-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Istiqamah Tidak Hanya di Masjid, Jadilah Al-Amin dalam Kehidupan

Jumat, 28 Agustus 2026 | Agustus 28, 2026 WIB Last Updated 2026-08-29T00:00:23Z


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada satu pertanyaan yang mungkin agak mengganggu kenyamanan kita: mengapa ada orang yang rajin beribadah, tetapi sulit dipercaya?


Ia tidak pernah meninggalkan shalat, rajin menghadiri majelis ilmu, bahkan sering berbicara tentang agama. Tetapi ketika memegang amanah, ia tidak jujur. Ketika berjanji, ia mudah mengingkari. Ketika melakukan kesalahan, ia mencari alasan. Ketika berbicara, fakta dapat diputarbalikkan. Bahkan terkadang kesalahan ditutup dengan penampilan dan bahasa kesalehan.


Di sinilah kita perlu membedakan antara banyak beribadah dan berhasil menjadi pribadi yang dibentuk oleh ibadah.


Pesan ini terasa kuat dari khutbah Jumat 15 Rabiul Awal 1448 Hijriyah, 28 Agustus 2026, di Masjid Jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop. Khatib, Tgk. H. M. Khalid, S.H.I., M.H., yang juga pimpinan Dayah Darul Maghfirah Mon Singet Kaju, Aceh Besar, mengingatkan jamaah tentang lima jalan agar seorang muslim mampu menjaga istiqamah dalam ibadah.


Lima hal itu sederhana, tetapi sangat fundamental: meneguhkan iman kepada Allah, menguatkan ibadah dengan ikhlas, memulai dari yang mudah dan dilakukan secara bertahap tetapi konsisten, beribadah berdasarkan ilmu dan terus belajar, mencari lingkungan pergaulan yang baik, serta selalu memohon pertolongan Allah melalui doa.


Lima jalan ini sebenarnya bukan hanya resep agar kita rajin beribadah. Jika dijalankan dengan benar, ia adalah mesin pembentuk karakter.


Istiqamah Dimulai dari Iman


Pertama, teguhkan iman kepada Allah.


Istiqamah bukan sekadar kemampuan mempertahankan rutinitas, tetapi keteguhan hati di jalan yang benar. Allah berfirman:


“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah…”

(QS. Fussilat: 30).


Iman yang benar melahirkan kesadaran bahwa kehidupan tidak pernah benar-benar tanpa pengawasan. Manusia mungkin tidak melihat, tetapi Allah melihat. Kamera mungkin mati, saksi mungkin tidak ada, atasan mungkin tidak mengetahui, tetapi Allah tidak pernah lengah.


Kesadaran inilah yang menjadi fondasi kejujuran.


Orang yang benar-benar merasa diawasi Allah akan berpikir berkali-kali sebelum memalsukan fakta, mengambil hak orang lain, berbohong atau menyalahgunakan amanah.


Ikhlas Membebaskan Kita dari Pencitraan


Kedua, memperkuat ibadah dengan ikhlas karena Allah.


Rasulullah SAW mengingatkan bahwa amal bergantung pada niat. Ketika orientasi ibadah adalah Allah, seseorang tidak perlu membangun citra kesalehan untuk mendapatkan pengakuan manusia.


Di sinilah bahaya pencitraan agama perlu diwaspadai.


Kesalehan yang hanya tampak di luar tetapi tidak memperbaiki perilaku di dalam adalah kesalehan yang perlu terus dimuhasabahi.


Allah tidak hanya melihat sajadah kita, tetapi juga kejujuran kita. Tidak hanya melihat panjangnya zikir, tetapi juga bagaimana lisan digunakan. Tidak hanya melihat pakaian yang kita kenakan, tetapi juga bagaimana amanah kita tunaikan.


Sedikit tetapi Konsisten


Ketiga, memulai dari yang mudah kemudian meningkat secara perlahan tetapi pasti.


Rasulullah SAW bersabda bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.


Ini adalah prinsip penting dalam pendidikan karakter.


Jangan bersemangat hanya selama beberapa hari. Jangan menjadi sangat saleh ketika suasana hati sedang baik, kemudian kembali kepada kebiasaan lama ketika menghadapi tekanan.


Istiqamah adalah kemampuan mempertahankan kebaikan ketika tidak ada tepuk tangan.


Membaca Al-Qur’an sedikit tetapi setiap hari. Bersedekah sedikit tetapi rutin. Berzikir secara konsisten. Belajar secara berkelanjutan. Menjaga shalat tepat waktu. Menjaga lisan setiap hari.


Sedikit, tetapi terus. Perlahan, tetapi pasti.


Ibadah Harus Berilmu


Keempat, beribadah berdasarkan ilmu.


Seorang muslim tidak boleh berhenti belajar. Ilmu membuat ibadah memiliki arah dan membuat seseorang mampu membedakan antara yang benar dan yang salah.


Semakin banyak ilmu seharusnya semakin hati-hati seseorang berbicara. Semakin memahami agama, semestinya semakin rendah hati. Semakin mengetahui dosa, semestinya semakin takut melakukannya.


Sebab ilmu yang tidak melahirkan akhlak berisiko hanya menjadi pengetahuan yang tersimpan di kepala.


Ilmu harus turun dari kepala ke hati, lalu dari hati ke perilaku.


Lingkungan dan Doa


Kelima, memilih teman yang membantu kita istiqamah dan selalu berdoa kepada Allah.


Rasulullah SAW mengingatkan bahwa seseorang sangat dipengaruhi agama teman dekatnya.


Karena itu, jangan meremehkan lingkungan.


Berteman dengan orang jujur membuat kita malu berbohong. Berteman dengan orang amanah membuat kita malu berkhianat. Berada di lingkungan orang-orang saleh membantu hati tetap hidup.


Namun manusia tetap lemah. Karena itu, ikhtiar harus disertai doa agar Allah meneguhkan hati.


Sebab istiqamah bukan prestasi yang boleh membuat kita sombong. Ia adalah karunia Allah yang harus terus dimohonkan.



Dari Istiqamah Lahirlah Al-Amin


Di sinilah kita sampai kepada teladan terbesar: Rasulullah Muhammad SAW.


Sebelum menerima wahyu dan sebelum menjadi Rasul, Muhammad SAW telah dikenal masyarakat Makkah sebagai Al-Amin—orang yang terpercaya.


Perhatikan urutannya.


Akhlak mendahului kenabian.


Masyarakat mengenal kejujurannya sebelum mereka mengenal risalahnya.


Dalam sirah, salah satu peristiwa yang memperlihatkan kepercayaan masyarakat Quraisy kepada beliau adalah ketika terjadi perselisihan tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad setelah Ka’bah direnovasi.


Perselisihan itu hampir memicu pertikaian antarkabilah. Kemudian Muhammad SAW datang dan diterima sebagai orang yang dapat menyelesaikan masalah.


Beliau membentangkan kain, meletakkan Hajar Aswad di atasnya, kemudian meminta para pemimpin kabilah mengangkatnya bersama-sama. Setelah sampai pada tempatnya, beliau sendiri yang meletakkan batu mulia tersebut.


Sebuah persoalan besar diselesaikan tanpa mempermalukan pihak mana pun.


Mengapa Muhammad dipercaya?


Karena kepercayaan tidak lahir dari pidato. Kepercayaan lahir dari rekam jejak.


Itulah Al-Amin.



Krisis Kita Hari Ini: Banyak Bicara, Sedikit Dipercaya


Kita hidup pada zaman ketika informasi bergerak sangat cepat, tetapi kejujuran tidak selalu bergerak secepat itu.


Orang bisa membangun citra dalam hitungan menit. Foto kesalehan dapat dipasang. Kutipan agama dapat dibagikan. Ceramah dapat direkam. Identitas keagamaan dapat ditampilkan.


Tetapi satu hal tidak dapat dipalsukan dalam jangka panjang: integritas.


Masyarakat akan melihatnya dalam kehidupan sehari-hari.


Apakah dia jujur?


Apakah dia menepati janji?


Apakah dia mengembalikan titipan?


Apakah dia berani mengakui kesalahan?


Apakah dia berkata sesuai fakta?


Apakah dia tetap amanah ketika tidak ada yang mengawasi?


Di sinilah kita menghadapi persoalan serius: krisis kepercayaan.


Ada kebohongan yang dianggap kecil. Ada janji yang dianggap tidak perlu ditepati. Ada fakta yang sengaja disembunyikan. Ada kesalahan yang ditutup dengan alasan. Ada penipuan yang dibungkus kepandaian. Bahkan ada orang yang menggunakan simbol kesalehan untuk mendapatkan kepercayaan, lalu menyalahgunakan kepercayaan itu.


Ini bukan sekadar masalah sosial.


Ini adalah masalah moral dan spiritual.


Allah memerintahkan:


“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang benar.”

(QS. At-Taubah: 119).


Islam tidak memisahkan ketakwaan dari kejujuran.



Kalau Shalat Belum Mengubah Kita, Apa yang Harus Dipertanyakan?


Al-Qur’an memberikan ukuran yang sangat tegas:


“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”

(QS. Al-Ankabut: 45).


Para mufasir menjelaskan bahwa shalat yang ditegakkan dengan benar memiliki pengaruh terhadap perilaku manusia: ia menumbuhkan kesadaran kepada Allah dan mendorong seseorang meninggalkan keburukan. 


Maka ayat ini layak menjadi bahan introspeksi.


Bukan untuk menghakimi orang lain, tetapi untuk bertanya kepada diri sendiri:


Mengapa saya masih mudah berdusta padahal saya shalat?


Mengapa saya masih suka menipu padahal saya membaca Al-Qur’an?


Mengapa saya masih sulit dipercaya padahal saya rajin berzikir?


Pertanyaan ini bukan berarti meremehkan ibadah. Justru sebaliknya, ia mengajak kita mengembalikan ibadah kepada fungsi moralnya.


Shalat bukan sekadar gerakan tubuh. Zikir bukan sekadar gerakan lisan. Puasa bukan sekadar menahan lapar. Zakat bukan sekadar mengeluarkan harta.


Semua ibadah itu seharusnya membentuk manusia yang lebih baik.


Sajadah harus melahirkan kejujuran di luar sajadah.



Al-Amin Dimulai dari Rumah


Menjadi Al-Amin tidak perlu menunggu menjadi pejabat, ulama, pengusaha atau tokoh masyarakat.


Mulailah dari keluarga.


Ayah menjadi Al-Amin bagi anak-anaknya.


Ibu menjadi Al-Amin bagi keluarganya.


Suami menjadi Al-Amin bagi istrinya.


Istri menjadi Al-Amin bagi suaminya.


Jangan mengajarkan anak untuk berbohong demi menyelamatkan muka orang tua. Jika orang tua salah, berani mengatakan, “Ayah salah.”


Kalimat sederhana itu justru dapat menjadi pendidikan karakter yang luar biasa.


Anak-anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang pandai mengajarkan doa. Mereka membutuhkan orang tua yang kata-katanya bisa dipercaya.


Begitu pula di tengah masyarakat.


Pedagang yang Al-Amin tidak mengurangi timbangan.


Guru yang Al-Amin tidak mempermainkan nilai.


Mahasiswa yang Al-Amin tidak menipu dalam tugas.


Pemimpin yang Al-Amin tidak menyalahgunakan jabatan.


Pejabat yang Al-Amin tidak mengkhianati amanah.


Pengusaha yang Al-Amin tidak mengelabui konsumen.


Pengguna media sosial yang Al-Amin tidak menyebarkan berita sebelum mengetahui kebenarannya.


Inilah bentuk nyata mencintai Rasulullah SAW.



Istiqamah Adalah Obat Sosial


Karena itu, istiqamah jangan dipahami hanya sebagai persoalan hubungan vertikal dengan Allah.


Istiqamah memiliki dampak sosial yang sangat besar.


Orang yang istiqamah dalam shalat dilatih disiplin.


Orang yang istiqamah berzikir dilatih mengingat Allah.


Orang yang istiqamah membaca Al-Qur’an dilatih mendengar petunjuk.


Orang yang istiqamah belajar dilatih berpikir.


Orang yang istiqamah bergaul dengan orang baik dibentuk lingkungannya.


Dan semua itu pada akhirnya membentuk akhlak.


Jika jutaan muslim memiliki karakter seperti ini, masyarakat akan mengalami perubahan besar.


Sebab masyarakat tidak hanya membutuhkan orang pintar.


Masyarakat membutuhkan orang yang bisa dipercaya.


Kita tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.


Kita membutuhkan orang yang kata-katanya dapat dipegang.


Kita tidak hanya membutuhkan orang yang tampak saleh.


Kita membutuhkan orang yang kesalehannya terasa manfaatnya bagi orang lain.



Maulid Jangan Berhenti pada Selawat


Momentum Maulid Nabi seharusnya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali karakter Rasulullah SAW.


Jangan sampai kita sibuk memperingati kelahiran Nabi, tetapi lupa menghidupkan akhlaknya.


Jangan sampai suara selawat memenuhi masjid, tetapi kebohongan masih memenuhi kehidupan.


Jangan sampai kita berlomba menyebut nama Al-Amin, tetapi sulit menjadi orang yang amanah.


Sebab cinta kepada Rasulullah SAW bukan hanya soal seberapa sering nama beliau disebut, tetapi seberapa jauh akhlaknya kita hadirkan dalam kehidupan.


Maka khutbah Jumat di Masjid Jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop itu layak menjadi bahan muhasabah kita bersama.


Lima jalan menuju istiqamah yang disampaikan Tgk. H. M. Khalid sesungguhnya dapat diringkas menjadi satu perjalanan:


teguhkan iman, ikhlaskan ibadah, lakukan secara konsisten, kuatkan dengan ilmu, jaga lingkungan dan jangan pernah berhenti berdoa.


Kemudian buktikan hasilnya dalam kehidupan.


Sebab puncak istiqamah bukan hanya tetap rajin beribadah, tetapi tetap benar ketika diuji, tetap jujur ketika memiliki kesempatan untuk berbohong, tetap amanah ketika memegang kekuasaan, dan tetap menjadi manusia yang dapat dipercaya ketika tidak ada seorang pun yang melihat.


Itulah jalan menuju Al-Amin.


Dan mungkin inilah bentuk paling nyata dari keberagamaan yang sedang sangat dibutuhkan masyarakat kita hari ini:


bukan sekadar orang yang terlihat saleh, tetapi orang yang membuat orang lain merasa aman.


Karena pada akhirnya, istiqamah di masjid harus berbuah Al-Amin dalam kehidupan.


Rajinlah beribadah. Tetapi jangan berhenti di sajadah. Bawalah hasil ibadah itu ke rumah, ke tempat kerja, ke pasar, ke kampus, ke ruang publik, dan ke seluruh kehidupan.


Sebab dunia hari ini tidak sedang kekurangan orang yang pandai berbicara tentang kebaikan.


Dunia sedang kekurangan manusia yang benar-benar bisa dipercaya.


Wallahu a’lam 


Tungkop, 16 Rabiul Awal 1448, 29 Agustus 2026


(Penulis, Imumsyik masjid jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop Darussalam Aceh Besar)


Foto: dari kiri; Tgk HM Khalid, penulis, dan Ust H Mustafa Hamzah

×
Berita Terbaru Update