Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Di tengah masyarakat, kekayaan sering diukur dari banyaknya harta yang dimiliki. Semakin besar rumah, semakin banyak kendaraan, semakin luas aset, semakin tinggi pula seseorang dianggap berhasil.
Padahal, Islam mengajarkan ukuran yang berbeda. Kekayaan bukan semata-mata soal jumlah harta, tetapi tentang keberkahan, kecukupan, dan ketenangan hati yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya.
Renungan ini kembali menguat setelah saya menerima tanggapan dari Prof. Husna Amin, Guru Besar Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry sekaligus sejawat di kepengurusan ICMI Aceh, terhadap opini saya sebelumnya berjudul Keruh dari Hulu, Disaring di Hilir. Beliau berbagi kisah yang sangat berharga tentang pendidikan yang diterimanya sejak kecil.
Ayah dan ibunya selalu mengingatkan dengan tegas agar jangan sampai ada harta yang tidak halal atau meragukan masuk ke dalam kehidupan keluarga. Jangan sampai makanan, minuman, pakaian, ataupun harta yang menjadi penopang hidup berasal dari jalan yang tidak diridhai Allah.
Sebab, apa yang masuk ke dalam tubuh bukan hanya menguatkan jasad, tetapi juga memengaruhi hati, akhlak, kepribadian, bahkan masa depan seseorang.
Nilai itu terus beliau pegang hingga hari ini. Setiap memperoleh rezeki, beliau berusaha menyeleksi sumbernya dan membiasakan diri menyisihkan sebagian untuk infak di samping menunaikan zakat. Bagi beliau, membersihkan harta adalah bagian dari menjaga kebersihan jiwa.
Beliau juga menceritakan seorang guru besar yang menjadi teladan dan sumber ilmu dalam bidang zakat. Saya pun mengenal beliau sebagai sosok yang sangat berhati-hati menerima setiap penghasilan. Beliau dikenal lurus, meluruskan, serta sangat patuh terhadap aturan dan ketentuan syariat.
Setiap menerima gaji atau honorarium, yang pertama kali dilakukan bukan membawanya pulang, tetapi menyisihkan zakat, infak, dan sedekah. Setelah harta itu dibersihkan, barulah sisanya menjadi nafkah keluarga.
Barangkali di situlah letak pendidikan akhlak yang sesungguhnya: bukan mewariskan banyak harta kepada anak-anak, melainkan mewariskan rasa takut apabila ada harta yang tidak halal masuk ke dalam kehidupan mereka.
Allah SWT berfirman:
“Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik.” (QS. Al-Baqarah: 168).
Perintah ini bukan hanya mengajarkan kehalalan, tetapi juga thayyib, yaitu bersih, baik, dan membawa keberkahan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim).
Karena itu, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa makanan dan harta yang halal akan melembutkan hati, sedangkan yang haram atau syubhat dapat mengeraskan hati serta menghalangi keberkahan hidup dan doa.
Di sinilah Islam mengubah cara pandang kita tentang kekayaan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menjadi koreksi terhadap persepsi yang berkembang di tengah masyarakat. Tidak sedikit orang yang hartanya sederhana tetapi hidupnya tenang, keluarganya harmonis, tidurnya nyenyak, dan ibadahnya khusyuk.
Sebaliknya, ada yang memiliki kekayaan melimpah tetapi hidup dalam kegelisahan, dipenuhi kecemasan, perselisihan, dan rasa tidak pernah cukup.
Sesungguhnya yang membedakan bukan banyak atau sedikitnya harta, melainkan ada atau tidaknya keberkahan.
Lalu, apakah Allah menciptakan manusia untuk hidup dalam kekurangan?
Al-Qur’an memberikan jawaban yang menenteramkan.
“Dan Dia mendapatimu dalam keadaan kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (QS. Ad-Dhuha: 8).
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah adalah Dzat Yang Mencukupkan. Bahkan Dia memperkenalkan diri-Nya sebagai Al-Ghani, Yang Mahakaya, sedangkan manusia adalah makhluk yang selalu membutuhkan-Nya.
Allah juga berfirman:
“Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hud: 6).
Artinya, Allah tidak membiarkan makhluk-Nya tanpa bekal. Setiap manusia telah diberi modal kehidupan berupa akal, kesehatan, tenaga, waktu, keluarga, kesempatan, dan berbagai potensi yang dapat dikembangkan menjadi jalan rezeki.
Karena itu, sesungguhnya kita semua adalah orang kaya.
Ada yang kaya ilmu. Ada yang kaya kesehatan. Ada yang kaya keluarga. Ada yang kaya sahabat. Ada yang kaya kesempatan. Ada yang kaya pengalaman. Dan ada pula yang Allah titipi kekayaan berupa harta.
Sering kali kita merasa miskin bukan karena benar-benar kekurangan, tetapi karena terlalu sibuk membandingkan diri dengan mereka yang memiliki lebih banyak. Padahal, nikmat yang telah Allah titipkan jauh lebih besar daripada yang sering kita sadari.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa sikap wara’ atau berhati-hati terhadap perkara syubhat merupakan salah satu bentuk kesempurnaan iman. Demikian pula Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menegaskan bahwa keberkahan harta lebih penting daripada banyaknya nominal. Harta yang sedikit tetapi halal dan diberkahi sering kali jauh lebih menenangkan daripada harta melimpah yang diperoleh dengan cara yang meragukan.
Di tengah kehidupan yang semakin materialistik, kita perlu meluruskan kembali makna kekayaan. Islam tidak mengajarkan umatnya mengejar kemiskinan, tetapi juga tidak menjadikan kekayaan materi sebagai ukuran kemuliaan.
Yang diajarkan adalah bekerja keras, mencari rezeki yang halal, mensyukuri setiap nikmat, membersihkan harta dengan zakat, infak, dan sedekah, serta menjaga hati agar tidak diperbudak oleh harta.
Ketika Allah mencukupkan, sedikit terasa lapang. Ketika Allah memberkahi, yang terbatas menjadi bermanfaat. Sebaliknya, ketika keberkahan dicabut, sebanyak apa pun harta tidak pernah menghadirkan rasa cukup.
Karena itu, janganlah sibuk menghitung apa yang belum kita miliki hingga lupa mensyukuri apa yang telah Allah titipkan. Jangan pula mengukur diri dengan kekayaan orang lain, sebab setiap orang menerima rezeki sesuai hikmah yang Allah tetapkan.
Mari terus berikhtiar melalui jalan yang halal, memperbanyak doa, menjaga hubungan sedekat mungkin dengan Allah Al-Razzaq, dan menerima setiap ketetapan-Nya dengan penuh tawakal.
Mintalah kepada-Nya bukan hanya agar diberi rezeki yang banyak, tetapi juga rezeki yang bersih, berkah, bermanfaat, dan mencukupi kebutuhan dunia sekaligus menjadi bekal terbaik menuju akhirat.
Sebab pada akhirnya, kekayaan yang paling indah bukanlah ketika kita memiliki segalanya, melainkan ketika Allah menjadikan hati kita selalu merasa cukup dalam limpahan rahmat-Nya.
Itulah kekayaan sejati, kaya karena Allah mencukupkan.
Wallahu a’lam
Banda Aceh 22 Rajab 1448, 6 Agustus 2026
(Penulis, pengamat sosial dan keislaman)
