Al-Rasyid.id | BANDA ACEH — Dunia modern hari ini sibuk berbicara tentang hak pekerja, perlindungan perempuan, kesetaraan manusia, perlindungan hewan, kelestarian lingkungan, perdamaian, hingga pentingnya keluarga yang harmonis. Namun, umat Islam memiliki alasan kuat untuk bertanya: bukankah sebagian besar nilai itu telah diajarkan dan dipraktikkan Rasulullah Muhammad SAW lebih dari 14 abad yang lalu?
Pertanyaan reflektif itu mengemuka dalam khutbah Jumat di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Jumat, 28 Agustus 2026, bertepatan dengan 15 Rabiul Awal 1448 Hijriah.
Khatib Dr Agustin Hanapi, dosen Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, mengangkat tema “Meneladani Kemuliaan dan Peradaban Rasulullah SAW.”
Mengawali khutbahnya, Dr Agustin mengingatkan jamaah tentang firman Allah SWT dalam Surah Al-Ahzab ayat 21 bahwa pada diri Rasulullah SAW terdapat uswatun hasanah, teladan terbaik bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan keselamatan di akhirat.
Menurutnya, momentum Rabiul Awal dan peringatan Maulid Nabi seharusnya tidak berhenti pada kemeriahan acara, pembacaan selawat, atau pengisahan sejarah kelahiran Rasulullah SAW.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana umat Islam membawa keteladanan Rasulullah ke dalam kehidupan nyata.
Bukan Sekadar Nabi yang Dicintai, tetapi Nabi yang Diteladani
Dr Agustin mengutip penelitian Michael Hart pada era 1970-an yang menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah dunia.
Yang menarik, kata dia, Hart merupakan ilmuwan non-Muslim. Penempatan Rasulullah SAW di posisi teratas bukan semata-mata karena beliau memiliki moral pribadi yang luhur, tetapi karena dampak luar biasa yang ditimbulkan oleh kepemimpinan beliau terhadap perubahan peradaban manusia.
Rasulullah SAW hadir ketika masyarakat berada dalam kehidupan yang sarat ketidakadilan dan diskriminasi. Beliau kemudian membawa manusia kepada tatanan kehidupan yang menempatkan manusia pada martabatnya.
“Pada zaman Jahiliyah, manusia tidak memanusiakan manusia. Tetapi begitu Muhammad SAW hadir, kita semua menjadi sederajat; tidak ada yang membedakan satu sama lain kecuali ketakwaan di sisi Allah SWT,” ujar Dr Agustin.
Di sinilah, menurutnya, letak kebesaran Rasulullah SAW. Beliau bukan hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga membangun manusia dan peradaban.
Ketika Dunia Memuji Mandela, Rasulullah Telah Memaafkan Thaif
Dr Agustin kemudian membawa jamaah melihat satu per satu keteladanan Rasulullah SAW yang terasa sangat aktual dengan persoalan dunia hari ini.
Dunia modern, misalnya, begitu mengagumi Nelson Mandela karena sikap pemaafnya setelah mengalami penindasan. Tetapi Rasulullah SAW, kata Dr Agustin, telah memperlihatkan keteladanan tersebut jauh sebelumnya.
Peristiwa Thaif menjadi salah satu bukti.
Rasulullah SAW datang menyampaikan dakwah, tetapi justru mendapat penolakan, cacian dan lemparan batu hingga tubuh beliau terluka.
Namun, Rasulullah tidak memilih balas dendam.
“Beliau dilempar dan disakiti, tetapi beliau justru memaafkan mereka,” kata Dr Agustin.
Pesannya sangat relevan dengan zaman ketika perbedaan pendapat sering berubah menjadi permusuhan, kritik dibalas dengan penghinaan, dan kesalahan kecil dengan mudah dibalas melalui media sosial.
Jika Rasulullah yang berada dalam posisi sangat teraniaya saja mampu memaafkan, mengapa umatnya begitu mudah menyimpan dendam?
Hak Buruh, Hewan dan Lingkungan Bukan Barang Baru
Khutbah Dr Agustin juga menyinggung persoalan hak pekerja yang sampai hari ini masih menjadi isu sosial dan ekonomi.
Rasulullah SAW telah mengingatkan umatnya agar hak pekerja diberikan secara adil, bahkan sebelum keringatnya mengering.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga tentang keadilan dalam hubungan antarmanusia.
Begitu pula perlindungan terhadap hewan.
Di tengah kampanye dunia modern tentang animal welfare, Rasulullah SAW telah mengajarkan agar hewan tidak disiksa, tidak dibiarkan kelaparan, dan diperlakukan secara baik. Bahkan dalam penyembelihan, Islam mengajarkan agar dilakukan dengan cara yang tidak menimbulkan penderitaan yang tidak perlu.
Lingkungan pun demikian.
Ketika dunia hari ini sibuk menghadapi illegal logging, kerusakan hutan, pencemaran dan krisis ekologis, Rasulullah SAW telah mengajarkan umatnya untuk tidak merusak alam secara sembarangan.
Artinya, Islam tidak datang setelah dunia modern menemukan kesadaran ekologis. Islam telah membawa kesadaran itu sejak awal.
Rasulullah Tidak Hanya Bicara tentang Perempuan, tetapi Memuliakannya
Dalam persoalan relasi laki-laki dan perempuan, Dr Agustin juga mengingatkan keteladanan Rasulullah SAW.
Di tengah maraknya pembicaraan tentang perlindungan perempuan dan pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, Rasulullah SAW telah memberikan ukuran moral yang sangat sederhana tetapi mendalam:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.”
Bagi Dr Agustin, pesan tersebut tidak boleh berhenti sebagai kutipan hadis.
Ia harus menjadi ukuran perilaku seorang suami di dalam rumah.
Rasulullah SAW bahkan memberi contoh dengan melakukan pekerjaan rumah tangga, memperbaiki pakaian dan alas kaki, serta membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.
Kemuliaan seorang suami, dengan demikian, bukan terletak pada seberapa keras ia memerintah keluarganya, tetapi seberapa baik ia memperlakukan keluarganya.
Rasulullah SAW juga menghargai pendapat istri dan bermusyawarah dengan mereka dalam persoalan-persoalan penting.
Ini menunjukkan bahwa keluarga dalam perspektif Islam bukan ruang kekuasaan sepihak, melainkan ruang kasih sayang, penghormatan dan musyawarah.
Masalah Kita: Mengaku Cinta, tetapi Belum Serius Meneladani
Di sinilah khutbah Dr Agustin terasa menyentil.
Menurutnya, umat Islam tidak kekurangan slogan tentang kecintaan kepada Rasulullah SAW. Selawat berkumandang, Maulid diperingati, nama Nabi disebut dalam berbagai majelis.
Namun pertanyaan yang lebih penting adalah:
Seberapa jauh akhlak Rasulullah SAW hadir dalam perilaku kita?
Kita mengaku mencintai Rasulullah, tetapi masih mudah marah.
Kita mengaku mengikuti Rasulullah, tetapi terkadang hak orang lain kita abaikan.
Kita mengaku mencintai Nabi yang sangat menyayangi keluarga, tetapi masih ada rumah tangga yang dipenuhi pertengkaran dan kekerasan.
Kita memuji Rasulullah yang menjaga lingkungan, tetapi masih membuang sampah sembarangan dan merusak alam.
Kita bangga menyebut nama Rasulullah, tetapi belum tentu menjadikan kejujuran, kesederhanaan, kasih sayang dan keadilan beliau sebagai karakter kehidupan.
Maka, ukuran cinta kepada Rasulullah bukan hanya seberapa sering nama beliau kita sebut, tetapi seberapa banyak akhlak beliau yang hidup dalam diri kita.
Generasi Muda, Jangan Salah Memilih Idola
Dr Agustin secara khusus mengingatkan generasi muda yang hari ini begitu mudah mengidolakan pemain sepak bola, atlet, artis, selebritas maupun tokoh-tokoh fiktif dari film dan drama.
Ia tidak mempersoalkan seseorang mengagumi prestasi manusia lain. Tetapi umat Islam, katanya, jangan sampai kehilangan figur utama yang semestinya menjadi teladan kehidupan.
Karena itu, ia mengajak keluarga dan generasi muda memperbanyak membaca sirah nabawiyah serta memperbanyak selawat kepada Rasulullah SAW.
Dari sana, anak-anak tidak hanya mengenal nama Muhammad SAW, tetapi mengenal bagaimana beliau menjadi manusia yang jujur, pemimpin yang adil, suami yang penyayang, ayah yang penuh kasih, tetangga yang baik, pedagang yang amanah, pemimpin yang pemaaf dan pembangun peradaban.
Jangan sampai anak-anak kita hafal nama banyak selebritas, tetapi asing dengan perjalanan hidup Rasulullah SAW.
Maulid Harus Mengubah Perilaku
Dr Agustin akhirnya mengajak jamaah menjadikan Rabiul Awal sebagai momentum perubahan.
Maulid Nabi jangan hanya menjadi agenda tahunan yang selesai ketika lampu panggung dimatikan dan kenduri selesai.
Maulid harus masuk ke rumah, ke kampus, ke pasar, ke kantor, ke ruang publik dan ke kehidupan sosial kita.
Sebab, Rasulullah SAW tidak hanya meninggalkan sejarah untuk dikenang, tetapi juga akhlak untuk diamalkan dan peradaban untuk dilanjutkan.
Jika dunia hari ini sedang mencari jalan keluar dari berbagai krisis—krisis moral, keluarga, lingkungan, kemanusiaan, ketidakadilan dan konflik—umat Islam sesungguhnya memiliki warisan keteladanan yang sangat kaya.
Warisan itu bukan sekadar teori.
Ia pernah hidup dalam sosok Muhammad bin Abdullah SAW.
Karena itu, pesan terpenting dari momentum Maulid bukan sekadar “mari mencintai Rasulullah”, tetapi lebih jauh:
Mari buktikan cinta itu dengan mengikuti Rasulullah SAW.
Sebab, Rasulullah SAW tidak membutuhkan kita sekadar mengaguminya. Kitalah yang membutuhkan keteladanan beliau untuk menyelamatkan akhlak, keluarga, masyarakat dan peradaban kita.
Laporan Saif
