu dapat berubah menjadi tindakan yang tidak terarah. Keberanian tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi keberingasan. Semangat tanpa pengetahuan dapat dengan mudah dipengaruhi oleh provokasi.
Karena itu, tugas generasi dewasa bukan hanya menuntut anak-anak menjadi baik. Kita juga berkewajiban mengajarkan kepada mereka bagaimana menjadi baik.
Inilah makna “dengan ilmu kita menyayangi generasi”.
Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap proses pendidikan dan pembinaan manusia. Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
(QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang menjaga keluarga dari keburukan, tetapi juga mengandung tanggung jawab pendidikan. Menjaga anak bukan semata-mata memastikan mereka makan, sekolah dan memiliki fasilitas. Menjaga mereka juga berarti menjaga pikiran, akhlak, pergaulan, karakter dan arah kehidupannya.
Dalam konteks generasi muda, menjaga mereka berarti memastikan mereka memiliki pengetahuan yang cukup untuk membedakan antara keberanian dan kenekatan, antara kritik dan kekerasan, antara kebebasan dan anarki, antara perjuangan dan tindakan yang justru merusak kepentingan bersama.
Ilmu Harus Melahirkan Rahmah
Islam menempatkan ilmu pada posisi yang sangat tinggi. Allah berfirman:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Tetapi ilmu tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan di kepala. Ilmu harus turun menjadi sikap, akhlak dan tindakan.
Orang berilmu semestinya semakin mampu melihat persoalan secara jernih. Ia tidak mudah terseret provokasi. Ia mampu membedakan mana masalah dan mana penyelesaiannya. Ia mampu memahami bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan kemarahan.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini sangat penting bagi pendidikan generasi muda.
Kita membutuhkan generasi yang kuat. Tetapi kekuatan yang kita inginkan bukan sekadar keberanian fisik. Kita membutuhkan generasi yang kuat mengendalikan emosi, kuat menahan diri, kuat menghadapi provokasi, kuat menyampaikan kritik dengan santun dan kuat mempertahankan kebenaran tanpa merusak kedamaian.
Generasi Muda Tidak Boleh Dibiarkan Belajar dari Provokasi
Para ilmuwan pendidikan telah lama mengingatkan bahwa masa remaja merupakan fase penting dalam pembentukan identitas, nilai dan karakter seseorang. Erik Erikson, misalnya, menjelaskan masa remaja sebagai periode penting dalam pencarian dan pembentukan identitas.
Karena itu, ketika seorang remaja mencari identitas, lingkungan akan sangat menentukan.
Jika lingkungan memberikan ilmu, keteladanan dan kasih sayang, energi mereka dapat diarahkan menjadi kreativitas, kepemimpinan dan prestasi.
Sebaliknya, jika ruang kosong itu diisi oleh provokasi, kebencian dan informasi yang tidak utuh, energi yang sama dapat bergerak ke arah destruktif.
Maka jangan biarkan generasi kita belajar tentang kehidupan hanya dari potongan-potongan video, unggahan media sosial, komentar anonim dan provokasi yang tidak jelas sumbernya.
Mereka membutuhkan orang dewasa yang hadir.
Mereka membutuhkan orang tua yang mau mendengar.
Mereka membutuhkan guru yang mau menjelaskan.
Mereka membutuhkan dosen yang mau membimbing.
Mereka membutuhkan ulama yang mau mendekati dan memahami dunia mereka.
Mereka membutuhkan tokoh masyarakat yang memberikan keteladanan.
Dan mereka membutuhkan pemerintah yang melihat pembangunan generasi muda sebagai investasi peradaban, bukan sekadar urusan administratif.
Orang Tua Harus Hadir
Orang tua memiliki posisi paling dekat dengan anak. Jangan sampai orang tua baru mengetahui anaknya terlibat dalam sebuah aksi setelah muncul persoalan.
Orang tua perlu membangun komunikasi. Tanyakan kepada anak apa yang mereka lihat, apa yang mereka baca, siapa teman mereka, apa yang mereka pikirkan dan apa yang membuat mereka tertarik mengikuti suatu kegiatan.
Anak yang sering diajak berdialog akan lebih mudah menerima nasihat.
Jangan hanya berkata, “Jangan lakukan itu!”
Tetapi jelaskan: mengapa tidak boleh, apa akibatnya, dan apa pilihan yang lebih baik.
Itulah pendidikan.
Sekolah, Kampus dan Ulama Harus Membimbing
Sekolah dan kampus juga tidak boleh hanya menjadi tempat transfer ilmu akademik. Lembaga pendidikan harus menjadi ruang pembentukan karakter kewargaan.
Generasi muda harus diajarkan bahwa menyampaikan pendapat adalah hak, tetapi hak itu memiliki tanggung jawab. Demokrasi membutuhkan kebebasan, tetapi kebebasan membutuhkan etika. Kritik diperlukan, tetapi kritik tidak harus disertai kekerasan.
Para ulama dan dai juga memiliki peran yang sangat strategis. Anak-anak muda harus dirangkul, bukan dijauhi. Dunia mereka perlu dipahami agar pesan agama dapat disampaikan dengan bahasa yang mereka mengerti.
Allah mengajarkan:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik…”
(QS. An-Nahl: 125)
Kata hikmah menjadi sangat penting. Membimbing generasi bukan sekadar berbicara kepada mereka, tetapi memahami keadaan mereka sebelum memberikan arahan.
Mengisi Kemerdekaan dengan Menjaga Perdamaian
Momentum 81 tahun Kemerdekaan Indonesia seharusnya menjadi kesempatan untuk mengajarkan kepada generasi muda bahwa kemerdekaan bukan hanya terbebas dari penjajahan.
Kemerdekaan juga berarti memiliki kemampuan untuk hidup secara bertanggung jawab.
Demikian pula dengan perdamaian Aceh.
Damai bukan sekadar tidak adanya perang. Damai adalah keadaan ketika masyarakat mampu menyelesaikan perbedaan tanpa kekerasan, menghormati hak orang lain, menjaga ketertiban dan membangun masa depan bersama.
Karena itu, anak-anak Aceh perlu mengetahui sejarah damai Aceh. Mereka perlu memahami bahwa perdamaian yang hari ini mereka nikmati bukan sesuatu yang turun begitu saja dari langit. Ada perjalanan panjang, ada air mata, ada kehilangan, ada pengorbanan dan ada kesediaan banyak pihak untuk memilih jalan damai.
Jika mereka memahami itu, insyaallah mereka akan lebih menghargai perdamaian.
Dan jika mereka belum memahami, tugas kita adalah menjelaskannya.
Bukan memarahi mereka.
Bukan melabeli mereka.
Bukan pula membiarkan mereka. Tetapi membimbing mereka.
Mari Menyayangi Generasi dengan Ilmu
Saya kira inilah pesan penting dari perjumpaan dua gagasan yang saya baca dan dengar pagi dan malam tadi: gagasan Prof. Sri Suyanta tentang ilmu yang melahirkan kasih sayang dan keprihatinan Prof. Mujiburrahman terhadap anak-anak muda yang terseret dalam tindakan anarkis.
Keduanya bertemu pada satu titik: generasi harus diselamatkan dengan ilmu dan kasih sayang.
Kita tidak boleh kehilangan generasi hanya karena kita gagal memahami mereka.
Kita tidak boleh membiarkan anak-anak muda menghabiskan energi dan keberaniannya untuk tindakan yang merusak masa depan mereka sendiri.
Mari kita hadir bersama.
Orang tua membimbing anak.
Guru mendidik murid.
Dosen membina mahasiswa.
Ulama menuntun umat.
Tokoh masyarakat memberi teladan.
Pemerintah menyediakan ruang tumbuh yang sehat.
Dan kita semua mengajarkan kepada mereka bahwa kemerdekaan harus diisi dengan karya, bukan kerusakan; perbedaan diselesaikan dengan dialog, bukan kekerasan; keberanian dikendalikan dengan ilmu; dan kehidupan bersama dirawat dengan akhlak.
Sebab pada akhirnya, menyayangi generasi bukan hanya memberi mereka apa yang mereka inginkan, tetapi memberikan ilmu yang mereka perlukan untuk memilih jalan kehidupan yang benar.
Dengan ilmu kita menyayangi.
Dengan ilmu kita membimbing.
Dengan ilmu kita melindungi.
Dengan ilmu kita menyelamatkan.
Dan dengan ilmu pula kita menyiapkan generasi yang akan menjaga kemerdekaan dan mewariskan perdamaian kepada generasi sesudahnya.
Wallahu a’lam
Darussalam 4 Rabiul Awal 1448, 17 Agustus 2026
(Penulis, pengamat sosial dan keislaman, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, bendahara ICMI Aceh)
