Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id| Ada sebuah pelajaran ekonomi yang menarik dari sirah Nabi Muhammad SAW yang sering kali luput dari perhatian kita. Sebelum menjadi Rasulullah, sebelum menjadi pemimpin umat, sebelum dikenal sebagai pedagang yang sukses, Nabi Muhammad SAW pernah menjalani pekerjaan sederhana: menggembala kambing atau domba milik penduduk Makkah dengan mendapatkan upah.
Pelajaran itu kembali terasa aktual ketika Dr. T. Lembong Misbah, akademisi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, dalam tausiyah Zuhur di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu, 26 Agustus 2026, mengangkat persoalan semakin sulitnya lapangan pekerjaan bagi para sarjana.
Pesannya sederhana tetapi sangat penting: jangan menjadikan PNS sebagai satu-satunya bayangan masa depan seorang sarjana.
Lapangan kerja terbatas, sementara setiap tahun perguruan tinggi menghasilkan lulusan baru. Jika semua orang berorientasi menjadi pegawai negeri, maka persaingan akan semakin ketat. Karena itu, para sarjana perlu membangun kemampuan untuk menciptakan pekerjaan, bukan hanya mencari pekerjaan.
Di sinilah sirah Nabi menjadi sangat relevan.
Nabi pernah menjadi gembala
Rasulullah SAW bersabda:
“Allah tidak mengutus seorang nabi pun kecuali ia pernah menggembala kambing.”
Para sahabat bertanya, “Termasuk engkau, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab bahwa beliau juga pernah menggembala kambing milik penduduk Makkah dengan mendapatkan upah. Hadis ini diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahih al-Bukhari No. 2262. (Sahih al-Bukhari)
Kalimat ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak.
Seorang yang kemudian menjadi manusia paling mulia, pemimpin umat, pendidik manusia, kepala negara, panglima perang dan pembawa risalah terakhir, ternyata pernah menjalani pekerjaan yang oleh sebagian manusia modern mungkin dianggap pekerjaan kelas bawah.
Padahal tidak ada pekerjaan halal yang hina.
Yang hina adalah malas bekerja, menggantungkan hidup kepada orang lain tanpa alasan, atau meremehkan pekerjaan halal hanya karena status sosialnya.
Nabi menggembala bukan karena tidak memiliki masa depan. Justru dari pekerjaan sederhana itu Allah menyiapkan seorang pemimpin besar.
Dalam penjelasan ulama, pekerjaan menggembala memiliki hikmah yang sangat dalam. Ibn Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa menggembala melatih para nabi untuk menjalankan tanggung jawab terhadap umat: mengumpulkan yang tercerai, mengarahkan kepada tempat yang baik, menjaga dari bahaya, mengenali karakter yang berbeda-beda, bersabar dan memperhatikan yang lemah. (موقع دار الإفتاء المصرية)
Imam al-Nawawi juga menjelaskan bahwa hikmah menggembala antara lain melatih tawadhu, kejernihan hati, kesabaran dan kemampuan beralih dari mengurus ternak dengan nasihat menuju mengurus manusia dengan hidayah dan kasih sayang. (Fatawapedia)
Maka menggembala bukan sekadar pekerjaan mencari upah. Ia adalah sekolah kehidupan.
Musa juga belajar dari padang penggembalaan
Kisah Nabi Musa AS bahkan memberikan gambaran menarik mengenai pekerjaan, keterampilan dan kontrak kerja.
Al-Qur’an mengisahkan bahwa ketika Musa sampai di Madyan, ia melihat para penggembala sedang memberi minum ternak. Musa membantu dua perempuan yang kesulitan mengurus ternaknya. Kemudian ayah kedua perempuan itu menawarkan Musa pekerjaan selama delapan tahun, bahkan dapat disempurnakan menjadi sepuluh tahun.
Yang lebih menarik adalah penilaian terhadap kualitas pekerja.
Salah seorang perempuan berkata:
“Wahai ayahku, pekerjakanlah dia. Sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan adalah yang kuat dan terpercaya.”
(QS. Al-Qashash: 26)
Dua kata ini sangat penting untuk dunia kerja: kuat dan terpercaya.
Hari ini kita mengenalnya dalam bahasa manajemen sebagai kompetensi dan integritas.
Ijazah saja tidak cukup.
Seorang sarjana harus memiliki kemampuan bekerja, kemampuan menyelesaikan masalah, kemampuan berkomunikasi, kemampuan mengelola sumber daya dan yang paling penting: dapat dipercaya.
Dari menggembala lahir keterampilan manajemen
Bayangkan seorang penggembala.
Ia harus tahu berapa jumlah ternaknya. Ia harus mengetahui mana yang sakit, mana yang sehat, mana yang bunting, mana yang membutuhkan perhatian lebih. Ia harus mencari padang rumput yang baik, memastikan air tersedia, menjaga ternak dari predator, mengumpulkan ternak yang tercerai-berai dan membawa semuanya kembali dengan selamat.
Itu adalah manajemen.
Ia juga belajar mengambil keputusan.
Kapan harus bergerak?
Kapan harus berhenti?
Di mana mencari pakan?
Bagaimana menghadapi ancaman?
Bagaimana memperlakukan ternak yang lemah?
Bagaimana menjaga agar yang kuat tidak meninggalkan yang lemah?
Bukankah semua itu merupakan keterampilan kepemimpinan?
Karena itu, menarik sekali penjelasan Ibn Hajar bahwa pengalaman menggembala merupakan bentuk latihan sebelum seseorang diberi tanggung jawab besar memimpin manusia. (dorar.net)
Dengan demikian, menggembala bukan sekadar economic activity, tetapi juga leadership training.
Seorang anak muda yang setiap hari mengurus sepuluh, dua puluh atau lima puluh ekor sapi sebenarnya sedang belajar mengurus manusia dalam skala yang berbeda.
Ia belajar disiplin.
Ia belajar tanggung jawab.
Ia belajar membaca keadaan.
Ia belajar sabar.
Ia belajar menghadapi risiko.
Ia belajar menghitung biaya.
Ia belajar menghargai aset.
Ia belajar menjual.
Ia belajar bernegosiasi.
Ia belajar mengelola keuntungan.
Dan semuanya berlangsung di dunia nyata, bukan hanya di ruang kuliah.
Jangan hanya menunggu lowongan
Data ketenagakerjaan Aceh mestinya membuat kita berpikir lebih serius.
BPS Aceh mencatat pada Mei 2026 jumlah angkatan kerja mencapai sekitar 2,673 juta orang, dengan TPT 5,89 persen atau sekitar 157 ribu orang. Bahkan pengangguran dari kelompok pendidikan Diploma IV/S1/S2/S3 masih mencapai 5,25 persen. (Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh)
Ini bukan angka kecil.
Artinya, pendidikan tinggi belum otomatis menjamin seseorang mendapatkan pekerjaan.
Namun persoalannya jangan berhenti pada pertanyaan: “Pemerintah akan menyediakan berapa banyak lapangan kerja?”
Kita juga harus bertanya:
“Berapa banyak lapangan kerja yang mampu kita ciptakan sendiri?”
Di sinilah paradigma sarjana perlu berubah.
Sarjana bukan berarti harus duduk di belakang meja.
Sarjana bukan berarti harus memakai seragam kantor.
Sarjana bukan berarti harus menunggu pengumuman seleksi CPNS.
Sarjana adalah orang yang seharusnya memiliki kemampuan membaca masalah, menemukan peluang dan menciptakan solusi.
Kalau peluang menjadi pegawai terbatas, mengapa tidak menjadi pengusaha?
Kalau lowongan pekerjaan sedikit, mengapa tidak menciptakan pekerjaan?
Kalau kantor tidak memanggil, mengapa tidak membangun usaha sendiri?
Mengapa sapi?
Aceh memiliki modal alam yang tidak kecil. Pertanian, kehutanan dan perikanan masih menjadi sektor terbesar dalam penyerapan tenaga kerja, mencapai sekitar 39,31 persen pekerja Aceh pada Mei 2026. (Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh)
Karena itu, peternakan sapi layak dipikirkan sebagai salah satu alternatif ekonomi, terutama bagi generasi muda di kawasan perdesaan.
Bukan berarti semua sarjana harus menjadi peternak sapi.
Tetapi kita perlu menghilangkan anggapan bahwa menjadi peternak berarti turun kelas.
Justru peternakan modern membutuhkan ilmu.
Ada manajemen pakan.
Ada kesehatan hewan.
Ada reproduksi.
Ada pencatatan keuangan.
Ada teknologi informasi.
Ada pemasaran digital.
Ada rantai pasok.
Ada analisis harga.
Ada investasi.
Ada manajemen risiko.
Dan ada kemampuan membaca pasar.
Sarjana peternakan tentu memiliki keunggulan akademik. Tetapi sarjana ekonomi, manajemen, teknologi informasi, komunikasi, pertanian bahkan pendidikan pun dapat masuk ke dalam ekosistem bisnis peternakan dengan keahlian masing-masing.
Peternakan masa depan bukan sekadar menggembala sapi. Ia adalah bisnis berbasis ilmu.
Dua sapi untuk umrah, tujuh atau delapan sapi untuk mahar?
Mari kita gunakan hitungan sederhana sebagai ilustrasi motivasi ekonomi.
Harga sapi hidup yang ditampilkan sistem Simponi Ternak pemerintah untuk Aceh saat ini sekitar Rp54.535 per kilogram bobot hidup. (@simponiternka)
Misalnya, seekor sapi jantan siap jual memiliki bobot 320 kilogram. Dengan asumsi harga tersebut, nilai kotor per ekor sekitar:
320 kg × Rp54.535 = Rp17,45 juta.
Dua ekor kira-kira menjadi Rp34,9 juta.
Angka ini tentu belum memperhitungkan biaya pembelian bakalan, pakan, obat, tenaga, transportasi dan risiko lainnya. Tetapi secara ilustratif, target sekitar Rp35 juta memang dapat dibayangkan dari dua ekor sapi dengan bobot dan harga seperti itu.
Maka seseorang dapat berkata kepada dirinya sendiri:
“Saya tidak sedang bermimpi umrah. Saya sedang merencanakan dua ekor sapi.”
Demikian pula dengan tradisi mahar emas di Aceh.
Harga emas perhiasan di Banda Aceh pada Rabu, 26 Agustus 2026 tercatat sekitar Rp7,63 juta per mayam, belum termasuk ongkos pembuatan. (MASAKINI.CO)
Jika seorang calon mempelai pria membutuhkan 20 mayam, maka nilai emasnya sekitar:
20 × Rp7,63 juta = Rp152,6 juta.
Angka ini tentu dapat berubah mengikuti harga emas.
Jika seekor sapi menghasilkan nilai jual bersih sekitar Rp19–22 juta, maka secara matematis diperlukan sekitar 7–8 ekor sapi untuk mendekati nilai tersebut.
Tetapi sekali lagi, ini bukan janji bahwa tujuh atau delapan sapi pasti menghasilkan Rp152 juta. Harga sapi, bobot, biaya pemeliharaan dan margin usaha sangat menentukan.
Justru pesan terpentingnya adalah: target ekonomi yang besar dapat dipecah menjadi target usaha yang kecil dan terukur.
Umrah jangan hanya menjadi doa.
Pernikahan jangan hanya menjadi impian.
Haji jangan hanya menjadi daftar tunggu.
Semuanya bisa mulai direncanakan melalui pekerjaan dan usaha yang halal.
Gembala adalah sekolah kepemimpinan
Ada satu hadis lain yang sangat indah:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Muslim).
Kata yang digunakan Nabi adalah ra’in, seorang penggembala.
Ini menarik.
Bahasa kepemimpinan dalam Islam justru memakai metafora penggembala.
Mengapa?
Karena pemimpin bukan sekadar orang yang berada di depan.
Pemimpin adalah orang yang menjaga, mengarahkan, melindungi dan bertanggung jawab.
Seorang gembala yang baik tidak meninggalkan dombanya yang lemah.
Ia tidak membiarkan yang tercerai-berai hilang.
Ia tidak membawa seluruh kawanan ke tempat yang berbahaya.
Ia mengetahui bahwa setiap anggota kawanan memiliki kondisi yang berbeda.
Bukankah masyarakat juga demikian?
Pemimpin yang pernah merasakan rumput, panas matahari, hujan, lumpur dan kesulitan mencari pakan mungkin memiliki sensitivitas yang berbeda terhadap rakyat kecil dibandingkan pemimpin yang sepanjang hidupnya hanya berada di balik meja.
Karena itu, pengalaman kerja lapangan sesungguhnya dapat menjadi modal kepemimpinan sosial dan politik.
Sarjana, jangan takut banting setir
Kepada para sarjana yang hari ini masih menganggur, saya ingin mengatakan: jangan merasa gagal hanya karena belum mendapatkan pekerjaan sesuai ijazah.
Jangan malu mengubah arah.
Jangan merasa lebih rendah karena memulai dari usaha kecil.
Jangan takut teman seangkatan sudah lebih dulu bekerja, menikah, memiliki rumah atau kendaraan.
Setiap orang mempunyai jalannya sendiri.
Yang berbahaya bukan memulai dari bawah.
Yang berbahaya adalah terlalu lama menunggu sampai usia, semangat dan keberanian kita ikut menua.
Mulailah.
Tidak harus langsung memiliki seratus ekor sapi.
Mulailah dari dua ekor.
Belajar dari peternak yang sudah berpengalaman.
Belajar tentang pakan.
Belajar menghitung biaya.
Belajar membaca pasar.
Bangun jaringan dengan kelompok peternak.
Manfaatkan teknologi untuk pencatatan dan pemasaran.
Jika modal belum cukup, mulai dengan sistem kemitraan atau bagi hasil yang halal dan jelas.
Jika belum mampu memiliki ternak sendiri, belajar menjadi pengelola, pemasar atau mitra usaha terlebih dahulu.
Yang penting: masuk ke dalam ekosistemnya.
Empat tahun yang menentukan
Bayangkan seorang sarjana berusia 25–30 tahun memutuskan hari ini untuk mengubah orientasi hidupnya.
Tahun pertama: belajar dan memulai usaha kecil.
Tahun kedua: menambah aset dan memperbaiki manajemen.
Tahun ketiga: memperluas jaringan dan meningkatkan skala usaha.
Tahun keempat: memiliki usaha yang lebih stabil, menikah jika sudah siap, berangkat umrah jika kemampuan finansial memungkinkan, dan mulai menyisihkan dana untuk haji.
Tentu setiap orang memiliki kondisi dan rezeki berbeda. Tidak ada jaminan bahwa semua target itu tercapai persis dalam empat tahun.
Tetapi yang pasti, empat tahun yang diisi dengan kerja akan menghasilkan sesuatu; empat tahun yang diisi dengan menunggu hanya menghasilkan penyesalan.
Nabi Daud AS bahkan menjadi teladan lain tentang kemuliaan bekerja dengan tangan sendiri. Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak ada makanan yang lebih baik daripada makanan hasil kerja tangannya sendiri, dan Nabi Daud AS makan dari hasil kerja tangannya. (Sunnah)
Maka mari kita ubah cara berpikir.
Dari mencari pekerjaan menjadi menciptakan pekerjaan.
Dari menunggu pengumuman menjadi membangun peluang.
Dari malu menjadi peternak menjadi bangga menjadi pengusaha peternakan.
Dari sarjana pencari kerja menjadi sarjana pencipta kerja.
Dan dari gembala ternak kita belajar menjadi gembala kehidupan.
Sebab sirah Nabi mengajarkan kepada kita bahwa jalan menuju kepemimpinan besar tidak selalu dimulai dari gedung megah, kantor ber-AC atau jabatan bergengsi.
Kadang-kadang ia dimulai dari padang rumput, dari pekerjaan sederhana, dari keringat, dari kesabaran dan dari keberanian mencari rezeki halal.
Mungkin hari ini kita hanya memiliki dua ekor sapi. Tetapi kalau dikelola dengan ilmu, disiplin, doa dan kesabaran, dua ekor sapi itu bisa menjadi awal sebuah kemandirian ekonomi.
Dan lebih jauh dari itu, mungkin dari padang rumput itulah lahir generasi sarjana Aceh yang kelak bukan hanya mampu mengurus bisnisnya, tetapi juga mampu mengurus masyarakatnya.
Inilah salah satu cara membaca sirah Nabi untuk ekonomi masa kini: jangan hanya mencari pekerjaan—belajarlah menjadi pencipta pekerjaan; jangan hanya ingin menjadi pegawai—belajarlah menjadi pengelola; dan jangan hanya bercita-cita menjadi pemimpin—mulailah belajar menggembala amanah dari sekarang.
Wallahu a’lam
Darussalam 13 Rabiul Awal 1448, 26 Agustus 2026
(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
