Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Khutbah Jumat yang disampaikan Ustaz Rizki Maulizar, M.A. di Masjid Jami’ Kemukiman Tungkop, Aceh Besar, pada Jumat, 13 Safar 1448 H (7 Agustus 2026), menghadirkan renungan yang sangat relevan bagi kehidupan manusia.
Di tengah berbagai persoalan yang semakin kompleks, beliau mengingatkan bahwa salah satu amalan yang sering dianggap sederhana, tetapi memiliki kekuatan luar biasa, adalah istighfar. Bukan sekadar ucapan astaghfirullah, melainkan pengakuan akan kelemahan diri, taubat yang tulus, serta ikhtiar untuk kembali mendekat kepada Allah SWT.
Tidak ada manusia yang menjalani hidup tanpa ujian. Sejak awal, Allah telah menetapkan bahwa kehidupan dunia adalah tempat manusia diuji. Firman-Nya:
“Sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).
Ayat ini menjelaskan bahwa berbagai persoalan hidup—kemarau panjang, hasil panen yang gagal, kesulitan ekonomi, sakit, kehilangan orang-orang tercinta, bahkan belum dikaruniai keturunan—merupakan bagian dari sunnatullah. Allah juga berfirman, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam perjuangan dan kesusahan” (QS. Al-Balad: 4).
Karena itu, persoalannya bukan bagaimana menghindari masalah, melainkan bagaimana menyikapinya sesuai petunjuk Allah dan tuntunan Rasulullah SAW.
Menariknya, Allah tidak hanya menghadirkan ujian, tetapi juga menyediakan jalan keluar. Salah satu pintu yang dibuka-Nya adalah istighfar. Dalam dakwah Nabi Nuh AS, Allah berfirman:
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai bagimu.” (QS. Nuh: 10–12).
Ayat ini menunjukkan bahwa istighfar tidak hanya berkaitan dengan pengampunan dosa, tetapi juga menjadi sebab turunnya keberkahan, terbukanya pintu rezeki, datangnya hujan setelah kemarau, bertambahnya keturunan, dan kemakmuran kehidupan. Semua itu tentu terjadi atas kehendak Allah SWT.
Rasulullah SAW memberikan teladan yang luar biasa. Padahal beliau telah dijamin ampunan oleh Allah, tetapi tetap beristighfar lebih dari tujuh puluh kali sehari sebagaimana riwayat Imam al-Bukhari, bahkan seratus kali sehari sebagaimana riwayat Imam Muslim. Ini mengajarkan bahwa istighfar bukan hanya dilakukan setelah melakukan dosa, tetapi menjadi ibadah harian seorang mukmin yang menyadari bahwa dirinya selalu membutuhkan rahmat Allah.
Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud, Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa senantiasa beristighfar, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesempitan, memberikan kelapangan dari setiap kesedihan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
Hadis ini memberikan harapan besar bahwa di balik setiap kesulitan selalu ada pertolongan Allah bagi mereka yang terus kembali kepada-Nya.
Para ulama sepanjang zaman juga memberikan perhatian besar terhadap amalan istighfar. Kisah Hasan al-Bashri menjadi salah satu contoh yang sangat terkenal. Dikisahkan, seseorang datang mengeluhkan musim kemarau, lalu beliau menjawab, “Perbanyaklah istighfar.” Orang lain mengadu tentang kemiskinan, jawabannya tetap sama. Seorang lagi mengeluhkan belum memiliki keturunan, dan Hasan al-Bashri kembali berkata, “Perbanyaklah istighfar.” Ketika para murid bertanya mengapa semua persoalan dijawab dengan nasihat yang sama, beliau membacakan Surah Nuh ayat 10–12 sebagai penjelasannya.
Para mufasir seperti Imam Ibn Katsir dan Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa istighfar merupakan sebab turunnya rahmat dan keberkahan Allah apabila disertai taubat yang tulus serta perbaikan amal. Sementara ulama kontemporer seperti Syaikh Wahbah az-Zuhaili dan Syaikh Yusuf al-Qaradawi menegaskan bahwa istighfar tidak menggantikan ikhtiar, tetapi menyempurnakannya. Seorang petani tetap harus mengolah sawahnya ketika kemarau datang. Pedagang tetap harus bekerja jujur saat ekonomi melemah. Pasangan yang mendambakan keturunan tetap harus berikhtiar dengan cara yang dibenarkan syariat. Namun, seluruh ikhtiar itu akan lebih bernilai apabila dibingkai dengan taubat, doa, dan istighfar.
Demikian pula teladan Rasulullah SAW dan para sahabat. Ketika menghadapi tekanan dakwah di Makkah, beliau memperbanyak qiyamul lail dan doa. Saat Perang Badar, beliau bermunajat hingga selendangnya jatuh dari pundaknya. Ketika terjadi kekeringan, beliau mengajarkan shalat istisqa’. Semua itu menunjukkan bahwa ikhtiar lahiriah selalu berjalan seiring dengan pendekatan ruhaniah kepada Allah.
Karena itu, sudah saatnya kita memandang setiap persoalan secara proporsional. Tidak semua musibah adalah hukuman, sebagaimana tidak setiap kenikmatan merupakan tanda keridaan Allah. Yang paling penting adalah bagaimana kita merespons setiap ujian. Apakah kita tenggelam dalam keluh kesah, atau justru menjadikannya momentum untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
Di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan, manusia sering lebih sibuk mencari solusi ke berbagai arah daripada mengetuk pintu langit. Padahal, Allah telah menunjukkan bahwa istighfar adalah salah satu jalan yang paling dekat menuju pertolongan-Nya. Istighfar mengajarkan kerendahan hati, membersihkan jiwa, menguatkan harapan, serta menghadirkan ketenangan dalam menghadapi ujian kehidupan.
Akhirnya, setiap manusia pasti memiliki persoalannya masing-masing. Ada yang diuji dengan kekurangan harta, ada yang diuji dengan kelimpahan. Ada yang diuji dengan sakit, ada pula yang diuji dengan kesehatan. Ada yang diuji karena belum memiliki keturunan, ada pula yang diuji oleh anak-anaknya. Apa pun bentuknya, jangan biarkan masalah menjauhkan kita dari Allah. Jadikan setiap ujian sebagai jalan untuk semakin mendekat kepada-Nya melalui taubat, doa, istighfar, dan ikhtiar yang benar.
Sebab, istighfar bukan sekadar lafaz yang diulang oleh lisan, melainkan jalan pulang seorang hamba kepada Rabb-nya, sekaligus jalan keluar yang Allah bukakan bagi setiap persoalan kehidupan.
Wallahu a’lam
Tungkop Darussalam Aceh Besar, 23 Safar 1448, 7 Agustus 2026
(Penulis, Imumsyik Masjid Jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop Darussalam Aceh Besar)
Note: Photo by Samsuddin. Khatib, dala gambar diatas berjubah biru paling kiri
