Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Pagi tadi saya berkesempatan ngopi bersama beberapa tokoh berkelas, cerdas dan ikhlas, beberapa dosen Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Ar-Raniry, di kantin Kansas. Seperti biasa, obrolan sambil ngopi tidak selalu harus serius, tetapi justru dari obrolan yang lepas sering muncul renungan yang dalam.
Salah satu yang mengemuka pagi itu adalah tentang ujian Allah.
Prof. Khalis bercerita dari kisah sahabat dekatnya tentang pelajaran dari seorang ibu muda yang harus kehilangan suaminya karena Allah lebih dahulu memanggilnya. Ia menerima takdir itu dengan ikhlas. Namun, sebagaimana manusia pada umumnya, ia tetap memiliki harapan. Ia berdoa kepada Allah agar diberi pengganti, seorang pendamping hidup yang baik.
Doa itu tidak hanya sekali dua kali. Ia terus memintanya selama kira-kira empat tahun.
Empat tahun tentu bukan waktu yang sebentar. Ada masa ketika doa terasa begitu dekat dengan harapan, tetapi ada pula masa ketika hati mulai bertanya-tanya: kapan?
Sampai pada suatu titik, hampir saja harapan itu berubah menjadi keputusasaan.
Ustaz Fahmi Sofyan yang ikut ngopi pagi itu kemudian memberi catatan menarik. Menurutnya, tawakal bukan putus asa, dan tawakal juga bukan pasrah tanpa usaha. Tawakal adalah tetap melakukan ikhtiar, terus berdoa, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Kalimat itu terasa sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam.
Prof. Khalis kemudian melanjutkan ceritanya. Ibu tersebut akhirnya berkata kepada Allah dalam doanya, kurang lebih: “Ya sudah, bila Engkau tidak juga mengabulkan permintaanku, aku ikhlas.”
Ada sesuatu yang sangat manusiawi sekaligus sangat spiritual dalam kalimat itu.
Ia bukan berhenti percaya kepada Allah. Ia bukan berhenti mencintai kehidupan. Ia hanya sampai pada satu kesadaran bahwa dirinya tidak boleh menggantungkan kebahagiaan semata-mata pada satu bentuk jawaban doa.
Ia kemudian memutuskan untuk menjalani hidupnya, menjaga dirinya dan keluarganya, tanpa lagi terlalu mempersoalkan kapan Allah akan mengabulkan permintaannya.
Life must go on.
Ternyata, sekitar empat hari kemudian, seorang teman senior sesama bidan di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, meneleponnya. Singkat cerita, sang teman membuka jalan: bagaimana kalau ia mempertimbangkan adiknya?
Ibu tersebut tidak serta-merta mengambil keputusan. Ia melakukan istikharah, mencari informasi yang cukup, mempertimbangkan dengan matang, dan akhirnya Allah membuka lembaran baru dari doa yang telah dipanjatkannya selama empat tahun.
Ia mendapatkan seorang suami yang diidamkannya: seorang cendekiawan yang baik dan berakhlak mulia, yang juga belum lama kehilangan istrinya.
Allah ternyata tidak lupa.
Allah hanya memiliki waktu yang berbeda. Doa yang tertunda bukan berarti doa yang ditolak
Abzari, rekan yang juga hadir dalam ngopi pagi itu, kemudian menceritakan pengalaman yang kurang lebih serupa. Setelah empat tahun menunggu momongan, ia dan istrinya terus berdoa dan berusaha. Ada ikhtiar, ada pengobatan, ada harapan, ada pula masa ketika manusia akhirnya sampai pada apa yang ia sebut sebagai “pasrah”.
Kemudian Allah memberikan karunia itu. Anak yang selama ini dinantikan hadir menjadi kebahagiaan bagi mereka.
Di sini saya menangkap satu pelajaran penting: kadang-kadang manusia mengira Allah terlambat memberikan apa yang diminta, padahal sesungguhnya Allah sedang mempersiapkan hati manusia untuk menerima apa yang diminta.
Kita sering mengukur jawaban doa dengan kalender. Allah tidak.
Kita berkata, “Sudah empat tahun.”
Allah mengetahui apa yang terjadi selama empat tahun itu: perubahan diri, kedewasaan, kesiapan, keadaan orang lain yang terlibat, bahkan hal-hal yang sama sekali tidak kita ketahui.
Karena itu, tertundanya doa tidak boleh buru-buru diterjemahkan sebagai penolakan Allah.
Al-Qur’an justru mengajarkan bahwa bersama kesulitan selalu ada jalan kemudahan:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6).
Perhatikan, Al-Qur’an tidak mengatakan setelah kesulitan baru ada kemudahan, tetapi bersama kesulitan ada kemudahan.
Artinya, bahkan ketika kita sedang diuji, sebenarnya rahmat Allah tidak pernah pergi.
Nabi Ayyub: mengadu tanpa kehilangan harapan
Pak Umardi yang juga hadir dalam perbincangan menambahkan kisah Nabi Ayyub.
Nabi Ayyub adalah salah satu contoh paling indah tentang bagaimana seorang hamba menghadapi ujian. Al-Qur’an menggambarkan doanya:
أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
“Sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.” (QS. Al-Anbiya: 83).
Menariknya, Nabi Ayyub tidak mengucapkan doa dengan nada menuntut.
Ia tidak berkata, “Ya Allah, mengapa Engkau melakukan ini kepadaku?”
Ia hanya menyampaikan keadaan dirinya: “Aku telah ditimpa kesulitan.” Kemudian ia menyebut sifat Allah: “Engkau adalah Yang Maha Penyayang.”
Itulah adab seorang hamba ketika diuji. Ia boleh mengeluh kepada Allah, tetapi jangan mengeluhkan Allah.
Ia boleh menangis, tetapi jangan kehilangan harapan.
Ia boleh merasa lemah, tetapi jangan berhenti mengetuk pintu-Nya.
Setelah itu Allah berfirman bahwa Dia mengabulkan doa Ayyub dan menghilangkan kesusahannya.
Karena itu, saya kira kita tidak perlu terlalu memastikan berapa tahun persis Nabi Ayyub diuji. Al-Qur’an tidak menetapkan angka tersebut. Yang jauh lebih penting adalah keteguhan Ayyub dalam kesabaran, doa dan pengharapannya kepada Allah.
“Benarkah Allah senang melihat hamba-Nya bermanja-manja?”
Di tengah obrolan itu saya kemudian bertanya kepada Ustaz Fahmi Sofyan:
“Apakah Allah memang suka melihat hamba-Nya bermanja-manja kepada-Nya, terus berdoa, terus mendekat, sehingga boleh jadi Allah menunda permintaan itu agar hamba-Nya semakin dekat?”
Ustaz Fahmi menjawab, benar, ada hadis Nabi yang memberikan gambaran demikian.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barang siapa ridha, maka baginya keridhaan; dan barang siapa murka, maka baginya kemurkaan.” (HR. Tirmidzi no. 2396). Hadis ini dinilai hasan gharib oleh al-Tirmidzi.
Ada pula hadis lain yang sangat jelas:
أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ
“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang paling dekat kepada mereka dalam kebaikan, dan seterusnya.”
Nabi melanjutkan bahwa seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya; semakin kuat agamanya, semakin berat ujiannya, dan ujian itu terus berlangsung hingga ia berjalan di muka bumi tanpa dosa. Hadis ini diriwayatkan al-Tirmidzi no. 2398 dan dinilai hasan sahih.
Tetapi ada satu hal yang perlu kita pahami dengan hati-hati: tidak setiap kesulitan otomatis berarti Allah sedang memberikan tanda bahwa seseorang lebih dicintai. Ujian bisa menjadi sarana penghapus dosa, peningkatan derajat, teguran, pendidikan jiwa, atau konsekuensi dari pilihan manusia sendiri.
Yang menentukan nilainya adalah bagaimana seorang hamba merespons ujian tersebut.
Ujian bukan hukuman semata, tetapi bisa menjadi jalan kedekatan
Para ulama klasik banyak menjelaskan bahwa musibah bagi seorang mukmin tidak semata-mata dilihat dari rasa sakit yang ditimbulkannya, tetapi juga dari manfaat ruhani yang mungkin lahir darinya.
Ibnul Qayyim, dalam banyak pembahasannya tentang penyakit hati, sabar, dan ujian, menekankan bahwa musibah yang diterima dengan iman dapat menjadi jalan bagi seorang hamba untuk kembali kepada Allah, membersihkan jiwa, memperbaiki ketergantungan kepada-Nya, dan menyadari kelemahan dirinya.
Dalam kerangka itu, ujian kadang justru memecahkan kesombongan manusia.
Ketika sehat, kita merasa kuat.
Ketika memiliki harta, kita merasa mampu.
Ketika memiliki jabatan, kita merasa berkuasa.
Tetapi ketika sesuatu yang kita cintai diambil, ketika usaha berkali-kali gagal, ketika doa belum juga terjawab, manusia akhirnya menemukan dirinya sendiri di hadapan Allah: lemah, terbatas dan sangat membutuhkan pertolongan-Nya.
Di situlah doa menjadi lebih jujur. Di situlah sujud menjadi lebih dalam. Di situlah hubungan dengan Allah menjadi lebih personal.
Psikologi modern juga berbicara tentang “coping”
Menariknya, apa yang menjadi bahan perbincangan para ulama dan orang beriman ternyata juga mendapat perhatian dalam psikologi modern.
Dalam psikologi dikenal istilah religious coping, yaitu bagaimana seseorang menggunakan keyakinan, doa, makna keagamaan, dan hubungan spiritual untuk menghadapi tekanan kehidupan.
Meta-analisis Gene G. Ano dan Erin Vasconcelles terhadap 49 penelitian menemukan bahwa bentuk positive religious coping berkaitan dengan penyesuaian psikologis yang lebih baik terhadap stres, sementara negative religious coping justru dapat berkaitan dengan penyesuaian yang lebih buruk.
Penelitian lain yang melibatkan 203 partisipan menemukan bahwa religious coping dapat berperan dalam membangun ketahanan psikologis melalui kemampuan melakukan positive reappraisal—memaknai kembali peristiwa sulit—dan keyakinan terhadap kemampuan diri dalam menghadapi masalah.
Ini menarik.
Iman tidak menghilangkan ujian. Iman membantu manusia mengubah cara memandang ujian.
Duka tetap duka. Kehilangan tetap kehilangan. Penantian tetap penantian. Tetapi orang beriman mempunyai bingkai makna yang membuatnya mampu berkata:
“Allah tidak mungkin sia-sia dalam menetapkan sesuatu.”
Inilah yang membuat seseorang mampu bertahan.
“Saya baru masuk Islam, mengapa hidup saya semakin sulit?”
Ustaz Fahmi kemudian menceritakan pengalaman lain yang menurut saya sangat menyentuh.
Dalam sebuah diskusi melalui Zoom, beliau pernah mendapat pertanyaan dari seorang ibu di NTT yang baru masuk Islam. Ibu tersebut mengeluhkan bahwa sejak menjadi Muslim, hidupnya justru terasa semakin sulit.
Lalu ia bertanya dengan polos:
“Apakah sebaiknya saya keluar dari Islam lagi?”
Jawaban Ustaz Fahmi sungguh menenangkan:
“Ibu, berbahagialah. Bisa jadi ibu sedang berada dalam kasih sayang Allah. Ibu sedang diuji. Allah sedang melihat keseriusan langkah ibu menerima Islam. Bersabarlah. Jalani ujian ini. Jangan sampai kesulitan membuat ibu meninggalkan jalan yang baru saja ibu temukan.”
Jawaban tersebut membuat ibu itu tenang. Ia berterima kasih dan menyatakan akan terus menjalani ujian sampai lulus.
Saya kira inilah cara yang indah dalam membimbing orang yang sedang berada di titik rapuh.
Bukan menghakimi.
Bukan mengatakan, “Imanmu lemah.” Tetapi menguatkan: “Boleh jadi ini adalah proses Allah mendewasakanmu.”
Tentu, kita juga harus berhati-hati. Tidak boleh setiap penderitaan dijadikan alasan untuk mengatakan kepada seseorang, “Allah sedang mengujimu karena Allah mencintaimu,” lalu mengabaikan kebutuhan nyata untuk mencari pertolongan. Islam memerintahkan ikhtiar. Orang yang sakit perlu berobat. Orang yang mengalami tekanan perlu mencari dukungan. Orang yang kehilangan pekerjaan perlu mencari jalan keluar. Orang yang mengalami masalah keluarga perlu bermusyawarah.
Tawakal tidak meniadakan ikhtiar. Justru ikhtiar adalah bagian dari tawakal. Jangan patah arang kepada Allah
Pagi itu, dari obrolan sederhana di kantin Kansas, saya pulang membawa satu kesimpulan:
Ketika Allah menyayangi seorang hamba, tidak selalu Dia memberinya kehidupan yang mudah. Kadang Dia memberinya ujian agar hamba itu tumbuh lebih dekat kepada-Nya.
Ada doa yang langsung dijawab. Ada doa yang ditunda.
Ada doa yang Allah jawab dengan sesuatu yang berbeda.
Dan ada doa yang mungkin baru kita pahami jawabannya ketika kelak kita melihat seluruh perjalanan hidup dari sisi yang lebih luas.
Karena itu, sebagai hamba Allah, kita perlu mempersiapkan diri bahwa kehidupan memang penuh ujian.
Pertama, jangan kaget ketika diuji.
Ujian adalah bagian dari kehidupan, bukan tanda bahwa Allah meninggalkan kita.
Kedua, jangan berhenti berikhtiar.
Berdoa bukan alasan untuk berhenti bekerja. Tawakal bukan kemalasan. Teruslah mencari jalan terbaik.
Ketiga, jangan berhenti berdoa.
Jangan ukur kasih sayang Allah dari cepat atau lambatnya doa dikabulkan.
Keempat, belajarlah sabar tanpa kehilangan harapan.
Sabar bukan berarti tidak boleh menangis. Sabar berarti menangis tetapi tetap percaya kepada Allah.
Kelima, tumbuhkan raja’, harapan yang baik kepada Allah.
Ketika belum mendapatkan apa yang diinginkan, jangan buru-buru berkata, “Allah tidak mendengar saya.” Bisa jadi Allah sedang menuntun kita menuju sesuatu yang jauh lebih baik.
Dan terakhir, jangan patah arang kepada Allah.
Boleh jadi kita sudah mengetuk pintu itu empat tahun. Boleh jadi lima tahun. Bahkan mungkin lebih lama. Tetapi selama kita masih hidup, pintu Allah tidak pernah tertutup.
Kisah ibu muda tadi mengajarkan bahwa setelah empat tahun menunggu, jawaban itu datang hanya beberapa hari setelah ia benar-benar menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Kisah Abzari mengajarkan bahwa setelah empat tahun menanti momongan, karunia itu akhirnya hadir.
Kisah Ayyub mengajarkan bahwa penderitaan tidak menghalangi seorang nabi untuk tetap menyebut Allah sebagai Arhamar Rahimin, Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.
Maka barangkali kalimat terbaik ketika menghadapi ujian bukanlah, “Mengapa saya?”
Melainkan:
“Ya Allah, saya tidak tahu mengapa Engkau menetapkan ini. Tetapi saya percaya Engkau tahu apa yang tidak saya ketahui. Saya akan terus berusaha, terus berdoa, terus berharap, dan ketika waktunya tiba, saya akan menerima keputusan-Mu dengan ikhlas.”
Sebab pada akhirnya, ujian bukan hanya tentang apa yang Allah berikan kepada kita, tetapi tentang siapa diri kita setelah melewati ujian itu.
Dan boleh jadi, justru melalui ujian itulah Allah sedang mengajari kita cara mencintai-Nya dengan lebih dalam.
Wallahu a’lam
Darussalam 5 Rabiul Awal 1448, 18 Agustus 2026
(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN At-Raniry)
