Al-Rasyid.id | BANDA ACEH — Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Mujiburrahman, mengajak seluruh keluarga besar kampus untuk mensyukuri nikmat kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus merawat perdamaian Aceh melalui dzikir dan doa.
Pesan tersebut disampaikan Prof. Mujiburrahman dalam sambutannya pada acara Dzikir Kebangsaan dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, yang digelar di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Ahad malam, 16 Agustus 2026 M, bertepatan dengan 3 Rabiul Awal 1448 H.
Dzikir kebangsaan tersebut diikuti keluarga besar UIN Ar-Raniry, mulai dari unsur pimpinan, sivitas akademika, dosen, tenaga kependidikan hingga jamaah masjid. Dzikir dan doa dipimpin oleh Al-Mukarom Ustadz Jamhuri Ramli bersama tim Zawiyah Nurun Nabi.
Dalam sambutannya, Prof. Mujiburrahman menyampaikan bahwa kegiatan dzikir dan doa kebangsaan merupakan bagian dari instruksi Menteri Agama Republik Indonesia yang dilaksanakan secara serentak di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) di seluruh Indonesia.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya dilaksanakan oleh perguruan tinggi keagamaan Islam, tetapi juga oleh perguruan tinggi keagamaan Hindu, Buddha, dan Kristen dengan pola sesuai tradisi keagamaan masing-masing.
Dzikir kebangsaan menjadi momentum untuk mensyukuri perjalanan panjang bangsa Indonesia yang tahun ini memasuki usia 81 tahun kemerdekaan. Syukur tersebut tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui doa, pengabdian, kepedulian sosial dan kontribusi nyata bagi bangsa.
“Dzikir dan doa kebangsaan ini kita laksanakan sebagai wujud rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia dan perdamaian Aceh yang telah berusia 21 tahun,” ujar Prof. Mujiburrahman dalam sambutannya.
Ia menegaskan, kemerdekaan dan perdamaian merupakan dua nikmat besar yang harus dijaga dan diisi dengan pembangunan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Perdamaian sebagai Modal Pembangunan
Prof. Mujiburrahman menyampaikan bahwa pembangunan bangsa membutuhkan suasana daerah yang aman, damai dan tenteram. Karena itu, perdamaian Aceh yang telah terpelihara selama 21 tahun harus menjadi modal penting untuk membangun masa depan Aceh.
“Bangsa hanya bisa dibangun jika daerah dalam kondisi damai, aman dan tenteram,” tegasnya.
Menurutnya, perdamaian tidak boleh hanya dipandang sebagai sebuah peristiwa sejarah, tetapi harus menjadi nilai yang terus dirawat dan diwariskan kepada generasi muda.
Perdamaian harus melahirkan ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk membangun kehidupan yang lebih baik, meningkatkan pendidikan, mengembangkan ekonomi, memperkuat persaudaraan dan meningkatkan kesejahteraan.
Dalam konteks tersebut, kemerdekaan juga tidak cukup dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan. Makna kemerdekaan harus dirasakan masyarakat dalam kehidupan nyata melalui keamanan, kesejahteraan, keadilan dan kesempatan untuk berkembang.
“Substansi kemerdekaan adalah ketika rakyat benar-benar merdeka dalam seluruh aspek kehidupannya,” demikian pesan yang disampaikan dalam sambutan tersebut.
Diisi dengan Karya dan Pengabdian
Karena itu, Prof. Mujiburrahman mengajak seluruh generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk mengisi kemerdekaan dengan ilmu pengetahuan, karya, kreativitas dan pengabdian kepada masyarakat.
Kemerdekaan, menurutnya, harus melahirkan tanggung jawab. Generasi penerus tidak hanya menikmati hasil perjuangan para pendahulu, tetapi juga memiliki kewajiban menjaga persatuan, kedamaian dan membangun masa depan bangsa.
Melalui dzikir dan doa kebangsaan, keluarga besar UIN Ar-Raniry memohon kepada Allah SWT agar perdamaian Aceh terus menjadi landasan pembangunan yang bermartabat.
Doa juga dipanjatkan agar Indonesia semakin aman, damai, sejahtera dan makmur serta generasi mudanya mampu menjaga persatuan dan mengisi kemerdekaan dengan karya nyata.
Rangkaian Kegiatan Sosial
Prof. Mujiburrahman juga menyampaikan bahwa rangkaian peringatan kemerdekaan di lingkungan Kementerian Agama tidak hanya berupa kegiatan dzikir dan doa, tetapi juga diisi dengan berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan.
Di antaranya gotong royong bersama masyarakat pada hari jum’at lalu juga dipadukan dengan kegiatan bakti sosial dari Sat Brimob Polda Aceh di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa rasa syukur atas kemerdekaan dapat diwujudkan melalui kepedulian, gotong royong dan pelayanan kepada masyarakat.
Pada akhir sambutannya, Prof. Mujiburrahman menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Ustadz Jamhuri Ramli bersama tim Zawiyah Nurun Nabi serta seluruh keluarga besar UIN Ar-Raniry dan jamaah yang telah hadir dalam kegiatan tersebut.
Dzikir kebangsaan di Masjid Fathun Qarib itu diharapkan menjadi momentum spiritual untuk memperkuat rasa syukur, persatuan, kecintaan kepada tanah air serta komitmen bersama untuk merawat perdamaian Aceh, mengisi kemerdekaan dan membangun Indonesia dengan ilmu, karya dan pengabdian.
Laporan Saif
