-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Harta dan Anak: Zinatul Hayatid Dunya, Mata’un, atau Fitnah?

Jumat, 14 Agustus 2026 | Agustus 14, 2026 WIB Last Updated 2026-08-14T15:22:55Z


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Khutbah Jumat yang disampaikan Dr. Jauhari Hasan, Jumat, 14 Agustus 2026, bertepatan dengan 1 Rabiul Awal 1448 H, di Masjid Jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop, Aceh Besar, mengangkat tema yang mendasar, tetapi sangat kuat kepentingannya untuk menjadi perhatian setiap jamaah: harta dan anak-anak adalah perhiasan dan kesenangan hidup dunia, tetapi keduanya juga dapat menjadi fitnah apabila tidak dikelola dengan baik.


Dalam khutbahnya, Dr. Jauhari mengutip pandangan Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah mengenai posisi harta dan anak dalam kehidupan manusia. Pesan ini menurut saya sangat relevan dengan kehidupan keluarga Muslim hari ini. Sebab hampir semua orang tua bekerja keras mencari harta karena anak-anak; dan tidak sedikit pula orang tua yang mencurahkan seluruh hidupnya demi masa depan anak-anak.


Pertanyaannya kemudian: kapan harta dan anak menjadi nikmat, dan kapan keduanya berubah menjadi fitnah?


Di sinilah Al-Qur’an memberikan panduan yang sangat indah.


Harta dan anak adalah “zinatul hayatid dunya”


Allah SWT berfirman:


الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا


“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.”

(QS. Al-Kahf: 46). (Quran.com⁠)


Ayat ini menarik karena Allah tidak mengatakan harta dan anak itu buruk. Sebaliknya, Allah menyebutnya zinah, perhiasan kehidupan dunia.


Perhiasan adalah sesuatu yang membuat kehidupan tampak indah. Harta memberikan kemampuan, kenyamanan dan kemanfaatan. Anak memberikan kebahagiaan, kekuatan, penerus keturunan dan harapan masa depan.


Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa harta memiliki unsur keindahan dan manfaat, sedangkan anak memiliki unsur kekuatan dan dukungan. Karena itulah keduanya disebut sebagai perhiasan kehidupan dunia. Namun, kata “dunia” sekaligus mengingatkan bahwa perhiasan tersebut bersifat sementara. 


Maka, zinatul hayatid dunya bukan berarti sesuatu yang tercela. Ia adalah nikmat duniawi yang harus ditempatkan secara benar.


Lalu apa bedanya “zinah” dengan “mata’”?

Di sinilah kita menemukan keindahan pilihan kata Al-Qur’an.


Allah juga berfirman:


زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ … ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ


“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, berupa perempuan, anak-anak, harta yang banyak dari emas dan perak… Itulah kesenangan kehidupan dunia; dan di sisi Allah tempat kembali yang baik.”

(QS. Ali Imran: 14).


Zinah lebih menonjolkan aspek keindahan, daya tarik dan sesuatu yang menghiasi kehidupan. Sedangkan mata’ lebih menonjolkan aspek pemanfaatan atau kesenangan yang dapat dinikmati untuk suatu waktu, tetapi tidak kekal.


Karena itu, ketika Al-Qur’an menyebut “zinatul hayatid dunya”, manusia diingatkan bahwa harta dan anak memang indah dan menyenangkan, tetapi keindahan itu berada dalam ruang kehidupan dunia.


Sedangkan ketika disebut “mata’ul hayatid dunya”, tekanannya lebih kepada sifatnya sebagai kesenangan atau manfaat sementara.


Dengan kata lain, zinah menjelaskan bagaimana manusia memandangnya; mata’ menjelaskan sifat pemanfaatannya.


Harta dan anak dapat memperindah kehidupan, tetapi keduanya bukan tujuan akhir kehidupan.


Allah bahkan menutup ayat Ali Imran 14 dengan kalimat:


وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ


“Dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”


Ini seperti sebuah rambu: silakan menikmati perhiasan dunia, tetapi jangan lupa ke mana kita akan kembali.


Dari perhiasan menjadi fitnah


Di sinilah ayat lain memberikan keseimbangan.


Allah berfirman:


إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ


“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (fitnah), dan di sisi Allah pahala yang besar.”

(QS. At-Taghabun: 15).


Ayat yang hampir sama juga terdapat dalam QS. Al-Anfal ayat 28.


Fitnah dalam konteks ini bukan berarti harta dan anak itu jahat. Fitnah berarti ujian. Allah menguji manusia melalui sesuatu yang paling dicintainya: apakah ia akan bersyukur dan menggunakannya dalam ketaatan, atau justru tenggelam di dalamnya sehingga melupakan Allah.


Ibn Katsir menjelaskan bahwa harta dan anak merupakan ujian: apakah seseorang bersyukur kepada Allah dan taat dalam mengelolanya, atau justru kesibukan mengurus dan mengumpulkannya membuatnya lalai dari Allah.


Dengan demikian, sesuatu yang sama dapat menjadi nikmat sekaligus ujian.


Harta yang halal, disyukuri, dizakati, digunakan untuk menafkahi keluarga dan membantu sesama adalah nikmat.


Tetapi harta yang membuat seseorang meninggalkan salat, mencari rezeki dengan cara haram, menipu, korupsi, merampas hak orang lain dan melupakan akhirat, telah berubah menjadi fitnah.


Begitu pula anak.


Anak yang dididik menjadi saleh, berilmu, berakhlak dan bermanfaat bagi manusia adalah nikmat besar.


Tetapi anak yang membuat orang tua menghalalkan segala cara, menggadaikan prinsip agama demi ambisi pendidikan, jabatan atau kekayaan anak, dapat berubah menjadi fitnah.


Peringatan Ibnul Qayyim yang sangat relevan


Ibnul Qayyim al-Jauziyyah memberikan penjelasan yang sangat tajam mengenai ayat “innama amwalukum wa awladukum fitnah.”


Dalam Ighatsatul Lahfan, beliau menjelaskan bahwa manusia dapat diuji melalui anaknya; seseorang bahkan bisa melakukan kemaksiatan, mengambil harta yang haram, dan melakukan perkara-perkara berat demi kepentingan anaknya. 


Ini adalah peringatan yang sangat relevan bagi orang tua masa kini Kadang-kadang orang tua berkata, “Saya melakukan ini demi anak.”


Pertanyaannya: demi anak, tetapi dengan cara apa?

Demi biaya kuliah anak, lalu menerima uang haram.

Demi membeli rumah untuk anak, lalu melakukan korupsi.

Demi masa depan anak, lalu mengambil hak orang lain.

Demi menjaga perasaan anak, lalu membiarkan anak meninggalkan kewajiban agama. Demi membuat anak sukses, lalu membiarkannya tumbuh tanpa akhlak.


Jika demikian, cinta telah berubah menjadi jebakan.

Jangan sampai anak lebih dicintai daripada Allah


Allah memberikan peringatan yang lebih tegas:


**قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا…


“Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya… maka tunggulah…”

(QS. At-Taubah: 24).


Ayat ini tidak memerintahkan manusia untuk tidak mencintai anak atau harta. Islam justru mengakui kecintaan tersebut sebagai bagian dari fitrah manusia.


Yang dilarang adalah ketika kecintaan itu mengalahkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.


Rasulullah SAW juga bersabda bahwa seseorang belum sempurna imannya sampai Rasulullah lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia. Maknanya, seluruh kecintaan manusia harus berada di bawah kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.


Anak bukan sekadar investasi dunia


Ada kecenderungan sebagian orang tua modern melihat anak terutama sebagai investasi sosial: anak harus sekolah di tempat terbaik, memperoleh pekerjaan terbaik, memiliki jabatan tinggi, kemudian mengangkat martabat keluarga.


Semua itu tidak salah.

Yang keliru adalah ketika ukuran keberhasilan anak hanya diukur dari materi dan status sosial.


Anak yang menjadi dokter, profesor, pengusaha, pejabat atau profesional tentu merupakan kebahagiaan. Tetapi Islam memberikan ukuran yang lebih dalam: apakah ilmu dan profesinya membuat ia semakin dekat kepada Allah dan bermanfaat bagi manusia?


Rasulullah SAW memberikan harapan yang sangat indah bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, salah satunya anak saleh yang mendoakannya.


Artinya, anak bukan hanya investasi dunia. Anak dapat menjadi investasi akhirat.


Tetapi syaratnya jelas: orang tua harus membangun kesalehan anak, bukan hanya membangun kekayaan anak.


Harta juga bukan sekadar alat menumpuk kekayaan.

Demikian pula dengan harta.


Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi miskin. Islam justru mendorong umat bekerja, mencari rezeki yang halal, memiliki harta, bersedekah dan membangun kemandirian ekonomi.


Rasulullah SAW bersabda:


“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”


Tangan di atas adalah tangan yang memberi, sedangkan tangan di bawah adalah tangan yang meminta.


Karena itu, seorang Muslim boleh menjadi kaya. Tetapi kekayaan harus berada di tangannya, bukan di hatinya.


Harta yang berada di tangan dapat menjadi sarana ibadah. Harta yang menguasai hati dapat menjadi sumber kesengsaraan.


Rasulullah SAW juga bersabda:


“Sesungguhnya bagi setiap umat ada fitnah, dan fitnah umatku adalah harta.”


Hadis ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan dinilai hasan sahih dalam sumber yang memuat penjelasan hadis tersebut.


Maka problemnya bukan kaya atau miskin semata. Problem utamanya adalah bagaimana hati memperlakukan kekayaan.


Apa yang harus dilakukan keluarga Muslim?


Menurut saya, ada beberapa langkah penting agar harta dan anak tetap menjadi zinah dan mata’ yang diberkahi, bukan berubah menjadi fitnah.


Pertama, luruskan niat mencari harta. Bekerja bukan semata-mata untuk memperbesar rekening, tetapi untuk memenuhi kewajiban nafkah, menjaga kehormatan keluarga, membantu orang lain, membayar zakat, bersedekah dan mendukung kebaikan.


Kedua, pastikan sumber harta halal. Orang tua jangan pernah berkata, “Yang penting anak saya senang.”


Justru karena anak disayangi, sumber nafkahnya harus semakin bersih.


Jangan membangun masa depan anak dengan uang yang haram.


Ketiga, ajarkan anak bahwa nilai dirinya bukan terletak pada harta. Anak harus mengetahui bahwa mobil, rumah, pakaian, gelar dan jabatan hanyalah sarana. Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh banyaknya kekayaan, tetapi oleh iman, takwa, ilmu, akhlak dan manfaatnya.


Keempat, jangan mengorbankan pendidikan agama demi pendidikan dunia.


Tidak ada salahnya mengejar pendidikan terbaik. Tetapi pendidikan dunia dan pendidikan iman harus berjalan bersama.


Orang tua yang mampu membiayai anak kuliah sampai doktor tetapi tidak mampu membiasakannya salat dan berakhlak, sebenarnya baru membangun sebagian masa depan anak.


Kelima, jangan memenuhi semua keinginan anak. Cinta tidak selalu berarti memberikan semua yang diminta.


Anak yang selalu mendapatkan apa pun yang diinginkannya berpotensi tumbuh tanpa kemampuan mengendalikan keinginan.


Orang tua harus mengajarkan batas, tanggung jawab, kesederhanaan dan rasa syukur.


Keenam, jadikan harta sebagai jalan menuju akhirat.

Zakat, infak, sedekah, wakaf, membantu keluarga, membangun pendidikan, masjid, pelayanan sosial dan berbagai amal kebaikan adalah cara mengubah harta dunia menjadi bekal akhirat.


Inilah makna penting dari penutup QS. Al-Kahf ayat 46: “wal-baqiyatus-shalihat khairun…” Amal-amal saleh yang kekal lebih baik di sisi Allah.


Ketujuh, doakan anak sebagai generasi penerus amal.

Orang tua jangan hanya mendoakan anak agar kaya, sukses dan memiliki jabatan.


Doakan agar mereka menjadi orang beriman, berilmu, berakhlak, sehat, mandiri, bermanfaat dan menjadi penyejuk hati.


Waspadai pergeseran nilai


Ada satu hal yang menurut saya sangat penting untuk direnungkan para orang tua dan para pekerja Muslim: jangan sampai tujuan bergeser secara perlahan tanpa kita sadari.


Awalnya kita bekerja untuk keluarga. Kemudian keluarga menjadi alasan bekerja lebih keras. Lalu harta menjadi ukuran keberhasilan keluarga.

Kemudian kita mulai mengorbankan waktu bersama keluarga demi harta.

Setelah itu ibadah mulai terganggu. Kemudian halal dan haram mulai dinegosiasikan.


Pada akhirnya, sesuatu yang awalnya kita cari untuk membahagiakan keluarga justru menjauhkan kita dan keluarga dari Allah.


Demikian pula dengan anak.

Awalnya kita ingin anak menjadi saleh dan bermanfaat.

Kemudian kita ingin anak menjadi pintar. Lalu ingin anak menjadi orang kaya. Kemudian ingin anak memiliki jabatan. Lalu tanpa sadar kita lebih bangga kepada status anak daripada kesalehan anak. Di sinilah pergeseran nilai terjadi.


Padahal Allah tidak pernah mengatakan bahwa banyaknya harta dan tingginya kedudukan anak adalah ukuran keberhasilan manusia.


Nikmat yang mengantarkan kepada Allah


Pada akhirnya, harta dan anak bukanlah musuh seorang Muslim. Keduanya adalah amanah sekaligus ujian.


Harta dapat menjadi jalan menuju surga apabila diperoleh secara halal dan digunakan di jalan Allah.


Anak dapat menjadi jalan menuju surga apabila dibesarkan dengan iman, ilmu dan akhlak.


Karena itu, jangan kita memusuhi dunia atas nama agama. Tetapi jangan pula kita menjadikan dunia sebagai Tuhan baru yang diam-diam menguasai hati.


Inilah keseimbangan yang diajarkan Al-Qur’an: harta dan anak adalah zinatul hayatid dunya—perhiasan kehidupan dunia; keduanya juga mata’—kesenangan yang dapat dinikmati; tetapi keduanya adalah fitnah—ujian yang menentukan apakah kita semakin dekat atau semakin jauh dari Allah.


Maka barangkali pertanyaan paling penting bagi setiap orang tua Muslim bukanlah:

“Berapa banyak harta yang akan saya tinggalkan untuk anak-anak?”

Melainkan: “Apakah harta yang saya tinggalkan akan menjadi bekal kebaikan bagi mereka?”


Dan bukan pula hanya:

“Seberapa tinggi anak saya akan mencapai kehidupan dunia?” Tetapi:

“Apakah setelah saya meninggal, anak-anak saya akan menjadi amal yang terus mengalir untuk saya?”


Di situlah harta dan anak menemukan makna tertingginya: bukan sekadar menjadi perhiasan kehidupan dunia, tetapi menjadi jalan menuju keridaan Allah dan bekal menuju kehidupan akhirat.


Wallahu a’lam 


Tungkop, 1 Rabiul Awal 1448, 14 Agustus 2026


(Penulis, Imumsyik masjid Baitul Jannah Kemukiman Tungkop)


Note: keterangan foto: dari kiri, Safriyansyah (imam), penulis, dan Jauhari Hasan (khatib)

×
Berita Terbaru Update