Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Jumat Subuh, 28 Agustus 2026, bertepatan dengan 15 Rabiul Awal 1448 Hijriyah, saya kembali mendapatkan pengingat yang sangat berharga dari tausiyah Tgk Umar Ismail SAg di Masjid Al-Ishlahiyah Lambhuk, Banda Aceh. Pendakwah yang dekat di hati umat itu mengajak jamaah menyelami kemuliaan Rasulullah Muhammad SAW dan bagaimana seharusnya umat membuktikan kecintaannya kepada Baginda Nabi.
Pesan tersebut terasa semakin relevan karena kita sedang berada dalam suasana bulan Maulid. Masjid-masjid semarak dengan shalawat, zikir, ceramah dan kisah perjalanan hidup Rasulullah SAW. Namun, ada satu pertanyaan penting yang patut kita ajukan kepada diri sendiri:
Setelah kita mengatakan cinta kepada Rasulullah, apa yang benar-benar berubah dalam hidup kita?
Pertanyaan ini penting karena cinta kepada Nabi tidak seharusnya berhenti pada perasaan, ucapan dan perayaan. Cinta harus mempunyai konsekuensi. Ia harus membawa kita kepada ittiba’, melahirkan ketaatan, dan menumbuhkan harapan untuk memperoleh syafaat beliau.
Tiga kata ini—ittiba’, taat dan syafaat—seperti tiga mata rantai yang tidak boleh dipisahkan.
Cinta harus dibuktikan dengan ittiba’
Al-Qur’an memberikan ukuran yang sangat jelas tentang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
“Katakanlah (Muhammad), jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imran: 31).
Perhatikan kata fattabi’uni—ikutilah aku.
Di sinilah Al-Qur’an mengajarkan bahwa cinta bukan sekadar klaim. Ibnu Katsir dalam tafsir ayat ini menjelaskan bahwa orang yang mengaku mencintai Allah harus mengikuti syariat dan jalan Nabi Muhammad SAW.
Maka ittiba’ bukan sekadar mengenakan pakaian tertentu, mengucapkan shalawat, atau menghadiri peringatan Maulid. Ittiba’ adalah menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam ibadah, akhlak, keluarga, muamalah, kejujuran, keadilan, kasih sayang, kesabaran dan seluruh kehidupan.
Rasulullah SAW bukan hanya tokoh yang kita kagumi. Beliau adalah uswah hasanah, teladan yang kita ikuti.
Karena itu, Maulid semestinya membuat kita bertanya: sudah sejauh mana sunnah Rasulullah hadir dalam perilaku kita?
Taat: ketika cinta berubah menjadi kepatuhan
Ittiba’ kemudian harus melahirkan taat.
Allah SWT berfirman:
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
“Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh, dia telah menaati Allah.” (QS. An-Nisa: 80).
Ayat ini menempatkan ketaatan kepada Rasulullah SAW dalam posisi yang sangat penting. Mengikuti Nabi bukan pilihan tambahan bagi seorang Muslim, melainkan bagian dari ketaatan kepada Allah.
Allah bahkan kembali menegaskan:
“Taatilah Allah dan Rasul.” (QS. Ali Imran: 32).
Maka ukuran cinta kepada Nabi bukan hanya seberapa sering nama beliau kita sebut, tetapi seberapa rela kita menundukkan keinginan diri ketika berhadapan dengan tuntunan beliau.
Di sinilah tantangan kita menjadi semakin berat.
Kita hidup dalam zaman ketika manusia sangat mudah mengikuti sesuatu yang sedang viral, tetapi tidak selalu mudah mengikuti sesuatu yang benar. Algoritma media sosial kadang lebih kita dengarkan daripada nasihat ulama. Tren lebih cepat kita tiru daripada sunnah Nabi. Figur publik lebih cepat kita idolakan daripada Rasulullah SAW.
Kita dapat mengetahui apa yang sedang populer di dunia hanya dalam hitungan detik, tetapi belum tentu mengetahui hadis Nabi yang seharusnya menjadi pedoman hidup.
Kita rajin memperingati Maulid, tetapi apakah kita juga rajin memperbaiki kejujuran?
Kita rajin bershalawat, tetapi apakah lisan kita masih mudah menyakiti orang lain?
Kita mengaku mencintai Nabi yang sangat amanah, tetapi apakah amanah sudah menjadi karakter kita?
Kita mengagumi Nabi yang penuh kasih sayang, tetapi apakah rumah tangga, lingkungan kerja dan kehidupan sosial kita telah dipenuhi kasih sayang?
Di sinilah Maulid harus naik kelas: dari seremoni menjadi transformasi.
Syafaat: harapan yang harus dijemput dengan iman
Kemudian ada kata ketiga: syafaat.
Umat Islam memiliki keyakinan bahwa Rasulullah SAW akan mendapatkan kedudukan mulia untuk memberikan syafaat pada hari kiamat. Allah menyebut kedudukan itu sebagai Maqam Mahmud.
Dalam hadis sahih riwayat Bukhari, Nabi SAW menggambarkan bagaimana manusia pada hari kiamat mencari nabi demi nabi untuk memohon syafaat, hingga akhirnya permohonan itu sampai kepada Rasulullah SAW. Pada saat itulah beliau memperoleh kedudukan terpuji tersebut.
Bahkan Rasulullah SAW bersabda bahwa pada hari kiamat beliau akan memberikan syafaat dan memohon kepada Allah agar orang-orang beriman dimasukkan ke dalam surga.
Betapa besar harapan itu.
Tetapi ada satu prinsip yang tidak boleh dilupakan: syafaat adalah milik dan hak Allah, dan hanya terjadi dengan izin-Nya.
Karena itu, berharap syafaat Rasulullah SAW tidak berarti kita boleh hidup semaunya, lalu merasa akan diselamatkan hanya karena mengaku umat Nabi.
Justru hadis memberikan petunjuk tentang siapa yang paling beruntung mendapatkan syafaat beliau. Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang paling berbahagia mendapatkan syafaatnya pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan La ilaha illallah dengan ikhlas dari hatinya.
Artinya, syafaat tidak boleh dipisahkan dari tauhid, keikhlasan dan iman.
Bahkan Rasulullah SAW mengajarkan amalan yang sangat praktis untuk memperoleh syafaat: setelah mendengar azan, bershalawat kepada beliau dan memohon kepada Allah agar memberikan al-wasilah kepada Nabi. Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan, siapa yang memohon al-wasilah untuk Rasulullah SAW, ia mendapatkan syafaat beliau.
Jadi, syafaat bukan sesuatu yang kita tunggu dengan pasif. Kita menjemputnya dengan iman, tauhid, shalawat, ittiba’ dan ketaatan.
Jangan menjadikan syafaat sebagai alasan untuk tidak taat
Di sinilah kita harus berhati-hati.
Ada kekeliruan cara berpikir ketika seseorang berkata, “Saya mencintai Nabi dan berharap syafaatnya,” tetapi pada saat yang sama tidak peduli dengan perintah Allah, tidak mengikuti sunnah, meremehkan akhlak, bahkan sengaja mempertahankan kemaksiatan.
Cinta tanpa ittiba’ adalah klaim. Ittiba’ tanpa ketaatan adalah kelemahan. Dan berharap syafaat tanpa iman serta amal saleh adalah harapan yang harus dikoreksi.
Syafaat adalah rahmat, bukan tiket untuk bebas dari tanggung jawab.
Justru semakin besar cinta kita kepada Nabi, seharusnya semakin besar pula rasa malu kita untuk menyelisihi ajaran beliau.
Tantangan umat hari ini: banyak idola, sedikit teladan
Umat Islam hari ini menghadapi tantangan yang jauh berbeda dari masa lalu.
Anak-anak kita tumbuh di tengah banjir informasi. Mereka mengenal banyak tokoh melalui layar, mengikuti gaya hidup yang datang dari berbagai penjuru dunia, dan setiap hari berhadapan dengan jutaan konten.
Persoalannya bukan sekadar teknologi. Persoalan yang lebih dalam adalah siapa yang menjadi teladan?
Jika anak-anak lebih mengenal gaya hidup selebritas daripada akhlak Rasulullah SAW, kita perlu bertanya kembali tentang pendidikan kita.
Jika generasi muda lebih hafal slogan influencer daripada hadis Nabi, kita harus memperkuat kembali pendidikan sirah.
Jika masyarakat lebih cepat percaya kepada informasi viral daripada nasihat ulama yang kredibel, kita perlu membangun kembali budaya ilmu.
Dan jika Maulid hanya menjadi kalender tahunan tanpa perubahan akhlak, kita perlu melakukan introspeksi bersama.
Karena itu, tantangan terbesar kita bukan kekurangan acara keagamaan. Kita justru membutuhkan kedalaman penghayatan dan konsistensi pengamalan.
Bagaimana memastikan kita tetap berada di “track” Rasulullah?
Ada beberapa langkah sederhana yang menurut saya penting dilakukan.
Pertama, kenali Rasulullah sebelum mengaku mencintai beliau.
Pelajari sirah, hadis, akhlak, perjuangan, keluarga dan kehidupan beliau. Cinta tumbuh dari pengenalan.
Kedua, jadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai kompas.
Jangan menjadikan selera pribadi, tren media sosial atau pendapat tokoh tertentu sebagai ukuran utama kebenaran. Belajar kepada ulama yang memiliki ilmu dan sanad keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ketiga, mulai ittiba’ dari akhlak.
Jujur dalam pekerjaan. Amanah dalam jabatan. Santun dalam berbicara. Adil dalam mengambil keputusan. Menyayangi keluarga. Menghormati tetangga. Tidak mudah memfitnah. Tidak gemar mencela.
Inilah sunnah yang harus terasa dalam kehidupan.
Keempat, perkuat ketaatan kepada Allah.
Jaga shalat, zakat, puasa, membaca Al-Qur’an, menjauhi yang haram, menjaga hak manusia dan memperbanyak amal saleh.
Kelima, hidupkan shalawat setiap hari.
Shalawat jangan hanya ramai pada bulan Maulid. Jadikan ia bagian dari kehidupan sepanjang tahun. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang bershalawat kepada beliau sekali, Allah memberikan shalawat kepadanya sepuluh kali.
Keenam, ajarkan cinta Nabi kepada keluarga dan generasi muda melalui keteladanan.
Jangan hanya menyuruh anak mencintai Nabi. Perlihatkan bagaimana cinta itu bekerja: berkata jujur, menghormati orang tua, menyayangi yang lemah, menjaga kebersihan, menepati janji dan tidak menyakiti orang lain.
Ketujuh, jangan hanya berharap syafaat—persiapkan diri untuk layak mendapatkan syafaat.
Perbanyak iman, tauhid, amal saleh, shalawat dan ittiba’. Kita tidak memiliki kepastian tentang nasib kita di akhirat, tetapi kita memiliki kesempatan untuk terus memperbaiki diri.
Maulid harus membawa kita lebih dekat kepada Nabi
Akhirnya, mungkin inilah pesan terpenting dari momentum Maulid tahun ini.
Jangan sampai kita hanya merayakan kelahiran Nabi, tetapi tidak mengikuti ajaran Nabi.
Jangan sampai kita memperbanyak shalawat, tetapi mengurangi ketaatan.
Jangan sampai kita mengharap syafaat, tetapi enggan melakukan ittiba’.
Dan jangan sampai kita mengaku mencintai Rasulullah, tetapi akhlak kita justru jauh dari akhlak beliau.
Tausiyah Tgk Umar Ismail tentang kemuliaan Rasulullah SAW seharusnya menjadi pintu masuk untuk memahami cinta kepada Nabi secara lebih utuh.
Cinta melahirkan ittiba’.
Ittiba’ melahirkan taat.
Taat menumbuhkan harapan akan rahmat dan syafaat.
Dan semuanya bermuara kepada satu tujuan: menjadi umat Nabi Muhammad SAW yang bukan hanya pandai menyebut namanya, tetapi juga berusaha hidup dalam cahaya ajaran dan keteladanan beliau.
Semoga pada momentum Maulid ini kita tidak hanya bertanya, “Seberapa meriah kita memperingati kelahiran Nabi?”
Tetapi lebih dalam lagi:
“Seberapa jauh kita mengikuti Nabi?”
“Seberapa sungguh kita menaati Nabi?”
Dan kelak, ketika berdiri di hadapan Allah SWT, semoga kita termasuk orang-orang yang layak berharap:
“Ya Rasulullah, kami mencintaimu, kami berusaha mengikuti jejakmu, dan kami sangat berharap memperoleh syafaatmu.”
Allahumma shalli ’ala Sayyidina Muhammad wa ’ala ali Sayyidina Muhammad. ﷺ
Wallahu a’lam
Darussalam 15 Rabiul Awal 1448, 28 Agustus 2026
(Penulis, akademisi
UIN Ar-Raniry)
Foto: Tgk Umar Ismail berjubah biru jas hitam, penulis berkoko merah
